Black Poison

Black Poison
10. Her Shoulder



Sultan tersenyum seraya membuka jendela besar kamarnya. Angin malam yang lembut membelai wajahnya, merilekskan pikirannya serta hatinya yang bimbang ini. Entah apa yang ia lakukan beberapa jam yang lalu pada Surti, namun ia merasa amat senang kini.


Tak henti-hentinya ia tersenyum.


Teringat pada bagaimana kikuknya Surti ketika mencoba menaiki kora-kora, bagaimana takutnya Surti ketika menaiki rollercoaster, bagaimana malu-malunya ia ketika mencoba memakai bando dan bagaimana kagumnya ia saat melihat kembang api.


Semua itu terekam di benak Sultan tanpa mampu laki-laki itu tangkis.


Rasanya ia punya pengalaman baru, yang tak ingin ia sia-siakan.


TET TET TET TET TET TET!


Suara alarm darurat mengagetkan Sultan. Pandangannya segera siaga. Terdengar suara gaduh di bawah sana serta teriakan-teriakan panik para pelayan. Dengan kaki telanjang, ia langsung melompat keluar dari jendela kamarnya. Ia mendarat di atas balkon-balkon kamar lantai bawah, bergelantungan di pembatas bangunan dan pada akhirnya mendarat di atas rumput halaman samping rumahnya


Berkat latihan ekstrim yang sudah ia jalani sejak kecil, Sultan tak terluka sedikitpun. Ia segera melanjutkan berlari untuk menyelamatkan pelayan-pelayan yang kemungkinan berada dalam bahaya.


Namun, ia mendapati seluruh pelayannya sudah ada di luar. Beserta ayah dan ibunya yang memakai mantel tidur. Pandangan orang tuanya khawatir saat melihat Sultan dengan piyama satin hitamnya berjalan tanpa alas kaki dengan napas yang sedikit terengah-engah.


Ibu langsung memeluknya, sarat akan khawatir dan takut. "Kamu baik-baik aja, kan?"


"Sultan baik-baik aja, Bu."


"Syukurlah."


Sultan mengerutkan keningnya, menatap ayah dan perlahan melepas pelukan ibunya. "Ada apa ini sebenarnya?"


"Kamu lihat asal hitam itu," jawab ayahnya tegas. Membuat Sultan mengalihkan pandangannya ke atasan kanan bagian rumahnya. Di sana keluar asap hitam yang pekat dan besar.


Mata Sultan membulat. "Siapa pelakunya?"


"Dia sudah kamu. Saat kita sedang tertidur, dia beraksi." Ayah menggeram kesal. "Kita harus atur strategi untuk mengatasi masalah ini."


Ayah berbalik dan berbicara pada tangan kanannya. "Suruh semua untuk tidur kembali. Perketat keamanan. Hari esok harus tetap berjalan sebagaimana mestinya."


"Siap, Tuan."


"Kamu juga, Sultan. Sana kembali tidur. Kebakaran itu sudah ditangani." Ayah berkata pada Sultan sebelum akhirnya berjalan meninggalkannya dalam langkah besar yang terkesan cepat.


Sultan mengepalkan tangannya.


"Hati-hati ya, nak. Selamat tidur." Ibu memeluknya sekali lagi sebelum ikut pergi menyusul ayah.


Sultan menipiskan bibirnya. Kakinya perlahan gemetar karena menduga akan ada sebuah ancaman besar yang menimpa keluarganya.


***


Kebakaran dapur itu bukan kejadian sepele.


Dapur milik rumah khusus Sultan berukuran sangat luas, mencapai 2,5 Hektare dan memiliki banyak benda yang dapat menimbulkan ledakan seperti gas. Malam itu tiga gas meledak, perlu tiga jam untuk memadamkannya.


Beruntung tak ada korban jiwa karena saat itu semua pelayan tidur di ruangan khusus yang agak jauh dari dapur tersebut. Jika seorang pelayan tak pergi ke sana, mungkin kini satu rumah khusus Sultan itu akan hangus pagi ini.


