
Sultan tak diberi kesempatan untuk menyusul Surti yang sudah berlalu cepat keluar dari ruangan. Ingin sekali Sultan menarik Surti dalam dekap, bahwa dirinya sangat rindu dan bahagia karena Surti masih peduli dan ingat pada hari ulang tahunnya.
Sedikit, Sultan berharap Surti memberinya kado.
Namun, harapan Sultan sudah pupus saat perempuan yang dicintainya itu tak lagi berada di ruangan yang sama dengannya. Tadi, saat Surti duduk, Sultan memerhatikannya diam-diam, meliriknya sedikit-sedikit, supaya tak mengundang atensi siapapun.
Sultan sangat terkejut sekaligus khawatir saat Surti menangis setelah membaca surat darinya, tepatnya setelah melihatnya dan Siti saling memakaikan cincin. Namun, ia menganggapnya sebagai tangis haru atau bahagia--meski ini tak mungkin.
Seharusnya Surti tak pergi karena setelah, Sultan akan mengatakan pada semuanya bahwa, "Aku akan berhenti berhubungan dengan Siti."
Jelas, sederet kata itu membuat ruangan hening seketika. Bahkan Siti, yang biasanya akan langsung bertindak radikal atau berteriak marah, kini hanya mampu diam dengan pasrah.
Beda dengan Siti, kedua orangtuanya serta orang tua Sultan, memasang wajah terkejut dan sangat marah setelah. Namun, tak bersuara dahulu karena Siti mengirimkan tanda lewat matanya.
Sultan mengangkat tangannya, menampilkan jari manisnya yang tersemat cincin. "Cincin ini sebagai simbol perpisahan kami. Iya, kan, Siti?"
Siti mengangguk. "Iya. Aku juga--"
"RAJA!"
Mendengar teriakkan ibu, Sultan segera menoleh dan mendapati ayahnya yang tiba-tiba ambruk setelah sebelumnya berdiri untuk bersuara, mungkin untuk menentang dan memarahi perkataan yang dikeluarkan Sultan barusan.
Saat itu, seketika dunia Sultan hancur.
***
"Kalau kamu tutup mata kanan, panahnya akan meleset ke kanan, jauh dari target. Jadi, sekarang tutup mata kiri kamu karena kamu kidal," pesan ayah seraya menutup mata kanan Sultan ketika anak laki-laki itu mulai belajar memanah.
Sultan mencoba menarik panahnya sekuat tenaga, berharap panahnya akan melesat jauh dan mengkoyak kain target. Namun, rupanya tak semudah itu bisa ia lakukan. Tenaga Sultan kurang kuat dan tidak stabil hingga anak panah melesat sebelum ia dapat memastikan sasarannya.
Anak panah itu mendarat di tanah, hanya dua meter darinya. Melihat itu, Sultan membuang napas kecewa. Tangan yang memegang alat panah itu luruh di samping badannya. Dengan wajah kecewa, ia melihat ayahnya yang seketika tersenyum tipis.
"Sudah lima ratus dua puluh kali percobaan dan tak ada satupun yang kena sasaran." Ayah menyimpulkan dengan sorot mata kecewa. "Sepertinya kamu nggak punya potensi dalam diri kamu seperti yang Ayah dan Awija punya."
Tangan-tangan Sultan mengepal kuat. Rahangnya ikut mengeras ketika ayahnya berbalik pergi dari tempat latihan panahan ini. Sepertinya ayah sudah sangat kecewa dan lelah untuk mengajarinya.
"Pak Sun, ajari Sultan sampai bisa," titah ayah pada Pak Sun yang kemudian menjadi guru privat untuk Sultan menguasai panahan.
Sultan tersenyum kecut. Satu bulan yang lalu, ia melihat Awija yang selalu didampingi ayah untuk latihan panahan saat Sultan sedang fokus untuk lomba biola. Dari pada latihan fisik, Sultan lebih suka pada musik.
Kemudian, saat kini ia harus didampingi Pak Sun, meski Awija turut menemaninya sekaligus menyemangati, Sultan masih merasa tak puas karena tak ada kehadiran ayah. Sultan juga mau diberi senyum bangga, Sultan juga mau dibimbing lebih lama dan Sultan juga mau ditepuk bahunya dua kali dengan senyum lebar dari ayah tanda ayah puas atas kinerja Sultan.
