
"Bukannya itu cewek lo, ya?"
Pertanyaan Gerald membuat Sultan mengalihkan pandang pada sebuah sepeda yang melintas ke depannya yang sedang mengunci mobil. Mata Sultan menatap tak suka pada siapa dan siapa yang menaiki sepeda itu. Mereka melintas begitu saja, sehingga Sultan hanya mampu melihat punggung perempuan yang menjadi penumpang di sepeda itu.
Seseorang yang ia duga sebagai teman Surti kini berhasil membuat Sultan cemburu.
Sultan berdecak, kemudian berjalan meninggalkan Arka, Alfin dan Gerald dengan langkah yang terbilang cepat.
Melihat itu, Gerald menyikut Arka. "Cemburu dia."
"Hah?" Arka nampak tak paham.
"Itu, anjir," balas Gerald agak dongkol. "Sultan cemburu sama temen pacarnya yang tadi boncengan sepeda."
"Nggak ngurus, njir," balas Arka agak ketus. "Gue banyak tugas nih. Duluan, ye."
"Si anjir," tukas Gerald dongkol. Ia beralih pada Alfin yang sedari tadi sibuk mengecek isi tasnya. "Woi, Fin--"
"Air pod gue kok nggak ada?!" Alfin berseru frustasi. Kemudian menatap Gerald dengan curiga. "Lo liat nggak?"
"Nggak ngurus, njir," balas Gerald super ketus, lalu pergi meninggalkan Alfin yang langsung bingung dengan kesalahannya.
"Gue salah apa, sih?"
***
"Kamu kenapa ringis-ringis terus, sih?" Surti bertanya ketika melihat Bayu yang sedang makan dengan suara ringisan yang begitu menganggu acara makannya. "Sariawan?"
Bayu tersenyum walau mulutnya sedang mengunyah. Perlahan, kepala itu menggeleng pelan dengan ragu. Membuat Surti agak geram karena merasa dibohongi oleh sahabatnya ini.
"Yaudah, aku bukan sahabat kamu lagi mulai sekarang," putus Surti tanpa berpikir lama. Membuat mata Bayu langsung membulat terkejut.
"Kok, gitu?!" kaget Bayu tak tertahankan. Bahkan sampai tersedak oleh makanan yang sedang ia kunyah.
"Makanya, cerita dong," balas Surti agak dongkol. Matanya berotasi seraya meminum es teh manisnya. "Aku kan teman dekatmu. Seharusnya sesama teman, kita tak menyembunyikan apapun. Aku juga cerita tentang Sultan."
Bayu tertawa. "Kamu sekarang ini sering sekali menghabiskan waktu bersama Sultan. Aku merasa dilupakan."
Kini, giliran Surti yang terkejut, bahkan tersedak es teh manis yang tengah ia telan. Matanya membulat dengan wajah memerah. "Kok kamu bilang gitu? Aku nggak pernah, tuh, melupakanmu."
"Aku yang merasakannya," balas Bayu agak dingin. "Aku yang merasa ditinggalkan."
Dibilang seperti itu, Surti agak bingung untuk membalas karena sepertinya apa yang dibicarakan oleh Bayu, ada benarnya. Minggu ini, Surti banyak sekali menghabiskan waktu bersama Sultan, banyak sekali memikirkan Sultan, dan terasa banyak sekali kenangan bersamanya. Sampai melupakan sahabatnya, temannya dan orang yang setia menemaninya sejak hari pertama sekolah SMA sampai kini.
Oleh karena itu, Surti hanya dapat menundukkan kepalanya, amat menyesal.
Bayu melihatnya dengan mata sedih, kemudian menyendiri. Dirinya tak tega melihat Surti seperti itu, untuk itu Bayu berdeham, bersiap untuk mengungkapkan kebenaran, menjawab pertanyaan pertama Surti.
"Aku dihajar," katanya pelan. Membuat Surti langsung mengangkat kepalanya dengan mata membulat sempurna. "Aku sebenarnya pembalap, setiap malam Minggu, aku balapan. Jika aku menang, aku selalu dapat bagian, namun jika kalah... rasa sakit fisik adalah balasannya."
Surti menutup mulutnya dengan satu tangan, amat terkejut. Tak pernah Surti bayangkan, bahwa temannya yang terlihat amat polos itu rupanya adalah anak malam yang rutin balapan tiap minggunya. "Kamu kok begitu?"
"Aku melakukannya untuk keluargaku, diriku..." Bayu tersenyum penuh arti dengan tatapan instens pada mata Surti. "Dan dirimu, Surti."
"Kok aku?!" Surti dibuat semakin terkejut.
Sayangnya, temannya ini tak dapat mengerti arti tersirat dari tatapannya, senyumnya serta nada suaranya. Terlalu tak peka. Terlalu kejam.
"Kamu kan sahabatku," balas Bayu dengan perasaan yang amat sakit, tertahan dan tersayat. "Apa yang salah?"
