Black Poison

Black Poison
07. In an Afternoon



"Siapa, dia, Sultan?"


Pertanyaan itu menggema di ruang makan yang lenggang tersebut. Baik Sultan, maupun Surti, keduanya menampilkan wajah terkejut yang sama. Berbeda dengan kedua orangtuanya yang berwajah luar biasa murka. Kaki Surti dibuat bergetar dan lemas karenanya.


Dengan langkah tergesa, mereka mendekati Surti dan Sultan. Pandangan ayah meneliti Surti dari atas sampai bawah dengan curiga.


"Siapa kamu?"


"Ha--em... Saya Surti, Paduka Raja," jawab Surti super formal sambil menunduk sopan. Sultan yang melihatnya hampir saja tergelak karena Surti terlalu menonton banyak drama hingga berlaku se-udik itu pada ayahnya.


Ayahnya memang raja, ayahnya memang orang penting dan tidak bisa ditemui sembarangan atau diperlakukan sembarangan. Orang-orang harus menghormati dan bersikap sopan, namun bukan berarti seperti yang Surti lakukan. Ayahnya hanya perlu bahasa tubuh yang sopan dan baik, tak perlu sampai menyebut 'paduka raja' yang sepertinya hanya terdapat dalam film fiksi itu.


"Ini teman Sultan, ayah, ibu," balas Sultan tiba-tiba. "Tadi ada keperluan dan sekarang mau pulang."


"Orang tuamu siapa?" Ayahnya mengabaikan perkataan Sultan dan lanjut bertanya dengan curiga yang pekat.


"Ah--orang tuaku sudah meninggal, paduka raja. Paduka raja tidak perlu khawatir," jawab Surti polos. "Aku nggak ada maksud apa-apa, kok, paduka raja. Jangan hukum aku, paduka raja."


"Apa yang membuktikan perkataanmu itu mengandung kebenaran?" tanya ayah masih tak bisa percaya begitu saja. "Pakaianmu sangat aneh dan tak mungkin Sultan akan membawamu masuk begitu saja."


Surti mengerjap bingung. "So-soalnya, ini pakaian aku sehari-hari. Pakaianku cuma ada lima, aneh-aneh karena aku mengambilnya dari loak baju bekas."


"Jangan sok miskin kamu!" bentak ayah Sultan dengan amarah yang mulai memuncak. Matanya melotot karena mendapati Surti yang sepertinya berbohong.


Surti menegak ludahnya susah payah, napasnya mulai terasa sesak dan kini ia sangat ketakutan.


"Sultan sudah punya perempuan yang akan menjadi istrinya kelak, kehadiranmu hanya akan jadi angin lalu baginya. Jangan terlalu berharap, jangan terlalu merayu, jangan terlalu memaksa," tambah ibu Sultan tak kalah tajam dan menyayat hati. "Liat dirimu dulu, bercerminlah setiap malam. Pantaskah kamu berada di sini, berhubung dengan Sultan?"


Tubuh Surti membatu. Ia merinding, tak berpikir sampai situ. Ia kira menyukai seorang Sultan akan sangat sederhana, namun ternyata serumit ini bahkan sebelum ia menyuarakan rasanya.


"Jangan sembarang pada keluarga kerajaan!" Ayah membentak lagi tak kalah keras dari sebelumnya.


Dibentak seperti itu, jelas membuat Surti terkejut luar biasa. Bahunya agak bergetar saking beratnya ia bernapas. Tangannya saling menaut untuk menyalurkan rasa takutnya.


"Ayah," sela Sultan tak habis pikir. "Sultan punya hutang sama dia dan dia diajak Sultan buat makan di sini, Sultan ingin membayar supaya tak punya hutang lagi."


"Jangan mengajak orang sembarangan," peringkat ayahnya tajam, penuh penekanan. "Mereka sangat berbahaya."


"Dia tak berbahaya." Sultan membalas tak kalah tajam seraya menarik tangan Surti untuk pergi dari hadapan kedua orang tuanya.


