Black Poison

Black Poison
15. Grateful To Meet You



Aku tak bisa bayangkan jika tak pernah bertemu denganmu, sayangku


***


Dugaan penglihatan Sultan kemarin terbukti benar.


Hari berikutnya setelah ia melihat ada sesuatu di pohon depan kamarnya, terdapat sebuah surat berisi ancaman yang diselipkan pada kantung seorang pelayan yang telah diracuni. Entah kapan dan bagaimana bisa seorang pelayan bagian pemotong rumput bisa meninggal dalam keadaan tragis pagi ini, namun itu berarti ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi.


Sultan akan segera mati. Bersiaplah.


Begitu isi ancamannya. Tak ada alamat pengirim, namun bukan berarti kerajaan Prasetyo tak akan menganggap serius ancaman itu. Nyawa putera mahkota yang jadi taruhannya.


"Kamu yakin akan tetap kuliah?" tanya ayah ketika dirinya serta istri dan anaknya selesai makan pagi. Matanya menatap khawatir pada Sultan. Sultan menatap ayahnya, kemudian pada ibunya yang juga menatap padanya dengan sorot sama.


Sultan mengela napas kecil. "Aku sudah besar, Ayah. Aku sudah dewasa, Ibu. Aku bisa jaga diri. Tenang saja."


"Ini bukan tentang dirimu saja. Tetapi juga kelangsungan kerajaan Prasetyo. Tanpa kerajaan ini, Yogyakarta akan hancur," kata ayahnya tegas. Tanpa ingin ada bantahan. "Kamu harus siap jika suatu saat harus terus berdiam di rumah. Kamu juga harus siap jika suatu hari kamu dinobatkan sebagai raja selanjutnya."


Sultan tersenyum kecut. Mau tak mau, Sultan menerimanya sebab semua ini adalah takdir untuk dirinya yang tak bisa dihindari.


***


"Jadi, bentar lagi lo bakal berhenti kuliah?"


Gerald bertanya ketika Sultan menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang khusus di UTN yang kini disebut basecamp oleh mereka bertiga. Sultan hanya mendengar pertanyaan itu tanpa berniat menjawabnya, lebih memilih untuk berbalas SMS dari Surti.


Sultan tak tahu dari mana Gerald tahu dirinya akan berhenti kuliah dalam waktu dekat, namun itu tidak terlalu penting baginya karena sudah menjadi hal normal jika orang-orang tahu tentang kehidupannya. Dirinya adalah salah satu orang yang penting dan paling sering disorot di Yogyakarta.


"Ada yang nyerang lagi, ya?" Alfin kali ini ikut bertanya, sambil memantul-mantulkan bola kasti ke tembok sementara dirinya duduk di sofa. "Bakal masuk TV nih, bentar lagi. Soalnya, ada yang mati."


"Serius?" Gerald membulatkan matanya dengan keterkejutan yang nyata. "Kok bisa, sih? Emangnya real estate lo nggak ada Iron Man-nya, ya, Tan?"


"Si Goblok," tukas Arka yang sedari tadi hanya mendengarkan. "Iron Man kan udah mati di End Game. Mana bisa dia ada di rumahnya Sultan?"


Gerald langsung menatap Arka dengan tatapan tajam. "Lo yang goblok, ege. Semua yang terjadi di film itu settingan. Bohongan. Non-fiksi. Non-real. Nggak nyata. Otomatis Iron Man masih hidup, dong."


Arka tertawa geli. Dia tak berniat untuk membalas lagi karena ia pikir Gerald itu kekanak-kanakan sekali. Arka lebih memilih memainkan ponselnya dan mencari berita tentang kejadian di rumah Sultan semalam.


"Jangan bawa-bawa Iron Man, deh, pusing gue," kata Alfin sambil berdecak kesal. Ia kemudian beralih pada Sultan dengan tatapan serius, bahkan menghentikan permainannya dengan bola kasti. "Jadi, gimana, woi?"


"Ya kan gue kira dia nyewa Iron Man," balas Gerald masih sempat-sempatnya ketika akhirnya ia ikut menatap Sultan dengan serius.


Surti: sampai ketemu nanti ^^


Sultan tertawa kecil ketika membaca balasan Surti di ponselnya. Dirinya merasa diperhatikan, oleh karenanya Sultan langsung mematikan ponselnya dan menatap teman-temannya dengan datar. Berbeda sekali saat dirinya sedang bermain ponsel.