Oleh karenanya, semua pelayan di kumpulkan di halaman depan rumah khusus Sultan untuk diberi pengarahan atas kejadian tadi malam oleh Raja Teuku Abdiwijaya Prasetyo sendiri.


"Jangan sampai kejadian kemarin malam terulang lagi. Saya tidak mau ada laporan seperti itu lagi. Pastikan semua jendela terkunci dan semua pintu digembok. Tak ada selang gas yang tersambung ataupun benda-benda lainnya yang dapat memicu kebakaran seperti kemarin malam." Raja Teuku bersuara tegas. "Kebakaran malam tadi adalah sebuah peringatan. Bahwa kita memiliki musuh yang mungkin saja dia berada sangat dekat dengan kita. Oleh karena itu, saya ingin semuanya bekerja sama dan laporkan siapapun yang terlihat mencurigakan."


"Siap, Tuan Raja Teuku!" semua pelayan menjawab kompak.


"Kerajaan akan mencari tahu sebanyak-banyaknya untuk menjelaskan kejadian tadi malam. Barang siapa yang memiliki informasi, mau sebentuk debu pun, tolong beritahu kerajaan. Kita bersama-sama di sini," tambah Raja Teuku dengan wajah tegasnya. Ia mengangguk kecil. "Baiklah, hanya itu pesan dari saya. Selamat bekerja."


"Terimakasih, Tuan!"


Raja Teuku berbalik, kemudian melangkah dengan wajah penuh marah yang tertahan. Ia mengepalkan tangannya dan meyakinkan diri untuk tetap tenang tanpa mengambil keputusan semena-mena atas masalah ini.


***


Surti melambai-lambaikan tangannya dengan semangat waktu melihat Bayu yang muncul di ambang pintu masuk kantin. Senyumnya terpasang lebar.


"Bayu, sini!" serunya memanggil.


Mendengar seruan temannya memanggil, Bayu menoleh dan senyum lebar otomatis tercipta di wajah berkulit sawo matangnya yang bersih dari jerawat itu. Laki-laki jangkung itu berjalan mendekat dan duduk di samping Surti.


"Bay, tau nggak?" tanya Surti langsung, ingin segera menumpahkan apa yang ia rasakan kini pada sahabatnya itu.


Bayu refleks mengerutkan keningnya dengan bingung. "Bentar, ya. Aku beli minum dulu."


"Ini aja punya aku dulu," kata Surti seraya menggeser botol air mineralnya. "Tapi jangan dikenain ke mulut kamu, ya."


Bayu segera meminumnya, tentu saja tanpa menyentuhkan mulut botol itu dengan mulutnya. Surti bisa mengamuk. "Ah, leganya. Makasih, ya, Surti."


"Iya, sama-sama." Surti mengangguk cepat. "Eh, aku mau curhat, nih."


"Curhat apa? Emang ada sesuatu, ya?"


"Iya," kata Surti, rona di wajahnya segera menyerang, ketika berbisik, "aku punya pacar."


Mata Bayu membulat terkejut. Tubuhnya mematung selama beberapa saat sampai akhirnya suara Surti kembali menyadarkan pada kenyataan.


"Aku ditembak Sultan, Bay! Kemarin! Di taman bermain! Waktu kembang api ada di langit, aduh, aku seneng banget. Aku masih nggak percaya, tapi ini emang kenyataannya. Hatiku ini kayak meleleh dan waktu itu aku ingin waktu jadi berhenti. Membuat aku sama Sultan selamanya berada di momen bahagia itu," curhat Surti panjang, dengan wajah super bahagia khas ABG SMA yang baru pacaran. "Menurut kamu gimana?"


"A-ah, selamat, ya," balas Bayu pada akhirnya, setelah bertempur dengan akal serta hatinya. Berita ini sangat mendadak, Bayu tak percaya namun ia memaksa untuk percaya. "Aku turut senang."


Betapa bohongnya Bayu kini mengatakan itu saat hatinya amat hancur. Betapa munafiknya Bayu saat kini hatinya terasa amat sakit. "Kalau kamu seneng kayak gitu, masa aku harus larang?"


Surti tersenyum lebar, terharu karena memiliki sahabat yang amat pengertian dengannya. "Makasih, ya. Kamu memang terbaik, Bay."


