
"Jadi, rencanamu apa, toh?"
Bayu mengutarakan pikirannya ketika Surti sedang menggunting kuku tangannya di depan kamar kosnya. Tadi siang, Bayu sudah sangat khawatir hingga lupa bahwa dirinya sedang sangat kecewa pada Surti ketika mendengar bahwa para petugas khusus akan menggeledah seluruh masyarakat yang dicurigai punya masalah dengan kerajaan.
Surti terkait dengan Sultan, jelas ini membuat Bayu berpikir bahwa Surti akan tertangkap. Namun, pemeriksaan itu hanya pada barang-barang kasat mata, bukan arsip atau pesan di software seseorang.
Pada akhirnya, Surti aman.
Namun, bukan berarti Bayu akan meninggalkannya begitu saja. Dirinya sudah terlanjur basah, lebih memilih untuk berenang sekalian.
Lagipula, Surti pasti punya alasan tersendiri untuk menjadi seperti ini. Bayu sudah mengenalnya selama lima tahun, bukan hal mudah untuk meninggalkannya begitu saja. Bayu akan coba mengerti, akan coba memahami dan kembali menemani.
Bayu paham apa yang Surti rasakan saat dirinya pergi. Meski hanya dianggap sebagai teman, Bayu sangat bersyukur sebab dirinya adalah satu-satunya teman yang Surti punya.
Meski rasanya tak berbalas, duduk di sampingnya selalu, menemaninya sepanjang waktu dan memeluknya ketika sedang dalam waktu tertentu sudah sangat cukup bagi Bayu.
Setidaknya, dia berguna bagi seseorang yang ia suka.
Hari sudah sore, bahkan menginjak malam, namun matahari tampak ingin lebih lama tersenyum pada bumi, kini langit masih cerah dan Surti menyukainya.
Tak gelap. Tak sepi. Tak dingin. Itu suasana favorit Surti.
"Aku cuma tinggal kasih racunku pada Sultan. Semuanya selesai." Surti menjawab santai. Meski hatinya sangat sakit dan menentang, tak ada yang mampu mengalahkan egonya. Tekadnya kini sudah bulat. "Lusa waktunya. Aku akan pergi ke perayaan ulang tahun Sultan."
"Aku ikut."
Surti tertawa kecil. Meletakkan gunting kukunya dan menatap Bayu dengan wajah meremehkan. "Memang kamu diundang?"
"Nggak," balas Bayu dan gelengan polos. Jelas ini membuat Surti semakin tertawa.
"Bayu, Bayu. Kamu ini bagaimana, sih? Ini kan acara keluarga kerajaan, keluarga khusus yang pastinya tak semua orang bisa masuk. Aduh, Bayu, Bayu. Bagaimana bisa kamu ikut aku, hah?"
"Heh, memangnya kamu sendiri diundang?"
Wajah ceria Surti langsung meredup. Berubah mendung dan perlahan kepalanya menggeleng lemah. "Nggak sih..."
"Tuh, kan! Kamu juga nggak diundang, hm, sombong amat sama aku," potong Bayu tak sabaran.
"Ish, dengerin dulu," balas Surti dengan wajah agak kesal. "Aku awalnya memang diundang secara khusus sama Sultan. Tapi sekarang kan semuanya udah beda."
"Kok bisa? Kenapa?"
Surti tersenyum manis. "Sultan sudah aku kasih cairan untuk lupakan aku. Dia sudah nggak bisa ingat aku lagi, kenangan saat bersama aku dan... rasa untuk aku."
Bayu terdiam lama. Rasanya canggung dan masih terasa sakit saat menyadari bahwa Surti masih ada rasa pada Sultan. Dilihat sebanyak apapun, matanya selalu berubah saat membicarakan Sultan.
Dari awalnya redup, menjadi agak berbinar. Dari awalnya sedih, menjadi agak ceria. Dari awalnya hampa, menjadi agak sendu.
"Jadinya... kamu masih suka sama Sultan?"
Pertanyaan itu bagai jembatan tipis di atas jurang dalam bagi Surti. Terlalu takut untuk menjawab, karena jika salah dirinya akan masuk ke dalam kegelapan, kehampaan dan kesedihan.
Lama sekali Surti terdiam. Entah berpikir apa, Bayu tak tahu. Namun, rasanya lima tahun uang dihabiskan bersama-sama menjadi tak berarti saat dirinya tak dapat memahami gerak-gerik wajah serta tubuh Surti. Bayu seperti seseorang yang sangat jauh dengan Surti.
Menyedihkan rasanya.
Helaan napas Surti terdengar amat jelas di sampingnya. Jelas sekali, perempuan itu merasa amat berat untuk menjawab. Membuat Bayu merasa ikut bersalah pada akhirnya.
"Kalau nggak mau, nggak usah dijawab aja. Nggak apa-apa, aku nggak akan maksa," kata Bayu menenangkan. "Mana ada temen yang paksa-paksa temennya sampe stress."