Dari tangan kecil yang ia genggam, Sultan bisa merasakan betapa dinginnya, bergetarnya dan takutnya yang dirasakan Surti. Seketika, ia merasa buruk dan bersalah.


Di belakangnya, Surti mengikuti langkah Sultan dengan wajah terkejut. Meski tak bersuara sampai mereka tiba di gerbang masuk, Surti segera melepas genggaman Sultan di tangannya untuk saling berhadapan.


Surti mengerutkan kening dengan wajah tak suka. "Kok kamu main bawa-bawa aku, sih?"


Sultan mengerjap bingung. "Hah?"


"Kan orang tua kamu itu lagi bicara, harusnya kita jangan pergi sebelum benar-benar diijinkan setelah orang tua kamu setelah bicara. Kamu ini nggak sopan, ya," cerocos Surti kesal. "Kamu ini seharusnya menghormati dan menghargai orang tua kamu selama mereka masih hidup dan ada di dunia ini. Nanti nyesel, lho."


Sultan menatap Surti dengan banyak tanya di benaknya. Memang, perkataan Surti ada benarnya, namun ia tak habis pikir bahwa itulah yang keluar dari mulutnya sehabis diintimidasi oleh orang tuanya sedemikian rupa.


Orang normal mungkin mentalnya akan terbanting, marah atau bahkan sangat sedih karena dihina-hina, namun sepertinya Surti bukan termasuk di dalamnya.


"Lo nggak marah?"


Surti mengerjap lucu, kemudian tertawa geli di wajahnya yang polos itu. Angin sore yang menerbangkan anak rambutnya membuat serupa wajah itu cantik di mata Sultan.


Entahlah, Sultan terpana melihatnya.


"Ngapain aku marah? Kalau aku jadi orang tuamu, aku pasti melakukan hal yang sama pada seseorang tak jelas yang tiba-tiba masuk dan makan dengan baju super norak ini," jelas Surti ringan, seolah semuanya adalah candaan baginya, seolah hidupnya memang pantas untuk bercandaan.


Sultan tak dapat lagi menanggapi, ia bingung harus berbuat atau berkata apa.


Baru kali ini ia bertemu orang se-ajaib Surti. Yang hidupnya seringan kapas, senyumnya semudah terbaliknya telapak tangan dan cerianya seolah abadi bahkan setelah mendapatkan ketakutan.


"Yaudah, sekarang lo pulang aja," cetus Sultan pada akhirnya.


"Hm, oke deh." Surti tersenyum lebar sekali lagi. "Dah!"


Melihat Surti berbalik begitu saja, kemudian melangkah seperti akan berjalan menuju rumahnya, membuat Sultan tergerak untuk memanggilnya hingga perempuan itu berbalik dengan wajah bingung.


"Kenapa?"


"Lo mau jalan kaki?"


"Ya masa jalan tangan."


Sultan memutar bola matanya, kesal karena dibecandakan begitu. "Rumah lo di mana?"


"Jalan dua puluh menit dari sini."


"Sendiri berani?"


"Ya kalau nggak berani, aku udah maksa kamu buat nemenin kali."


Sultan menggaruk tengkuknya dengan salah tingkah. "Gue ikut kalau gitu."


"Ha...." Surti melongo tanpa bisa mengkondisikan wajahnya. Ia terlalu terkejut dengan perlakuan Sultan sore ini.


"Gue nggak enak karena ortu." Sultan berjalan lebih dulu. "Dengan begini, gue rasa impas dan nggak akan merasa bersalah lagi."


Surti tertawa kecil, lantas menyusul dengan langkah setengah berlari. Mereka berjalan berdampingan menelusuri jalanan sore yang nampak indah dan sejuk.


"Ternyata, kamu ini lebih dari baik, ya, hatinya." Surti mulai menyimpulkan. "Aku kira kamu super dingin dan jutek karena waktu pertama kali kita bertemu pun kamu sama sekali nggak senyum. Wajah kamu itu kayak patung dan aku bingung harus gimana. Tapi sekarang aku udah legaan, udah nggak bingung lagi harus gimana. Kamu sama kayak orang-orang, kok. Ada baiknya, ada juga buruknya."