"Eh, tapi nggak begitu juga. Aku tak akan memaksamu untuk meneraktir lagi, aku tak akan memintamu untuk jalan-jalan tiap weekend lagi, aku tak akan memintamu untuk membeli ini-itu lagi." Surti membalas cepat, langsung. "Kalau aku tahu lebih awal, maka aku tak akan memaksamu untuk mengeluarkan uang. Kamu ini bagaimana, sih."
Bayu tertawa kecil, entah kenapa merasa terhibur meski fisik dan hatinya sakit.
"Harusnya sesama teman itu saling membuat nyaman, saling membuat tenang dan saling membuat kuat." Surti mengerutkan keningnya, menatap Bayu dengan ketidakmengertian yang nyata. "Kamu membuatku terlihat seperti teman yang jahat dan tidak pengertian. Mulai sekarang, berhentilah balapan dan ikut bekerja bersamaku. Kita cari uang sama-sama dan bahagia bersama."
Seulas senyum senang terpatri di wajah Bayu. "Iya."
Surti membalas dengan senyuman serupa. "Bagus."
"Kamu nggak akan kencan dengan Sultan?" tanya Bayu tiba-tiba, saat melihat jam di kantin yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Kelas keduanya telah selesai. Bayu memutuskan untuk mengajak Surti pulang jika perempuan itu tak punya jadwal lain setelah makan.
Surti agak cemberut. "Entahlah, aku tak melihat Sultan seharian ini. SMS-ku pun tak kunjung dibalas. Padahal pagi sekali aku mengirimnya, namun tak dibalas juga sampai kini."
Agak sedih dan senang mendengarnya. Bayu mengerutkan keningnya. "Jadi, bagaimana?"
"Aku mungkin--"
Suara Surti terpotong oleh getaran ponsel di saku celananya. Segera, perempuan itu menyalakan ponsel jadulnya dan melihat sebuah SMS yang membuat senyumnya mengembang lebar.
Sultan : sini ke parkiran
"Dari Sultan, ya?" tebak Bayu yang melihat pada betapa terlihat senangnya Surti kini saat melihat ponselnya.
Surti mengangguk cepat. "Aku disuruh ke parkiran. Sepertinya kita akan ada acara. Kamu tidak keberatan aku tinggal?"
Memang berat, memang sakit, memang perih dan memang sulit untuk melihat betapa senangnya dan gembiranya ketika Surti bangkit dan berlari menjauhinya untuk menghampiri pujaan hatinya, Sultan.
Namun, bagaimanapun, Bayu harus menerimanya. Ini hukum alam. Tak ada yang bisa mengubah, menolak ataupun merusaknya.
***
"Kamu... ngapain?"
Surti mengerutkan keningnya ketika melihat Sultan berada di atas sebuah sepeda di parkiran. Biasanya Sultan dengan mobil mewahnya serta supirnya. Sangat aneh melihat Sultan kini. Tersenyum, dengan tubuh berada di atas sepeda.
Laki-laki sudah tak membawa tas. Hanya memakai kaos putih dengan lengan pendek yang mengekspos sebagai lengan putihnya, celana jeans santai berwarna hitam serta topi hitam yang menutup setengah wajahnya. Pada intinya, terlihat sangat tampan dan membuat jantung Surti seperti telah berlari 500 meter.
"Naik. Akan ku antar kamu," ajak Sultan lembut. Mata itu tepat menatap Surti
Surti menahan senyumnya. "Kenapa tiba-tiba begini?"
"Mau atau tidak?" Sultan tiba-tiba berubah dingin, agak kesal. "Cepat naik. Jangan banyak tanya."
Wajah berbinar senang Surti langsung luntur, tergantikan dengan wajah kecewa dengan bibir cemberut. Sebenarnya ini membuat Sultan gemas sekali melihat, namun Sultan menahan ini untuk tak mencubit pipi pacarnya itu karena sedang berakting dingin.
Pada akhirnya, Surti duduk di kursi boncengan tanpa banyak bicara lagi. Membuat Sultan segera bersiap dan mulai mengayuh sepedanya keluar dari parkiran. Menuju ke rumah Surti yang terletak sekitar tiga kilometer dari pemberangkatan.
Tak peduli berapa lama Sultan harus mengayuh sepeda ini, tak peduli berapa banyak keringat yang ia hasilkan dan tak peduli berapa pegalnya tubuh Sultan, cintanya pada Surti lebih daripada racun yang memabukkan.
"Sultan, hati-hati, dong, aduh," keluh Surti ketika sepeda yang dikendarai Sultan agak oleng karena melewati sebuah polisi tidur yang beruntun dan agak banyak. "Nanti jatoh, sakit."
"Pegangan, dong," balas Sultan sama kesalnya. "Jangan ke besi boncengan belakang, tapi ke pinggang aku aja."
"Idih, udah jago modus, ya," balas Surti agak ketus. Namun, pada akhirnya ia mengganti pegangan pada pinggang Sultan, memeluk tubuh itu agak erat.
