
"Dari mana kamu?"
Pertanyaan itu segera menyambut ketika Sultan selesai membersihkan dirinya dan membuka pintu kamarnya untuk makan malam bersama. Ayahnya telah berada di hadapannya, menatapnya tajam dan tak suka.
"Kenapa pulang pakai sepeda? Mobilmu rusak?"
"Tidak apa-apa. Tak ada alasan." Sultan enggan menjawab jujur.
"Jangan bercanda, Sultan," gertak ayahnya geram. "Jangan main-main. Sekarang kerajaan kita ada dalam titik rentan."
"Aku tahu."
"Jangan biarkan ayah berkata ini lagi. Ini kali terakhir ingat baik-baik."
"Iya," balas Sultan datar. Lelah juga jika terlalu sering diperlakukan seperti ini. Seperti sebuah benda yang terus dipaksa menurut.
"Jangan bermain-main dengan perempuan. Jaga Siti baik-baik." Ayahnya berkata dingin. "Jangan sampai ayah menyuruh seseorang untuk membuatmu menurut."
Senyum miring Sultan terulas, ia paham sekali apa yang sebenarnya ayah maksud. "Dia hanya perempuan mainanku, pengisi waktuku. Tak lebih berharga dari sampah."
"Benarkah?" Ayah tampak sangat terkejut.
"Untuk apa aku berbohong?" Sultan masih memasang wajah datarnya. "Apa ayah puas dengan jawabanku?"
Ayah tersenyum lebar. "Kalau begitu, ayah akan majukan tanggal tunangan kalian."
Untuk beribu alasan, senyum Sultan terulas tipis. Wajahnya tak lagi datar, bahkan tampak bahagia dan lega. "Apa sebentar lagi?"
"Tepat di hari ulang tahunmu." Ayah membalas cepat. "Satu minggu lagi. Bersiaplah."
***
"Eh, liat deh, si gembel itu emang nggak punya urat malu, ya?"
"Udah tau Sultan ada tunangannya, eh, masih aja dideketin."
"Emang, ya, yang namanya urat malu orang miskin itu nggak pernah selaras sama gengsi."
"Udah tau dirinya batu, masih aja ingin berubah jadi permata."
Surti merasa dirinya terus dipandang diberi kata-kata tak senonoh sepanjang kakinya melangkah. Sepanjang waktu. Telinganya sudah bosan mendengar cacian, makian dan umpatan itu. Entah apa penyebabnya, namun sebuah berita telah menyebar sejak dirinya masuk kampus.
Sultan akan bertunangan. Tentu saja dengan Siti.
Bisa apa dirinya yang bagai batu kerikil ini? Ditendang satu kali saja sudah mental jauh sekali. Apa lagi banyak sekali perempuan cantik yang sepadan dengan harkat dan martabat Sultan.
Ah, menyedihkan sekali.
Surti sudah tak menangis, namun kala kakinya menginjak kantin, sebuah tangan menarik tangannya untuk berlari entah ke mana. Punggung itu amat Surti kenali. Oleh karenanya, hatinya terasa hangat dan matanya refleks meleleh.
Menangis sejadinya.
Kaki Surti terus berlari mengikuti arahan tangan di depannya. Sampai ia menyadari dirinya telah berada di rooftop yang sepi. Sore sudah menyambut, cahaya jingga merambat, menghiasi semua yang dilihat indra penglihatan.
Tangis Surti masih berlanjut, bahkan sedikit bersuara karena kesal, marah dan sedih yang sedari tadi ia tahan. Surti baru mampu mengeluarkannya sekarang.
"Nangis dulu, nanti cerita," saran Bayu dengan nada agak ketus.
Temannya itu membalikkan badannya, seolah memberi ruang untuk Surti melampiaskan rasanya. Senang rasanya dapat teman yang mengerti seperti Bayu. Di waktu itu, Surti menangis sejadi-jadinya, sementara kepalanya memutar ulang sebab mengapa ia menangis.
"Hei, bersihin dong. Itung-itung jadi babu di masa depan!"
Itu kata seseorang yang sengaja menendang tempat sampai di depan Surti yang tengah berjalan. Banyak sekali yang melihatnya kala itu, namun mata itu seolah menuntut Surti untuk bertanggung jawab atas kelakuan yang bukan disebabkan oleh dirinya sendiri.
Tak punya pilihan, akhirnya Surti berjongkok. Memunguti setiap sampai dan kotoran untuk dimasukkan kembali ke dalam tempat sampah.
