
"Sultan di mana?"
Seorang pelayan yang sedang memasangkan anting-anting dan pernak-pernik di kerudung Siti yang telah dihias sedemikian rupa menjawab dengan sopan atas pertanyaan bertabur pernasaran Siti, "sedang dirias di kamar rias sebelah, Yang Mulia."
Siti mengela napas kecil. "Baiklah. Dia tidak kabur?"
"Tidak, Yang Mulia." Lagi-lagi pelayan itu menjawab dengan pelan dan sabar. "Hari ini Tuan Sultan sangat penurut."
"Aneh." Siti mengepalkan tangannya dengan rasa janggal di hatinya. Sultan kini berada di kediamannya, untuk dirias dan memakai pakaian adat khas. Sebenarnya, sejak dulu Sultan selalu menolak saat diajak ke rumahnya, ke kediamannya.
Perubahan Sultan yang sangat mendadak ini membuat Siti bukannya senang, melainkan sangat frustasi hingga rasanya mau gila. Siti ingin bertanya, namun Sultan tak pernah terlihat ingin memberi kejelasan.
Dalam situasi yang abu-abu ini, Siti merasa sesak. Air matanya hampir menetes jika dirinya tidak segera melihat sosok Sultan di pantulan cermin. Secepat itu, senyum Siti tercipta. Amat lebar dan sarat kebahagiaan.
Tak peduli hiasan untuk hijabnya sedang dipasang, Siti berbalik badan dan berdiri untuk menyambut kedatangan Sultan.
"Sultan!" seru Siti ruang.
"Eh, Yang Mulia!" seru pelayan yang awalnya meriasnya itu. "Belum selesai!"
Namun, lagi-lagi Siti tidak peduli. Perempuan yang sudah seperti Ratu itu segera mendekat pada Sultan dengan senyum selebar samudera. "Kamu di sini."
Semuanya terasa seperti mimpi. Jika dulu Siti selalu mendapat sikap ketus dan jahat dari Sultan, kini laki-laki itu akan segera menjadi suaminya. Betapa benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan.
"Selamat ulang tahun," kata Siti lembut. Mengulurkan tangannya dengan senang, berharap mendapat sambutan hangat juga dari Sultan.
Namun, Sultan justru memeluknya. Memang tak begitu erat, namun berada sedekat ini dengan Sultan sudah bagaikan surga bagi Siti. Aroma laki-laki itu memehuni indra penciuman Siti dan membuat matanya terpejam dengan tenang.
"Terimakasih," balas Sultan dalam bisikan yang membuat Siti bisa mabuk saat ini juga.
Mata Sultan menyorot pada semua pelayan yang ada di ruangan, mengisyaratkan sesuatu dan begitu mengerti, semua pelayan tersebut segera meninggalkan ruangan. Membiarkan Sultan dan Siti hanya berdua berada di sana.
"Maaf."
Surti merasa dirinya perlu napas buatan saat Sultan tiba-tiba mundur satu langkah, mencipta sebuah jarak yang terasa amat jauh dibandingkan jarak antara bulan dan matahari. Wajah yang awalnya terlukis senyum kecil, berubah menjadi dingin dan tatapan matanya menusuk tajam.
Persis seperti dulu. Ketika mereka masih kanak-kanak dan banyak sekali momen rasa yang bertepuk sebelah tangan antara Siti dan Sultan.
Siti memaksakan untuk tersenyum. Setidaknya agar wajahnya lebih cantik dan dapat meluluhkan Sultan.
"Kenapa bilang maaf?"
"Haruskah aku jelaskan?"
"Tentu, Sultan. Aku akan mati penasaran kalau kamu nggak jelaskan apa-apa. Tiba-tiba bilang makasih, tiba-tiba bilang maaf." Siti tertawa hambar, agak sarkastik. Namun, itu semuanya hanyalah untuk menampik air matanya yang mulai memberikan tanda-tanda bahwa mereka akan turun. "Kamu nggak bisa bersikap seperti itu, nggak bisa terus-terusan bikin aku bingung dengan perubahan drastis kamu seperti ini."
Sultan mengela napas pendek, memejamkan matanya sesaat sebelum menatap Siti dengan lebih lembut. Lagi-lagi perubahan ini membuat kerutan di kening Siti menambah.
"Aku udah biasa," balas Siti rapuh. Bahkan terdengar bagai bisikan. "Biasanya juga kamu langsung bilang apa yang kamu rasain tanpa permisi ke aku, apakah itu bikin aku sakit hati atau nggak."
"Aku udah berubah sekarang."
"Nggak, Sultan. Kamu masih sama kayak dulu."
"Kamu salah."
"Nggak, Sultan!" seru Siti agak berang. Air mata yang awalnya hanya bergerumul, kini meluncur mulus di pipinya yang padahal sudah dipoles sedemikian rupa. "Kamu salah. Kamu salah, Sultan. Kamu memang berubah kemarin, tapi sekarang kamu berubah lagi. Aku tau kamu mungkin kini sedikit lebih sabaran dan dewasa, tapi kamu sama saja.... kamu sama saja bagiku..."
Isak tangis perempuan menyelimuti, karena Siti kini menangis sejadinya. Bahkan keluar air dari lubang hidungnya hingga perempuan itu harus mengelapnya lebih dulu untuk bicara lebih efektif.
"...kamu masih tak menyukaiku... masih tak mencintaiku..."
"Kamu udah nangis, padahal aku belum jelaskan apapun." Sultan berdecak kecil. "Bahkan penjelasan aku ini akan lebih menyakitkan dari sekarang. Dari pernyataan yang kamu berikan barusan."
"Tuh, kamu masih jahat. Belum berubah."
"Kamu salah."
"Nggak, Sultan."
"Kamu salah. Aku udah berubah, Siti. Dari awal bahkan."
"Dari awal mana yang kamu maksud?" Siti bertanya dengan tatapan mata yang amat menusuk pada Sultan.
"Sejak kamu datang dalam kehidupanku. Sejak kamu datang dalam kehidupan Awija." Sultan tertawa kecil. "Aku yang awalnya senang, jadi kesal tiap kali kamu mengganggu waktuku sama Awija. Aku berubah, selalu dingin dan kasar tiap berhadapan sama kamu."
Siti menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang menyayat hatinya secara perlahan-lahan. Inginnya, Siti berteriak, mengoyak dada Sultan dan mencabik bibirnya agar berhenti berbicara, berhenti menyakitinya.
Namun, semuanya harus tetap Siti terima. Mau sepahit apapun, mau seburuk apapun dan sesakit apapun.
"Aku berubah sedikit, tak lagi membencimu seperti dulu. Aku tak akan lagi bersikap dingin atau kasar." Sultan memberi kesimpulan singkat. "Kamu harus sadar bahwa kita hanya akan menjadi teman. Dari dulu, sekarang dan selamanya."
Siti memejamkan matanya, memberikan seluruh air matanya luruh. Pada akhirnya, cinta tak bisa dipaksakan. Menerima kenyataan pahit itu, kaki Siti tak lagi sanggup untuk berdiri. Perlahan, Siti meluruhkan tubuhnya, hingga akhirnya berjongkok dan menutup wajahnya untuk menangis sejadinya.
Punggungnya bergetar, napasnya terengah-engah dan hanya Isak lemah yang terdengar. Tak begitu keras jika tak didengar baik-baik karena suara orang-orang serta persiapan pesta yang lumayan berisik karena mereka memeriksa sistem suara.
Walaupun isaknya tak keras, jelas siapapun yang melihatnya akan turut sedih dan tersayat hatinya.
Meski begitu, hati Sultan tak terasa sakit sama sekali.
***