
"Kamu beneran gak papa??"tanya suara di seberang sana.
"Beneran gak papa kok. Anak buah kamu juga bertindak dengan cepat. Jadi Anita gak sampai berbuat apa-apa."terang Rania menenangkan.
"Aku akan memperingatkan Anita. Ayah dan ibu tahu?? Bagaimana reaksi ayah dan ibu???"tanya Dion lagi.
"Aku sudah menjelaskan. Semua akan baik-baik saja Yon."ucap Rania menenangkan. Kurang lebih satu jam Dion sudah mengomel sedari tadi setelah salah satu security melaporkan tentang kedatangan Anita ke rumah mereka.
"Ayah dan ibu gak sampai salah paham kan?? Beliau tahu keadaanya kan??"desak Dion.
"Baik-baik saja Dion. Semoga saja Anita sadar dengan apa yang aku katakan."ujar Rania.
"Gak akan. Dia orang paling egois yang pernah aku kenal. Dia gak akan mudah mengalah."gumam Dion.
"Siapa tahu. Kita kan gak tahu barangkali aja dia bisa berubah."ucap Rania.
"Pokoknya satu pesan ku. Kalian jangan pergi kemana-mana tanpa aku ataupun tanpa orang-orang yang aku percaya. Aku bersungguh-sungguh Nia."tegas Dion lagi.
"Iya papa iya."ucap Rania yang mulai sedikit jengah. Dia hanya tidak ingin Dion terlalu mengkhawatirkannya saja.
Rania pun mengakhiri panggilannya dengan Dion dan kemudian menuju ke ruang tengah tempat ibu nya sedang berusaha menidurkan Clarabella di depan televisi.
"Ada apa Dion menghubungi kamu??"tanya Ibu Rania.
"Hanya sedikit overthingking. Dion terlalu khawatir berlebihan."ucap Rania sambil berbaring di samping Clarabella.
"Jangan seperti itu. Melihat wanita itu tadi saja ibu sudah paham apa yang membuat Dion khawatir. Ibu lihat wanita tadi terlalu terobsesi dengan Dion. Dion sudah menikah saja dia bisa-bisanya menemui kamu dan meminta kamu berpisah dengan Dion. Betul-betul wanita nekad."ucap Ibu Rania. Rania pun terdiam mendengarkan ucapan ibunya.
"Iya Bu."jawab Rania.
"Dion bilang apa?? Jangan gampangin. Turuti apa ucapan Dion."
"Iya Bu. Tadi Dion bilang Nia dilarang ke mana-mana tanpa orang-orang kepercayaan Dion. Jadi ya harus sama orang kepercayaan Dion perginya."ucap Rania.
"Ya udah. Turuti apa katanya. Apalagi kamu lagi hamil muda."tutur Ibu Rania.
"Iya Bu. Nia akan lebih hati-hati lagi."
"Mama...Clara masih belum boleh main ya??"tanya Clarabella yang rupanya sudah mulai sedikit bosan berada di dalam rumah setiap hari.
"Clara bosen ya!?"tanya Rania.
"Iya. Clara bosen banget."adu Clarabella.
"Kalau begitu Clara belajar membaca sama mama ya. Sebentar lagi Clara masuk sekolah dan Clara masih belum lancar membaca. Bagaimana nanti saat mengikuti pelajaran di sekolah nya??"tanya Rania yang membuat Clarabella terdiam dan berpikir sejenak.
"Iya deh."mereka berdua kemudian menuju ke ruang tengah. Rania mengambil buku cerita bergambar milik Clarabella. Lalu meminta kepada Clarabella untuk membacanya. Selama kurang lebih satu jam mereka belajar membaca.
"Siap komandan."jawab Clarabella sambil bersikap hormat. Rania menuju ke dapur di mana sudah ada ibunya yang sedang berkutat di dapur.
"Ibu masak apa??"tanya Rania.
"Orak arik telur sama sup kembang tahu. Ibu juga goreng ayam buat Clara. Terus ayah tadi minta ikan goreng sambal kecap. Jadi ibu goreng ikan gurame tadi."jawab Ibu Rania.
"Aaah ikan gurame sambal kecap. Enak bener kelihatannya."ucap Rania.
