
Surti menatap Sultan ketika mobil yang ditumpangi keduanya telah berhenti di depan gang masuk kos Surti. Pipi Surti sudah merah tak karuan, namun itu tak tampak jelas karena penerangan minim di malam yang gelap ini.
"Hati-hati, ya," kata Sultan lembut, seraya mengambil jaket di jok belakang dan memakaikannya pada Surti begitu saja. Surti tertegun, menatap wajah serius Sultan sedekat ini dengan ekspresi tulus. Tanpa peduli betapa susahnya dan mahalnya untuk mendapatkan jaket kulit tersebut. "Jaga kesehatan."
Dengan gerakan patah-patah, Surti mengangguk. Masih canggung sebab kejadian yang tiba-tiba itu. Masih malu mengakui bahwa Sultan telah mencium keningnya lama sekali.
"A-aku duluan, ya," pamit Surti pada akhirnya, meninggalkan Sultan sendiri di mobil mewahnya dengan baju basah kuyup.
Surti terus berlari menuju kosnya di bawah hujan gerimis. Dingin menyergap seluruh fisiknya, namun tidak dengan hatinya. Surti merasakan dadanya terus berdebar kencang dan pipinya menghangat.
Tak paham apa yang terjadi pada tubuhnya, Surti segera menuju toilet umum untuk mandi. Tak peduli bahwa dirinya telah dingin, tak peduli bahwa mandi malam itu sangat beresiko, dan tak peduli bahwa dirinya akan sakit esok hari.
Yang Surti inginkan adalah mengembalikan suhu tubuh dan detak jantung normalnya. Itu saja. Ia harap dengan mandi, dirinya akan sejuk dan lebih rileks.
Di setiap guyuran yang ia lakukan, terdapat banyak penyesalan yang ia rasakan.
Harusnya Surti tak seperti ini.
Menyadari bahwa setelah mandi pun, jantungnya masih berdebar hebat dan kedua pipinya masih terasa hangat, Surti yakin akan satu hal.
Dirinya telah jatuh pada Sultan. Terlalu dalam dari seharusnya.
Jelas, ini adalah bencana.
***
Aku di rooftop. Sini.
Jantung Surti bagai hendak meledak hanya karena mendapat pesan singkat dari Sultan di ponsel jadulnya. Surti segera mengemas buku-buku serta alat tulisnya ke dalam tote bag hitam miliknya. Kemudian ia bangkit, berjalan keluar dari ruang teori yang kelasnya telah selesai itu untuk menuju tempat di mana Sultan berada kini.
Pada perjalanan yang seharusnya menjadi biasa, Surti membenarkan tatanan rambutnya, merapikan pakaiannya dan bahkan sampai mengecek aroma napasnya. Surti berlatih senyum dan mengerjap-ngerjapkan matanya untuk tampak cantik di depan pacarnya.
Surti tak tahu apa yang akan ditunjukkan atau diberikan Sultan hingga menyuruhnya untuk ke tempat yang biasanya sepi itu. Surti hanya memikirkan itu sampai akhirnya ia sampai di tempat yang dimaksud.
Betapa tertegunnya Surti ketika melihat punggung Sultan dengan latar langit sore yang elok. Langkahnya terhenti seketika, terpaku pada betapa indahnya ciptaan Tuhan ini.
Seharian ini Surti tak bertemu Sultan. Sebab laki-laki itu tak terlihat di mana pun dan Surti tak berusaha mencarinya karena sangat malu jika teringat kejadian saat hujan kemarin. Biarlah dirinya seperti anak kecil, namun tak ada yang bisa menghentikan rasanya pada pemuda itu.
Sekalinya ia bertemu pada penghujung sore, dengan sorot oren yang kental, hangat juga indah, Sultan hadir bagai sebentuk keindahan paling teratas di hidupnya.
