
Aku tak ingin kamu salah paham,
namun bagimu aku bukan siapa-siapa,
aku paham.
Tapi itu sebelum akhirnya kamu menetap,
lalu membuatku kembali berharap
***
Ketika Surti akan pergi ke kantin, menyusul Bayu yang katanya sudah berada di sana, ia melihat Sultan dari kejauhan bersama tiga temannya seperti biasa. Otomatis, Surti merapikan rambutnya, bajunya serta beberapa kali berdeham untuk membuat suaranya lebih merdu dan lembut.
Sultan berjalan dengan jeans dan kemeja merah yang mengkilat rapi. Rambut hitam laki-laki itu dibuat dengan tataan jambul yang menawan. Di pergelangan tangannya terlingkar jam tangan mahal yang keren. Bahkan sepatunya, Surti yakin harganya akan sebanding dengan mahalnya makan selama satu bulan.
Namun, bagi Surti, tak ada yang mampu menghalangi cintanya.
Pada saat mereka berpapasan, dengan wajah super ceria dan senyum liar biasa lembar, Surti melambai-lambai tangannya pada Sultan. "Siang, Sultan!"
Sultan menatapnya, namun tak membalas. Begitu saja, mereka saling melewati tanpa ada waktu yang seolah berhenti atau kesan yang berarti. Semuanya tampak tak ada artinya, membuat Surti cemberut sedih.
Surti bahkan sempat melihat teman-temannya yang melihatnya sedemikian rupa. Seolah, tiga temannya itu lebih excited saat Surti sapa.
Surti membalikkan badannya, menatap punggung Sultan yang pergi dengan wajah kecewa. Tangannya mengepal, namun pada akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ke kantin.
Sementara itu, Sultan yang sudah disapa Surti sedemikian rupa langsung menjadi perhatian Alfin, Arka dan Gerald. Alfin yang pertama bereaksi, laki-laki berkulit khas orang barat itu segera merangkul bahu Sultan dengan tawa menggoda.
"Et, dah, disapa sama cewek yang tiba-tiba meluk itu, lo kok nggak marah?" Alfin bertanya dengan tawa geli. "Kesannya lo itu terima aja gitu."
Arka menjentikkan jarinya, setuju sekali. "Kenapa nggak langsung dipelototin dengan wajah marah lo yang super nyeremin itu?"
Sultan berhenti berjalan, membuat tiga temannya ikut berhenti dengan wajah was-was. Alfin secara otomatis melepas rangkulannya. Sultan menatap ketiga temannya bergantian, apalagi pada Gerald yang kedapatan akan ikut bersuara untuk meledekinya.
"Sekali lagi ada yang bacot, gue tendang anu-nya," ancam Sultan super serius.
Tak ada lagi yang berani bersuara. Untuk siapapun yang belum mengenal Sultan, pastikan untuk tak bandel dengan berbuat sebaliknya dari apa yang diinginkan Sultan saat dengan marah. Nanti pasti akan menyesal jika tak mau menurut.
Mereka berempat melangkah terus sampai akhirnya sampai di sebuah ruangan yang sebenarnya disediakan khusus untuk Sultan. Ruangan itu memiliki sofa empuk, TV LED dengan PS4, piano serta rak buku. Terdapat juga jendela besar yang langsung menampilkan pemandangan di lapangan bawah sana.
Sudah seperti rumah sendiri mereka di sini, beristirahat dan bermain-main.
Seperti biasa, Alfin, Arka dan Gerald langsung mengerumuni PS4 dan berniat memainkannya. Sementara Sultan, laki-laki itu justru mengambil salah satu buku dan membacanya dengan santai di sofa.
Kegiatan mereka lancar-lancar saja sampai tiba-tiba pintu diketuk dua kali dan menampilkan sosok Siti kemudian. Wajahnya berseri-seri, langsung saja duduk di samping Sultan dengan jarak yang hampir habis.
"Lagi apa?" tanyanya dengan nada diimut-imutkan. Senyumnya mengembang lebar pada wajah datar Sultan. "Kenapa nggak ke kantin? Aku nungguin padahal."