Sultan merasa nyaman. Tak sia-sia dirinya berlatih sepeda sejak pagi karena tak pernah mencobanya sejak kecil untuk mendapat sebuah kebahagiaan yang menghangatkan hatinya ini. Ayah dan ibunya melarang Sultan berhubungan dengan dunia luar sejak Awija meninggal dunia, hingga Sultan menjadi tak tertarik pada apapun di luar sana.
Lalu, perempuan yang sedang ia bawa dalam sebuah sepeda ini mengubah segalanya. Bahkan pada sesuatu yang merepotkan dan melelahkan, Sultan rela terjun di dalamnya.
Angin lembut yang membelai wajah serta rambutnya, membuat Surti memejamkan matanya secara refleks. Menikmati kenyamanan yang membuatnya amat mabuk. Pada kesederhanaan ini, Surti amat bersyukur atas Sang Pencipta yang telah membuatnya hidup sampai detik ini.
Sultan menyadari bahwa perlahan, Surti menyenderkan kepalanya pada punggungnya. Rasanya hangat dan nyaman. Bahkan Sultan rela seperti ini sampai akhir hayatnya. Sungguh.
"Aku tak pernah naik sepeda," cerita Sultan tiba-tiba. Membuat Surti membuka kelopak matanya dan mendengarkan lebih serius sebab di sekitarnya agak bising karena lalu lalang kendaraan. "Baru kali ini aku mencobanya."
"Hah? Kok bisa begitu?" Surti bertanya amat heran. Bahkan dirinya yang memiliki harta rendahan pun dapat menikmati bersepeda sewaktu ia masih kecil... dengan orang tuanya.
"Ayah dan ibuku selalu melarangku ini-itu." Sultan menjawab jujur, seadanya, tanpa diada-adakan. "Apalagi sejak Awija tidak ada. Semuanya dilarang, semuanya diatur. Kadang, aku ingin memberontak."
Sultan menunduk, namun masih dapat memerhatikan jalan meski sepedanya menjadi agak oleng. "Namun, aku tak seberani Awija. Aku takut, Surti. Ayah dan ibu... mereka sangat aku sayangi, aku tak bisa menyakiti mereka dengan menjadi anak yang membangkang dan tak mengikuti aturan."
"Iya, pasti tujuan mereka baik, Sultan. Apapun pilihanmu, aku mendukungnya," balas Surti tanpa membuat Sultan menjadi lebih sedih. "Aku terharu. Kamu pasti kesulitan belajar sepeda. Ini aku sangat takut, lho, dibonceng sama kamu."
Sultan menahan senyum. "Wajar, dong."
"Iya, sih." Surti meringis, agak takut ketika Sultan menaikkan kecepatan kayuhannya. "Tapi jangan bikin takut gini!" serunya ketika melewati turunan yang agak terjal. Hingga membuat angin menerbangkan rambutnya dengan dramatis.
Surti merasa dirinya ada diambang kematian kala itu, namun Sultan merasa amat bahagia di depan sana. Keduanya menikmati kebersamaan ini, namun dengan cara yang berbeda.
"AAAAAAAA!" teriak Surti parno.
"WAAAAAA!" teriak Sultan senang. "WOOOHOOOOO!"
Tanpa saling menyadari, keduanya terjebak dalam lingkaran yang sama, pada dunia yang serupa dan dalam tabung harapan yang sama dalamnya.
Ketika akhirnya turunan yang agak terjal itu telah terlewati, suaranya keduanya menelan dan hanya terdengar deru napas masing-masing.
"Are you happy, Surti?" tanya Sultan lembut. Membuat Surti yang telah pening, semakin pening sebab Sultan terlalu membuatnya gugup sekaligus senang.
"Bangeeeeet!" jawab Suki riang. "Makasih, Sultan. Atas segalanya, dari dulu sampai sekarang."
Sultan tak menjawab, hanya tersenyum dan fokus mengayuh sepeda ini. Dalam otaknya, ia tak punya kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang dirasakannya saat ini. Diam adalah jawaban terbaiknya.
Keduanya fokus memandang jalanan, memandang lampu-lampu jalanan yang mulai terang, orang-orang dan panorama yang seolah saling berkejaran. Indah. Jelas, berdua seperti ini membuat Surti dan Sultan merasa lengkap.
Dalam sedangnya kecepatan kayuhannya Sultan kini, Surti melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Sultan seutuhnya, se-eratnya. "Aku tak akan melarangmu, Sultan. Aku tak akan mengaturmu, aku tak akan mengekangmu."
Seulas senyum Sultan terukir di wajahnya yang agak lelah sebab telah mengayuh hampir setengah jam. "I love you, Surti. Very much."
Pipi Surti mulai memanas, ia berdeham dan mencoba menyembunyikan wajahnya di punggung Sultan. "I love you too, Sultan."
Atas sesuatu yang seharusnya tak menjadi hal yang lucu, Sultan tertawa. Entah itu merasa bodoh atau justru merasa sangat mengenaskan.
Sampai kini, Sultan masih ragu. Sebenarnya, cinta apa yang sedang ia jalin bersama Surti?
***