Black Poison

Black Poison
29. Give Up



Surti mengeratkan tali sepatunya dengan kiat sebelum akhirnya memanjat dinding tinggi di depannya.


Malam membuatnya penglihatannya sedikit terhambat, namun bukan hal sulit untuk sepuluh detik kemudian, Surti mendarat dengan mulus di taman belakang perumahan kerajaan.


Rumah Sultan.


Surti sudah sangat berhati-hati dalam berpakaian. Semuanya hitam dan tak membuatnya bersuara saat bergerak hingga keberadaannya sangat tersamarkan. Surti sudah menghafal letak titik buta CCTV dan bagian yang dijaga sejak ia menginjak rumah ini dahulu.


Sejak hubungan dengan Sultan masih manis.


Bukan sebuah hal yang kompleks untuk Surti sampai di gudang tempat semua hal yang tak berguna dibuang. Beberapa suara barang yang dilempar sempat membuat Surti terkejut dan membeku, menghentikan langkah seraya berpikir kritis.


Setelah menunggu agak lama, Surti kembali bergerak dan masuk ke gudang tersebut setelah sangat berusaha untuk membuka pintunya yang khas. Pintu itu tak punya kunci dan butuh password untuk membukanya, tapi terbuat dari kayu tebal yang perlu banyak tenaga untuk menggesernya agar dapat masuk.


Seperti yang Surti duga, isi gudang ini lebih luas dari lima kamar kosnya. Namun, sangat sempit jika melihatnya sekilas sebab banyak sekali barang-barang bekas. Semuanya tertata, namun karena sangat banyak, menjadikan barang-barang tersebut tampak berantakan.


Mulai dari barang kotor, rusak sampai benda yang menurut Surti masih bagus dan mewah.


Semua ini membuat Surti tertawa. Memang, kehidupan bangsawan itu sangat berbeda. Sangat timpang dengan kehidupannya.


Namun, Surti tak memikirkan lebih panjang. Besok adalah hari yang sangat penting dan beruntungnya, semua hal yang berada di gudang ini mudah terbakar. Senyum Surti tercipta lebar karenanya.


Langkahnya perlahan ke dalam, berhati-hati dan menginjak dan akhirnya membeku saat melihat siulet seseorang di bagian dalam, tepat di bawah jendela yang dimasuki cahaya bulan.


Cahaya lembut sang rembulan membuat rambut sosok itu terlihat indah, seperti tercipta bersama untuk menyihir penglihatan semua orang. Dari perawakannya, Surti hafal siapa dia.


Entah apa yang dia lakukan di sini, namun Surti berusaha untuk tak peduli. Lebih baik ia segera menyelesaikan tujuannya dan pergi.


Kkkrrrk.


Namun, keberuntungan rupanya tak memihak Surti. Kakinya tak sengaja menginjak sebuah kayu berkanvas yang sudah robek hingga menimbulkan suara. Tubuh Surti langsung mematung.


"Siapa itu?"


Suara itu menelusuk dalam telinga Surti. Masuk dalam pikirannya, menyihir hatinya dan menghipnotis matanya. Rasanya lama sekali tak mendengar suara itu.


Jelas, dengan begini rasa Surti yang seharusnya tak tumbuh itu justru semakin tebal dan mengembang.


Belum lagi saat ini dirinya menatap sebuah lukisan yang sudah rusak--mungkin sengaja dirusak. Lukisan itu tak sengaja ia injak, kemudian tak sengaja pula ia lihat lebih teliti sebab ada wajahnya terpulas di sana. Kening Surti mengerut, ingin bertanya apakah benar lukisan itu menggambarkan wajahnya pada seseorang.


Ketika Surti berbalik, Sultan sudah berada dua langkah di depannya. Awalnya, Sultan berada agak jauh darinya, mungkin sekitar lima meter. Surti sampai tak sadar bahwa Sultan sudah bergerak dan itu sangat berbahaya.


Harusnya Surti lebih waspada. Bahwa suara sebelumnya yang dihasilkan dari barang-barang yang dibuang itu tak menghapus kemungkinan masih ada orang di dalam. Sial.


Dalam remang-remang cahaya bulan, semuanya tampak jelas di sini. Bagaimana pahatan wajah Sultan, bagaimana barang-barang rusak yang ditata rapi dan bagaimana mata itu bisa tampak sangat sejuk bagi Surti.


Aneh. Namun, justru mengerikan.


Tenggorokan Surti mendadak tercekat. Ia mundur perlahan. "Kamu... kamu ingat aku?"


Sultan mengalihkan wajahnya sesaat, menahan emosi yang mulai menyesakki dadanya, untuk setelahnya kembali menatap mata Surti penuh arti.


"Gimana bisa aku lupa? Kamu Surti. Pacarku."


