Black Poison

Black Poison
27. Miss For Awija



"Bi, saya mau ke makam Awija," ijin Sultan ketika lima pelayan mencegatnya di pintu keluar rumahnya. Sultan memakai pakaian serba hitam lengkap dengan topi berwarna senada.


"Tuan ggak boleh, keluar. Dilarang. Saya akan patuh pada Tuan besar." Seorang pelayan mewakili untuk menjawab ijinnya.


Sultan merotasikan bola mata. "Ya ampun, makannya cuma di belakang, dong. Masa nggak boleh?"


"Nggak ada jaminan kalau tuan nggak akan kabur lewat dinding pembatas belakang itu."


"Kalau gitu, kenapa bibi nggak ikut aja? Awasi. Kalau merasa masih kurang juga, bibi boleh bawa penjaga buat ngawal saya ke taman makam di belakang sana." Sultan mengangkat tangannya, menatap seluruh pelayannya dengan pandangan menantang. "Ayo?"


Para pelayan di depannya itu saling pandang. Wajah mereka penuh ragu dan perhitungan khas anak SMA yang sedang Ujian Akhir.


"Ayolah, Bi. Saya nggak pernah kunjungi Awija lagi lima tahun ini. Sudah saatnya saya memaafkan dan bicara baik-baik pada Awija, bukan? Kalau ayah marah, saya yang tanggung, Bi." Sultan kembali berkata-kata dengan segenap hatinya untuk meluluhkan para pelayannya. "Saya serius."


"Sepuluh menit, cukup Tuan?"


"Tiga puluh menit," tawa Sultan dengan senyum manis.


Sekali lagi, para pelayan itu saling berpandangan. Sebelum akhirnya mengangguk kecil dan membukakan pintu untuk Sultan, menyambutnya untuk keluar.


Penjaga yang stand by di luar langsung berbalik dan menatap terkejut dengan kehadiran Sultan. Namun, sebelum kekacauan terjadi, seorang pelayan menjelaskannya lebih dulu tentang maksud keluarnya Sultan.


Sultan tersenyum penuh kemenangan, kemudian berjalan dan begitu lima langkah ia ambil, ia menoleh ke belakang. Sepuluh penjaga dan lima pelayan turut berjalan mengikutinya.


Tawa geli Sultan tak bisa ditahan. Pasalnya, ia hanya berjalan lima puluh meter hanya untuk sampai di taman makam Orang Berjasa Terhadap Kerajaan. Seharusnya Awija tak termasuk orang berjasa terhadap kerajaan, melainkan anggota keluarga kerajaan, di samping kakek buyutnya, namun Awija harus dimasukkan dalam daftar orang yang berjasa terhadap kerajaan karena dia tak menuruti perintah ayah dan justru membahayakan dirinya sendiri untuk melawan para musuh.


Sultan hanya dapat tertawa kecil atas perbuatan Awija yang sangat bodoh di masa lalu itu.


Sesampainya di taman makam itu, Sultan berjalan lebih pelan menuju makam Awija. Ia membenarkan letak topinya agar lebih menutupi wajahnya, sebab kini air matanya telah terkumpul dan pandangannya menjadi kabur.


Makam Awija diberi bunga tulip merah di atasnya, diberi melati di sekelilingnya dan diberi mawar merah di bagian atasnya. Bawahnya sendiri, biasanya disematkan senjata milik sang jenazah sewaktu hidup yang digunakan untuk membela kerajaan. Untuk Awija, ia tak memilikinya karena ia tak memiliki senjata khusus.


Jelas, Awija bukan panglima tempur atau prajurit. Dia adalah putra mahkota yang sok-sokan dewasa padahal umurnya masih sangat belia untuk terjun di medan pertempuran.


Sultan mengela napas kecil, kemudian berjongkok di samping makan Awija dengan berat hati. Ia tak sempat lagi untuk mengunjunginya karena terlalu sebal, marah, kecewa dan sedih.


Setelah lima tahun berlalu, Sultan kembali mengunjunginya. Entahlah, teringat saja dan ia merasa perlu untuk 'bicara', karena kini Sultan tak punya 'seseorang' untuk ia beri keluhan atas apa yang menimpa hidupnya.


"Hai, kembaran," sapa Sultan pertama-tama.


Ketika ia menoleh dengan iseng, para penjaga dan pelayan itu menatapnya dengan instens. Sultan mendengus kecil, kemudian menatap makan Awija lagi.


Jeda sebentar, sebelum akhirnya Sultan kembali melanjutkan pembukaan dari keluhannya. "Semoga kamu nyaman, ya. Aku juga di sini berusaha untuk nyaman. Walaupun banyak banget orang-orang yang ganggu hidup aku sekarang. Khususnya orang-orang yang mau aku mati. Mereka bikin aku marah, alih-alih takut."


