Black Poison

Black Poison
31. The Night



Siti kira dirinya bisa mengubah Sultan.


Sejak kecil, Siti tak pernah mendapatkan senyum Sultan. Bahkan saat remaja, Sultan tak pernah benar-benar memujinya cantik ketika sedang memoles diri, beda seperti Awija yang dengan gampangnya memuji Siti hingga pipinya bersemu seperti warna tomat, sayangnya kini kembaran Sultan itu telah meninggalkannya.


Hingga tahun-tahun berikutnya, sangat sulit bagi Siti untuk setidaknya membuat Sultan menoleh. Hari demi hari, Siti merasa wajah Sultan semakin masam dan sesak setiap kali melihatnya. Senyum itu semakin hilang, mata itu semakin dingin dan wajahnya terlalu datar bahkan jika dibandingkan dengan patung baju, bahkan setidaknya patung baju memiliki senyum tipis.


Sultan benar-benar seperti mayat hidup bagi Siti.


Meski begitu, Siti tak pernah berpikir untuk berhenti. Ia tak pernah berpikir untuk menyerah begitu saja untuk mendapatkan setidaknya satu dari seribu bagian di hati Sultan. Tak perlu muluk-muluk, bahagia Siti sangat sederhana.


Setidaknya, satu kali lirikan dapat mengaktifkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan juta sel yang mati dalam dirinya.


Siti merasa sudah begitu berjuang, sudah merasa amat lelah, kadang merasa ingin menyerah kala tak kunjung mendapatkan hal sepele lirikan Sultan hanya untuknya tanpa ia minta selama hampir dua puluh dua tahun hidupnya berjalan.


Memang, hati itu tak pernah bisa dipaksakan.


Pada akhirnya, saat Sultan benar-benar berbalik badan saat Siti sedang berjongkok dengan tangisan hebat, Siti paham bahwa dirinya tak akan pernah bisa Sultan terima sebagai perempuan spesial di hatinya.


Lalu kenapa sekarang mereka akan bertunangan?


Jika tak ada rasa, mengapa dilanjutkan?


Entahlah, Siti malas untuk bertanya hanya untuk menentang komitmen orang tuanya juga orang tua Sultan. Sultan pun sama sepertinya, hanya diam dan menjalani tanpa banyak yang dipikirkan.


Mereka sudah terlalu banyak berpikir hingga rasanya lelah untuk berpikir lagi. Bukannya mereka ingin, tapi semua keadaan seolah mendukungnya untuk seperti ini.


Biarlah, mungkin ini memang takdirnya, juga takdir Sultan.


Para tamu undangan mulai berdatangan. Meski saat ini kondisi kerajaan amat terancam dan kurang memiliki keamanan yang terjamin, bisa saja musuh yang masih menutup identitasnya itu menyamar sebagai salah satu undangan di sini, namun rupanya pesta perayaan hari ulang tahun Sultan ini masih dapat membuat senyum dan tawa di wajah-wajah itu tetap melekat.


Pesta memang tak menjadi penghalang untuk bahagia dan saling menular tawa.


Hanya para tamu undangan yang boleh masuk, jadi itu cukup untuk menjaga keamanan, setidaknya sampai saat ini Dewan Kerajaan belum menemukan seseorang dalam kerajaan yang mencurigakan dan dapat membuat kekacauan di hari penting ini.


Pesta diadakan di rumah paling depan perumahan kerajaan. Di mana punya aula yang besar dan atap dengan balkon yang dapat menyuguhkan pemandangan 25 meter di atas permukaan tanah.


Jarum jam telah menginjak angka sembilan ketika pembawa acara menyambut semua tamu undangan dan memperkenankan mereka semua untuk duduk karena acara dan seperangkat upacara adat akan dilaksanakan atas bersatunya dua insan untuk dinikahkan dalam waktu dekat.


Baik Sultan maupun Siti yang kini duduk di samping ibu masing-masing, memasang wajah dengan senyum tipis yang elegan untuk tampil di depan semua orang. Jelas, mereka--anggota kerajaan memilik kursi khusus yang menjadi sorotan bahkan sebelum kaki menginjak aula. Di sekitar mereka, tepatnya di belakang, ada LED berwarna putih hangat dan bunga mawar yang menyita indra penglihatan. Belum lagi baju serba putih mereka yang mewah dan terlihat mahal.


Bukan hal mudah untuk melakukannya, namun kepura-puraan adalah suatu dasar yang harus dimiliki semua orang dengan pangkat tinggi. Entah tujuannya itu untuk menyaring siapa saja yang setia, ataupun mengekspresikan bahwa mereka tak akan percaya siapa-siapa. Atau mungkin juga, untuk menutupi sebuah rahasia.


Jelas, Siti dan Sultan melakukannya dengan alasan opsi ketiga.


"Baiklah, kepada kedua Yang Terhormat dipersilahkan untuk berjalan ke mimbar di sebelah saya untuk saling menyematkan cincin komitmen."


Atas suara itu, ada tiga helaan napas berat yang mengudara.


***


Surti masih belum paham mengapa dirinya bisa semudah ini untuk masuk ke dalam acara khusus keluarga kerajaan. Dia hanya memakai kemeja dan celana hitam yang tampak amat kontras dengan baju para undangan yang didominasi warna perak, emas dan entah warna apapun itu yang dapat memberikan kesan glamor dengan glitter yang memantulkan cahaya.


Ketika tiba di depan gerbangnya, Surti memang sempat dicegat, namun ia ingat apa perkataan Sultan saat mengajaknya ke pesta ulang tahunnya.


"Sebut saja namamu. Nanti, mereka akan membukakan pintu dan mengantarkan kamu ke kursi khusus."