"Lah? Emang aku kelihatan stress, ya?" Surti balik bertanya dengan wajah bingung.
"Banget."
"Ish."
"Dari dulu, cara kamu hibur aku nggak pernah berubah, ya," balas Surti seraya tertawa kecil. Mengingat masa dahulu saat dirinya bersama Bayu yang selalu temaninya dalam suka ataupun duka.
Bayu menjentrikkan jarinya dengan bangga. "Aku memang udah jadi Bayu sebenarnya sejak bertemu kamu. Makanya, aku nggak pernah berubah. Memangnya aku Superman?"
"Aku jadi tersinggung," tukas Surti sedih. "Maaf, ya, aku berbohong selama ini."
"Sudahlah, aku nggak mau bahas itu lagi. Yang lalu biarlah yang lalu. Aku tulus berteman denganmu sekarang, Surti." Bayu menenangkan Surti dengan nada lembut. "Aku tau kamu masih menyukai Sultan, karenanya aku berusaha untuk berhenti menyukaimu juga. Rasanya sakit."
Surti tertawa hambar. "Kamu kenapa sampai menyukai diriku sih?"
"Aku juga nggak tau, Sur," balas Bayu sedih. "Cinta mana ada yang tau."
Tawa Surti mengudara lagi. "Maaf, ya, aku justru menyukai Sultan saat itu."
Bayu mengangguk paham. "Tak apa. Itu kan hak kamu."
"Kamu mau tau jawabanku atas pertanyaan kamu tadi?" Surti tiba-tiba menawarkan. Membuat Bayu menoleh dengan cepat dan terlihat sangat antusias.
"Jelas mau."
Senyum Surti terulas tipis. "Dulu, aku memang menyukainya, tergila-gila padanya, jatuh cinta padanya. Tapi kini, rasa itu perlahan memudar. Seolah tali yang awalnya terjalin kuat, perlahan merenggang dan terputus begitu saja."
"Jadi, kamu benar-benar akan menghapus rasa itu?"
"Tak ada jalan lain, Bayu."
Bayu berdecak. "Mengapa kamu mengambil jalan tersulit hanya untuk mendapatkan uang? Kukira hidupmu selama ini sudah cukup."
"Aku butuh uang itu untuk membeli rumah, Bayu. Aku akan tinggal di sana sendiri dan melanjutkan hidup sesukaku. Aku masih butuh uang untuk mewujudkannya."
"Tapi, Surti---"
"Maaf, kalau kamu mau menentang ku, aku nggak bisa mendengarnya. Ini jalan terakhir yang harus aku tempuh untuk bahagiaku."
"Hei, maksud ku bukan begitu---"
"Maaf lagi, Bayu. Sekarang udah malam dan aku ingin tidur. Kamu hati-hati di jalan. Terimakasih untuk hari ini."
Bayu segera berdiri saat Surti hendak membuka pintu kamar kosnya. Dengan sigap, Bayu menahan tangan Surti untuk menyuarakan kebenaran hatinya.
"Aku nggak akan menentangmu Surti. Apapun yang kamu mau, silahkan lakukan. Aku akan mendukungnya." Bayu berdeham, berjalan lebih dekat dan memeluk Surti dari belakang. "Tapi jangan sekali-kali kamu bersedih sendiri. Jangan malu untuk menangis di depanku, jangan gengsi untuk curhat kepadaku. Aku bersedia menampung semua keluhnya, kesalmu dan lelahmu."
Air mata Surti hampir mengalir, sebelum akhirnya ia berbalik dan memeluk Bayu dengan erat. Bayu sudah seperti kakaknya, ayahnya bahkan kadang cerewet bagai seorang ibu yang selalu Surti harapkan.
"Kata-katamu akan selalu aku ingat, Bayu," kata Surti setelah melepas pelukannya sesaat sebelum akhirnya kembali memeluknya erat.
Bayu melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Surti. Tangan kanannya berganti menepuk-nepuk punggung Surti dengan tulus.
"Jangan lupa. Aku temanmu."
"Aku juga temanmu. Jangan lupa."
Surti benar-benar tak bisa kehilangan Bayu. Sementara itu, jauh dalam lubuk hatinya, Bayu merasa egois karena saat itu tak mendengarkan lebih sabar tentang penjelasan di balik rahasia Surti.
"Omong-omong, bolehkah aku tahu cerita masa lalu mu? Mengapa kamu menjadi peracik racun mematikan yang cantik?"
Surti mendongak di pelukannya, kemudian tersenyum lebar hingga matanya membentuk bulan sabit. "Tentu! Akan aku ceritakan semuanya dengan jelas!"
"Cocok sekali, banyak bintang-bintang. Lebih indah jika dilihat bersamamu."
"Gombal."
Pada malam itu, akhirnya dua teman memperbaiki tali yang sempat terputus dan rapuh. Menjadikan tali itu lebih kuat dan tahan lama. Sebab keduanya telah saling terikat kuat.