Black Poison

Black Poison
20. The Tale of Black Poison



Plak!


Bugh!


Akh!


Aish!


Ergh!


Argh!


Suara penyiksaan itu tak pernah absen untuk menghibur telinga seorang anak perempuan yang masih berumur lima tahun itu. Setiap malam, dirinya yang masih belia itu menunggu ayahnya mengeluarkan ibunya dari kamar penyiksaan itu. Dengan tangis, gedoran tangan hampa dan napas menderu.


"Ayah!"


"Udah, yah!"


"Berhenti!"


"Kasian ibu!"


"Ayah!"


Jeritannya tak pernah absen untuk disuarakan, untuk menghentikan perlakuan buruk ayah pada ibu, untuk menghentikan suara mengerikan itu. Ingin sekali dirinya menghukum ayahnya, ingin sekali dirinya membawa kabur ibunya, ingin sekali dirinya mendapat malam yang nyaman seperti anak seusianya.


"Jangan bikin aku marah lagi! Lain kali setrika dengan benar baju kantorku! Si Dian sialan itu mengejek tadi!" seru ayah pada penghujung penyiksaannya untuk ibu.


Pernikahan ayah dan ibu bukan jenis pernikahan yang berujung bahagia karena kedua belah pihak sama-sama menginginkan pernikahan ini. Ayah menikahi ibu karena permintaan nenek dan kakek dari ayah sendiri, sementara ibu juga agak terpaksa menikah karena ayah memaksanya.


Kedua sama-sama tak menginginkan secara tulus, namun pada akhirnya menikah dan memiliki anak yang telah berumur lima tahun. Kehidupan mereka  dihiasi dengan siksa, tangis, ringis serta teriakan setiap harinya.


Ayah mendorong tubuh ibu untuk setelahnya langsung dipeluk oleh anak perempuannya. Matanya menatap anaknya dengan mata tajam.


"Apa kamu lihat-lihat, anak merepotkan?" ayah bertanya emosi.


Anak perempuan itu langsung menunduk, takut dan gentar untuk sekedar membalas. Padahal dalam hatinya, ingin sekali membela diri dan ibunya.


"Jangan ganggu! Aku mau tidur! Argh, menyebalkan! Sial!"


Pintu kamar itu langsung ditutup dan menimbulkan suara keras. Anak dan ibu itu saling memeluk untuk saling menguatkan, hidup bersama seorang ayah yang temperamental dan keras.


"Yang sabar ya, nak," kata ibu, spontan, setiap malam, selalu sama. Mengelus rambut anak perempuannya dengan sayang. Air matanya meleleh begitu saja. "Kita harus kuat. Sampai kamu besar, kita akan pergi dari sini."


"Iya, bu. Ibu juga harus kuat. Jangan menangis terus, Edel ikut sakit hati melihatnya," balas Edelweis, nama anak sewata wayangnya, memeluk ibunya lebih erat lagi.


Dua insan yang saling menyayangi itu kemudian tidur di kamar Edelweis. Ibunya bercerita sedikit tentang cerita klise, kancil dan buaya, yang amat membuat Edelweis senang, sebelum akhirnya terlelap dan bermimpi indah.


Anak polos itu memiliki takdir yang menyedihkan, namun tetap saja bersyukur sebab selalu ada sosok ibu di sisinya.


Edelweis masih bisa merasa bahagia, setidaknya.


***


Pagi telah menyapa. Keluarga kecil itu tengah sarapan. Emosi ayah berada di titik terendah saat pagi, karena itu, pagi selalu menjadi waktu terdamai dan tertentram bagi keluarga ini.


Baik ibu maupun Edelweis, keduanya sama-sama menyukai pagi.


"Ayah," panggil Edelweis pelan, pada ayahnya yang sibuk memainkan ponsel bahkan ketika ibunya menyuapi menu sarapan ke dalam mulutnya. Merasa sedih karena diperlakukan berbeda oleh ibu, Edelweis cemberut. "Giliran aku dong, yang disuapin ibu. Ayah 'kan sudah besar."


Ayah tak menghiraukan perkataan anaknya, justru fokus pada bacaan informasi di ponselnya. Seraya terus menuntut agar mulutnya disuapi, niatnya untuk menghemat waktu.


Namun, sepertinya ayah melupakan keberadaan Edelweis.