Tak pernah sekalipun, Surti merasa tersihir seperti ini. Hingga perlu lima detik untuk dirinya menyadari bahwa Sultan kini sudah berada di depannya, dengan senyum yang bagai mimpi bisa melihatnya. Entah kapan Sultan, berjalan ke hadapannya, padahal sedari tadi mata Surti jelas-jelas terbuka dan tak berkedip.
"Hei, jangan bengong begitu. Jangan bikin aku takut," kata Sultan seraya mengibaskan satu tangannya ke hadapan wajah Surti.
Surti mengerjap sekali. Dunianya seolah hilang, terserap begitu saja hingga ia tak bisa berpikir panjang seperti orang normal.
"Ah, iya," sadar Surti dengan kikuk. "Omong-omong, kamu kenapa ngajak aku ke sini?"
Tak menjawab, Sultan justru mengambil tangan Surti yang tubuhnya seringan kapas ketika diajak berjalan ke tepi pembatas rooftop. Sehingga lebih luas lagi pandangan Surti pada indahnya gedung-gedung, pohon asri serta hiruk pikuknya jalanan Yogyakarta sore ini. Semua itu diolesi oleh penghujung sore yang indah dan hanya sesaat ini.
Sultan melepaskan tangannya pada tangan Surti, lebih memilih untuk menumpu pada tembok pembatas dan menikmati pemandangan di depannya.
"Aku suka sore. Lebih suka lagi kalau lihatnya sama kamu, Surti," jelas Sultan lembut. Suaranya rendah, tegas dan terkesan dingin, namun tetap saja terasa menghangatkan bagi Surti. "Makasih udah datang."
Bibir Surti yang tak terpoles apapun itu menyunggingkan senyum lebar. "Sama-sama. Makasih juga udah ngajak aku untuk liat yang indah ini. Aku seneng."
"Sayangnya sore datang cuma sebentar," keluh Sultan sedih. "Sebentar lagi malam."
"Iya," balas Surti. Kemudian menoleh dan menatap wajah Sultan dari pinggir. "Yang indah itu memang selalu sebentar, bahkan kadang datang hanya berupa mimpi."
Berkat perkataan yang sedikit menohoknya itu, Sultan menoleh dan langsung bertatapan mata dengan Surti. "Kalau kamu berpikir aku kayak sore, aku berani buktikan bahwa itu salah."
"Nggak ada yang tahu," tukas Surti agak ketus, langsung memalingkan wajahnya dari Sultan. Sebenarnya, kesenangan ini terlalu tinggi bagi dirinya yang hanya dapat digambarkan sebagai remehan ini. "Aku dan kamu bagai emas dan batu. Nggak mungkin bisa disandingkan bersama. Seberusaha apapun kamu ada di sampingku, pasti akan pergi juga. Kamu akan berada di tempat tinggi, sementara aku akan ditendang, dibuang dan diabaikan."
Sultan berdecak. "Aku tulus, Surti."
Suara rendah yang menusuk hati itu membuat Surti termangu. Angin kencang tiba-tiba berhembus, mengayunkan anak rambutnya. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Surti menyaksikannya. Gelap mulai menyelimuti. Tak ada lagi keindahan. Yang ada hanya dingin, gelap dan tak terarah
Seperti takdirnya dengan Sultan, mungkin.
"Aku sedih... kamu terus meragukanku," kata Sultan lagi. Nadanya dingin dan sedikit marah. "Aku bisa berjuang untukmu."
Tangan Surti terkepal kuat, erat dan terasa sakit pada akhirnya. "Bukannya aku bermaksud meremehkan dirimu. Hanya saja... aku sadar. Mimpi ini terlalu indah dan... tinggi. Aku tak mampu."
Sultan menyunggingkan senyum kecewa. "Terserah."
Pada langkah yang hendak Sultan ambil setelah ia membalikkan badannya, tangan Surti menahan bajunya. Dengan wajah setengah kesal, Sultan berbalik lagi dan amat terkejut saat Surti mencium pipinya secepat kilat.
