
Cinta adalah racun.
Entah itu membuatmu mati, gila atau hilang arah.
***
"Bayu, kamu masih di mana? Kenapa nggak nongol-nongol?"
Surti bertanya lewat telepon dengan wajah agak kesal. Pada Bayu yang tak kunjung datang setelah ia menunggu sepuluh menit di kantin universitas. Meski begitu, wajah Surti langsung berseri-seri saat melihat Sultan di tengah sana menoleh, kemudian tersenyum singkat padanya untuk setelahnya berbalik lagi, bergaul dan berbincang dengan tiga temannya.
Jantung Surti berdegup kencang ketika itu. Mungkin hanya sekedar senyum singkat, namun bagi Surti, itu lebih dari jutaan bintang bersinar di hatinya. Sungguh, Surti sangat bahagia sekarang.
Surti paham betul mengapa Sultan tak bergaul dengan dirinya di universitas, tentu karena malu. Mereka sangat berbeda derajatnya dan Surti akan melakukan hal yang sama jika ia menjadi Sultan.
"Otw, nih," balas Bayu di telepon. Kemudian sambungannya diputus sepihak, membuat Surti mengernyit bingung sesaat. Tak biasanya Bayu menutup panggilan telepon secara tiba-tiba tanpa basa-basi. Namun, pada akhirnya ia melupakan kejanggalan itu dan menatap punggung Sultan dengan wajah berseri-seri.
Rasanya masih mimpi bagi Surti dapat menjadi pacar Sultan. Ia harap hal itu tak pernah berubah. Surti berharap hubungan dengan Sultan akan selamanya seperti ini.
"Hei, Surti, bengong aja," tegur Bayu tiba-tiba sudah ada di samping Surti.
"Eh, Bayu," balas Surti agak terkejut, ia tersenyum berseri-seri. "Udah dateng aja. Lama, ih."
Bayu menatap Surti dengan bingung. Hal ini justru membuatnya dilihat balik oleh Surti. Pada luka di kening dan pipi kanannya, Surti menajamkan pandangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Surti heran. "Kok baret-baret gini?"
Tenggorokan Bayu seketika terasa kening dan ia berdeham karenanya. Pandangan matanya tak sanggup menghadapi mata Surti. Tiba-tiba tubuhnya terasa panas dan ia meringis kecil.
"Kayaknya aku harus ke air deh," kata Bayu membuat-buat. Ia tak mau Surti mengetahui rahasia malamnya.
"Eh, kok tiba-tiba?" Surti bertanya tak paham. "Makan dulu, dong. Ayo."
"Aku harus ke air, asli," pamit Bayu tanpa panjang lebar lagi. Ia bangkit meski tangan Surti sudah meronta-ronta untuk menahannya. Bayu akhirnya pergi dari hadapan Surti beberapa saat kemudian.
Surti cemberut, ditinggal sendirian seperti ini siapa yang ingin. Dengan mood yang sudah turun sampai bawah, ia meninggalkan kantin dan berniat pergi ke taman air mancur untuk membaca materi.
Tempat di sana sangat menyejukkan dan nyaman. Pas sekali dengan selera Surti.
Langsung saja Surti membuka buku dan membacanya dengan nyaman ketika telah duduk di kursi taman depan air mancur itu. Namun, baru lima halaman ia baca, seseorang bersuara hingga Surti menoleh pada sumbernya.
"Kenapa memanggilku?" tanya Surti langsung, pada Siti yang kini menatapnya rendah dengan tangan yang dilipat di depan dada setelah memanggil namanya. "Tahu dari mana namaku?"
Biarlah sekarang Surti terdengar songong, tengil dan menyebalkan. Namun, ia merasa harus melakukannya kepada orang yang bahkan tak pernah membuatnya bersyukur untuk bertemu dengan orang tersebut.
Siti tertawa hambar. "Gue tau dari calon suami gue, Sultan. Dia bilang lo cuma pelapisan dan akan jadi sampah."
Mata Surti membelalak. "Atas dasar apa kamu bilang seperti itu?"
"Lo jangan nangis seember kalau denger ini," peringat Siti dengan tawa anggun sebelum mengeluarkan ponselnya dan memutar sesuatu.