"Ayah," rengek Edelweis sudah tak tahan lagi. Dirinya melepas sendok dan garpu di tangannya untuk dilipat di depan dada, kesal setengah mati. "Aku nggak mau makan kalau begitu."


"Eh, Edel. Jangan nakal. Makan. Kamu mau sekolah, harus kuat. Kalau ayah udah beres ibu suapin, pasti giliran kamu ibu suapin," rayu ibunda supaya Edelweis makan. "Tunggu sebentar, ya, nak. Anak sabar, besarnya akan punya istana yang besar."


Mata Edelweis langsung bersinar. "Benarkah?"


Ibu mengangguk dan tersenyum lebar yang membuat Edelweis semangat untuk sarapan, meskipun tanpa disuapi oleh sosok ibu.


"Ayo, berangkat," kata ayah seraya bangkit, ketika sarapannya telah habis sementara Edelweis baru menyuap lima sendok. "Edel, cepat. Atau akan ayah tinggalkan."


Kepala Edelweis menoleh pada ibunya, yang dibalas anggukan semangat. Ibu mendekat, memberi segelas susu untuk diteguk Edelweis cepat-cepat. Keduanya paham apa yang dilakukan untuk menanggapi ujaran ayah.


Ibu mengelap bibir Edelweis dengan tangannya. "Hati-hati di jalan. Sekolah yang bener. Ayah, selamat bekerja."


Ayah mengangguk, mengangkat tas kerjanya dan menarik tangan Edelweis untuk berangkat bersama-sama. Kebetulan, arah sekolah Edelweis se arah dengan kantor tempatnya bekerja.


Edelweis berlari kecil, mengimbangi langkah besar ayahnya. Mata jernih itu menatap tangan mungilnya yang digenggam hangat oleh tangan kekar dan besar ayahnya.


Hatinya terasa hangat. Meski ada tangis, jerit dan sakit, ayahnya masih saja memberinya rasa hangat dan nyaman. Berkat itu, Edelweis selalu memiliki wajah cerah serta senyum lebar selama hari berlangsung.


***


Suatu hari, Edelweis pulang dari rumah tetangganya setelah bermain dan akhirnya langsung pulang ketika ingat sesuatu. Langkahnya cepat, semangat, menuju pintu rumahnya dan membuka pintu depan itu dengan cengiran lebar.


"Ayah, ibu, besok aku ultah..." Suara Edelweis melemah ketika melihat kedua orang tuanya yang saling berhadapan, bukan karena selesai berkelahi, melainkan seperti telah berdebat. Wajah keduanya tampak sama-sama keras, sama-sama kecewa dan sama-sama menyerah. "...pengen dirayain sama temen-temen."


Sontak, ayah dan ibunya menoleh pada anak semata wayangnya itu serempak. Yang pertama kali senyum adalah ibu. Perempuan yang mengandung selama sembilan bulan dan merawatnya sampai Edelweis berusia lima tahun itu kemudian berjalan mendekatinya, lama kelamaan wajah yang awalnya tersenyum itu luruh. Tergantikan oleh wajah penuh air mata dan isakan.


Ibu langsung memeluknya. Membuat Edelweis mematung dengan wajah bingung. Ia melihat ayahnya mengusap wajah, kemudian pergi keluar begitu saja. Mata ayah menatapnya dengan sebuah tatapan yang tak bisa Edelweis mengerti.


Bruk!


Suara bantingan pintu itu membuat Edelweis memiliki banyak dugaan buruk. Tanpa alasan yang jelas, Edelweis mulai menangis keras dan membalas pelukan ibunya dengan sangat erat.


"Ibu, jangan pergi," pintanya dengan wajah banjir air mata dan suara tak jelas karena isakan yang luar biasa. Instingnya mengatakan sesuatu yang membuatnya amat takut. "Kumohon, Bu."


Tangan ibu mengelus lembut kepala anaknya, matanya ikut meleleh, menangis tanpa suara yang membuat siapapun yang melihatnya akan terasa teriris hatinya.


"Ibu di sini, nak," tegas ibu mencoba menenangkan anak satu-satunya itu. "Jangan nangis, nanti kedengar sama tetangga, nanti ganggu."


Edelweis menipiskan bibirnya, menahan tangisnya sekuat tenaga supaya ibunya tak pergi. Ia harus menuruti perkataannya. Bahunya berguncang hebat saking derasnya tangis yang ia tahan.