Perih sekali rasanya diperlakukan rendah seperti ini. Surti kira, meskipun ia miskin, jika ia memiliki pendidikan, semuanya akan berbeda.
Namun, pada akhirnya semua sama saja.
"Liat-liat dong kalau jalan. Sori, ya, sepatu mahalnya jadi kotor dan basah."
Itu terjadi saat Surti membeli air mineral dan seorang mahasiswi menabraknya. Entah sengaja atau tidak, mahasiswi yang membawa es bubble membuat sepatu Surti tertumpahi oleh minuman itu.
Surti tak marah, ia memaafkan kesalahan itu dan mengganti sepatunya dengan sandal jepit yang untungnya ia bawa hari ini.
Kemudian di toilet. Seseorang sengaja mengunci dirinya di sebuah kamarnya. Lama Surti di sana, hampir putus asa. Beruntung seseorang membukanya karena Surti menggedor-gedor pintu dan berteriak kencang sekitar lima belas menit lamanya.
Semua perlakuan itu Surti dapat secara cuma-cuma. Surti bingung harus bagaimana. Ingin sekali marah, namun entah kenapa rasanya itu salah.
Sebab Sultan saja tak pernah mempublikasikan hubungan mereka. Sultan tak pernah ingin dekat Surti di tempat umum, di tempat ramai. Laki-laki itu sengaja mendekatinya saat sepi, saat gelap sehingga tak ada satupun yang dapat melihat.
Hingga tak ada satu pun yang tahu, perasaan Surti sebenarnya dibalas oleh Sultan.
Orang-orang tahu Surti mendekati Sultan karena gatal, karena nekat dan memaksa. Sebab Sultan selalu terlihat dingin dan datar di hadapannya ketika mata orang-orang menyaksikan.
"Udah aku bilang Sultan itu agak bahaya, Sur," kata Bayu mencoba menenangkan. Tanpa membalikkan badannya. "Sekarang lihat semua ini. Kamu juga yang sakit. Ah, nggak aku juga sakit saat melihatnya."
"Aku kira nggak akan kayak begini ujungnya, Bayu," rengek Surti sedih.
"Aku melihatmu sejak pagi, bagaimana kamu diperlakukan, bagaimana kamu dikata-katai," kata Bayu dengan suara pelan. "Aku nggak tahan kamu seperti ini. Akan kuhajar Sultan."
"Jangan," tahan Surti. "Aku tahu Sultan tak punya pilihan."
"Kamu tahu begitu, tapi masih saja bertahan. Kamu bodoh atau bagaimana, sih?" kesal Bayu, akhirnya membalikkan badannya dan menatap Surti dengan tajam. "Hatimu dipermainkan olehnya!"
"Aku tahu," balas Surti seraya menundukkan kepala. "Aku sangat mencintainya."
Bayu berdecak. Dirinya sudah tak tahan lagi dengan sikap keras kepala teman yang ia cintai ini. "Aku beli minum dulu. Kamu diam dulu di sini, bahaya kalau keluar sendiri."
"Iya," balas Surti menurut.
Drrrtt!
Getaran ponsel di saku celananya membuat Surti segera mengambil benda kotak itu. Sebuah SMS dari Sultan terpampang sebagai akibat sebab ponselnya bergetar.
Kamu di mana?
Di sini, sialnya, Surti teringat bagaimana dirinya dan Sultan menghabiskan waktu di rooftop. Mengobrol tentang sesuatu yang terlalu tinggi hingga hari ini membuat Surti tertampar untuk setelahnya sadar diri.
Surti tertawa, pada dirinya. Lalu menangis kembali, untuk dirinya lagi. Betapa bodohnya dia, betapa menyesalnya dia dan betapa sedihnya dia kini.
Tawa dan tangis bersahabat, tak mau lepas hingga membuat Surti tak dapat merasakan secara jelas. Sebenarnya apa yang dirasakan dirinya sekarang ini?
"Surti!"
Suara itu terdengar. Bagai mimpi dan halusinasi yang Surti buat. Ketika Surti berbalik, Sultan berlari dengan wajah khawatir dan napas memburu. Surti masih mengira sebuah ini adalah khayalannya, sampai ketika Sultan memeluknya, perempuan itu sadar semua ini nyata.
Pada peluk hangat yang nyaman, tubuh hangat yang tinggi dan kekar, tangan yang membelai rambutnya untuk memberikan ketenangan serta aroma maskulin yang sudah hidung Surti hafal.