"Kalau aku dekat dengan perempuan lain, itu artinya dia hanya mainanku, hanya candaanku, hanya pelarian dan akan menjadi sampah untuk hidupku."
Itu suara Sultan. Bagaimanapun, Surti tau itu. Namun, ia tak bisa percaya jika Sultan dapat berkata seperti itu. Suaranya lembut dan tak terbantahkan.
Surti tahu bahwa Sultan telah dijodohkan dengan Siti, namun ia tak menyangka jika Sultan tak benar-benar menyukainya seperti ini.
"Surti... bagiku dia hanya sekedar pelampiasan rasa bosanku."
Betapa terkejutnya Surti ketika sederet kata itu meluncur dari mulut Sultan yang kemudian direkam dan kini terdengar olehnya. Rasanya amat menyakitkan, seolah hatinya teriris oleh pisau yang tumbul. Perih, sakit dan ngilu dalam waktu yang lama.
Jika seperti itu, apa artinya senyum Sultan selama ini? Apa artinya perlakuan Sultan selama ini? Apa artinya semua yang membuat jantung Surti berdegup kencang itu?
Kini dadanya terasa sesak dan ia hampir tak bisa bernafas dengan normal. Surti menatap Siti dengan mata memerah. Surti hampir menangis, jelas saja, ia telah dikhianati seperti itu. Bagaimana bisa Surti tak sakit hati.
"Terimakasih telah menyadarkanku dan memberitahukan kebenaran itu padaku," katanya pelan, kemudian menunduk dan menangis.
"Lo seharusnya udah sadar diri dari awal. Lo sama Sultan itu nggak akan pernah bersama. Dia punya gue. Camkan iti." Siti tersenyum miring, kemudian meninggalkan Surti sendirian di sana karena merasa tugasnya telah selesai. Perempuan seperti Surti memang bodoh, namun dengan senang hati Siti akan memberitahu kebodohannya itu cepat-cepat.
Sementara itu, Surti masih saja menangis tanpa suara. Dadanya perih, dadanya sakit, hatinya perih dan hatinya juga sakit. Perkataan Sultan yang terekam itu seperti sebuah petir yang merenggut nyawa Surti seketika.
Kini Surti merasa hidupnya amat hampa, amat hina dan amat mengenaskan.
Surti terus menangis tanpa suara. Ia tak tahu apa yang merasuki dirinya, namun kini tak ada apapun yang ingin Surti lakukan selain menangis di sini sampai malam menjemput.
Hanya sedih, gelap dan patah hati yang menghampiri dan menyelimuti Surti kini.
Surti baru menyadari dirinya telah berada di sini dua jam hingga sang mentari tak lagi bersinar. Ia segera mengusap pipinya dari air mata yang sudah mengalirinya.
Betapa kuatnya pengaruh cinta pada Surti.
Ketika ia membereskan barang-barangnya, Surti menertawakan dirinya yang lebay dan lemah ini. Ia menggigit bibirnya, menahan tangis yang masih saja ingin keluar bahkan setelah tumpah hampir dua jam lebih.
Tiba-tiba ia merasakan rintik air mengenai punggung tangannya. Rintik itu mulai berdatangan, menjadi gerimis kecil dan kemudian berubah secepat itu hingga Surti perlu berlari melewati derasnya hujan ini.
Sial sekali dirinya.
Sudah basah, sudah lelah dan kini terjebak hujan karena tak membawa payung hingga harus menunggu di kursi depan lobi universitasnya yang sudah sepi dan gelap. Hanya lampu ruangan yang menerangi. Surti mengusap-usap lengannya yang basah, mencoba menghangatkan diri.
Ia yakin matanya telah bengkak dan memerah karena tangisan lebay yang bertempo panjang itu. Kini harus ditambah lagi dengan merah di hidungnya karena Surti terus bersin karena udaranya dingin.
"Ah, aku lemah banget, sih," kata Surti sedih. Menunduk, menatap sepatu belelnya dan hampir menangis lagi jika tak ada suara dehaman seseorang.
Kepala Surti refleks mendongak, menangkap seseorang dengan pakaian hitam berdiri di depannya. Laki-laki itu membawa sebuah payung yang juga hitam dengan wajah sedingin es. Surti tak tahu apa yang membuatnya mematung dan terus menatap sosok yang seharusnya ia benci kini.