Angin berhembus lebih kencang, seolah menyampaikan balasan dari Awija yang tak ia pahami. Sultan tertawa kecil. "Semoga kamu nggak mendapat azab, ya, meski kamu sangat menyebalkan dan mengganggu, aku sudah memaafkan sekarang. Berbahagialah. Aku juga akan bahagia di sini."


Ah iya, kamu tahu, nggak? Tadi pagi ayah nampar aku dihadapan seluruh pelayan kerajaan. Aku malu, tapi aku tahu apa artinya jika ayah sampai menamparku itu. Aku berusaha paham, meski harus menyalurkan seluruh amarahku dulu pada seluruh barang-barang di kamarku."


Daun-daun dari pohon jati yang merindangi taman berguguran karena angin bertiup lumayan kencang. Sultan mendongak ke langit, di sana langitnya sangat kelabu dan awan-awan hitam yang tampaknya akan segera menangis.


"Kamu marah, ya, Awija? Atau sedih? Kenapa angin dan langit seperti mencerminkan tanggapanmu atas perkataan ku?"


Sultan kembali menatap makan kembarannya, mengambil beberapa tanaman liar yang menganggu penampilan tanda fisik Awija setelah meninggal itu. "Aku harap kamu tak merasakan keduanya. Aku harap kamu bahagia di sana, seperti aku yang bahagia di sini."


Lama sekali Sultan menjeda. Ia menikmati rasa lega yang mulai menyebar dalam kalbunya. Seharusnya ia melayani sejak dulu seandainya tahu bahwa melegakan emosi akan sesimpel ini.


Awija memang belahan hatinya, pelengkap hidupnya dan teman keluh kesalnya, juga bahagianya.


"Kamu tau? Sebentar lagi aku akan tunangan dengan Siti." Sultan tertawa kecil, ia sudah ingat siapa Siti aslinya dan bagaimana dulu ia menyikapi. "Iya, dia anak keriting yang dulu suka mencuri robot milik kamu, merusak buku tulismu, mencoret-coret barang-barang milikmu dan bahkan memecahkan pot tanaman kesukaanmu. Aku suka kasar sekali dengannya karena perlakuan buruknya kepadamu, dia juga suka mencubit kamu. Aku jadi kesal dan selalu ingin marah jika berhadapan dengannya. Sekarang, aku dijodohkan dengan. Sungguh takdir yang konyol, tapi aku berusaha untuk menyukainya kini. Dia baik dan lemah. Aku seharusnya tak sejahat itu padanya."


Tak ada reaksi atas perkataan kini. Angin tak berhembus kencang dan daun-daun tak berguguran.


Sultan tersenyum. Sepertinya dia mengatakan hal benar sejauh ini. "Baiklah, Awija. Terimakasih telah mendengarkan."


"Ah, ya, satu lagi." Sultan baru ingat. "Sekarang ini kondisi kerajaan sedang dalam bahaya lagi. Kamu tahu? Ada kelompok yang mau memberontak dan entah kapan mereka akan membantai kerajaan. Aku sebenarnya sudah siap untuk mendampingimu di sana. Jangan khawatir."


Setelah kata-kata Sultan selesai, entah kebetulan atau memang sengaja, hujan turun dengan derasnya. Membuat Sultan terkejut dan para pelayan segera berlarian untuk mengambil alat peneduh.


Sultan tertawa kecil, merasa paham bagaimana reaksi Awija karena hujan ini. "Kamu jangan sedih begitu. Harusnya kamu senang karena akan ada teman di sana. Aku akan menemanimu. Kamu juga jangan kesal, aku merasakan hal seperti kamu jika aku melarang kamu melakukan sesuatu dan aku bersikeras untuk melakukan. Ingat malam di mana kamu akan meninggalkan diriku? Begitu rasanya."


Air mata Sultan turun, bercampur dengan percikan air hujan yang membasahi wajahnya meski ia memakai topi. Hatinya terasa sakit dan dadanya sesak. Kembali sedih dan marah atas kematian Awija.


"Tuan, ayo pergi. Pakaian Tuan jadi basah," kata seorang pelayan seraya memberi payung untuk Sultan, sementara dirinya hujan kebasahan. Pelayan tersebut menginterupsi kesedihan dan kemarahan Sultan yang mungkin akan berlanjut sampai malam.


Sultan tersenyum, tersadarkan.


Kemudian ia bangkit dan mengambil payung itu untuk meninggalkan makan Awija menuju rumah kembali. Menuju kamar dan terkunci di dalamnya dengan naas.


Menangis tak mau, tertawa tak mampu.


***