
"Cue, cue, yang baru jadian."
"Cie, cie, yang baru jadian."
"Cui, cui, yang baru jadian."
Tiga temannya itu langsung menyambut kedatangan Sultan di tempat khusus dengan perkataan yang sama, namun lihat berbeda. Sultan tersenyum miring, berjalan ke arah jendela yang mana menunjukkan Surti yang sedang berjalan entah ke mana setelah mereka berpisah tadi di taman air mancur, mengabaikan tiga temannya yang menyebalkan itu.
"Tatap aja teros," sahut Arka masih meledekinya.
"Kemaren aja katanya nggak suka, eh, buktinya besoknya diajak jadian. Ciaa," ledek Gerald ikut-ikutan.
"Ya, yang namanya hati mana bisa dibohongi," tukas Arka sambil tertawa puas.
"Gimana nih sender-senderannya?" Alfin tiba-tiba bersuara setelah tadi tanpa sengaja melihat Sultan dengan Surti melakukan apa. "Anget pasti, ugh."
"Lo pada mau gue tendang, tampar apa tampol?" Sultan berbalik dengan wajah dingin andalannya.
"Et, dah, air susu dibalas air tuba," decak Arka dengan wajah tersakiti. "Udah dibantuin cari cinta sejatinya. Kita malah diinjak-injak, kawan. Gimana, nih?"
Sultan memutar bola matanya dengan wajah jengah. "Lo nggak ada kerjaan, Ka."
"Gue kayak gini karena gue peduli," balas Arka penuh penekanan. "Lo perlu diperbaiki, Tan. Hati lo, pikiran lo Dan kepribadian lo. Nggak bisa selamanya orang hidup kayak patung. Lurus, lempeng dan nggak punya ekspresi."
Gerald mengangguk-angguk setuju. "Lo lebih sumringah, waktu sama cewek itu. Lo mungkin nggak sadar, tapi kita yakin lo punya perasaan sama itu cewek."
"Nama ... aduh lupa gue," kata Alfin kesal, ingin menyambung namun terhambat karena faktor lupa.
"Surti." Sultan menjawab datar. Membuat ketiga temannya menatapnya dengan bingung. "Namanya itu."
Arka langsung menyipitkan matanya dengan senyum menggoda. "Cie, yang disayang mah inget terus. Cia."
"Cie yang di hati mah tertanam kuat diingatan," tambah Gerald kelewat semangat menjahili Sultan. "Auh, baper, Dede."
"Lo pada nggak ada kerja, ya. Dasar sampah negara," umpat Sultan sudah tak tahan lagi dengan kelakuan tiga temannya itu. Langkahnya menuju pintu keluar, berniat untuk mencari udara segar ketika pintu kebetulan dibuka dari luar dan menampilkan wajah sosok seorang Siti.
Seseorang yang sudah tiga hari kemarin liburan ke Eropa.
Sultan tertegun. Melihat mata yang berbeda dari sosok itu. Kini lebih tegas, berani dan elegan. Berbeda dengan kemarin yang hanya memancarkan keangkuhan, kelabilan dan manja.
Betapa berbedanya Siti kini. Sultan tak percaya, namun ia tak bisa menampik rasa bahwa dirinya kagum dan mulai tertarik atas Siti.
"Sultan, aku mau bicara," pinta Siti tegas. Wajahnya datar dan matanya menyorot tajam. Ia mengalihkan pandangannya pada Alfin, Arka dan Gerald. "Bisa kasih ruang dan waktu untukku bicara sama Sultan?"
"Owuh, ada nyonya ratu," kata Gerald seraya bangkit dengan wajah takut. "Yuk, ah, kabur."
"Cabut," sambung Arka. "Kayaknya bakal ada perang rumah tangga."
"Bacot lo berdua. Cepetan keluar," dorong Alfin yang tak tahan melihat langkah pelan dua temannya yang konyol ini.
Ketika melewati Siti, Alfin tersenyum lega sebelum akhirnya menutup pintu ruangan khusus itu untuk memberi ruang dan waktu pada dua pasang insan yang sudah dijodohkan itu.
Setelah ditinggal berdua, Siti memejamkan matanya sambil menghela napas kecewa pada kelakuan Sultan yang baru saja ia ketahui. Matanya menatap Sultan dengan pilu.
"Kamu... kenapa sih?"
Namun, sikap keras kepala Sultan sudah mendarah daging. Ia bahkan tak menyadari bahwa kini Siti akan siap menangis karena matanya mulai berkaca-kaca. "Gue kenapa?"
"Waktu aku tinggal, kamu berulah. Kamu pacaran sama cewek itu! Kamu mendua! Kamu munafik! Kamu brengsek! Kamu bajingan!" maki Siti menggebu-gebu. Dadanya naik-turun seiring ia mengeluarkan dan mengambil napas. "Kamu kenapa sih kayak gitu?! Aku kurang apa, hah?!"