Senyum Sultan tertarik tipis. "Hobi lo emang ngebacot, ya."


"Idih, ngeledek," kesal Surti sambil cemberut.


"Setiap hari lo jalan kaki?" tanya Sultan tiba-tiba, pada Surti yang anehnya ikut terdiam beberapa saat yang lalu.


Surti mengangguk tanpa menoleh pada Sultan. "Mau bagaimana lagi, aku harus hemat. Jalan kaki pun sehat, kenapa nggak?"


"Ya maksud gue, apakah lo nggak capek atau setidaknya iri lihat orang-orang selalu pake mobil?"


Bahu Surti terangkat, artinya ia tak begitu peduli. "Iri tanda tak mampu."


Mendengar itu, Sultan tertohok amat dalam hingga tak dapat membalas lagi. Pikirannya blank begitu saja.


"Suatu hari nanti aku juga akan merasakan, aku akan berusaha. Aku sekarang sedang berakit-rakit dahulu, bersakit-sakit dahulu," lanjut Surti menjelaskan. "Berang-berang kemudian, bersenang-senang kemudian. Begitu kan, pribahasanya?"


"Ah, iya," balas Sultan seadanya.


Kini ia paham pada kehidupan yang berbanding terbalik dengannya. Kini ia tahu bagaimana perasaan seseorang yang hidupnya berlawanan dengannya. Kini ia sadar bahwa tak ada kehidupan untuk seseorang mengeluh.


Hidup ada untuk dihidupi, hidup ada untuk dijalani, hidup ada untuk dihadapi, hidup ada untuk disenangi dan hidup ada untuk disyukuri.


Sultan tertawa pada dirinya yang amat bodoh selama ini. Yang tak bersyukur pada kehidupan yang sudah sangat sempurna miliknya.


Beruntung ia hari ini bersama seorang perempuan yang membuatnya mengerti satu nilai kehidupan.


"Nah, udah nyampe. Kos aku tinggal masuk ke sana, kamu boleh pulang sekarang," kata Surti tiba-tiba, ketika pada kenyataannya mereka telah berjalan selama dua puluh menit yang terasa dua menit bagi keduanya. "Dah."


Surti melambai, pada Sultan yang langsung berbalik pergi setelah mengangguk kecil dan melihat kos tempat tinggal Surti sekilas.


Melihat punggung Sultan yang semakin menjauh, perempuan berambut ekor kuda itu menjerit tertahan sambil mengepalkan tangannya, saking senangnya bertemu, makan dan pulang bersama Sultan.


Kepala Surti kemudian mendongak pada langit sore yang entah sejak kapan bisa seindah ini. Ah, Surti ingin sekali waktu diputar kembali, lalu beku saat dirinya bersama Sultan.


Betapa senangnya Surti, betapa kencangnya degup jantung setiap kali melihat Sultan, berada di dekat Sultan dan bahkan berjalan tepat di samping laki-laki tinggi yang super tampan itu.


Surti tak ingin ini segera berakhir.


Namun, melihat punggung Sultan yang semakin tak terlihat, membuatnya semakin sadar pada kehidupannya yang biasa saja, bukan kehidupan indah seperti dalam dongeng dengan pangeran tampan berkuda putih.


Di sini Surti seharusnya berada, di pemukiman sempit, sederhana dan jauh dari kata mewah.


***


"Kamu memilih perempuan tak jelas itu dari pada makan dengan keluarga. Apa yang salah dari kepalamu itu, Sultan?"


Pertanyaan menusuk hati itu terdengar ketika Sultan hendak melewati ruang makan yang mana terdapat kedua orangtuanya. Ayah dan ibunya telah selesai makan saat Sultan hendak melangkah ke kamarnya.


Otomatis, langkahnya terhenti.


Sultan hanya ingin keluar dari cangkangnya, Sultan ingin berbeda hari, Sultan ingin menyuarakan semua yang ada dalam benaknya... untuk kedua orangtuanya yang bagaimana pun sangat ia sayangi itu.


"Sultan cuma merasa nggak enak karena ayah dan ibu jahat pada seseorang yang baik seperti dia. Aku mengantarnya berjalan ke rumahnya."