Tak langsung dihiraukan. Sultan masih terfokus pada buku bacaannya dan itu membuat Siti menghela napasnya kecil. Ia harus sabar, tekannya dalam hati. Kemudian, ia berdeham dan perlahan memeluk lengan Sultan, berharap dengan begini perhatian laki-laki teralih.
"Sultan, aku ngomong sama kamu," rengek Siti super memelas.
Alfin, Arka dan Gerald yang mendengar dan memerhatikan dalam diam, langsung berdecak dalam hati. Membayangkan akan seberapa besar marahnya Sultan nanti karena Siti berani menyentuhnya sampai seperti itu.
Tak tahan, akhirnya Sultan menutup bukunya dengan wajah kesal. Matanya menatap mata Siti dengan serius. "Gue keluar atau lo keluar?"
Siti semakin cemberut. "Ha... kok gitu, sih?"
"Kita emang dijodohin, tapi itu bukan berarti bikin lo berani semena-mena sama gue." Sultan menjelaskan penuh penekanan. "Gue nggak pernah setuju sama perjodohan ini. Catat itu."
Ketika Siti masih termenung atas perkataan Sultan barusan, dengan tak pedulinya Sultan meninggalkan ruangan khusus itu. Matanya sempat melirik Arka dan Gerald untuk mengikuti dan mereka berdua pun menangkap sinyal yang dikirim Sultan hingga akhirnya mereka keluar ruangan beberapa saat kemudian.
Tersisa Alfin dan Siti di dalam ruangan.
Atas dasar perasaan yang telah ada sejak lama, Alfin bangkit dan menghampiri Siti. Wajah Siti sudah tak karuan lagi, matanya memerah dan mulai berair.
Tak tahan melihatnya, Alfin merengkuh perempuan itu dan menenggelamkan wajah Siti di dadanya. Beruntung, Siti tak menolak dan mulai menangis hebat di sana.
Tangan Alfin mengusap-usap punggung Siti dengan perasaan simpati. "Jika Sultan adalah bahagia lo, sekarang lo nggak mungkin nangis. Pikir dengan matang-matang sebelum menaruh hati lo, Siti."
Siti langsung melepas rengkuhan Alfin karena merasa aneh. Dengan wajah habis menangis, ia menatap Alfin. "Lo kenapa begini ke gue?"
Alfin menyunggingkan seulas senyum, kemudian mengambil tissue di atas meja sofa dan menghapus sisa air mata pada wajah Siti dengan gerakan lambat dan lembut.
"Mana tega gue tinggalin cewek nangis sendirian, ntar lo depresi," jawab Alfin kemudian.
"Cih, gue emang sedih, gue nangis, tapi nggak separah itu sampai depresi," balas Siti menyangkal. Tawanya sedikit terbit dan itu membuat Alfin lega.
"Ya, bagaimana pun, ke depannya gue akan selalu ada. Jangan sungkan untuk cerita." Alfin menawarkan diri. "Gue pasti bantuin lo."
Siti tersenyum curiga. "Kok lo tiba-tiba banget jadi kayak gini?"
"Abisnya gue nggak tahan sama sikap Sultan yang seenaknya itu. Setidaknya dia harus menghargai perasaan lo, kan?" balas Alfin agak menggebu-gebu. "Gue sebagai laki-laki, nggak terima kalau perempuan selalu jadi korban gini kayak lo."
Mendengar penuturan yang tak ia duga-duga, membuat Siti tertawa agak panjang sampai akhirnya menepuk pundak Alfin dengan wajah puas. "Dari dulu kek lo kayak gini."
"Sori." Alfin tertawa, kemudian menunduk sebentar untuk setelahnya menatap Siti dengan serius. "Dulu gue nggak berani."
"Kok bisa?"
"Soalnya dulu gue belum tau apa arti kasih sayang yang sebenarnya," jawab Alfin dengan wajah kecewa yang ia tutupi apik dengan senyuman lebarnya yang tampak manis, "antara teman."