Namun, mau mendapatkan hal-hal itu, Sultan bahkan tak memenuhi syarat. Sultan masih belum pandai berkuda seperti Awija, Sultan masih belum sigap dalam memakai samurai, Sultan masih belum bisa menerapkan gerakan-gerakan silat dan kini, Sultan bahkan belum pernah membidik sasaran dengan tepat setelah seribu kali mencoba.
Berhari-hari latihan, Sultan tak menyerah. Ia akan terus berlatih. Panahan adalah satu-satunya olahraga yang disukai ayah. Sultan ingin membuktikan bahwa dirinya juga bisa membanggakan.
Entah sampai tangannya bengkak, entah sampai peluhnya membanjiri baju karena panas yang menyengat dan entah sampai melewatkan makan malam demi latihan seorang diri di kegelapan malam, Sultan terus menarik karet alat panahannya.
Ibunya, Awija, bahkan Siti pernah memaksa Sultan untuk menyerah saja dan berhenti untuk terlalu fokus berlatih.
Namun, Sultan tak pernah mau mendengarkannya. Sebelum ajalnya menjemput, Sultan berjanji untuk melakukan latihan panahan sampai benar-benar mahir.
"Pelan-pelan, Tuan," saran Pak Sun seraya memperbaiki posisi tangan Sultan. Hari ini Sultan latihan lagi, didampingi Pak Sun tentunya yang telah memberi banyak tips dan saran. "Shoot!"
Meleset. Panah yang Sultan luncurkan masih meleset. Meski tak jauh, namun tetap saja belum sempurna.
"Tarik napas, Tuan. Bidik lebih tepat lagi, dengan tenang, lalu-shoot!" seru Pak Sun memberi instruksi.
Tepat sasaran.
Sultan tersenyum senang saat akhirnya panahnya berhasil melakukan apa yang selama ini ia harapkan. Satu kali. Pertama kalinya. Sultan menerima uluran tangan Pak Sun untuk ber-high five. Senyum Sultan masih mengembang sampai ia melakukan panahan lagi.
Dan, tepat sasaran lagi.
Sultan tak menghitung berapa banyak anak panah yang sudah ia luncurkan, namun dua minggu dirinya latihan akhirnya membuahkan sebuah hasil memuaskan. Sudah ia coba lagi berkali-kali untuk meluncurkan anak panah lainnya dan hasilnya tetap sama.
Mereka semua tepat sasaran. Pada titik tengah bulatan target yang dipasang di sebuah pohon beringin.
Sultan akhirnya bisa bernapas lega dan memutuskan untuk berbaring di rumput tipis tempat latihan dengan peluh yang sudah membanjiri pelipis, badan serta tangannya. Sultan ingin beristirahat sejenak dan menikmati keberhasilannya.
Tak lama, Sultan menyadari kehadiran Pak Sun masih ada dan menoleh pada pria empat puluh tahun itu.
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saja pamit dulu, Tuan."
"Iya."
Sepeninggalan Pak Sun, Sultan menatap langit biru yang cerah dengan mata menyipit silau. Namun, senyum senangnya sama sekali tak memudar sampai tak lama sebuah tangan menghalau sinar mentari yang membuat matanya menyipit silau.
Menyadari tangan itu milik ayahnya, Sultan segera menegakkan tubuh untuk berdiri di hadapan ayahnya dengan senyum puas.
"Bagus, Sultan. Kamu berhasil."
Saat itulah, ayah menyunggingkan senyum bangga dan hari itu menjadi salah satu hari yang membuat Sultan bahagia sekali.
Ayahnya itu dingin, namun ketika mendapatkan kehangatannya, hati akan terasa seperti terbang dan ringan bagai kapas. Itu yang Sultan rasakan dan rasanya tak bisa dilupakan.
Selain karena panahan, ayah juga melakukan hal yang sama, menjadi motivasi Sultan untuk terus berusaha hingga akhirnya menguasai samurai, judo, berkuda, silat dan taekwondo.
Sultan bisa memiliki keahian yang setara dengan Awija dan ayah berkata sangat lembut karenanya.
"Pertahankan Sultan, kekuatanmu adalah kekuatan rakyatmu nanti. Jangan pernah lupakan pelajaran hari ini. Ayah bangga padamu, Sultan. Ayah bersyukur kamu telah lahir."
Perkataan itu sangat berarti bagi Sultan hingga dapat memiliki kehidupan seperti sekarang, tumbuh menjadi pribadi yang selalu bangga pada diri sendiri dan percaya diri tentunya.
Sampai malam itu tiba.