Hati ibu sama teririsnya dengan perasaan Edelweis. Namun, yang bisa ia lakukan hanya memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya dan membiarkan mereka terus saling memeluk sampai akhirnya tubuh Edelweis melemas.


Anak perempuan malang itu tertidur. Ibu bersyukur, ia dapat mengela napas lega.


Satu jam ibu membiarkan Edelweis tidur dalam pelukannya. Terasa berat dan pegal ketika dirinya mengangkat Edelweis ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur luas yang sepi. Wajah Edelweis amat polos dan sempat menggoyangkan niatan ibu untuk meninggalkannya.


Ibu mengusap air mata yang menetes lagi, kemudian menyelimuti anak perempuan dengan sayang. Ibu duduk di ranjang Edelweis dan mencium kening anaknya lama sekali, menggambarkan betapa banyaknya kasih yang ia punya terhadap Edelweis.


Ia menulis surat, menelepon seseorang, meninggalkan sebuah ponsel, kemudian pergi keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan anak putrinya sendirian, di kamar sepi dalam rumah lenggang yang dingin.


***


Mata Edelweis sedikit perih ketika terbuka untuk pertama kali setelah entah sejak kapan dirinya telah tertidur.


Kamar sepi, gelap dan dinginlah yang menjadi sambutan untuk matanya. Edelweis memegang dadanya, terasa sesak dan sakit. Air matanya mulai bergerumul, berlomba-lomba untuk keluar. Namun, Edelweis berusaha menahannya.


Dengan langkah ringkih, ia berkelana ke seluruh ruangan di rumahnya. Mencari keberadaan ibu dan ayahnya. Edelweis berharap mereka masih ada meski bersatu dalam satu kamar dan yang terjadi adalah sebuah penyiksaan untuk ibu. Edelweis tak apa seperti itu.


Daripada harus ditinggal seperti ini. Benar-benar sendirian. Edelweis benci sendirian. Sungguh.


"Ayah..." Edelweis bersuara lemas, menengok kantor ayahnya yang rupanya kosong. Benar-benar tanpa barang apapun seperti sebelumnya.


Edelweis menengok jam yang ada di ruang tengah, matanya membelalakkan ketika mendapati bahwa waktu telah menyatakan tengah malam tepat. Dadanya semakin sesak, namun ia kembali melangkahkan setelah semakin terpuruk ketika kamar kedua orang tuanya itu benar-benar bersih dari barang apapun.


Segalanya telah bersih, rapi dan kosong. Seolah kedua orangtuanya meninggalkannya dan pergi ke tempat bahkan tak bisa Edelweis duga di mana.


Air matanya mulai turun. Satu, satu, kemudian benar-benar deras ketika Edelweis sampai di kamarnya kembali. Hanya kamar ini yang masih seperti berpenghuni.


Edelweis telah melewatkan 8 jam dan segalanya berubah. Kejam sekali. Setidaknya mereka membangunkan Edelweis, memeluknya dan berbicara untuk pamitan secara baik-baik.


Tangis Edelweis menjadi satu-satunya suara yang mengisi tengah malam sepi di kamar berantakan yang dingin itu. Tubuh Edelweis seolah mati rasa. Ia duduk pada kursi meja belajarnya, menunduk dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja.


Menangis sejadinya, menangis sebanyak-banyaknya dan menangis habis-habisan.


Dari raut wajah ayah dan ibu tadi sore, Edelweis paham bahwa mereka akan berpisah. Edelweis sudah tahu. Mudah sekali membaca wajah orang yang sudah tinggal lama bersama.


Namun, Edelweis tak pernah bisa menyangka bahwa kedua orang tuanya sangat tega meninggalkan dirinya tanpa kejelasan apapun. Sungguh, kini Edelweis bertanya-tanya; apakah dirinya benar-benar anak kandung ayah dan ibu?


Edelweis mendecih. "Cukup menangisnya, bodoh." Edelweis mengancam dirinya sendiri dengan wajah mengeras. Ia mengangkat kepalanya dengan wajah yang penuh air mata itu dan memasang wajah penuh dendam.


Ketika dirinya akan bangkit, tangannya tanpa sengaja meraba ponsel yang rupanya sejak tadi ada di samping kepalanya. Edelweis mengerutkan keningnya, ia tak merasa punya ponsel selain warna putih miliknya.