Sebenarnya, Surti agak ragu jika perkataan Sultan itu masih berlaku sejak dirinya memutuskan untuk berpisah secara tak layak dengan Sultan. Namun, siapa yang menyangka jika Surti dapat masuk dengan mudah saat memberitahu namanya sendiri pada penjaga gerbang itu.


Bahkan, nama yang sebenarnya bukan Surti.


Namanya memang Surti, namun jiwanya Edelweis.


"Mari nona, kami antar," sambut seorang lelaki yang bertugas sebagai humas di depan pintu masuk. Gayanya seperti menghormatinya Surti dengan sepenuh hati, membuat Surti tak pantas diperlakukan seperti ini.


Surti mengikutinya dalam diam. Dengan kepala menunduk, sebelum akhirnya duduk di sebuah kursi dengan meja kec yang ada di sebelah jendela besar yang menampilkan pemandangan malam taman berhiaskan lampu-lampu yang indah. Surti selalu suka duduk di dekat jendela. Lebih dari apapun.


Jika begini, Sultan benar-benar mencintai Surti dan itu membuat sisi Surti dalam diri Edelweis sangat tersentuh.


Sultan menyiapkan segalanya. Menyiapkan untuk kedatangannya. Dengan kursi menyendiri yang tampak spesial, Surti diberi sebuah kartu ucapan dari Sultan. Entah kapan Sultan membuatnya, tapi Surti ingin menitikkan air matanya saat membacanya.


Hai, pacar


Selamat datang! Semoga kamu nyaman di sini, temui aku di taman yang kamu liat di jendela saat duduk setelah pestanya selesai


Ada yang mau aku sampaikan^^


Bagaimana ekspresi Sultan saat menuliskannya, Surti merasa dapat melihatnya saat ini. Surti takut, merasa bersalah dan ingin segera pergi jika sesaat kemudian tak terdengar suara pembawa acara yang dengan jelas mempersilahkan Sultan serta Siti untuk beranjak dari duduknya.


Melihatnya keduanya berdiri bersamaan untuk setelahnya berjalan berdampingan membuat hati Surti berkedut nyeri. Beberapa saat yang lalu ia tak melihat Siti karena terfokus pada Sultan, namun kini ia dapat melihat dan memerhatikannya dengan jelas.


Bagaimana cantiknya Siti yang terpancar, betapa elegannya wanita itu dan Surti merasa seperti kerikil di hadapan gunung Fuji. Bagaimana lampu menyorot keduanya di atas mimbar, dengan pakaian yang serasi dan saling menatap penuh arti, semuanya menjadi senjata yang bersamaan menyerang hati Surti.


Ketika sang pembawa acara memberikan instruksi pada keduanya untuk saling menyematkan cincin, Surti tak tahu mengapa air matanya dapat meluncur semudah itu. Tanpa suara, tanpa perubahan ekspresi mata, air mata Surti terus mengalir.


Perlahan, ia mengambil tisu dan mengelap air matanya keras-keras. Ia menelan ludahnya dengan susah. Kemudian mengalihkan pandangannya pada taman, sebab sudah tak tahu lagi harus dengan apa menghadapi rasa sakit itu.


Rasa sakit yang kembali datang saat dia mempercayai cinta. Saat dia percaya bahwa kasih sayang itu dapat membuat hidup bahagia.


Kini, sebuah hanya bulan belaka. Harusnya, dari awal Surti tak perlu percaya. Pada apa-apa yang Sultan berikan padanya hingga membuatnya percaya bahwa hidupnya lebih berwarna saat bertemu dengannya.


Semuanya kini kembali ke awal. Pada titik di mana Surti tak berdaya. Bahkan dibuat sakit hatinya.


Teringat saat melihat taman, pasti Sultan akan menjelaskan bahwa dirinya dengan Siti tak punya perasaan apa-apa dan membuat Surti untuk tak memikirkannya larut-larut. Sultan mungkin akan memeluknya, mencium keningnya dan menepuk-nepuk punggungnya agar tenang.


Namun, bukan itu yang Surti inginkan.


Bukan janji-janji manis, kata-kata penuh dusta tanpa aksi. Bukan juga pelukan, ciuman dan tepukan yang membuatnya damai.


Tapi, kepastian.


Sebuah kepastian bahwa Sultan tak akan pernah meninggalkannya sendiri.


Sudah dikecewakan, Surti tak bisa hanya diam saja. Kebiasaan alami Edelweis kembali merasukinya kini. Ketika melihat satu orang yang membawa nampan khusus untuk keluarga kerajaan, Surti berinisiatif untuk mengantarkannya.


"Lho? Kenapa harus nona?" Pelayan itu bertanya bingung, inginnya dengan lembut menolak bantuan Surti. "Di sini nona tamu undangan satu-satunya yang spesial bagi Tuan Sultan."


"Maka dari itu, aku juga mau jadi yang spesial dengan membawakan minumannya buat Sultan. Aku nggak akan bikin masalah, kok," balas Surti dengan senyum menyakinkan. "Boleh, ya?"


Dengan modal mata yang sengaja dibuat sememelas mungkin, Surti mendapatkan nampan itu. Surti tersenyum dan berterimakasih pada pelayan itu. Kemudian berjalan dengan senyum miring.


Dalam perjalanannya, ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan dan menaruhnya pada salah satu gelas dengan kecepatan luar biasa.


Ketika selesai meletakkannya di meja orang tua Sultan dan Siti, pandangan mata Surti dan Sultan bertemu. Sultan tampak sangat terkejut sekaligus tenang, berbeda dengan balasan yang diterimanya dari Surti.


Yang diterima Sultan adalah sebentuk tatapan penuh ambisi yang sulit untuk membuatnya tak khawatir kemudian.


Ada pancaran balas dendam yang tak pernah Sultan lihat sebelumnya dari Surti.