"Seseorang yang baik?" Ayah tertawa atas perkataan Sultan yang satu itu. "Kamu berbicara seolah telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Aneh sekali."


"Dari mana kamu belajar selingkuh seperti itu, Sultan? Kamu lupa siapa itu Siti Mariatul Qibtiah? Siti jauh lebih cantik, anggun, elegan dan pintar dari perempuan tadi." Ibu ikut bersuara dengan mulutnya tajam seperti biasanya. Sekarang, kalian bisa menebak dari mana Sultan punya segudang kata-kata menyayat hati di mulutnya. "Kamu katarak ya, Sultan?"


"Dia membantu Sultan, ayah, ibu," balas Sultan memberi kejelasan satu kali lagi dengan wajah lelah. "Sultan membawanya kemari, mengantarnya pulang, itu semua semata-mata hanya karena Sultan merasa berhutang budi."


"Cih.


"Alasan saja kamu."


"Ayah mengajarkan Sultan untuk tak punya hutang pada siapapun." Sultan hampir saja menghela napasnya keras-keras andai tak ingat bahwa itu perbuatan yang sangat tak terpuji. "Ibu mengajarkan Sultan untuk tak membeda-bedakan orang dengan wajah, status sosial, status pendidikan ataupun agama. Apa yang Sultan lakukan hari ini adalah terapan untuk hal yang ayah dan ibu ajarkan."


"Kamu sembarangan, Sultan. Itu salah." Ayah membalas dengan sabar. "Kamu tak perlu membawanya sampai masuk ke daerah pribadi kerajaan. Apa kamu lupa pada peraturan?"


Sultan mengepalkan tangannya dalam diam, menatap ayahnya yang seharusnya sudah ia duga bagaimana sifatnya.


Mau sampai kapanpun, mau bagaimanapun, ayahnya tak akan pernah bisa didebat.


Peraturan kerajaan memang menuliskan bahwa tak boleh ada sembarangan orang masuk ke wilayah dalam. Bahkan kerabat dekat sekalipun. Wilayah dalam adalah rahasia khusus keluarga kerajaan keturunan murni.


Baiklah, Sultan mengaku salah. Namun, ia tak begitu merasa bersalah hanya karena mengajak Surti untuk makan.


"Dia bisa menunggu di gazebo depan, atau taman depan. Di sana banyak kursi-kursi cantik yang lebih dari cukup untuk membuat seseorang bahagia." Ayah menambahkan.


"Di sini terlalu privat, Sultan. Bagaimana kalau ada hal buruk yang terjadi setelah ini? Tak ada yang tahu." Ibu melanjutkan dengan wajah khawatir. "Setidaknya, lebih baik mencegah daripada mengobati. Paham kamu?"


"Dia tak se-berbahaya itu, ayah, ibu," bela Sultan untuk Surti. "Dia polos, udik dan bodoh. Aku yakin dia tak akan membahayakan kehidupan kita."


Ibu menoleh dengan tatapan serius yang tak dapat membuat Sultan mengalihkan pandangannya saking kuatnya pengaruh ibu.


"Jangan menilai isi dari luarnya, Sultan."


Sultan menghela napas kecil. Laki-laki yang merupakan anak sulung Teuku Abdiwijaya Prasetyo dan Diana Ambaraya Prasetyo itu menunduk sopan seraya berucap, "aku akan ke kamar duluan untuk istirahat. Selamat sore."


Ayah dan ibu dibuat tertawa tak percaya karenanya.


"Ternyata anak itu benar-benar dibuat buta oleh cinta." Ayah menyimpulkan dengan tak suka.


"Makan dulu, Sultan!" seru ibu masih mengkhawatirkan.


"Sultan udah makan di kampus!" balas Sultan sebelum benar-benar masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya segera. Di dalam kamarnya itu, napas Sultan langsung tak beraturan.


Jelas, ini pertama kalinya ia mengabaikan, menentang dan berdebat dengan ayah dan ibunya yang kaku dan selalu terpaku pada aturan itu.


***