Jantung Surti berdegup lebih kencang dari normal, berbeda dengan wajah yang mati-matian ia paksa untuk terlihat sama dinginnya dengan Sultan.
Ketika Sultan telah duduk di sampingnya, Surti menahan diri untuk tak menoleh dan menatapnya. Ia berusaha bersikap dingin. "Kenapa kamu tahu aku di sini?"
"Nggak penting dari mana gue tahu lo sekarang ada di sini." Suara Sultan masih sedingin tadi dan Surti tak paham mengapa pacarnya itu bersikap dingin seperti ini. "Yang harusnya jadi pertanyaan itu, kenapa lo masih ada di sini?"
Surti mendengus kecil. "Nggak penting buat kamu tahu kenapa seorang sampah masih ada di kampus saat ini."
"Sampah?" Kening Sultan mengerut, ia langsung menyentuh pundak Surti untuk membuat perempuan itu menatap matanya. "Maksud lo apa? Ada yang gangguin lo?"
Surti mencoba untuk menahan air matanya, mencoba untuk terlihat tegar dan kuat, namun pada akhirnya air matanya luruh juga. Satu per satu bulir bening yang mengkilat karena tercahayai lampu di atas turun dari mata cokelat Surti.
Melihatnya seperti ini, tentu Sultan sakit. "Lo kenapa, sih, hah?" tanyanya tak sabaran.
"Kamu... kamu bilang aku cuma pelampiasan, aku cuma akan jadi sampah... itu..."
Perkataan Surti tak dapat lagi diteruskan karena ia merasa amat perih, amat sakit dan amat kecewa saat menyuarakannya. Surti kembali menangis tanpa suara, kini dengan jantung berdebar karena di depannya ada seseorang yang spesial bagi hidupnya. Biarlah Sultan mengerti dari tangisnya, dari wajahnya dan dari lirih suaranya.
"Kamu... denger itu dari mana?" tanya Sultan berubah lembut, membuat Surti menajamkan pandangannya pada mata hitam itu.
Apakah itu tulus... atau tidak.
Anehnya, mata beriris hitam malam itu tampak amat serius dan tulus. Surti tak tahu apa yang membuatnya memandang Sultan seperti itu. Ia pun bingung, namun juga tak dapat solusi atas kebingungan itu.
Oleh karenanya, ia berkata tanpa berpikir.
"Aku tahu dari Siti, jodohmu," balas Surti sekuat tenaga berusaha agar suaranya terdengar baik-baik saja. "Kamu bilang aku hanya pelampiasan dan akan menjadi sampah bagimu."
Senyum Sultan terukir tipis. "Itu bohong, Surti."
Surti mengerjap. Perkataan manis itu tentu membuatnya senang, namun tetap saja ia tak mau jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. "Kamu bohong."
"Aku serius, Surti. Aku jujur," balas Sultan ringan. "Aku berbohong pada Siti. Justru, dialah yang menjadi pelampiasan dan sampah bagi hidupku. Dia hanya boneka dan jembatan agar keluargaku tetap terjaga martabatnya. Kamu harusnya mengerti itu."
Tangis Surti pecah lagi. Terlalu sakit baginya mendengar perkataan luar biasa menggiurkan itu. "Aku tak percaya itu. Kamu bohong, Sultan. Kamu mempermainkanku."
"Tidak, Surti."
"Kamu jahat." Surti berkata lirih, seiring air matanya mengalir. "Kamu tak bisa berbuat seenaknya pada hati orang lain. Jangan karena aku miskin, aku rendahan dan aku hina, kamu bisa seenaknya memainkan hatiku. Sakit, Sultan. Rasanya menyesakkan."
Isak tangis Surti terdengar berlomba-lomba dengan derasnya hujan. "Aku ingin berhenti. Kumohon, jangan sakiti aku lagi."
Surti bangkit, tak peduli wajah tegas Sultan memintanya untuk tetap tinggal. Langkah itu membawanya pada deras hujan malam yang menyiksa. Punggung itu dilihat Sultan dengan wajah frustasi. Kemudian hilang sekejap mata sebab perempuan itu berlari di antara gelapnya malam.
Di sini, di atas kursi lobi, Sultan bergelut dalam hati.