Malam di mana ayah tak akan pernah lagi bisa menepuk bahunya, mengusap punggungnya dan tersenyum padanya. Ketika jasad ayah telah ditutup kain kafan, Sultan menitikkan air matanya.
Begitu sedih hingga tak lagi kuasa mempertahankan air mata yang menandakan kelemahan bagi seorang pria itu untuk menitik, membasahi pipi dan jatuh ke karpet merah yang Sultan remas kuat-kuat saat ia menangis sejadinya.
"Sultan...," Ibu meremas bahu Sultan dan ikut menangis dengan Sultan. Dua anggota murni kerajaan itu dilanda kesedihan yang teramat sangat dan tampak sangat rapuh.
Ibu dengan rambutnya yang sudah tak berbentuk lagi, wajah tanpa riasan dan tubuh kurus, sementara Sultan dengan lingkaran hitam di bawah matanya, rambut serupa anak ayah yang baru lahir dan baju yang sudah kotor karena terkena debu-debu saat turut membopong ayah ke ambulans saat ayahnya pertama kali tak sadarkan diri.
Semuanya ikut terpukul. Siti dan kedua orang tuanya juga tak kuasa menahan tangis meningkat bagaimana ayah Sultan ketika hidup, bagaimana jasa-jasanya pada mereka.
Tentu, meninggalnya Raja, menjadi kesedihan bagi rakyatnya.
Jauh di sana, Surti mengusap air matanya dengan tissue untuk yang ke seratus kali. Dua baru saja melihat berita. Bahwa ayah Sultan telah meninggal. Penyebabnya meninggalkan belum diketahui, masih dalam proses otopsi dan Surti turut berdebar karenanya meski sudah mengetahui dengan baik bahwa dirinya penyebab kematian Raja itu.
Surti benar-benar merasa buruk sekarang.
Jika ia bisa, Surti ingin mengakhiri dirinya sendiri sebagai penebus kesalahannya selama ini. Namun, melihat wajah Sultan yang tersorot untuk menyampaikan perasaan sedih serta tanggapannya Tetang kepergian Sang Ayah, Surti tak bisa begitu saja menutup usianya.
Surti masih ingin menemui Sultan, jika bisa, ia akan berlutut dan meminta maaf sebaik-baiknya pada Sultan. Surti juga masih ingin memeluk Sultan untuk memberi semangat pada laki-laki itu setelah ditinggal orang yang berjasa dalam hidupnya. Surti ingin mengusap air matanya, ingin menggenggam tangannya dan ingin memberikan kata-kata yang mewakili perasaannya yang sesungguhnya sekarang.
Surti ingin membeberkan segalanya. Rahasia hidupnya, kegelapan hidupnya, kebohongannya dan perbuatan-perbuatan buruknya sebelum bertemu Sultan.
Lalu, terakhir, Surti akan mengatakan bahwa dirinya adalah Black Poison, seseorang yang telah dibayar untuk membunuh dirinya sendiri. Yang nyatanya, tujuannya meleset hingga justru membuat usia ayah Sultan berhenti berlanjut.
Surti tak pernah berniat untuk membuat ayah Sultan menutup usianya, itu sepenuhnya kesalahan teknis.
Dengan tangis tanpa suara yang masih berlanjut, Surti membuka laptopnya. Ia memeriksa e-mail yang masuk dan membulatkan matanya dengan tangan yang menutup mulut sebab amat terkejut saat membaca pesan dari Kerajaan Pasultan.
Kerja bagus, Black Poison.
Meski melenceng dari pesanan, perbuatanmu membuat segalanya jadi mudah. Terimakasih. Akan aku transfer setengah dari perjanjian awal kita karena bagaimanapun, pekerjaan yang kamu lakukan itu tidak sesuai dengan pesananku di awal.
Surti mengeraskan rahangnya. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil laptop itu untuk di bawa ke luar, dan melemparkannya dengan keras hingga hancur berkeping-keping di halaman depan kost-nya.
Napas Surti memburu, ia mengepalkan tangannya dengan gigi bergemeletuk menahan emosi. "Argh!"
Baru kali ini Surti benar-benar menyesal telah membuat kematian seseorang terjadi karena tangannya.
Tubuh Surti ambruk pada akhirnya. Di tanah yang membuat kakinya kotor, Surti menangis sejadinya. Tak ada yang peduli padanya karena selanjutnya, seperti telah mengerti, langit mencurahkan tangisnya dengan deras hingga jeritan, rintihan dan tangisan Surti yang keras itu tersamarkan oleh derasnya air hujan yang turun.
Sultan, maaf.
***