Semua ini favoritnya, kesayangannya dan kenyamanan serta ketenangannya.
"Maaf, maaf, maaf," cerocos Sultan lirih, berbisik di telinga Surti. "Maaf, maaf."
"Maaf nggak akan menyelesaikan masalah, Sultan," sedih Surti, menangis sejadi-jadinya hingga kini tak tahu bagaimana bentuk wajahnya sendiri.
"Maaf," balas Sultan keras kepala. Bahkan mengeratkan pelukannya untuk menandakan seriusnya ia kini. "Maaf."
Surti tak bisa untuk tak tersentuh. Surti tak bisa egois lagi. Surti tak tahan. "Iya, aku maafkan."
Semudah itu cinta memengaruhinya. Tangisannya kembali pecah lebih keras dan Surti membalas pelukannya sama eratnya. "Aku takut, Sultan. Aku sedih, aku marah, aku kecewa. Kamu ke mana saja hari ini?"
Sultan melepas pelukan itu perlahan, dengan lembut dan penuh perasaan. Tangannya segera menangkup wajah Surti dan menghapus air mata perempuannya itu dengan ibu jari.
"Jangan dengarkan mereka. Jangan turuti mereka. Jangan terpengaruh mereka." Sultan tersenyum penuh pesona. "Ini cerita kita. Jangan pernah tergoyahkan oleh mereka. Ini tentang aku dan kamu."
Ketika Surti akan mengalihkan pandangannya sebab tak tahan dengan betapa tampannya Sultan yang membuat jantungnya hampir sekarat, Sultan segera menahan wajah itu untuk terus berhadapan dengannya.
"Look at me. Always." Matanya menusuk mata Surti tepat. Kemudian, tangannya beralih pada telinga Surti, menutupnya. Meski begitu, Surti masih dapat mendengar suaranya. "Don't listen. Don't be afraid. Don't be sad. Don't go... and don't... cry."
Kelopak Surti menutup, meluruhkan setetes air matanya. Perlahan, kepala itu mengangguk, mengartikan bahwa dirinya akan menuruti apa kata Sultan. Betapa cantiknya ia ketika seperti ini, Sultan mengakuinya. Namun, hatinya tersayat ketika melihatnya.
Pada tubuh lemah yang sudah sangat sering ia sakiti, Sultan merengkuhnya dalam peluk amat erat. Mengendus puncak kepala itu dengan penuh rasa.
"Terimakasih telah bertahan."
***
Surti selesai membersihkan diri begitu waktu telah menginjak pukul tujuh malam. Hari yang sangat panjang dan emosional telah ia lewati. Surti membereskan peralatan mandinya, tas kuliah kemudian mempersiapkan tempat tidurnya.
Dirinya hanya memiliki ruang 2x2 meter yang mengharuskan Surti menata barang-barang dengan rapi dan teratur agar cukup. Memang, penderitaan seperti ini harus dilaksanakan untuk mencapai sesuatu yang lebih besar.
Menyenderkan badan di tembok, Surti mengambil sebuah laptop di atas kardus tempat buku-buku kuliahnya. Diletakkannya laptop tersebut di depannya, kemudian menyalakannya.
Butuh sebuah proses agak lama sampai laptop tersebut menyala sepenuhnya. Laptop tersebut bukan laptop biasa. Surti memodifikasi dan merancang sebuah proteksi yang hanya diketahui oleh dirinya.
Fitur serta tampilannya pun serba hitam dan hanya dapat dioperasikan oleh dirinya sendiri. Tak ada yang mengetahuinya. Bahwa Surti mengerti dan paham tentang dunia program dan sistem perangkat lunak.
Surti membuka aplikasi e-mail yang dikhususkan untuknya dan para kliennya. Senyum Surti terulas tipis ketika membuka e-mail pertama, teratas dan favoritnya mengirim sebuah pesan elektronik baru.
Bagaimana perkembangannya? Sebentar lagi tanggal 1 Desember.
Sedang dalam proses. Tunggu saja.
Tenggorokannya terasa kering dan serak. Surti berdeham berkali-kali. Sepertinya ia terlalu banyak menangis hari ini. Kepalanya pun terasa pening dan matanya panas.
Surti memutuskan untuk membeli minuman untuk setelahnya tidur. Langsung saja ia bangkit, keluar dari kamarnya, menutup pintu kamarnya dan memakai sandal untuk pergi ke warung terdekat.