"Iya, sama-sama. Eh, aku baru ingat ada tugas. Harus cari referensi di perpustakaan." Bayu bangkit dengan terburu-buru, membuat Surti sempat heran karena tak biasanya Bayu serajin ini untuk mengerjakan tugas saat istirahat. "Duluan ya, dah!"


"Dah!" balas Surti mau tak mau.


Ia ditinggal sendirian dan hanya mampu menghela napas kecil. Surti mengedarkan pandangannya ke seisi kantin, semakin kecewa karena tak kunjung menemukan Sultan.


Kenapa dia tak ada? Di kelas pun Surti tak bertemu. Rasa khawatir mulai menghantuinya, membuat Surti mengemas barang-barang dan bangkit dari kursi kantin untuk mencari keberadaan Sultan.


Mereka kini sedang berpacaran. Tak salah jika Surti ingin menemuinya walau belum 24 jam mereka belum bertemu.


Surti menelusuri lapangan outdoor, memasuki lab-lab, memeriksa parkiran, menginjak tembok rooftop, bahkan sampai melihat halaman paling belakang universitas untuk menemukan Sultan. Namun, semua usahanya yang ia lakukan hampir satu jam itu tak membuahkan hasil.


Dengan napas yang mulai tengah-tengah, ia duduk di salah satu kursi taman depan air terjun kesukaannya dengan Bayu. Surti membuka tasnya, mengambil botol air mineral dan meneguknya sampai habis.


Dadanya naik-turun. Surti kelelahan, namun juga takut Sultan kenapa-kenapa. Tak ada yang mengetahui alasan mengapa laki-laki tak ada. Surti sudah bertanya semampunya.


Bagaimana ini?


Surti tak punya nomor telepon Sultan, tak bertemu salah satu temannya dan tak punya informasi lainnya. Ternyata serumit ini ketika tak memiliki kabar tentang pasangan. Hatinya terasa kosong, hampa.


Surti menunduk, melihat pada kakinya yang terbalut Converse belel yang sudah berumur tiga tahun. Ia menghela napas panjang sekali.


Mungkin Sultan malu memiliki pacar seperti Surti hingga langsung tak masuk kuliah hari ini. Baiklah, Surti siap menerima penolakan Sultan besok.


Ketika Surti mendongakkan kepalanya kembali, bahunya terasa berat karena dijatuhi kepala seseorang. Surti menoleh ke samping, kemudian membatu dengan wajah terkejut.


"Gini dulu bentar."


Suara itu terdengar lelah, putus asa dan sedih. Mata Surti menyendu, mengalihkan pandangannya ke depan dan menerima keberadaan Sultan yang tiba-tiba dan langsung menyenderkan kepalanya di bahu ini dalam diam. Wangi sabun bercampur aroma maskulinnya membuat Surti tersihir.


Banyak sekali pertanyaan yang Surti pendam untuk pacarnya itu, namun entah apa yang membuatnya untuk menahan dulu pertanyaan itu.


Setidaknya, sampai Sultan mengijinkannya bicara.


Aroma rambut laki-laki itu membuai Surti, hitamnya rambut itu amat lontar dengan kulitnya yang pucat. Sebenarnya berat bagi Surti menahan kepala Sultan di bahunya ini, namun ia merasa itu tak ada apa-apanya di bandingkan rasa senangnya berdekatan seperti ini dengannya.


"Gue akan jujur sekarang. Karena lo pacar gue." Sultan mengangkat kepalanya sambil bersuara rendah. Matanya mengunci lekat mata Surti. Membuat Surti seperti dialiri listrik, apalagi saat Sultan terang-terangan menyebut dirinya sebagai pacar. Rasanya, Surti masih tak percaya dirinya bisa semudah ini menjadi pacar orang yang ia sukai.


"Lo tau kan gue anaknya raja?" tanya Sultan memulai kejujurannya.


Mata Surti mengerjap lucu sebelum akhirnya mengangguk, setuju akan pertanyaan Sultan. "Kenapa memangnya?"