Sementara itu, basah, sakit, dingin dan gelap menyerbu Surti dalam setiap langkah yang ia ambil. Langkah yang semakin ringkih ini membuatnya merasa leluasa untuk menangis keras setelah jarak yang lumayan panjang telah ia tempuh, kemudian terjatuh pada aspal yang telah berlinang air hujan.
Surti tak peduli lagi pada basahnya dirinya, ia hanya ingin bersedih dan menyuarakan sakitnya. Kini, tangisnya bersuara, amat keras hingga menyaingi bisingnya hujan deras.
"Berisik. Nangis nggak akan menyelesaikan masalah."
Suara itu kembali hadir. Di depannya telah berdiri lagi Sultan dengan pakaian serba hitamnya yang telah basah. Sultan tak memakai payung. Rambutnya yang basah menyentuh kening hingga mampu menutupi matanya.
Sultan berjongkok kemudian. Menatap Surti yang terduduk dengan wajah basah dan mata memerah penuh air mata yang bercampur dengan air hujan. Mata Surti yang tegas itu membalas tatapan teduh Sultan.
"Maumu apa?" tanya Surti lelah. "Aku tak mau bermain-main."
Tangan besar Sultan menyentuh pundak Surti, menatapnya dalam-dalam dan tersenyum lebar. "Aku ingin kamu percaya padaku. Aku serius untukmu, Surti. Jangan dengarkan kata Siti."
Seberapapun seriusnya kalimat itu, hati Surti menolaknya dengan keras-keras. "Tinggalkan aku, Sultan. Aku bukan levelmu. Aku sudah sadar diri."
Perkataan itu menampar Sultan keras-keras. Ia mematung beberapa saat.
"Kumohon... pergilah."
Sultan menunduk lama. Ia merenung. Melepaskan sentuhannya pada pundak Surti. Di sini, Surti berpikir Sultan akan meninggalkannya, ketika pada akhirnya Sultan menyentuh kedua tangannya untuk digenggam erat-erat.
"Tolong kasih aku kesempatan, Surti." Sultan berkata penuh permohonan. "Aku akan buktikan bahwa aku benar-benar... sayang padamu, Surti. Aku mencintaimu."
Mata Surti membelalak. Tubuhnya terasa disengat oleh listrik. Tak peduli betapa dinginnya rintik hujan deras yang menyiksa ini, tapi tubuhnya serta pipinya perlahan terasa panas. Jantungnya berdetak kencang.
"Maukah kamu berjuang bersamaku?" tanya Sultan manis. "Kita perjuangkan cinta kita. Yes or yes?"
"Aku bingung, Sultan," keluh Surti dengan tangisan yang kembali keluar. Jelas, melihatnya, membuat Sultan sakit. "Kamu terlalu banyak mempermainkan hatiku."
Sultan tersenyum menenangkan, beralih menyentuh pipi basah Surti dengan tatapan lembut. "Aku tak peduli kamu menganggap diriku seperti apa, tapi satu yang harus kamu tau."
Hujan deras memang menghalangi suara Sultan, namun itu terdengar jelas di telinga Surti. Mata Sultan memancarkan kilatan yang membuat Surti lemas.
"I Love You 1 Billion."
Kemudian Sultan mendekatkan wajahnya pada wajah Surti dengan tangan yang perlahan mendorong leher Surti untuk mendekat juga. Surti tak tahu apa yang akan dilakukan laki-laki itu, namun ia menutup matanya ketika hidung keduanya hampir bersentuhan.
Awalnya Surti tak merasakan apa-apa selama beberapa saat, namun jelas ia mendengar Sultan tertawa kecil ketika ia menutup matanya.
Lalu pada akhirnya, sesuatu yang hangat menempel pada keningnya, lama sekali.
Surti terkejut dan termenung. Setelah itu, tanpa diduga sesuatu yang lembut basah dan hangat menempel di bibirnya. Untuk pertama kalinya, bibir itu mendapat sebuah ciuman. Sultan mengecup bibirnya berulang ulang kali kemudian melumatnya dengan pelan. Surti membalas lumatannya dengan pelan dan lembut. Mata mereka tertutup begitu menikmati dan meresapi.
Disertai rintik hujan deras, Surti mendapatkan sebuah kebahagiaan tak tertandingi.
***