
"Gue anaknya temen pesuruh lo!"
Seruan itu membuat Surti menghentikan tangannya yang hendak menjambak rambut Alfin. Perlahan, tubuhnya menjauh dari Alfin dan menatapnya dengan mata penuh selidik.
"Serius?" tanya Surti ragu.
"Iya gue serius," jawab Alfin serius. "Kalau harus gue perjelas, gue anaknya Perdana Menteri Alfatih dari Kerajaan Pasultan."
"Te-terus... kalo kamu anaknya temen pesuruh aku, kenapa kamu temenan sama Sultan?" Surti bertanya dengan wajah bingung.
"Ha ha ha ha ha. Surti, Surti. Lo itu bego atau gimana sih, gue temenan sama dia itu cuman settingan doang. Gue temenan sama dia cuman nyari informasi tentang kerajaan dia aja," balas Alfin tenang.
"Hah aku kira kamu beneran sahabatan sama Sultan ternyata palsu," kaget Surti dengan mata membelalak.
" Lo juga Surti sama aja. Munafik," tukas Alfin dengan senyum miring.
Surti pun terdiam dengan wajah datar menahan emosi merenung kan ucapan Alfin, Surti teringat dengan perilaku nya terhadap Sultan. Tubuh Surti pun melemas, lalu tubuh Surti pun luruh keatas lantai yang dingin.
Kemudian Alfin menghampirinya, berjongkok di hadapan Surti. "Gue nggak akan ngebongkar rahasia ini ke siapapun, asalkan lo mau kerjasama sama gue," ajak Alfin.
"Apa jaminan yang kamu punya untuk membuat aku yakin untuk bekerjasama denganmu?" tanya Surti dengan wajah penuh keraguan.
"Jaminan yang pertama, gue nggak akan ngebongkar rahasia lo. Kedua, gue punya dendam dan menginginkan Sultan... mati," tegas Alfin dengan ekspresi wajah yang dingin.
Surti pun tersenyum misterius. "Oke. Aku mau kerjasama dengan kamu, Alfin."
***
"Kita mau ke mana?" tanya Surti penuh penasaran ketika pulang dari kelas terakhir dan disambut Sultan yang langsung mengajaknya masuk ke dalam Lamborghini merah favoritnya.
"Ada, deh," balas Sultan lembut.
"Ish deh" Surti menggurutu dengan memukul pelan lengan Sultan.
Sultanpun melajukan mobil nya dengan kecepatan di bawah rata-rata. Setengah jam kemudian Sultan dan Surti telah sampai di sebuah bioskop ternama.
"Kita mau nonton?" tanya Surti.
"Hm," gumam Sultan.
"Emang kita mau nonton apa?" tanya Surti penasaran dengan dahi yang mengkerut.
Tetapi Sultan tidak menjawabnya dan langsung membawa Surti ke ruang bioskop yang lenggang.
"Hah kok nggak ada orang sih, Sultan?" tanya Surti kebingungan.
"Sengaja," balas Sultan dengan senyum yang tipis. "Aku hanya ingin berdua bersama denganmu."
Surti pun tersipu, salah tingkah dan menyikut pelan perut Sultan. Sultan meringis kecil, Kemudian menarik lengan Surti untuk membawanya ke tempat duduk dan memulai menonton dengan suasana yang canggung.
Opening film terputar, disusul orientasi sekedarnya yang kadang membuat Surti tersenyum tipis. Sultan memerhatikannya dengan senyum tertahan, gemas sendiri melihatnya.
Sultan mendekatkan diri kepada Surti lalu menggenggam tangannya. Surti merasa tubuhnya dialiri aliran listrik beribu volt dengan beribu kupu-kupu berterbangan di perutnya.
Tanpa Surti ketahui, tiba-tibaSultan menarik wajah Surti lalu menatapnya dengan penuh perasaan cinta. Sultan dan Surti saling menatap. Sultan mendekatkan wajahnya, membuat Surti refleks memejamkan matanya. Kemudian terasa benda hangat nan kenyal menempel di bibirnya yang tipis.