"Gimana kalau sekarang lo jalan-jalan dulu buat lupain sakit hati ini untuk setelahnya langsung action?"
***
"Lo kenapa kasar-kasar banget, dah, sama Siti?" tanya Gerald penasaran, ketika mereka bertiga sedang melangkah entah akan ke mana. Arka dan Gerald hanya mengikuti langkah Sultan.
"Bukannya sebentar lagi kalian mau tunangan, ya?" tanya Arka ikut-ikutan. "Akur dikit napa."
"Gue nggak suka dia," balas Sultan pada akhirnya, jujur. Berharap dengan begini, teman-temannya tak mengusik tentang bagaimana perlakuannya pada Siti.
"Ya setidaknya jangan kasar-kasar. Siti tadi kayaknya mau nangis. Lo tega?" Gerald bertanya dengan wajah bingung. "Lo bisa menghargai perasaan meski nggak bisa membalas."
Sultan menghentikan langkahnya. Hendak berbalik dan menjawab ketika tak sengaja melihat sebuah pemandangan tepat tiga langkah di depannya.
Arka dan Gerald ikut berhenti, kemudian menilai situasi dengan seksama.
"AAAAAAAA, Bayu! Tadi aku seneng banget gila, OMGGG! ARGH!" seru Surti kelewat senang seraya memeluk Bayu erat sekali. Bahkan sampai meloncat-loncat dan mengguncangkan tubuh Bayu yang nampak pasrah menjadi pelampiasan temannya.
"Lebay, deh, kamu." Bayu membalas seraya tertawa ringan. Mengelus rambut temannya itu dengan wajah yang langsung berganti seratus delapan puluh derajat ketika memikirkan perasaannya, miris sekali.
Mendengar komentar Bayu yang amat tak menyenangkan di hatinya, Surti segera melepas pelukannya dan menatap Bayu dengan wajah kesal.
"Ih, kamu nggak ngerasain sih, jadi bilang gitu," balas Surti sambil cemberut. Ia memalingkan wajahnya, kemudian tanpa sengaja bertatapan dengannya.
Dengan seseorang yang selama ini mengganggu benaknya, memaksa untuk dipikirkan dan merasuki hatinya tanpa meminta izin. Sultan Teuku Prasetyo rupanya sedari tadi berdiri dan melihat apa yang dilakukan Surti dengan Bayu.
Di mata Surti, Sultan tampak terusik dengan kedekatannya dengan Bayu.
"Eh... Sultan," sapa Surti malu-malu, dengan suara yang agak menciut. "Ha..."
Suara Surti sepenuhnya hilang ketika Sultan langsung berlalu meninggalkannya yang ingin bicara sesuatu. Arka dan Gerald pun ikut melangkah mengikuti Sultan.
Surti menatap Bayu dengan wajah memelas. "Aku kayaknya harus susul Sultan. Kamu duluan aja ke kelasnya, sebentar lagi aku nyusul. Ya? Iya! Dadah!"
Bayu hanya mampu menghela napas kecil saat Surti langsung berlari pada arah langkah Sultan. Dengan bahu lemas, Bayu melangkah menuju kelas.
Mungkin, bukan kali ini kesempatan untuknya bersaksi. Hanya menjadi tempat curhat Surti, hanya menjadi tempat pelampiasan Surti, hanya menjadi teman yang baik bagi Surti.
Itu yang bisa Bayu lakukan sekarang. Tak ada lagi jalan keluar.
Meski hatinya sakit, meski hatinya terluka dan meski dadanya sesak. Selalu ada pengorbanan untuk sebuah cinta sejati. Bayu percaya itu. Kesungguhan, perjuangan dan kesabaran adalah kuncinya.
Sementara itu, Surti berlari dengan langkahnya yang terasa berat itu untuk setelahnya berdiri di depan Sultan yang langsung berhenti dengan wajah bingung.
"Sultan... yang tadi itu nggak ada... kamu salah paham! Aku sama Bayu nggak ada hubungan apa-apa," jelas Surti langsung pada intinya. "Kita cuma teman dan nggak lebih! Kamu jangan salah paham, ya!"