Udara malam membuat Surti mengusap-usap lengannya yang kedinginan. Cepat-cepat ia berjalan, membeli sebotol air mineral dan kembali berjalan ke arah kosnya.
Sebenarnya ia tidak perlu hidup susah seperti ini. Namun, Surti harus menahannya satu minggu lagi. Surti mengangguk, menyemangati dirinya dan berjalan lebih cepat ke arah kamarnya.
Awalnya ia biasa saja ketika akan masuk, membuka pintunya, namun seseorang yang sudah berada di dalamnya dengan laptopnya menyala di depannya sedang dibaca, membuat langkah Surti terhenti dengan badan yang langsung membatu.
"Ba-bayu? Ngapain kamu di sini?" tanya Surti amat terkejut. Matanya melotot, menatap laptopnya sendiri.
Mendengar suara Surti, Bayu segera bangkit dan berbalik dari laptop milik Surti. Wajahnya datar, namun jelas di dalamnya terdapat banyak emosi yang sengaja di tahan.
Tak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaannya, Surti berdeham dan akhirnya masuk dan berjalan menuju laptopnya. Dengan gerakan tenang, ia mematikan laptop itu. Walau begitu, Surti kini menahan diri untuk tak menjambak rambutnya sendiri atas keteledoran yang amat beresiko ini.
"Kamu... baca apa aja?" tanya Surti lagi, kini sudah berbalik dan menghadap Bayu yang masih menegang terkejut.
"Kamu bohong," cetus Bayu dingin. Namun, perlahan wajahnya berubah dengan ekspresi kecewa dan tersayat. "Selama ini kamu anggap aku apa? Lima tahun ini aku dianggap apa?"
Dada Surti langsung terasa sesak. Matanya mulai berkaca-kaca. "Bayu..."
"Aku bahkan tak pernah jadi seseorang spesial bagimu, kan?" Bayu memotong dengan nada kecewa dan tawa sedih untuk dirinya sendiri. "Ketika aku mengenalkanmu pada keluargaku, ketika aku berusaha sekuat tenaga untuk menjagamu dan ketika aku mengalah saat dirimu menyukai Sultan, adakah satu kali balasan darimu? Bodohnya, aku baru sadar sekarang. Tak ada balasan darimu, tak ada yang tulus darimu. Kamu palsu, kamu bohong dan... arg, aku tak tahu kamu bisa seperti ini."
Bayu mengusap wajahnya dengan putus asa. Menatap Surti yang menahan tangis itu dengan mata marah. "Kamu jadi pembunuh bayaran?! Apa yang ada dalam otakmu itu? Kamu tak takut pada hukuman?"
"Ada situasi yang mengharuskan diriku menjadi seperti ini, Bayu." Surti membela diri dengan suara serak. "Maaf, aku tak bisa memberitahumu."
Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah menyerah atas Surti. "Lima tahun aku menemani dirimu, lima tahun aku mengenalmu, lima tahun aku bersamamu. Tak pernah sekalipun aku merasa gagal sebagai teman, namun rupanya aku salah. Kamu bukan Surti yang aku kenal."
"Bayu..." Surti memanggil namanya begitu lirih, sakit dan penuh mohon. "Kamu temanku. Serius."
Mata Bayu menatap tajam Surti. Mencari kebohongan di sana, namun tak ada yang janggal dari mata berair itu. Semuanya tampak abu-abu.
"Kamu mau membunuh Sultan? Apa rasa sukamu dan air matamu tadi itu sungguhan? Tawa, senyum dan ceria di wajahmu selama ini... apakah mereka benar tulus dikeluarkan olehmu?" tanya Bayu kejam, amat menyayat hati Surti.
Surti bahkan tak punya kata-kata untuk membalasnya. Semua penjelasan yang ingin dikeluarkan terlalu banyak, justru bergerumul dan menyesakki dadanya.
"Kamu mengerikan... Black Poison."
Tanpa memberi Surti kesempatan untuk menjelaskan, Bayu meninggalkan kamar Surti. Seolah menegaskan bahwa kini, tali hubungannya dengan Surti telah terputus. Entah akan kembali terjalin atau tidak.
Surti ambruk di tempatnya, menangis dan merintih sejadi-jadinya. Sebuah rahasia terbesar hidupnya telah terbongkar pada satu orang, orang paling spesial untuk hidupnya, orang paling penting dalam hidupnya dan paling berharga yang pernah ia punya di dunia ini.
Seorang teman.
Di malam yang sepi, dingin dan gelap, Surti merasa diri, hidup dan dunianya amat hancur.
***