"Jangan macam-macam. Kamu gak boleh makan pedas. Kamu ajak Clara mandi dulu sana. Bentar lagi suami pulang itu kamu harus bersih dan rapi. Suami pulang capek,kamu ya harus menyambut dengan baik. Biar suami betah di rumah."nasehat Ibu Rania panjang lebar.
"Iya Bu. Nia ajak Clara ke atas dulu."ucap Rania. Rania menuju ke ruang tengah untuk memanggil Clarabella. Dan kemudian mengajaknya ke kamar untuk membersihkan diri.
"Udah. Udah cantik anak mama. Sana turun dulu. Mama mau ganti baju."ucap Rania setelah mengikat rambut Clarabella.
"Terima kasih Mama. Ayo Domino!!"ajak Clarabella yang keluar dari kamar Rania diikuti oleh anjing besar itu.
Rania memilih asal daster yang akan dia kenakan. Entah kenapa belakangan ini Rania terlalu malas melakukan apa-apa. Walaupun hanya sekedar membersihkan diri. Kalau saja saat ini tidak ada sang ibu,Rania tidak akan mandi sore ini.
"Apa ini karena kamu sayang?? Ah mama gak mau menyalahkan kamu. Mama saja yang malas. Maafkan mama ya."ucap Rania sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat sedikit menonjol.
"Ada apa?? Kenapa ngomong sendiri??"tanya Dion secara tiba-tiba. Membuat Rania terkejut.
"Aaahh... pulang gak ngomong-ngomong. Main masuk kamar saja."gerutu Rania.
"Hehehe. Sedang mengintip apa yang dilakukan oleh Bumilku. Ternyata Bumil sedang sedih. Ada apa gerangan?? Kenapa Bumil sedang sedih?? Apa karena Anita tadi??"tanya Dion sambil mendekati Rania dan mengusap perut Rania.
"Sedikit. Atau bisa juga karena hormon ibu hamil. Rasanya sedih banget diomelin ibu. Tapi ada benernya juga ucapan ibu. Hanya saja emang lagi sensitif kali ya. Jadi kayak ibu cerewet banget hari ini."keluh Rania dengan wajah sedih.
"Apa aku perlu bicara dengan ibu??"tanya Dion.
"Enggak. Jangan. Mungkin benar karena hormon ibu hamil. Sekarang saja rasanya aku malas mau ngapa-ngapain. Tapi tetap harus melakukan sesuatu. Bagaimanapun aku sudah ada Clara. Aku harus jadi ibu yang lebih rajin lagi."ucap Rania.
"Good. Isteri ku memang luar biasa. Sayang. Jangan ganggu mama ya. Bantu mama mengembalikan mood nya. Supaya setiap hari bahagia."ucap Dion sambil mengusap perut Rania.
"Kalau kayak gini mood bumil jadi udah baik. Diusap-usap perutnya gini bikin nyaman ya."sahut Rania sambil terkekeh.
"Bilang aja kalau pengen diusap-usap. Dasar. Aku mandi dulu. Aku lapar. Dan tiba-tiba kepengin makan telur ceplok sama kecap. Apa ini juga termasuk ngidam??"tanya Dion.
"Mungkin. Aku gak pengen makan apa-apa. Tapi oke. Akan aku buatkan. Kamu mandi dulu sana."tukas Rania. Dion terkekeh dan masuk ke kamar mandi. Sementara Rania menuju ke dapur untuk membuatkan telur ceplok dengan kecap.
"Mau bikin apa?? Masakan sudah matang semua ini. Tinggal duduk sambil makan."ucap Ibu Rania.
"Dion kepengen makan telur ceplok nanti di atasnya di kasih kecap Bu. Gak tahu tiba-tiba dia pengen makan itu. Apa itu namanya ngidam Bu??"tanya Rania sambil menyalakan kompor.
"Bisa jadi. Padahal ibu sudah masak banyak. Tapi ya namanya orang ngidam harus dituruti. Biar babynya gak ileran. Sini biar ibu saja. Kamu duduk saja. Temani Clara makan."ucap sang ibu yang sebenarnya kasihan melihat Rania mulai sering ngos-ngosan saat berjalan. Sepertinya kehamilan kali ini sedikit lebih rewel daripada Clara dulu.