"Aku terlalu sayang padamu. Beritahu aku bagaimana caranya menghentikan debaran gila ini," pinta Surti dengan nada pelan ketika Sultan masih termangu pada apa yang barusan ia dapatkan. Surti memejamkan matanya karena merasa amat malu. "Semua ini terlalu gila. Aku hampir sinting menghadapinya."
Pipi Surti perlahan terasa hangat dan ronanya mulai menyebar. Dalam dinginnya malam, lagi-lagi Surti tak merasa dingin karena hal yang sama seperti kemarin. Sultan tak kunjung menjawabnya, ini membuat Surti ingin segera kabur saja.
"Sultan... bilang sesuatu dong," lirih Surti salah tingkah. Ia meringis kecil. "Aku pulang, ya..."
Perkataannya tak sempat selesai, karena Sultan lebih dulu membawanya dalam rengkuhan erat yang hangat dan menyenangkan. Aroma maskulin khas laki-laki itu menyeruak menyerbu indra pembau Surti.
Matanya terpejam, kemudian membalas pelukan tersebut dengan segenap hati.
Di rasakannya Sultan mencium puncak kepalanya. Kemudian suara laki-laki itu keluar, "kalau begitu, jangan berhenti."
Menggema dalam kepalanya, merasuki pikirannya dan meracuni hatinya.
***
Meski malam telah menjemput, Sultan masih terbiasa untuk mandi. Suara shower beradu di keheningan malam.
Sebenarnya, Sultan ingin menyejukkan kepalanya juga. Sebab tadi, ketika orang tuanya bertanya mengapa dirinya pulang malam, Siti berada di samping kedua tuanya dan terjadilah sebuah perbincangan serius yang tak diduga-duga.
Mereka berempat duduk di ruang tengah rumah khusus Sultan, saling berhadapan dengan wajah serius.
"Dari mana saja kamu?" Ayah langsung bertanya dengan wajah menahan marahnya.
"Kuliah," jawab Sultan singkat.
Ibu menyentuh lengan anaknya dengan lembut. "Ibu akan sayang kamu jika kamu nggak berbohong."
"Aku jujur, Bu," jawab Sultan masih pada pendiriannya.
Ayah mengela napas kecil. "Kenapa kamu tidak kunjung menjaga Siti?"
Kepala Sultan bergerak, menoleh ke samping untuk menatap wajah Siti yang sedari sendu, seperti orang yang menyimpan kesedihan amat dalam dan patut untuk dikasihani. Melihatnya, ingin sekali Sultan menampar wajah sok polos itu untuk tak munafik.
"Dia sudah besar, yah," jawab Sultan memberi alasan.
"Setidaknya, kamu harus menjemput dan mengantarnya dengan selamat dan aman," balas ayah tak terima. "Jaga sikapmu."
"Baru-baru ini Sultan baik padaku, tapi hari ini dia berubah menjadi dingin lagi," kata Siti tiba-tiba memberi sebuah kejelasan. "Aku takut ada sesuatu. Sebentar lagi 'kan kita bertunangan."
"Nah, iya," tukas ibu seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Kamu punya perempuan lain, ya?"
Sultan mengepalkan tangannya erat, menahan emosi. "Dia hanya mainanku, hiburanku, dan akan menjadi buanganku."
Senyum ayah tersungging tipis. "Jangan main-main kamu."
Jelas, kini ayah marah padanya. Namun, Sultan masih bersikap santai menghadapinya. Wajah dinginnya selalu terpasang tanpa senyuman.
"Aku tak akan main-main pada Siti," balas Sultan serius. "Karenanya aku bermain-main dengan orang lain."
Alis ibu terangkat. "Kalau ternyata kamu justru bermain-main dengan Siti, bagaimana?"
"Aku akan tetap bertunangan dan menikah dengan Siti," jawab Sultan langsung. "Jangan khawatir. Aku berjanji."
Ayah akhirnya tersenyum lebar, bahkan sampai tertawa dan menoleh pada Siti dengan wajah berseri itu. "Bagaimana? Kamu senang?"
Senyum Siti tercipta sama lebarnya. "Aku senang. Terimakasih."