Sultan menaikkan satu alisnya, tak paham mengapa Siti menjadi seperti ini padahal ia amat sangat menutup hubungannya dengan Surti dari khalayak ramai.
"Lo tau dari mana?"
"Masalah aku tau dari mana itu nggak penting!" Siti berseru keras. Ia menyentuh dadanya yang terasa sakit, perih dan sesak. Air matanya mulai menetes satu per satu. "Masalahnya di sini adalah hatiku, Sultan! Kamu merobeknya sampai berkeping-keping hingga tak ada obat yang bisa memperbaikinya."
Sultan perlahan tersenyum, kemudian mendekat dan mengusap air mata Siti dengan sapu tangan berwarna biru langit yang selalu ia bawa. Membuat Siti terpaku dan termangu tanpa bisa berkedip beberapa saat.
Jarang sekali Sultan menyentuhnya, jarang sekali Sultan sedekat ini dengannya dan jarang sekali Sultan tersenyum padanya. Sungguh, Siti ingin waktu berhenti dan momen bahagia ini abadi.
"Kamu jangan langsung percaya sebuah berita tanpa bukti, apalagi dari orang lain," kata Sultan lembut. "Kalau aku dekat dengan perempuan lain, itu artinya dia hanya mainanku, hanya candaanku, hanya pelarian dan akan menjadi sampah untuk hidupku. Surti... bagiku dia hanya sekedar pelampiasan rasa bosanku."
Mata Siti melebar. "Sungguh?"
"Kamu berubah semenjak liburan ke Eropa," balas Sultan seraya mengangguk. "Aku suka itu. Aku suka kamu yang sekarang."
Siti mengulas senyum manis yang tampak cantik di wajahnya yang baru saja menangis. "Kamu juga berubah. Cepat sekali sampai aku hampir tak bisa mempercayainya. Jadi, sekarang kamu sudah menyukaiku, ya?"
Sultan menggeleng kecil, membuat Siti berhenti tersenyum dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Siti mengela napas lega, ia tertawa. Menatap Sultan dengan wajah merona yang bahagia. "Kamu ... belajar dari mana candaan-candaan itu?"
"Tidak aku pelajari," jawab Sultan jujur. "Itu telah ada dalam diriku."
Siti menatap Sultan dengan pandangan tak percaya. Namun, tetap tersenyum berseri-seri. "Ah, rasanya kamu seperti orang yang berbeda, Sultan. Aku senang sekali. Akhirnya perjuanganku terbalas dengan sempurna."
"Karenanya, biasakan diri dari sekarang. Aku akan terus seperti ini untukmu."
"Baiklah, aku akan membiasakan diri untukmu," balas Siti sambil tertawa kecil. Menahan degupan jantungnya yang melebihi ritme, untuk tak meloncat-loncat saking bahagianya.
Kemudian mematikan perekam suara yang melekat di sisi bajunya untuk setelahnya menggandeng Sultan untuk pulang bersama dan jalan-jalan sebagaimana pasangan yang dijodohkan untuk menikah di masa depan.
Sultan benar-benar berubah hari itu. Siti merasa dicintai, disayangi dan dikasihi balik tanpa perlu ia meminta, merengek dan memelas lagi. Tanpa perlu air mata, sakit dan lelah, ia dapat bahagia bersama seseorang yang telah ia dambakan.
Baiklah, ini adalah berita yang sangat menggembirakan sekaligus menyakitkan.
Menggembirakan untuk keluarga serta pendukung-pendukung Siti, dan menyakitkan bagi perempuan yang telah dijadikan Sultan sebagai mainan, candaan dan calon sampah itu.
Siti harus berterima kasih pada Alfin, yang menyarankannya untuk berlibur ke Eropa untuk memperbaiki kepribadiannya. Hasilnya amat memuaskan dan Sultan langsung menyukainya.
***
Bayu melepas pakaian bekas kuliahnya untuk memakai kaos hitam dengan hoodie abu-abu dan memakai tas kecil punggungnya kemudian. Laki-laki itu menghela napas berat dengan wajah menahan amarah, tangannya terkepal kuat dan langkahnya tergesa ketika keluar dari kosnya setelah mengunci pintu kos tersebut.
Dadanya terasa membara, butuh sesuatu untuk meredakannya. Udara dingin malam saja tak cukup. Bayu perlu pelarian yang lebih.
Seperti biasa, ia dijemput oleh taman Erwin untuk ke tempat balapan yang tempatnya hampir sama seperti kemarin-kemarin, hanya saja kadang ada banyak pohon atau bangunan tua yang tak terpakai. Jarak serta luas area turnamen rata-rata sama sehingga Bayu tak perlu kesulitan untuk beradaptasi.