"Lo pikir mudah jadi anaknya raja?" tanya Sultan sarkas. "Lo pasti berpikir hidup gue amat bahagia karena gue bergelimang harta. Lo pasti ngira hidup gue enak karena ada koneksi di mana-mana. Lo pasti ingin jadi gue."


Senyum Surti tercipta tanpa bisa dicegah. "Kok kamu tau?"


Sultan tertawa hambar. "Hidup gue nggak semulus itu, Surti."


Surti sedia mendengarkan. Sebenarnya ini sangat mengejutkan dirinya. Bagaimana bisa Sultan seterbuka ini pada dirinya? Lalu, pada kenyataan bahwa menjadi seorang Sultan itu tak semudah, sebahagia dan semulus yang ia kira.


"Hidup gue penuh ancaman, banyak yang menginginkan gue mati. Banyak yang ingin menghancurkan kerajaan Prasetyo." Sultan berdeham. "Gue tau ini ulah kelompok kecil sialan yang disewa kerajaan lain supaya bisa menggantikan kekuasaan kerajaan terbesar. Dari kecil, gue udah pernah diculik, disekap, diracun, dicambuk, bahkan sampai dibuang ke sungai karena dulu bagian keamanan belum seketat dan secanggih sekarang."


Surti menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut saat mendengar cerita itu. "Terus? Kamu kenapa bisa sampai selamat?"


"Gue punya jiwa dan badan yang kuat. Mungkin ini anugerah dari Allah supaya gue bisa menjaga kerajaan dan menciptakan kedamaian abadi di masa depan," jawab Sultan sejujur-jujurnya. "Lalu, kemarin malam mereka bergerak lagi untuk mengusik kerajaan."


"Hah? Gimana?" tanya Surti dengan mata membulat. "Kamu nggak apa-apa, kan?"


"Untungnya mereka cuma menyerang dapur. Mungkin orang itu belum tau letak pasti kamar gue sama orang tua. Tapi, tetap aja kebakaran di dapur bisa mengancam jiwa." Sultan menatap tajam, seolah membayangkan sedang berhadapan dengan sang pelaku. "Beruntung dari penyerangan itu nggak ada korban jiwa."


Surti menghela napas lega. "Syukurlah. Ah, jadi ini yang bikin kamu nggak kelihatan seharian?"


"Gue takut, Surti, gue cuma bisa ngumpet," kata Sultan tiba-tiba. Mata yang tajam itu berubah menjadi mata penuh putus asa yang ketakutan. Sultan teringat akan masa lalunya yang menyiksa dan tak menutup kemungkinan akan terulang kembali dalam waktu dekat.


"Ah, gue benci hidup sebagai gue hari ini," keluh Sultan frustasi.


"Sssttt, nggak boleh ngomong sembarangan. Hidup adalah anugerah. Kamu harus bersyukur." Tangan Surti perlahan bergerak, kemudian berhenti ketika sampai di punggung Sultan. Ia menepuk-nepuknya, menyemangati dengan penuh ketulusan hati. "Ada aku, Sultan. Aku akan menghukum mereka yang jahat sama kamu. Tenang aja."


Sultan tertawa kecil, namun merasa agak mendingan. Ia menatap Surti yang serius dengan pandangan meremehkan. "Lo mana bisa."


"Eh, aku jago, lho. Jangan salah. Nih, ya, aku kasih tips. Kalau ada penjahat, sebaiknya kamu ambil cabe bubuk terus lemparin ke matanya. Dijamin langsung K.O deh itu musuh," cerocos Surti semangat dan penuh keyakinan. "Kalau nggak, panggil nama aku tiga kali. Aku akan datang."


Tawa Sultan mengudara lagi, keberadaan Surti sangat menghidupkan kembali semangat hidupnya. Mata Sultan melembut, menatap Surti dengan penuh rasa.


"Surti, makasih, ya."


Surti tersenyum lebar, sampai giginya terlihat dan matanya menyipit bagai bulan sabit. Ibu jari dan jari telunjuknya membentuk bulat yang berarti 'oke'.


Melihatnya, Sultan baru menyadari sesuatu. Mulai saat ini, ia candu atas senyuman lebar Surti. Perempuan itu terlihat cantik sekali.


***