Demi apapun, Surti ingin menangis saat ini juga. Bagaimana cara Sultan menyuarakannya, suara itu menelusuk hati Surti, memanahnya telak dan membuat ribuan rasa menyesakki dadanya. Entah itu kesal, marah, sedih, atau terharu.


Semuanya bercampur menjadi satu dan Surti kebingungan harus memasang ekspresi apa atau menjawab dengan kata-kata. Energinya seolah habis, bahkan tak sanggup untuk berkedip hingga menelan ludahnya sendiri.


"Kabarmu bagaimana?" Sultan bersuara lagi. Kini lebih pelan dan nadanya sangat menusuk, seolah ada maksud lain di dalamnya. Melihat Surti hanya terdiam menatapnya dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan, Sultan memilih untuk melangkah lebih dekat.


Memberi tekanan dengan maksud agar perempuan di depannya ini bisa bersuara.


"Setelah berubah sedemikan rupa?"


Pertanyaan lanjutan itu jelas membuat Surti terkejut bukan main. Surti sangat bingung dengan apa yang terjadi. Setahunya, setelah mengamati bagaimana Sultan saat melihat di kafe itu beberapa hari yang lalu, laki-laki yang sedihnya masih berstatus sebagai pacarnya ini tampak tak mengenalinya, tak mengingatnya.


Namun, mengapa yang terjadi kali ini justru Sultan mengingatnya? Bahkan ini terlalu aneh dibanding ayam yang tiba-tiba hidup lagi setelah meninggal.


"Pertanyaan ku... kenapa nggak dijawab? Apa terlalu sulit? Belum menghafal semalam?"


Surti benar-benar tak dapat menjawab. Meski Sultan sudah memutar otak sedemikian rupa untuk mencoba candaan, namun tak ada yang berpengaruh untuk Surti. Semuanya terlalu berat baginya.


Jujur itu sangat berat. Untuk mengungkapkan segala kebenarannya, Surti tak sanggup.


Suasana di gudang itu sangat hening. Bahkan helaan napas masing-masing terdengar jelas, bersanding dengan suara hewan malam yang samar. Lama seperti itu, Sultan akhirnya lebih mendekat dan meletakkan kedua tangannya di atas pundak Surti secara perlahan.


Dari tangannya, Sultan dapat merasakan bertapa tegangnya Surti saat ini. Namun, ia tak akan memberikan toleransi lagi.


"Oke, pertanyaan utama. Kamu ngapain di sini?"


Surti memejamkan matanya lama. Mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Melakukan sesuatu yang mungkin setidaknya bisa membuatnya lebih tenang dan mantap untuk berkata jujur.


Bukan jawaban atas pertanyaan Sultan yang dikatakan Surti, melainkan sesuatu yang membuat Sultan menggeram dalam hati hingga rahangnya mengeras dan semakin mengeratkan pegangannya pada pundak Surti.


"Kenapa ingin pergi? Don't you miss me?"


Tenggorokan Surti sudah sangat kering saat ini. Suaranya bahkan tak nyaring dan jelas. Terlalu serak dan tersendat-sendat. Jika suara hewan malam tak ikut andil, detak jantung Surti yang amat cepat akan terdengar jelas sekarang.


Surti merasa sangat tersiksa saat ini.


"A...aku harus pulang, ba...nyak urusan," balas Surti dengan sekuat tenaga untuk memasang senyum terlebarnya, mendongak untuk menatap mata Sultan yang sedari tadi lurus padanya.


"Kalau banyak urusan kenapa ke sini?" Sultan tertawa, kemudian melepas tangannya dari bahu Surti untuk berbalik dan menatap rembulan di balik jendela besar tanpa kaca di sana.


Terlepasnya tangan Sultan dari pundak Surti membuat Surti dapat kembali bernapas normal dan menenangkan diri secepat mungkin. Mungkin, jika Sultan tak melanjutkan ucapannya, Surti akan berbalik dan berlari pergi.


"Aku masih sangat menyukaimu, Surti. Aku masih terjatuh dalam sekali untukmu. Aku cinta padamu."


Kata-kata indah itu disuarakan dalam nada yang lembut, namun penuh putus asa dan pupus harapan. Surti dapat merasakannya, bahkan kini matanya mulai memburam oleh lapisan air mata.


"Aku tak pernah bisa melupakan dirimu. Tak akan bisa menghapus rasa untukmu." Sultan berdeham, dan suaranya menjadi amat seram saat melanjutkan perkataannya. "Aku juga bingung pada diriku. Mengapa harus terjatuh untukmu? Mengapa harus tertawa untukmu? Mengapa harus menderita untukmu? Mengapa harus... berkorban untukmu? Mengapa... diantara 7 miliar orang, harus kamu yang menjadi seseorang yang sangat spesial untukku?"


Surti mengambil napas panjang, dalam dan berat.