Ketika telah sampai, ia langsung menghampiri Erwin yang duduk bersama teman-temannya. Bayu menyapa singkat, kemudian mulai memakai alat pengaman untuk balapannya.
"Hari ini seperti biasa aja. Nggak ada tandingan yang lebih kuat. Lo konsentrasi aja, berusaha maksimal," kata Erwin menyemangati.
Bayu hanya mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobil balap milik Erwin untuk selanjutnya melajukannya dengan kecepatan super cepat. Bukan hal yang aneh bagi Bayu berkendara kencang di gelapnya malam, bukan juga hal aneh bagi Bayu diserbu dinginnya malam yang menusuk dan bukan juga hal aneh bagi Bayu melatih jantung untuk melesat super cepat tanpa takut ada yang menghalangi.
"Aku punya pacar!"
Bayu berdecak, mengernyit dengan wajah marah ketika suara itu terngiang di benaknya. Kecepatannya sedikit menurun dan itu membuat dua buah mobil langsung menyusulnya hingga Bayu menggeram luar biasa marah.
Dengan cepat, ia menguasai diri dan menancapkan kaki berbalut sepatu converse-nya ke pedal gas keras-keras. Usahanya berhasil, dengan kelihaiannya berliuk dan menyusul, mobil balapnya dapat menjadi posisi terdepan kembali.
Bayu sedikit menghela napas. Gelapnya malam, dinginnya udara dan pening kepalanya tercampur menjadi satu. Bayu merasa dirinya kurang tidur dan ia hanya berpikir seperti itu.
"Sultan nembak aku. Aku juga nggak percaya, tapi ini bukan mimpi!"
"Arrrgh!" Bayu berseru marah sewaktu ia membelokkan mobilnya secara tiba-tiba, kemudian berhenti begitu saja. Bayu memukul-mukul stir dengan tangannya hingga memerah dan terasa mati rasa.
Bayu baru sadar bahwa patah hati akan berdampak seburuk ini. Ia menyerah atas semuanya. Kini, mungkin Erwin tak mau lagi bekerjasama dengannya, mungkin setelah ini ia akan menjadi santapan tangan teman-temannya dan mungkin ini kali terakhir Bayu menikmati rasa menjadi seorang pembalap.
Ah, ralat, pembalap ilegal.
Bayu menghela napas lelah, kemudian mulai melajukan mobil balapnya lagi. Hanya perlu tiga menit untuknya sampai di garis awal. Semua orang menatapnya dengan wajah terkejut yang luar biasa.
Apalagi Erwin.
Dia marah dan kecewa. Jelas, Bayu kini tak mencapai posisi tiga besar hingga tak berhak mendapatkan benefit. Begitu Bayu keluar dari mobil balap Erwin dan membuka perlengkapan keamanan untuk dikembalikan, Erwin langsung menghantam rahangnya tanpa peduli pada kakinya yang lumpuh. Bayu terjengkang, hampir jatuh jika tak bertumpu pada tiang.
"Lo tolol, Bay! Lo sinting!" seru Erwin marah, wajahnya sudah merah padam dan napasnya terengah-engah. "Lo sengaja, ya, hah?!"
Salah satu teman Erwin membantu Erwin untuk tetap duduk di kursi rodanya setelah Bayu hanya mampu menunduk. "Tenang, Win, nanti lo making parah sakitnya."
"Gue bayar lo bukan untuk kalah, Bay," kata Erwin dengan nada yang lebih santai. "Gue bayar lo biar gue masih bisa hidup dengan merasa menang di balapan. Kalau bukan karena kecelakaan dan kaki gue lumpuh, lo nggak akan pernah bisa ada di sini, Bay."
"Maaf, Win, gue nggak fokus," balas Bayu menyesal. Pada Erwin, pada teman-temannya dan juga pada dirinya sendiri.
Erwin tertawa hambar. "Lo tau gue benci banget kata maaf."
Bayu hafal betul tabiat Erwin. Laki-laki itu keras pada tujuannya, fokus pada ambisinya dan serius pada apa yang menghalang-halangi kemauannya.
"Eksekusi." Erwin memberi perintah pada seluruh teman-temannya untuk memberi sebuah hukuman pada seseorang yang melakukan kesalahan seperti Bayu. "Awas, sampai pingsan aja. Jangan sampai mati, nanti bangkainya bau."
Bayu tau diberi kesempatan untuk membela diri, tak diberi kesempatan untuk bertobat dan tak diberi kesempatan untuk mengelak semua hantaman yang diberikan sepuluh teman Erwin itu pada tubuhnya.
Hingga, setelah terasa sakit, perih dan menyiksa, semuanya tertutup oleh kegelapan yang purna.
***
GIMANA, GIMANA?