Kening Sultan mengerut bingung. "Hubungannya sama gue apa?"
Surti menautkan jari-jari tangannya dengan salah tingkah. Bahkan matanya bergerak ke sana ke mari, tak mampu menatap mata Sultan secara langsung dalam waktu yang lebih dari dua detik.
"Ya... maksud aku, kamu jangan sampai mikir yang aneh-aneh. Aku nggak ada apa-apa sama Bayu, dia cuma temenku," balas Surti lagi-lagi menjelaskan supaya Sultan tak salah paham. Kakinya sudah terasa seperti jelly saking gugupnya ia kini. "Aku ... nggak bermaksud buat mendua atau berpaling. Aku cuma curhat dan kebiasaan curhatku disertai peluk-peluk greget gitu... Sultan, kamu jangan marah, ya."
Arka tertawa melihat bagaimana tingkat Surti. "Lucu banget itu cewek."
Gerald hanya yang memerhatikan sedari tadi, mengangguk atas pernyataan Arka. Laki-laki bule itu kemudian menatap Sultan dari pinggir, ingin melihat bagaimana ekspresinya.
Ketika menangkap sebuah arti, ia tersenyum miring. Saling berpandangan dengan Arka dan mengirim sebuah kode. Semuanya dilakukan tanpa diketahui oleh Sultan, yang hanya fokus pada Surti.
"Maksud gue, faedahnya lo jelasin ke gue kayak gitu apa?" tanya Sultan jengah, melihat tangannya di depan dada dan melihat Surti dengan pandangan pongah luar biasa.
"Aku takutnya kamu cemburu," balas Surti menggebu-gebu. Wajahnya sudah merah saking gugupnya berada di depan Sultan. "Aku kan suka sama kamu! Aku pengen jaga hati kamu... eh... eh... EH, MAKSUD AKU NGGAK GITU!!!!!!!!"
Surti kini luar biasa salah tingkah. Perempuan itu tak bisa lagi membayangkan betapa merah wajahnya kini. Ia menutup mulutnya dengan mata melotot terkejut, pada mulut yang keceplosan.
Sultan menatap Surti datar. Namun, perlahan sudut bibirnya tertarik, kemudian terciptalah sebuah tawa singkat yang mencipta tanda tanya besar di benak Surti. Entah itu tawa mengejek, tawa menghina, tawa geli atau ... tawa senang.
Tanpa memberi kejelasan, Sultan meninggalkannya dalam keadaaan malu luar biasa. Surti langsung berbalik menatap kepergian Sultan sambil menggigit bibirnya khawatir.
"Sultan, ih, aku... maksudku bukan itu!" seru Surti setengah malu pada punggung Sultan yang sudah lumayan jauh.
Namun, Surti agak lega karena Sultan pergi. Setidaknya, ia merasakan pasokan oksigen di sekitarnya meningkat drastis hingga ia bisa bernapas normal.
"Gue ngerti perasaan lo," kata Arka yang masih ada di sana. Surti terkejut saat baru menyadarinya. Wajah Arka kini penuh senyum berarti yang senang. "Kita akan bantu."
Gerald mengangkat jari jempolnya dengan senyum kuda. "Serahkan pada kita. Nama lo siapa?"
"Ha... kenapa?" Surti bertanya bingung. Menatap dua laki-laki asing di depannya ini.
"Kita bakal bantuin lo sama Sultan biar deket." Gerald menjelaskan singkat. "Kali aja itu anak bisa berubah. Ya nggak, Ka?"
Arka mengangguk kecil. "Kita baik, kok. Kalau lo beneran suka, berjuanglah. Kita akan jadi jembatannya."
"Se-serius?" Mata Surti langsung berbinar.
"Se-setriliunrius," jawab Gerald dan Arka hampir bersamaan.
Surti tersenyum senang. Entah mimpi apa lagi ia semalam sampai dapat sekotak senjata untuk mendapatkan hati Sultan yang sangat ia dambakan.
***