
TET TET TET TET
Sultan langsung membuka matanya saat terdengar alarm tanda bahaya itu. Pagi baru saja menyapa ketika ia bangun dan membuka jendelanya lebar-lebar. Seperti biasanya, Sultan akan meloncat dari sana dan mendarat di atas rumput lembut yang masih basah, masih berembun, masih pagi.
Orang-orang bagian kerajaan sudah berkumpul di taman depan, tempat terbuka yang paling aman jika terjadi sesuatu yang berbahaya. Sultan segera berjalan ke keramaian.
Sepanjang perjalanan, ia bisa melihat bagian selatan bangunan berasap hitam. Jelas, tanpa melihat langsung pun Sultan tahu, ada kebakaran. Entah itu di lapangan tempatnya berlatih archery, tempat pembakaran senjata atau gudang penyimpanan senjata itu sendiri.
Sebab ketiga bangunan itu terlihat di bagian selatan di mana asap hitam mengepul ke atas.
Ayah dan ibunya sudah berada di sebuah kursi taman ketika Sultan sampai di dekat keduanya. Wajah mereka menunjukkan kesedihan dan dendam yang jelas sekali. Apalagi ayah, rauy wajahnya mudah sekali dibaca.
Entah karena Sultan adalah anaknya atau memang ayah mudah dibaca.
"Oh, Sultan?" Ibu yang pertama kali menyadari kedatangannya. Belian berdiri dengan wajah berubah khawatir. "Kamu nggak apa-apa, nak?"
Sultan menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."
"Syukurlah," tukas ibu seraya menepuk-nepuk pundak Sultan dengan perasaan lega.
Ayah mengangkat wajahnya untuk menatap Sultan ketika Sultan terus menatapnya sejak awal kedatangannya.
"Kamu harus hati-hati, Sultan." Ayah berkata serius. "Hari ini kita diserang lagi. Gudang penyimpanan senjata dibakar dan tak ada yang tertangkap CCTV. Ah, maksudku mereka memakai baju super hitam yang terlihat seperti batu di malam hari. Para penjaga juga tak bisa mengejarnya karena mereka sangat cepat seperti angin. Musuh kita sekarang bukan musuh sembarangan. Pasti mereka punya pasukan khusus yang ingin menghancurkan kerajaan Prasetyo."
Sultan mengangguk-angguk paham. Hari ini ia akan keluar untuk menuntaskan masalah ini sendiri.
"Kamu tak perlu kuliah mulai hari ini. Tetap saja berada di sini. Akan ayah perketat penjagaannya." Ayah berdiri setelah memutuskan sesuatu yang membuat mata Sultan membulat tak terima. "Walaupun ayah tahu, mereka hanya akan bergerak pada malam hari, alangkah baiknya kamu mengambil langkah aman untuk tetap berada di zona aman."
"Tapi, yah, Sultan ada urusan di luar hari ini. Sangat penting."
Ayah menatapnya tajam. "Tak ada yang lebih penting dari nyawamu sekarang. Turuti saja kata ayah."
Sultan balas menatapnya dengan pandangan menelan. "Sultan mohon, yah. Sultan akan hati-hati. Janji."
"Sekali tidak. Selamanya tidak," tukas ayah tetap pada pendiriannya. "Kamu tahu? Salah satu senapan terbaik kita sudah hilang dari penyimpanan senjata. Kamu harus tahu bagaimana berbahayanya mereka kini."
Mata Sultan lagi-lagi membelalak. Kali ini karena merasa sangat terancam oleh musuh yang sangat pintar dan lihai. Bisa-bisa dia mencuri salah satu senjata terbaik kerajaan.
Namun, itu tak membuat tekadnya menyusut untuk menyelesaikan masalah penting ini. "Hari ini saja, yah. Aku pasti akan hati-hati. Aku sudah menguasai banyak bela diri dan cara membunuh musuhnya selama lima tahun ini."
Ayah berjalan mendekat seraya membuang napas jengah. Matanya menyorot tajam pada Sultan, tanda tak mau dibantah lagi. "Apapun masalahmu, tak ada yang perlu diurus selain masalah terkini. Nyawa kita semua dipertaruhkan. Entah kapan mereka akan melakukan aksinya, kita harus selalu siap."
Sultan membasahi bibirnya, tak punya ide lagi untuk membantah.
"Kalau aku tau siapa dalangnya, bagaimana?" Namun, Sultan masih punya satu senjata untuk membujuk ayahnya. "Hari ini aku akan mencoba mencari tahu--"
Plak!
Ayah menamparnya saat itu juga. Dengan kesal, keras dan penuh amarah. Di dalamnya terdapat sayang, kasih dan khawatir yang tersirat. Namun, yang Sultan rasakan hanyalah perih yang sampai pada hatinya.
Suara itu membuat banyak pelayan serta penjaga menolehkan pandangannya perlahan, berusaha untuk terlihat sopan. Mereka tak punya pilihan lain selain diam karena itu urusan pribadi keluarga kerajaan, bukan lagi kewajiban mereka untuk memisahkan atau membantu menyelesaikan.
Ibu segera memeluk Sultan dengan wajah sedih dan mata berair. Dengan tangis tanpa suara, ibu mengusap-usap kepala Sultan dengan sayang. Yang bisa ibu lakukan hanya berharap, Sultan tak dendam atas apa yang ayah perbuat padanya.