"Apa?" Sultan bertanya dingin.


"Siapa yang mati?" tanya Alfin penasaran. "Kata ayah gue, malem tadi ada yang ditikam oleh penyusup."


"Bukan malem. Tapi pagi, tukang kebun mati." Sultan menjawab tanpa emosi. "Ada ancaman tentang kematian gue."


"Siapa?" tanya Gerald makin penasaran.


"Eh, udah ada beritanya, njir," kata Arka tiba-tiba, membuat semua orang di sana menatap padanya dengan wajah bertanya yang kentara. "Ini, bokap lo diwawancara, Tan."


Arkan kemudian memutar sebuah video di ponselnya yang dilihat oleh Sultan, Gerald dan Alfin bersama-sama. Di sana ada ayah Sultan, Teuku Abdiwijaya Prasetyo yang diwawancara oleh seorang wartawan di sebuah channel TV nasional. Beberapa polisi dan masyarakat sekitar menjadi layar di mana Raja itu direkam.


"Apakah benar bahwa salah satu pengurus kebun di kediaman keluarga kerajaan telah tewas?"


"Benar. Pak Sandoko, pengurus kebun yang telah bekerja selama sepuluh tahun telah meninggal secara tragis dan misterius pagi ini." Pak Teuku menjawab dengan wajah yang sarat akan kesedihan. "Sekarang saya dan tim kerajaan akan melayat pada keluarga Pak Sandoko dan melakukan salam perpisahan dengan terhormat. Pak Sandoko akan dikuburkan di Kuburan Orang Berjasa Terhadap Kerajaan."


"Apakah ada yang melihat pelakunya?"


Pak Teuku menunduk dalam, sebenarnya ia menyembunyikan wajahnya yang mengeluarkan air mata. Kemudian, ia mendongak kembali setelah mengelap air matanya itu.


"Sayangnya, tidak ada yang tahu dan melihat siapa penjahat yang tega melukai orang sebaik Pak Sandoko. Pak Sandoko tak pernah mengeluh, tak pernah melawan. Beliau sangat baik. Saya bahkan menganggapnya sebagai adik sendiri."


"Apakah ada yang ingin anda sampaikan pada khalayak ramai?"


"Saya berharap sang pelaku segera menyerahkan diri sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Saya harap sang pelaku tak menyerang masyarakat di sana. Saya ingin berpesan. Hati-hati. Selalu kunci rumah anda dan pastikan semua keluarga ada di rumah ketika malam menjelang. Saya yakin waktu malam adalah yang paling berbahaya."


"Baiklah. Kalau begitu, apa yang ingin anda sampaikan atas kejadian ini pada sang pelaku?"


"Tolong tunjukkan dirimu. Jika kamu dendam, mari temui saya secara langsung. Cara seperti ini tak akan pernah menyelesaikan masalah. Saya akan memaafkan kesalahanmu sekarang, membinamu kemudian dan merangkulmu tanpa bosan." Pak Teuku tersenyum dan seperti itulah video berita itu berakhir.


Hehing menyambut basecamp itu selama beberapa saat. Semua orang sibuk mencerna dan meresapi apa yang telah diberitakan tadi. Arka menutup ponselnya dan menatap Sultan.


"Kemungkinan, kejadian tiga tahun lalu berkaitan sama yang sekarang terjadi, Tan," simpul Arka dengan wajah serius. "Kemungkinan besar besok lo nggak akan diijinkan kuliah lagi."


Sultan **** senyum tipis. "Gue tahu."


"Nggak, lo tempe."


Arka, Alfin dan Sultan serempak menatap Gerald dengan tatapan membunuh. Celetukan yang dilontarkan secara santai di situasi serius ini, jelas membuat ketiganya naik pitam dan kesal.


"Kapan sih, lo benerin otak?" tanya Arka tajam.


"Bengkel depan kampus kosong, noh," balas Alfin sama geramnya.


Gerald hanya cengengesan. "Ya, kalau hidup jangan terlalu serius, dong. Gue ada untuk merilekskan segalanya. Lo pada harus santai, santuy dan menikmati hidup."


"Bacot." Sultan menukas kesal. "Hidup gue sedang terancam. Mana bisa gue santuy."


"Bego." Alfin menjitak kepala Gerald dan bangkit mengikuti Sultan yang juga tiba-tiba berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Arka, jelas pertanyaannya ditujukan pada Sultan.