"Aku tau semuanya Surti. Aku tau." Sultan mengangkat tangannya ke wajahnya, dari belakang Surti tahu bahwa Sultan baru saja meneteskan air matanya. "Namun, aku tak tau alasan mengapa kamu pergi. Tanpa pamit, tanpa pemanis bahkan tanpa tangis."


Lagi, Surti memegang dadanya untuk bernapas. Rasanya sesak sekali. Kini, air mata Surti meleleh. Membasahi pipinya, mengalir sampai dagu dan menetes ke lantai berdebu gudang ini.


"Aku ada salah, ya?" Sultan bertanya lagi, hendak berbalik untuk melihat Surti, namun gerakannya terhenti sebab Surti lebih dulu memeluk pinggangnya dengan erat.


Rasa hangat menjalar di tubuh Sultan. Rasa rindu yang menumpuk itu perlahan pupus, namun ada yang mengganjal dalam pikirannya. Semuanya abu-abu, Sultan tak bisa merasa senang hanya karena Surti memeluknya.


Surti masih menyimpan rahasia darinya. Sebuah pelukan bukan berarti Surti sudah kembali.


Sebab sejak detik dirinya ditinggal, Surti berubah.


"Kenapa tiba-tiba memelukku?" tanya Sultan seraya menyentuh tangan Surti. Ia menunggu jawaban, namun yang membalasnya hanya suara Isak Surti dan rasa basah di punggungnya.


Lama Sultan memberi jeda, pada akhirnya, ia melepas tangan Surti yang melingkar di pinggangnya karena perempuan itu masih tak mau memberi kejelasan padanya.


Sultan bahagia saat dirinya dipeluk, saat diberi kehangatan ia rindukan dan saat pelukan itu terasa sangat erat seolah Sultan adalah orang yang paling istimewa di hidupnya. Namun, Sultan tak bisa bahagia dalam kepalsuan.


Sultan tak tahu apa Surti sedang benar-benar menangis, atau semuanya hanyalah peran palsu yang sedang dilakoninya.


Dengan tarikan napas yang dalam, Sultan melepas tangan Surti setelah berbalik untuk berhadapan dengannya yang kini menundukkan kepala dalam-dalam. Beberapa kali tangannya bergerak mengusap air mata yang turun.


"Jika tak mau menjawab, pergilah," kata Sultan lembut, dengan sepenuh hati dan ikhlas.


Berkatnya, Surti mendongak. Memandang Sultan dengan tatapan tak percaya sekaligus bingung.


"Kenapa--"


"TUAN! WAKTUNYA TIDUR! TUAN SULTAN? TUAN SULTAN?"


Teriakan dari jauh itu membuat Surti langsung membulatkan matanya dengan tubuh yang berubah super waspada. Pada kali terakhir, ia menatap mata Sultan yang perlahan berubah dingin dan wajah tanpa ekspresi.


"Pergilah," kata Sultan, mendorong Surti untuk segera meninggalkannya. "Di sini bahaya."


Surti menelan ludahnya susah payah. Sangat berat untuk memutuskan. Saat dirinya hendak menjelaskan semuanya, keadaan memaksannya untuk berbalik, kemudian pergi berlari secepat kilat untuk dapat selamat.


Tepat setelah Surti pergi, seorang pelayan masuk dan mengajak Sultan untuk masuk ke dalam kamarnya karena malam hampir mencapai puncaknya.


Sultan mendengus kecil, bahkan Surti tak berterimakasih atau setidaknya berkata jika dirinya akan menghubungi Sultan lain kali untuk menjelaskan semuanya.


Jelas, karena hal itu, kemungkinan Sultan membenci Surti sangat besar. Jika dalam bentuk presentase, mungkin akan mencapai angka 95%.


Di samping itu, Surti dengan cekatan memanjat tembok, melompat dan mendarat dengan mencoba meredam suara. Napasnya terengah-engah dan untuk meredamnya, Surti justru berlari sekuat tenaga, menjauh dari rumah yang membuat dadanya sesak dan air matanya berlinang.


Tenaganya hampir habis saat sampai di kamar kos kecilnya. Jika menuruti keinginannya, Surti akan langsung tidur, namun hatinya berkata lain.


Tangannya mengambil laptop khusus miliknya dan menghidupkannya. Setelah menyala, ia berkutat di keyboard dan mengirim sebuah surat elektronik pada kliennya yang kini.


Aku tidak berhasil menyeludupkan bom ke gudang kerajaan Prasetyo. Maaf.


Surti segera menutup kembali laptopnya setelah mematikannya. Ia merongoh saku celananya dan menatap sebuah bom waktu di tangannya. Dengan serius, ia mencoba untuk menjinakkannya.


Rupanya Surti berhasil ketika waktu sudah kembali beranjak ke pagi. Beruntung dirinya berhasil setelah lama bertanya-tanya dan mengobservasi karena ini pertama kalinya ia melakukan hal ini.


Atas 5 jam yang mengurus otak, waktu serta tenaganya itu, Surti rela kehilangan 500 juta.