Tangisannya sudah menyiratkan betapa banyaknya kasih sayang yang ia curahkan. Serta gerakan tangan yang entah itu mengelus kepala belakangnya, menepuk-nepuk punggungnya atau meremas pundaknya untuk menenangkan dan menguatkan itu tak lelah dicurahkannya.
Sementara Sultan saat ini hanya mematung, terlalu terkejut dan terpukul dengan perlakuan ayah.
"Jangan membantah. Kamu tahu apa yang terjadi jika melanggar perkataan ayah, kan? Kamu lupa dengan saudaramu, Awija? Dia meninggal karena keras kepala seperti kamu sekarang!" seru ayah frustasi, dengan urat-urat wajah menegang dan kulit wajah memerah. "Jangan berulah. Biar ayah yang selesaikan semuanya."
Setelah berkata lebih rendah dan tenang, ayah meninggalkan taman menuju rumah lain yang dibangun khusus untuknya.
Perkataan ayah membuatnya ingat Awija. Seseorang yang membuatnya kembali terjebak dalam kesedihan dan kesepian.
***
Ayah dan ibu tak sarapan bersama di rumahnya, oleh karena Sultan segera ke kamarnya setelah kembali dari taman depan perumahan.
Sampai di kamarnya, Sultan mengacak-acak seluruh isi kamarnya. Bahkan melempar ponsel dan salah satu barang favoritnya, kuas serta cat acrylic, keluar dari jendela hingga sudah bisa dipastikan barang-barang tersebut akan rusak tak karuan.
Marah dan frustasi. Itu yang Sultan rasakan kini. Sultan menggeram, berteriak dan mendesis seperti orang kesetanan hingga membuat kamarnya seperti pesawat pecah dalam sekejap.
Tiga detik berlalu, ketika akhirnya Sultan berhenti kesetanan dan kini sibuk menetralkan napasnya yang memburu, ketukan di pintu kamarnya terdengar.
"Tuan? Apa Tuan baik-baik saja? Mau saya antarkan sarapan?"
Sultan mengacak rambutnya, kemudian berjalan menuju pintu kamarnya dan membukanya. Pelayan itu langsung terkejut saat melihat keadaan kamar Sultan, matanya membulat tanpa bisa ditahan.
"Aku sarapan di bawah aja. Ini kamarku tolong bereskan lagi, ya, Bi," pinta Sultan dengan nada rendah yang terkesan menahan amarah.
"Siap, Tuan."
Sultan segera berjalan kembali ke arah meja makan yang luas dan lenggang itu. Sudah ada satu porsi sarapan lengkap dengan susu dan buah-buahan yang menggugah selera.
Namun, Sultan memakannya bukan karena tergiur, melainkan untuk kewajibannya. Supaya staminanya kuat dan otaknya kembali berpikir jernih setelah mendapat banyak kekacauan pagi ini.
Rasanya makanan ini membuat Sultan rileks dan setidaknya bisa tersenyum tipis atas kejutan-kejutan tekstur yang tak terduga dengan rasa yang meledak di mulutnya.
"Bi," panggil Sultan tiba-tiba, pada salah satu pelayan yang sedang membersihkan karpet sebagai alas seluruh rumah.
"Iya, Tuan?" Pelayan itu langsung mendekat dengan gaya sopan dan wajah tersenyum seadanya. "Ada apa?"
"Ayah ngapain?" Sultan bertanya pelan. "Maksudnya, untuk mengatasi kekacauan ini, ayah mau apa? Pasti dia melakukan sesuatu karena tadi saya lihat para pelayan dan penjaga berkumpul di taman lagi."
Alis pelayan itu terangkat. "Oh, itu, Tuan. Tuan besar mau bikin pengumuman ke media masa dan khalayak ramai. Bersama asistennya, Tuan besar akan melakukan pemeriksaan merata untuk menangkap siapa-siapa yang mencurigakan untuk kesejahteraan keluarga kerajaan dan masyarakat. Hari ini semua orang nggak boleh melakukan aktivitas apapun dan pemeriksaan ini akan dilakukan hanya satu hari jika semua orang bekerja sama."
"Ada penjaga, ya, di depan?"
"Iya. Tuan nggak boleh keluar. Dari rumah ini juga nggak boleh."
Sultan menipiskan bibirnya. "Kalau saya memaksa bagaimana?"
"Semua pelayan akan melarangnya," balas pelayan itu dengan senyuman lebar. "Tuan jangan berpikir yang tidak-tidak, ya."
Sultan mengangguk-angguk dengan jantung mulai berdegup kencang. "Iya, Bi, iya. Makasih, Bi."
"Iya, Tuan, sama-sama." Pelayan itu ikut mengangguk dan berniat permisi dengan kode tatapan serta senyum. "Ada lagi yang mau Tuan tanyakan?"
"Oh, nggak, Bi. Bibi boleh lanjut kerja," kata Sultan mempersilahkan.
"Siap, Tuan."
Pelayan itu kembali ke tempatnya, sementara Sultan segera berpikir lagi. Satu-satunya cara agar ia bisa merealisasikan inginnya, dia harus keluar dari sini.
***
**tinggalkan jejak^^
jika banyak, mungkin aku akan up dua kali dalam satu minggu 🤔
tergantung kalian😘**