"Gue nggak tanya elo, bego," balasnya tanpa filter. Melihat Sultan yang melengos pergi begitu saja dan menutup pintu tanpa kata-kata, ia tahu bahwa kini Sultan sedang berada di fase kelam seperti tiga tahun yang lalu.


Tahun yang sangat berat bagi Sultan. Juga untuknya, sahabatnya yang telah mengenal anak raja itu sejak mereka berdua menginjakkan kaki di bangku Sekolah Dasar.


***


Baru kali ini Sultan amat menanti-nanti waktu sore.


Waktu yang seharusnya membuat Sultan bosan karena setelahnya, ia harus pulang dan makan bersama kedua orang tuanya. Waktu yang seharusnya membuat Sultan jengah karena setelahnya, ia harus pulang ke rumah lega yang sepi. Waktu yang seharusnya membuat Sultan lelah karena setelahnya, ia harus berusaha tidur meski tak merasakan kantuk sama sekali.


Namun, kini ia menantinya karena seseorang. Surti mengajaknya untuk meluangkan waktu setidaknya satu jam setelah jam empat, tepat saat kelas Surti selesai. Sultan tak tahu apa yang akan Surti lakukan, namun rasanya senang sekali bisa seperti ini.


Sultan menanti kedatangan Surti di depan mobil mewahnya yang terparkir rapi di parkiran. Sultan selalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, setiap lima menit sekali bahkan. Rasanya lama sekali menanti.


Sampai dua puluh menit kemudian, Surti datang dengan dandanan biasanya yang entah mengapa membuat Sultan terpukau. Kulit sawo matang yang mulus itu berpadu sempurna dengan baju merah marun yang dipadu dengan jins longgar dan Converse. Rambut sepinggangnya selalu diikat menjadi satu dan membentuk ekor kuda, bergoyang-goyang seiring kaki melangkah. Wajah tanpa riasan make-up seperti perempuan biasanya itu membuatnya tampak berbeda dan spesial.


Tak pernah Sultan memerhatikan seseorang sampai seperti ini. Bahkan Siti, calon tunangannya, yang hari ini beruntungnya tak bertemu dengan Sultan karena perempuan itu ada pemotretan di sebuah majalah.


Seulas senyum yang menyihir Sultan terbit di wajah Surti ketika perempuan itu sampai di depannya.


"Hai, Sultan," sapanya riang. Tangannya melambai semangat. "Udah siap untuk--"


"Telat."


Senyum dan wajah ceria itu langsung luntur tergantikan oleh wajah bingung dengan kening mengerut dalam. "Apanya?"


"Kamu telat." Sultan menjawab dengan senyuman geli tertahan di bibirnya. Membuat Surti mengela napas lega karena barusan ia berpikir sesuatu yang lebih buruk dari telat. Sultan melihat jam tangannya kembali. "Dua puluh menit. Aku pegel nungguin kamu. Gantinya, kamu ikut aku dulu."


Surti tak diberi kesempatan untuk menjawab karena Sultan langsung merangkul bahunya dan membawanya untuk berjalan keluar kampus, menyusuri jalan menuju sebuah tempat yang Surti tak tahu. Namun, di sini ia tertegun karena Sultan amat dekat dengannya dan membuat jantungnya terasa lelah, terlalu cepat memompa darah.


Lagi-lagi, Surti lupa bahwa Sultan adalah pacarnya.


Ketika pikiran itu tiba-tiba, rasa gugup dan kikuk yang awalnya menyerang, kini berubah menjadi rasa senang yang amat membuncah di dadanya. Bertranformasi menjadi kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.


Sampai membuat Surti lupa bahwa kini dirinya telah berada di sebuah kedai bungsu yang jaraknya tak jauh dari kampus. Surti tahu kedai ini, bahkan amat mendambakan untuk berada di sini.


"Duduk," kata Sultan mempersilahkan ketika mereka telah berdiri di sebuah meja dekat jendela yang berada di sudut kedai. "Aku mau pesan."


Surti hanya mengangguk. Berikutnya ia duduk seraya mengagumi tiap jengkal dekorasi kedai bingsu ini. Suasana kayu dan cokelat yang disertai lampu kelap-kelip berwarna warm white membuat Surti merasa amat damai dan bahagia.


