
"Maksudnya??"
"Dia ayahnya dari lelaki yang sudah merusak masa depan Rania."
Suara ibu Rania bergetar saat mengucapkan kata-kata itu. Amarah terlihat jelas di matanya.
"Gara-gara anak dia semua impian Rania hancur. Gara-gara dia,Rania akan hidup dalam hinaan orang-orang karena hamil tanpa suami."
Ayah Rania memeluk isterinya. Berusaha mengendalikan supaya isterinya tidak histeris.
"Sabar Bu...Sabar..."
"Bagaimana ibu bisa sabar. Rania anak kesayangan ibu harus menderita seperti itu. Ibu gak rela yah...Ibu gak rela."
Ibu Rania menangis sesenggukan di dalam pelukan suaminya.
"Sudah bu...sudah..."
Ucap ayah Rania menenangkan.
"Gimana keadaan Rania dan bayi nya???"
"Masih belum keluar bayi nya Yah. Rania suruh ibu keluar. Jadi ya ibu tunggu di luar saja."
Mereka pun menunggu dengan cemas di depan ruang bersalin. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara tangisan bayi yang terdengar sangat nyaring.
"Yah...itu..."
"Iya Bu. Kita tunggu saja dari dokter ya."
Ucap ayah Rania. Tidak lama menunggu seorang suster keluar sambil menggendong bayi mungil yang cantik.
"Ini cucu nya bapak...ibu... cantik dan sehat. Mama nya masih dalam pemulihan di dalam. Tolong di urus biaya administrasinya. Supaya mama nya bisa segera di pindahkan."
"Baik sus."
Jawab ayah Rania. Suster pun membawa masuk bayi Rania. Ketika ayah Rania hendak beranjak meninggalkan ruangan depan kamar bersalin, papa Dion mencegah nya.
"Biar saya saja."
Ayah Rania terdiam. Begitu juga dengan ibu Rania.
"Apa yang anda inginkan??"
Tanya ayah Rania kepada papanya Dion.
"Saya benar-benar tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya ingin diizinkan melihat perkembangan cucu saya. Gak papa walaupun hanya dari jauh. Saya hanya ingin memastikan dia memperoleh apa yang dia inginkan. Tolong dengan sangat jangan katakan kepada Rania kalau saya ayah nya Dion. Sebagai orang tua saya gagal mendidik anak saya. Karena sudah melakukan hal ini. Tapi sebenarnya Dion pun juga sudah ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tetapi dia tidak ada kesempatan."
Ayah Rania terdiam sejenak.
"Baiklah. Saya akan mengizinkan anda untuk bisa dekat dengan anak Rania."
"Yaaahh.."
"Nanti Bu."
Ucap ayah Rania saat mengetahui isterinya akan protes.
"Terima kasih. Saya akan mengurusnya."
Papa Dion pun meninggalkan kedua orang tua Rania. dan menuju ke bagian administrasi.
"Kok ayah izinkan?? Nanti kalau dia ambil cucu kita gimana???"
"Gak akan bu. Ayah berani jamin."
"Jamin dari mana??"
"Kalau dia mau mengambil cucu kita,dari awal dia akan menculik Rania. Dia terlihat seperti orang yang berkuasa. Tapi dia tidak melakukan nya."
Terang ayah Rania.
"Dan lagi sejujurnya ayah tidak setuju dengan pemikiran Rania. Rania terlalu takut dengan perpisahan. Makanya dia bersikap seperti itu. Apa mungkin dia menyukai ayah dari anak nya?? Kan kita tidak tahu jalan pikirannya."
Ibu Rania lagi-lagi terdiam. Memikirkan semua ucapan suaminya.
"Baiklah. Ibu akan tetap amati kakek itu."
"Jangan terlalu berpikiran negatif Bu. Belum tentu juga kakek itu bermaksud buruk."
"Iya..Iya Yah."
Tidak berapa lama Rania pun dipindahkan ke ruangan rawat inap nya. Rania masih belum sadar. Ayah dan Ibu Rania dibuat ternganga dengan ruangan inap Rania yang vvip. Lengkap dengan semua isiannya.
"Apa ini gak terlalu mewah??"
Tanya ibu Rania.
"Ini belum seberapa dengan apa yang sudah anakku perbuat."