"Sudah sepantasnya kami memperlakukan dirimu seperti ini," tukas ibu dengan lebar senyum yang sama.
Siti menoleh pada Sultan. "Bolehkah besok kita pergi ke restoran Italia favoritku?"
"Tentu. Akan kuluangkan waktuku untukmu," balas Sultan cepat. Kemudian beralih apa kedua orang tuanya. "Bolehkah aku ke kamar?"
"Antarkan dulu Siti, nak," kata ibu menahan pergerakan Sultan yang ingin bangkit.
"Nggak apa-apa. Aku ada supir yang akan mengantarkan diriku ke rumah. Sultan harus istirahat, sudah malam juga. Aku tak mau merepotkan. Terimakasih."
Begitu saja. Selesai sudah perbincangan yang sebenarnya sangat membuat Sultan bosan. Ia lelah dengan kepura-puraan Siti, lelah dengan permainan perjodohan ini yang hanya bertujuan untuk saling terkenal dan cari muka saja.
Setelah mandi, Sultan memakai piyama hitam berbahan satin kesukaannya dan menikmati angin serta pemandangan malam lewat jendela yang sedari tadi terbuka itu.
Pohon mangga yang berada di halaman depannya tiba-tiba bergerak, membuka Sultan segera menyipitkan matanya, meneliti apakah yang menyebabkan pohon tersebut bergerak sedemikian rupa. Bagaimana pun, gerakan tersebut mustahil disebabkan oleh angin.
Namun, Sultan tak menemukan kejanggalan lainnya ketika memerhatikan lebih lanjut. Pada akhirnya, ia menutup jendela kamarnya untuk kemudian tidur dalam balutan selimut super hangat dari wol.
***
Seharian ini, Surti melihat Sultan selalu berada di samping Siti. Dirinya merasa risih dan kesal. Siti jarang sekali terlihat olehnya, namun sejak hari ini, perempuan itu selalu tertangkap oleh penglihatannya. Selalu berada di samping Sultan, yang kini status laki-laki itu adalah pacarnya.
Surti tak tahu apa yang salah pada dirinya yang agak marah karena hal itu, namun ia merasa tak pantas untuk sekedar marah dan menampar Sultan karena telah menyakiti hatinya. Hatinya berkata bahwa Sultan akan menyimpan dirinya dalam hatinya, tanpa mempublikasikan sehingga semua orang bisa tahu.
Oleh karena itu, Surti hanya diam. Tak bersuara, tak protes, tak marah dan tak mengumpat ketika melihat bagaimana instens-nya interaksi antara Sultan dan Siti.
Semua orang tahu mereka dijodohkan dan akan menikah suatu hari nanti, namun bukan berarti Surti harus menyerah begitu saja atas hatinya ini.
Bahkan Sultan telah berkata untuk Surti tak berhenti menyukai, menyayangi dan mencintai dirinya.
Ponselnya yang tiba-tiba bergetar membuat Surti menghentikan langkahnya yang akan menuju toilet setelah melihat Sultan dan Siti yang tadi saling menyuapkan makanan di kantin. Surti mengambil ponsel jadulnya yang tebal itu kemudian mengecek sebuah pesan yang masuk.
Aku tak berniat menyakitimu. Siti hanya dekat dengan diriku karena penjodohan bodoh, bukan karena yang lain
Tolong mengerti untuk hari ini
Surti tersenyum tipis. Berat baginya untuk terlihat baik-baik saja kini. Hatinya terasa sesak, sakit dan perih secara bersamaan. Kenyataan ini terlalu berat untuk ia hadapi.
Namun, pada akhirnya ia pun membalas tanpa memikirkan hatinya yang terluka ini.
Iya, nggak apa-apa. Aku paham.
Sultan bilang pada Surti untuk mengerti. Semoga sesuatu yang dimengerti Surti adalah sesuatu yang benar-benar dirasakan Sultan.
Semoga laki-laki itu tak berbohong pada dirinya yang terlanjur amat percaya ini.
***