Milik siapa ponsel hitam ini?


Karena penasaran, Edelweis mengambil ponsel tersebut dan terlihatlah sebuah kertas yang dilipat-lipat di bawah ponselnya. Tangannya refleks mengambil kertas itu dan membukanya cepat-cepat. Di sana tertera tulisan. Yang sangat ia kenal. Milik ibunya.


Sambil menahan tangisnya, Edelweis membaca pesan yang tertera di kertas tersebut.


Jangan lupa untuk makan dan berdoa. Jadilah anak baik, maka ibu akan menemuimu secepatnya.


Tangan kanannya menghapus air mata yang terus mengalir. Dengan mengambil napas panjang, Edelweis membuka ponsel peninggalan ibunya dan mencari rekaman. Dari judulnya, Edelweis yakin ini rekaman yang dimaksud Ibu.


Tanpa berekspektasi apa-apa, perempuan berusia lima tahun itu memutarnya.


"Aku udah nggak kuat!"


Plak!


Edelweis memejamkan matanya secara refleks kala mendengar suara tamparan setelah ibu menyuarakan keinginannya.


"Pikirmu aku kuat? Pikirmu aku tahan denganmu? Dasar perempuan tak tahu diuntung!"


"Ibuku sudah meninggal! Sekarang semuanya tak ada hubungannya lagi denganku! Aku ingin cerai!"


"Pikirmu semuanya akan semudah itu?"


Bugh!


Edelweis kini meringis, tahu pasti ayahnya baru saja menendang tubuh ibunya hingga terbentur dengan meja. Terdengar ringis perih dari ibunya yang menyayat hati.


"Kamu mau cerai? Lalu anak sialan itu bagaimana? Jelas, aku tak mau mengurusnya. Merepotkan."


"Harusnya kamu tanggung jawab! Semua keluargaku telah meninggal dan semua warisan yang diberikan sudah aku berikan padamu yang sampai sekarang tak menghasilkan apa-apa! Dasar tak tahu diri?"


"Oh, kamu berani melawanku, hah?"


Plak! Plak!


"Lepas! Heh, perempuan jelek, sakit!"


"Ini yang aku rasakan tiap kali kamu memukul, menampar, menendang dan mencambuk diriku! Rasakan!"


"Argh! Aku akan lapor polisi!"


"Dasar laki-laki pengecut. Aku saja tak pernah lapor polisi selama tujuh tahun menerima kekerasan darimu."


"Baiklah. Aku akan menahan diri. Lepaskan rambutku."


"Betapa sialnya diriku bertemu laki-laki brengsek seperti kamu, Fadli Rayaraksa."


"Hidupku jauh lebih sial karena bertemu perempuan tak berguna seperti dirimu, Edlin Maya."


"Namaku Edellin Maura, bodoh."


"Apapun itu. Sama saja."


"Baiklah. Aku percepat. Aku ingin cerai dan uang warisanku kembali."


"Uangmu sudah aku belikan rumah ini."


"Semuanya?"


"Kamu tak melihat betapa mewahnya rumah ini?"


"Ck."


"Bodoh."


"Hhhh. Baiklah. Aku anggap rumah ini didapat dari warisan aku dan jadi milikku. Kamu boleh pergi dari sini dan semua kesalahanmu akan aku maafkan setelah kita bercerai."


"Kamu... serius?"


"Kenapa? Masih ingin punya istri tak berguna sepertiku?"


"Ah, tidak. Mimpi saja aku tak mau. Aku khawatir kamu akan menyesal meninggalkan diriku."


"Never."


"Baiklah. Awas saja."


"Edelweis akan tinggal bersama bibinya di sini. Kamu malam ini pergilah. Aku sudah memproses gugatan cerainya."


"Dasar. Cepat sekali. Baiklah, aku terima."


"Bagus. Ini jalan terbaik."


"Aku juga sudah muak bersamamu, Edellin Maura."


"Jangan pernah sakiti aku lagi, Fadli Rayaraksa."


Rekaman itu berhenti di sana. Membuat air mata Edelweis kembali keluar dengan deras. Edelweis tak bisa menerima keputusan keduanya orang tuanya yang egois ini.


Pikir mereka Edelweis akan nyaman tinggal bersama bibinya?