Ujar Papa Dion lirih. Rania pun akhirnya sadar. Rania mengejap-ngejapkan matanya. Dilihatnya ruangan dengan pencahayaan yang sangat terang.
"Kamu sudah sadar nak."
Ibu Rania pun menghampiri Rania.
"Bu ini Nia di mana??"
"Kamu ada di rumah sakit sayang."
"Anak Nia mana??"
"Dia masih di ruangan bayi. Ibu sudah lihat. Dia cantik sekali."
"Ayah mana??"
Tanya Rania karena tidak melihat ayahnya di kamar itu.
"Ayah pulang sebentar untuk ambil pakaian ganti. Sama sekalian kasih makan Domino. Anjing itu benar-benar pintar. Dia nyusul ibu di rumah kakek tua itu."
"Iya. Dia sudah terlatih juga untuk itu."
Rania terdiam dan memandang ke dalam sekeliling kamar.
"Ini kamar apa Bu??"
"Ka..kamar inap kamu kan??"
"Iya. Tapi kok mewah banget."
"Kakek yang tinggal di sebelah rumah yang bayar kamar ini buat kamu. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah menjaga rumahnya selama ini."
Ucap ayah Rania yang datang sambil meletakkan barang bawaannya. Ayah Rania berbicara sambil menatap ke arah ibu Rania.
"Mewah banget. Padahal Rania kan hanya bersih-bersih rumahnya saja."
"Bilang terima kasih sama kakek. Tuh kakek nya baru keluar dari kamar mandi."
Dilihatnya kakek Wiguna yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kakek ..Terima kasih ya untuk kamarnya. Bagus banget kamarnya."
"Sama-sama. Kakek sudah lihat anak kamu. Dia cantik sekali."
"Waah...Riana belum lihat malahan. Dia sehat kan Bu??"
"Sehat semua. Berat badannya pun juga normal."
Mereka sedang asyik berbincang-bincang. Ketika suster membawa masuk bayi Rania.
"Selamat pagi mama.... Ini adek bayi nya mau makan pagi dulu. Kakek nya tunggu di luar ya."
"Baik Sus."
Ayah Rania dan Ayah Dion pun keluar. Suster yang membawa bayi Rania membantu Rania untuk menggendong bayi nya.
"Bisa mama??"
"Bisa Sus. Hallo anak mama. Minum susu dulu ya."
Suster pun membantu Rania untuk menyusui. Rania yang awalnya kesulitan menyusui akhirnya bisa dengan mudah menyusui bayinya.
"Sering dipijat-pijat gini saja mom sumber asi nya. Biar lancar keluar nya."
"Ah gitu. Baik Sus. Terima kasih sudah mau mengajari."
"Oh ya siapa namanya Ma??"
"Clarabella. Clarabella Rania Putri. Putri dari Rania."
Ucap Rania sambil menyusui Clarabella.
"Masih terasa gak mom air susu nya keluar??"
"Enggak sus. Kenapa gini??"
"Ya udah kenyang dia. Saya tinggal di sini ya. Barangkali kakek dan nenek nya mau main dulu sama si kecil."
"Iya sus. Terima kasih."
Rania terus menggendong bayi nya. Diciuminya pipi Clarabella yang gembul.
"Ayah mau gendong dong."
Rania menyerah Clarabella ke dalam gendongan ayahnya. Papa Dion hanya terdiam melihat Clarabella dalam gendongan ayah Rania. Dia harus berusaha keras supaya tidak menangis.
Di tempat lain, Dion sedang memijat-mijat kakinya. Sekarang Dion sudah menjadi manager di cafe milik papanya. Semua orang juga sudah tahu kalau Dion anak pemilik cafe. Dan semua bersikap segan dengan Dion karena Dion selalu bersikap dingin. Bahkan dengan para pegawai perempuan sekalipun. Bahkan Mina juga tidak berani bersikap genit kepada Dion karena sikap tegas Dion. Cafe yang di pimpin Dion pun juga sudah semakin di kenal banyak orang. Malam itu Dion berada di apartemen nya. Dilihatnya kalender yang ada di kamarnya.
"Sembilan bulan sudah. Apakah kamu berhasil melahirkan nya?? Apakah kamu baik-baik saja?? Nia...aku merindukanmu."
Dipeluk nya lagi foto Rania yang ada di handphone nya. Dan Dion pun terlelap.