Sultan melumat bibir Surti dengan pelan dan lembut Surti tak kalah membalasnya dengan lembut. Ciuman yang awalnya lembut menjadi penuh nafsu. Dengan mata membulat, Surti pun mendorong Sultan karena merasa kehabisan nafas.
"Hh, hhh, hhh. Kamu mau bunuh aku?" kesal Surti dengan napas satu-satu.
"Oh, maaf kalau aku membuat mu tidak nyaman," sesal Sultan dengan wajah penuh penyesalan.
Surti terdiam dengan wajah yang memerah lalu mengalihkan pandangannya ke film yang ditonton nya.
Hanya suara percakapan dari film itu yang mengisi keheningan antara Surti dan Sultan.
Satu jam kemudian film pun berakhir.
Jam yang masih menunjukkan pukul tujuh malam membuat keduanya memutuskan untuk ke bagian lantai atas bioskop yang memang didedikasikan untuk seseorang yang ingin melihat keindahan gedung-gedung pencakar langit serta kendaraan yang berlalu lalang. Malam yang agak mendung membuat lampu-lampu jalanan terlihat amat terang dan indah.
Sultan dan Surti berdiri bersisian menatap panorama itu. Sama-sama mengagumi sepenuh hati.
"Indah," kata Sultan lembut, kemudian menoleh pada Surti saat perempuan itu melakukan hal yang sama juga. "Kayak kamu."
Terdengar tawa kecil dari Sultan. Surti meringis, paham bahwa Sultan tertawa atas dirinya. Kemudian, terdengar helaan napas dari Sultan. Entah apa artinya, namun Surti merasakan hal yang tak baik.
"Harusnya aku sudah pulang sekarang," cerita Sultan seraya melihat jam tangannya yang terlingkar di pergelangan tangan. Kemudian ia berdecak, mengangkat kedua bahunya seolah tak peduli saat Surti menoleh padanya dengan pandangan bertanya. "Sekali-kali aku bisa tak menuruti aturan. Untuk kebebasanku. Untuk bahagiaku. Iya, kan?"
Surti tak mampu langsung menjawab. Perempuan itu harus mengerjap dahulu, sambil berpikir panjang. Bahwa dirinya sudah sangat menyakiti laki-laki itu, bahwa dirinya akan menjadi luka besar bagi laki-laki itu dan faktanya ia akan terlihat amat buruk jika harus membuat Sultan lebih bergantung padanya dengan mengatakan hal yang membuatnya senang.
"Orang tua itu ada," balas Surti seraya mengalihkan pandangannya, dengan perasaan pahit, ia melanjutkan penggalan kalimatnya, "untuk dituruti, bukan untuk dibantah."
Sultan langsung tertohok dengan kata-kata itu. Dirinya hanya mampu terdiam dengan otak yang mulai berpikir. Bahwa ala yang dikatakan Surti itu sangat benar adanya.
"Maaf ya," sesal Sultan kemudian. "Aku nakal."
Surti tertawa atas kata-kata lucu itu. Dari luar Sultan memang terlihat sangat dingin dan kejam, namun ketika telah sedekat nadi, rupanya jiwa Sultan diisi oleh anak SD. Bagaimana bisa laki-laki berusia dua puluh tahun itu dapat berkata-kata seperti anak kecil.
Hanya Sultan.
"Hahahaha," tawa Surti semakin keras. Sepinya malam membuatnya terdengar amat jelas dan Sultan yang awalnya sangat heran padanya menjadi terpesona.
Mendengar tawa itu, hatinya terasa senang dan lepas. Seolah tak ada beban, bahwa dirinya juga harus bahagia dan tertawa lepas.