Jawabannya jelas tidak. Edelweis tak pernah mau serumah dengan selain ayah dan ibunya. Tidak pernah.


Awas saja.


Edelweis mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya menyorot tajam dengan tekad bulat. "Ini rumahku. Rumah ayah dan ibu. Rumah keluargaku. Tidak boleh ada yang merebutnya, memasukkannya dan tinggal di dalamnya."


Lebih baik Edelweis tinggal sendiri.


***


Anak yang masih berusia lima tahun itu sudah paham bagaimana menggunakan pisau. Entah untuk memotong bawang, ataupun mengancam bibinya seperti saat ini.


Hari pertama Bi Aira berkunjung, Edelweis sudah menyodongkan sebilah pisau dapur berukuran besar ke arahnya.


"Jangan pernah masuk ke sini! Ini rumahku! Sana pergi, atau aku tusukkan ini ke perutmu!"


"Tenang, Edelweis. Ini bibi, sayang," bujuk Bi Aira dengan wajah lembut dan senyuman bak seorang ibu. "Kamu nggak boleh main-main sama pisau. Itu bahaya."


"Aku nggak main-main! Aku serius bisa tusuk ini ke perut bibi kalau bibi maju selangkah lagi!"


Bi Aira tertawa. "Jangan bercanda, Edelweis. Sini--"


"Udah aku bilang aku nggak main-main," kata Edelweis dengan senyuman seperti psikopat. Darah Biru Aira menyiprat ke wajahnya, namun ia tak peduli dan langsung mencabut pisau yang tiba-tiba ia tusukkan ke perut Bi Aira saat perempuan tiga puluh tahun itu maju selangkah. "Aku benar-benar bisa tusuk perut bibi."


"Ka-kamu... kenapa tega sekali?" tanya Bi Aira susah-susah. Tubuhnya langsung luruh dengan perut sakit dan bersimbah darah. Dirinya tak bisa menyangka bahwa kekuatan anak lima tahun akan sekuat ini. "Kamu... jiwa kamu bermasalah, Edelweis."


"Diam, bibi. Sekarang aku sedang berpikir untuk mengubur bibi di mana."


Bi Aira tak sempat bertahan tiga detik kemudian. Edelweis menghela napas berat, kemudian melempar pisaunya dan menarik tubuh berat Bi Aira ke dalam rumahnya.


Edelweis paham betul, dirinya puas ketika seorang pengganggu telah hilang. Kini, ia berencana untuk melenyapkan seluruh pengganggu dalam hidupnya.


Termasuk... ayah dan ibunya.


Mereka berdua merusak hari ulang tahunnya yang seharusnya dilakukan hari ini.


Sial.


***


Satu minggu kemudian, Edelweis telah berada di sebuah panti asuhan yang sangat jauh dari rumahnya. Dia paham bahwa dirinya tak bisa bertahan jika terus berada di sana, ditambah jasad Bi Aira yang bingung harus ia apakan.


Meninggalkan segalanya, Edelweis Rayaraksa itu memulai kehidupan baru di sini. Di sebuah panti asuhan terpencil di Yogyakarta.


"Nama kamu siapa?"


Edelweis berpikir keras. Kemudian, ia melihat sebuah nama yang tertera di sebuah buku bekas di sekitarnya. "Surti, Bu. Namaku Surti."


Entah kenapa, namun Edelweis kini merasa berbohong dan berpura-pura sangat menyenangkan untuk dilakukan. Seperti main drama di kehidupan nyata. Edelweis senang bisa bermain-main.


"Oh, Surti, ya. Kamu di mana?"


"Aku... nggak tahu. Aku tiba-tiba ada di sini dan nggak tau arah jalan pulang."


"Hm, baiklah. Sekarang ibu akan rawat kamu."


Beruntung pemiliknya menerima dengan baik Edelweis. Merawatnya sepenuhnya hati seperti anak sendiri. Berkatnya, Edelweis benar-benar membulatkan tekadnya untuk menghilangkan kedua orang tuanya.


Edelweis belajar sekuat tenaga. Entah seberapa keras usahanya untuk dapat uang, ia berhasil masuk sekolah sampai ke jenjang SMA. Di sana ia mendapat banyak sekali pengetahuan.


Salah satunya, membuat racikan sebuah racun mematikan yang sangat mahal.


***