Tak sampai di situ, kebahagiaan dan senyuman Surti semakin membuncah ketika orang yang ia sukai membawakan dua gelas es cantik khas Korea itu. Sultan bahkan tersenyum ketika mendorong segelas es berbentuk panda ke hadapannya.


"Hukuman karena telat," kata Sultan. Ia menatap Surti yang menampakkan wajah tak enak dengan tajam. "Jangan menolak. Jika tak ingin aku musuhi seumur hidup."


Surti langsung tertawa, mau tak mau menerima pemberian Sultan. Rasanya senang dan agak canggung. "Kalau hukumannya begini, aku pengennya terus telat. Gimana, dong?"


"Kalau kamu mau, kenapa aku nggak?" Sultan ikut tertawa dan segera menyendokkan suapan pada es berbentuk serupa. Sultan tampak menikmatinya. "Kamu boleh telat lagi."


"Kamu bisa aja," puji Surti, tersenyum lembut seraya menyuapkan bingsu miliknya.


"Aku bisa apa aja," balas Sultan menyombongkan diri. "Aku Sultan."


"Kamu pacar Surti," tukas Surti cepat. Membuat Sultan tersedak dan pada akhirnya menatap Surti lama dan dalam. Surti balas menatap Sultan, namun ia tak mengerti apa arti tatapan pacarnya itu. "Kenapa liatin aku kayak gitu?"


Sultan tersadar, kemudian mengerjap dan menunduk sekejap. Lalu tersenyum dan menatap Surti dengan lembut, kasih dan sayang. "Aku suka bingsu. Setiap pulang kuliah, suka ke sini. Dulu, aku sendiri. Sepi dan hambar rasanya. Meski bungsunya enak dan aku menikmatinya, rasanya masih hampa. Sekarang ada kamu."


Surti tertegun mendengar penuturan Sultan. Sementara Sultan terus menatapnya penuh arti.


"Rasanya berbeda sekali." Sultan melanjutkan. "Beruntung aku bertemu kamu. Beruntung aku kini memilikimu."


"Aku juga," balas Surti dengan senyum yang sama. Namun, ia tak menatap Sultan sedemikian rupa. Justru, ia mengalihkan pandangan pada jendela, menatap puluhan kendaraan lalu lalang di jalanan sore. "Aku tak pernah membayangkan bisa masuk ke kedai ini. Aku selalu melewatinya, hanya bisa berharap tanpa bisa benar-benar masuk. Tapi kini, kamu dengan mudahnya membuat satu harapanku terkabul."


Sultan ikut senang pada apa yang Surti rasakan.


"Betapa beruntungnya aku," sambung Surti. "Terimakasih karena telah bertemu denganku, Sultan."


Sultan membalasnya hanya dengan senyuman. Ia juga amat bersyukur karena telah bertemu dengan seseorang seperti Surti.


Kemudian, Sultan melanjutkan menyantap bingsu miliknya sampai habis tanpa berbincang lagi. Begitupula dengan Surti. Bedanya, Surti amat menikmatinya hingga tak sadar bahwa sedari tadi Sultan memperhatikan dirinya setelah menghabiskan bingsunya sendiri.


Sultan tak tahu mengapa begitu lama Surti menghabiskan satu gelas bingsu. Namun, ia bersyukur dapat melihat wajah cantik itu lama-lama.


Sampai akhirnya Surti sadar, ia berhenti menyuap dan menatap Sultan dengan wajah terkejut.


"Eh? Ada sesuatu, ya, di wajah aku?" tanya Surti khawatir. Ia langsung menyentuh pipinya, keningnya dan bagian wajah lainnya untuk mengecek apakah ada yang salah atau tidak. "Kamu kok liatnya begitu?"


"Cantik."


"Eh, apa?"


"Pacarku." Sultan mengulang dengan suara lebih jelas. "Dia cantik."


Surti langsung **** senyum dengan pipi yang mulai terasa panas. "Sejak kapan kamu jago gombal gitu, sih?"


Sultan menggeleng. "Aku juga tak tahu. Sejak mengenalnya, aku jadi gila dan tak bisa berpikir lagi."


"Eh, kok begitu?" Surti tak paham sama sekali.


"Aku juga tak tahu..." Sultan memelankan suaranya, kemudian menunduk dan membuat Surti was-was. Surti memerhatikannya dengan seksama dan begitu Sultan kembali mendongak, garis wajah laki-laki itu membuat ia paham apa yang sedang terjadi.


"Sultan... kamu sedang bersedih, ya?"


***