
"Aku cantik, nggak?"
Siti langsung bergelayutan dengan manja di lengan Sultan sewaktu laki-laki itu keluar dari kamarnya. Hari ini hari Minggu dan keduanya akan pergi keluar berdua seperti biasanya. Hari di mana status hubungan mereka akan dijelaskan sudah dekat, tentu bukan hal tabu untuk keduanya sangat lengket seperti surat dan perangko.
Sultan tak lagi mengelak, tak lagi menolak dan tak lagi enggan untuk membalas uluran tangan Siti. Laki-laki itu bahkan tersenyum dengan lebar dan menggenggam tangan Siti hingga membuat perempuan itu terkejut bukan main.
Dengan mata membulat sempurna, Siti menatap Sultan seraya mendongak. Tinggi mereka memiliki perbedaan yang signifikan. "Lho? Kok kamu nggak kayak biasanya?"
"Emang aku yang bisanya gimana?" Sultan bertanya heran. Alisnya mengerut bingung, tak paham dengan apa yang dimaksud dengan Siti. "Dulu aku jahat ke kamu?"
Kening Siti mengerut. "Kamu kok kayak hilang ingatan gitu? Apa pura-pura, ya?"
"Pura-pura?" Sultan bertanya bingung. "Emang wajah aku kelihatan lagi pura-pura?"
Siti menatap Sultan dengan mata menelisik tajam. Mencari-cari apa yang tersembunyi dalam iris cokelat itu. Namun, apa yang ia cari nyatanya tak kunjung ia temukan. Oleh karenanya, ia menghela napas dan menatap ke depan.
Sultan mengerutkan keningnya dalam ketika mendapatkan perlakuan aneh dari Siti tersebut.
"Kamu sepertinya sedang bingung. Tapi, aku tak mau memperpanjang masalah sepele ini. Yang penting sekarang kita harus pergi untuk kencan." Siti tersenyum lebar, melangkah cepat ke pekarangan depan rumah Sultan seraya menggandeng lengan laki-laki itu. "Ayo!"
"Eh, tapi aku dulu gimana?" tanya Sultan masih penasaran ketika mereka berdua telah berada dalam mobil yang disupiri.
Siti menatap kukunya yang mengkilat itu dengan mata menyimpan banyak rasa kecewa. "Kalau kamu mau tahu banget, aku kasih tahu, deh. Dulu kamu jahat, Sultan."
Mata Sultan membulat. Dirinya merasa tak berperilaku demikian pada Siti. Seingatnya, ia selalu menuruti ingin Siti dengan sabat. "Jahat bagaimana maksud kamu?"
"Kamu bersikap dingin padaku, berkata-kata kasar atas rasa cintaku, memaki keinginanku," balas Siti dengan tangis yang ditahan sekuat tenaga. Matanya kemudian menatap mata Sultan lurus-lurus, tanda ia amat serius dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya. "Dan yang paling menyakitkan, kamu membagi cintaku dengan wanita yang berasal dari kaum rendahan."
Mata Sultan menajam, menggelap dan menyimpan banyak rahasia yang membuat Siti sesak melihatnya. "Apa katamu? Wanita dari kaum rendahan?"
Sekilas, Sultan merasakan kepalanya berdenyut sakit dan menyiksa. Namun, rasa itu perlahan hilang dan membuatnya kembali menatap Siti dengan serius. "Aku tak kenal dengan nama itu. Siapa dia?"
Siti tertawa dengan wajah tak percaya. "Apa yang terjadi padamu semalam, sih? Kok mendadak amnesia begini? Atau ini hanya dusta semata? Kamu akting, ya?"
"Bagian mana yang membuat kamu menarik kesimpulan seperti itu?" Sultan bertanya frustasi. "Aku juga tak tahu apa yang terjadi padaku, tapi aku tak merasa berperilaku berbeda seolah sedang hilang ingatan."
Mata Siti menelisik dalam wajah serius itu. Menelitinya dalam-dalam, lamat-lamat dan hati-hati. Apa Sultan sedang melakoni sebuah peran untuk membuatnya semakin tersiksa?
"Yang ada aku bingung. Kenapa kamu bersikap seperti ini. Aku merasa tak hilang ingatan dan bersikap aneh karenanya," lanjut Sultan tajam. "Kamu yang mempermainkanku."
"Sultan," kata Siti tak menyangka. Bahkan sampai tertawa dibuatnya. Lelah rasanya menjadi insan yang tak bisa dimengerti oleh orang yang amat dicintai. "Aku nggak pernah menjadikan kamu mainan. Yang ada kamu yang selalu bermain-main. Kamu menyangkal rasa untukku, mengubahnya menjadi benci. Itu mungkin biasa bagimu, tapi sangat menyakitkan bagiku."
Sultan mengerjap perlahan, tak tahu harus menjawab apa karena apa yang dikatakan Siti sebelumnya adalah kebenaran. Sejak Siti terpilih menjadi calon istrinya kelak, Sultan selalu berusaha agar dirinya tak jatuh cinta.
Takut ditinggalkan.
Pada akhirnya, semua orang yang ia cintai akan meninggalkannya. Sultan paham betul itu. Ia tak mau menambahkan orang yang akan meninggalkannya kelak. Oleh karenanya, setiap pesona, tingkah dan kasih sayang yang Siti pancarkan selalu ia tolak untuk kebaikan bersama.
Sultan egois. Ia akui itu, namun rasa egois itu semata-mata untuk kebaikan hatinya sendiri. Jika dirinya tak menjaga hatinya sendiri, siapa yang akan menjaganya?
Pada akhirnya, Sultan mengalihkan pandangannya dari Siti. Dengan pahit mencekik tenggorokannya hingga tak mampu lagi untuk membalas.
Membuat Siti ikut memalingkan wajahnya dengan senyum pahit dan air mata mengalir tanpa suara. Begitu lembut, namun juga menyayat dan penuh rasa kecewa.
Hatinya lelah. Raganya sakit.
"Kamu bisa berubah agar tak merasa bersalah, Sultan," kata Siti sebelum atmosfer dalam mobil di selimuti keheningan abadi.