Lantas, Sultan ikut tertawa. Tawa yang selama ini ia simpan, yang selama ini ia tahan, dan yang selama ini ia tutup rapat. Begitu Sultan tertawa, Surti berhenti menyuarakan rasa lucunya.
Kini giliran Surti menatap Sultan dengan wajah heran. "Kamu kok ketawa sendiri?"
"Kamu yang membuatku tertawa, Surti," jawab Sultan tanpa basa-basi. "Kamu sendiri kenapa tertawa?"
"Aku juga tertawa gara-gara kamu," balas Surti dengan senyum geli. Kemudian tertawa lagi sebab tak kuat melihat wajah bingung Sultan yang menahan tawa.
Sultan ikut tertawa lagi. Namun berhenti beberapa saat kemudian, seraya mengela napas panjang dengan senyuman lebar di wajah. "Ah, senangnya punya seseorang yang menjadi alasanku tertawa, senang juga karena menjadi alasan seseorang tertawa."
Surti tersenyum lembut. "Aku juga."
Dibalik senyuman lembut itu, terdapat gejolak emosi yang tak pernah bisa dikeluarkan. Surti tak tega. Untuk menghancurkan kebahagiaan ini. Sebenar lagi, lambat laun, dirinya dan Sultan akan menjadi sejauh Pluto dan matahari.
"Bagaimana kalau kita sebutkan tiga fakta tentang masing-masing?" tanya Sultan semangat. "Seperti kesan selama bersama. Aku penasaran. Di luar sana banyak juga pasangan yang melakukannya."
"Oke," balas Surti seraya mengangguk-angguk mengerti.
"Bagiku," mulai Sultan dengan senyum lebar. Matanya menatap Surti penuh arti dan menguncinya. "Kamu itu lucu, polos dan cantik."
Senyum Surti terkembang lebih lebar. "Bagiku... kamu itu," katanya mengikuti Sultan. "Tampan."
Alis Sultan terangkat ketika Surti tak kunjung melanjutkan perkataannya. "Lalu?"
"Tampan lagi," balas Surti dengan tawa kecil. "Yang ketiganya juga tampan."
"Apasih," komen Sultan dengan wajah agak sarkas. "Kamu nggak kreatif."
Surti langsung cemberut. Namun, Sultan langsung membawanya dalam rengkuhan hangat dan membuatnya terkejut hingga tak mampu bergerak selama beberapa saat. "Tapi aku senang," kata Sultan puas.
"Sama-sama." Surti membalas pelan, memeluk Sultan dengan erat dan mengendus aroma maskulin khas laki-laki itu dalam-dalam.
Sepertinya ia akan rindu nanti.
"Aku sayang kamu, Surti," kata Sultan tiba-tiba. Terlalu terbawa suasana sampai tak sadar dirinya sudah sangat bucin. "Sangat."
Lagi, Surti tersenyum. "Aku juga."
Surti serius dan tulus, namun yang ia lakukan selanjutnya adalah mengambil sebuah suntikan di saku celananya untuk selanjutnya ia tancapkan pada leher Sultan tanpa ampun.
Sultan tak diberi waktu untuk menyelamatkan dirinya sampai akhirnya tubuhnya luruh di rengkuhan Surti yang sangat keberatan. Sakit melihatnya, rasa berat untuk melepas Sultan, namun harus ia lakukan.
"Jangan ingat aku lagi, Sultan," kata Surti lirih. Air matanya hampir menetes, sungguh, ia sangat menyayangi Sultan. "Aku penjahatnya. Berbahaya untuk hidupmu."
Pada akhirnya, Surti langsung membopong tubuh itu susah payah, memesan kendaraan dan mengantarkan Sultan ke kediaman keluarganya.
Tentu untuk melakukan aksinya, Surti tak begitu sampai diingat Sultan. Terlalu menyakitkan untuk mengetahui fakta bahwa dirinya menjadi target pembunuhan oleh pacarnya sendiri.
Malam ini, menjadi malam terakhir Sultan mengingat Surti.
***