
"Gimana keadaan anak saya dok??"
Tanya Rania kepada dokter yang menangani Clarabella. Saat ini Clarabella sudah tertidur setelah mendapatkan obat dari dokter.
"Sudah lebih baik. Jadi biarkan dia beristirahat. Saya perlu berbicara dengan anda. Ini??"
Dokter menunjuk ke arah Dion."
"Saya papa nya."
"Aahh begitu. Jadi kita bisa langsung test Kecocokan sumsum tulang belakang nya Clara dengan anda??"
"Iya dok. Kapan pun saya bisa."
Ucap Dion tegas.
"Kalau begitu bisa kita lakukan segera?? Karena keadaan anak kalian sedikit lemah.
"Sekarang dok??"
"Iya."
"Kamu jaga Clara saja. Biar aku cek kecocokan sendiri."
"Iya."
Dion pun keluar mengikuti dokter yang menangani Clarabella. Di depan kamar Clarabella,dia bertemu dengan papa nya.
"Pa,tolong temani Rania di dalam. Dia sendirian."
"Iya."
Dion diarahkan ke sebuah ruangan untuk di periksa lebih lanjut.
"Sebenarnya bagaimana keadaan anak saya dok??"
"Dikatakan baik-baik saja sih enggak. Memang akan lebih baik kalau segera dilakukan pencangkokan sumsum tulang belakang. Jadi pasien tidak terlalu kesakitan lagi."
"Lakukan yang terbaik untuk puteri saya dok. Saya cuma mau dia sehat. Berapapun biaya yang dibutuhkan akan saya bayar."
"Ini bukan tentang nominal. Ini tentang apa yang menjadi kehendak Tuhan saja. Kita berdoa saja. Semoga operasi anak bapak ini berjalan dengan baik dan tulang sumsum bapak cocok dengan anak bapak."
"Terima kasih Dok."
Dibutuhkan waktu selama satu hari untuk mengetahui kecocokan sumsum tulang belakang Dion dengan Clarabella. Saat ini pun papa Dion mengatur supaya Dion dan Clarabella bisa berada di satu kamar yang sama.
"Mama..."
"Iya sayang."
"Papa mana?? Clara bermimpi bertemu dengan papa. Apa ini nyata??"
"Iya sayang. Clara bertemu dengan papa kok."
"Sekarang papa ada di mana?? Papa ninggalin kita ya Ma??"
Tanya Clarabella dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sstt...jangan berisik. Papa ada di bilik sebelah. Clara tahu gak kalau kamar Clara ini pindah???"
"Ah iya. Kita pindah ya ma??"
"Iya sayang. Dan papa Clara tidur di sebelah. Jadi Clara jangan berisik ya."
"Iya ma."
"Clara apa ada yang sakit??"
"Gak ada. Badan Clara cuma lemes aja."
"Aahh gitu. Kalau gitu Clara tidur lagi ya. Atau Clara mau makan sesuatu??"
"Enggak Ma. Clara mau istirahat aja. Clara lemes banget."
"Iya sudah. Clara tidur saja ya."
Rania mengusap-usap kepala Clarabella sampai pada akhirnya gadis kecil itu terlelap. Setelah memastikan Clarabella sudah tidur,Rania berpindah di bilik tempat Dion berada. Karena Dion pun juga dalam keadaan tidak baik karena pengambil sumsum tulang belakang.
"Dia sudah tidur???"
Tanya Dion saat mengetahui Rania ada di samping nya.
"Sudah. Dia nanyain kamu."
"Gimana keadaan nya??"
"Katanya badannya masih lemas."
"Hasil pencocokan nya keluar besok ya??"
"Iya."
"Aku yakin kalau itu cocok. Karena dia adalah anakku."
Ucap Dion dengan mantap.
"Dion.."
"Ada apa??"
"Ada yang mau aku bilang sama kamu."
"Apa??"
"Hmm..aku akan turuti apa mau kamu. Tapi kamu juga harus turuti apa mau ku juga."
"Apa??"
"Aku mau kita tinggal bersama. Aku mau kita memberikan keluarga yang utuh untuk Clara."
"Maksud nya??"
"Aku mau kamu pindah di rumah yang sudah aku sediakan. Rumah yang bertahun-tahun aku bangun untuk kalian. Aku tahu kamu hamil anak ku sejak kamu menghindari aku. Dan sejak saat itu aku mulai bekerja sambil sekolah dan kuliah. Lalu aku handle perusahaan papa. Dan sejak saat itu juga aku membangun rumah untuk kalian. Jadi jangan tanya keseriusan ku kalau kamu belum melihat apa yang aku lakukan selama ini. Tapi kita bicarakan itu nanti saja. Saat Clara sudah benar-benar sembuh."
"Iya."
Mereka sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai pada akhirnya datanglah kedua orang tua Rania.
"Ibi bawakan baju ganti buat kamu. Kamu bersihkan diri dulu aja."
"Iya bu."
Rania pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Bisa kita bicara sebentar??"
Tanya ayah Rania kepada Dion.
"Bisa Om."
Jordan memposisikan dirinya dengan posisi duduk.
"Saya hanya ingin menanyakan tentang kesungguhan kamu dengan Rania. Dengan segala kerendahan hati, saya hanya ingin meminta supaya kamu tidak menyakitinya. Sama seperti papa kamu yang menganggap kamu anaknya yang paling berharga, begitu juga dengan kami. Seperti apapun Rania,dia adalah anak kami yang paling berharga.
"Iya. Saya tahu. Saya pastikan kedepannya nanti tidak akan ada air mata yang dia keluarkan kecuali air mata kebahagiaan."
Ucap Dion kepada ayah Rania dengan mantap. Ditatapnya mata ayah Rania untuk menyatakan kesungguhan nya.
"Terima kasih. Sudah sejak lama eaya pribadi tidak menyetujui pikiran Rania. Tapi Rania anak saya adalah gadis yang keras kepala. Saat itu yang ada di pikiran saya,jangan sampai mereka terlantar di luar. Jadi saya ikuti apa mau nya Rania."
"Saya memahami maksud anda. Saya akan menjaga nya dengan baik. Anda bisa pegang ucapan saya. Hanya Rania yang ada di hati saya sampai saat ini. Tidak ada seorang pun yang saya izin kan mengisi hati saya selain Rania."
"Terima kasih."
*Ceklek.*
Rania keluar dari kamar mandi. Dilihatnya kedua orang tuanya yang bersama dengan Dion.
"Mama..."
"Iya sayang."
Rania dan Ibu nya menuju ke tempat Clarabella.
"Iya sayang. Ada apa?? Mana yang sakit??"
Tanya Rania kepada Clarabella.
"Mana papa??"
"Papa ada di sebelah. Sedang tidur. Ada apa??"
"Clara mau lihat."
"Clara mau lihat??"
"Iya. Clara gak bisa tidur kalau belum lihat papa. Clara takut ini hanya mimpi."
Rania tidak dapat berkata-kata. Hati nya merasa sesak melihat bagaimana Clarabella betul-betul merindukan sosok ayah.
"Maafkan mama...maafkan mama sayang."
Ucap Rania dalam hati.
"Rania..."
Rania tersentak ketika mendengar Dion memanggil namanya dari bilik kamar sebelah.
"I..Iya."
"Tolong sibakkan saja tirai nya. Supaya aku bisa melihat puteri kecil ku."
"Iya."
"Itu papa ya Ma??"
"Iya. itu papa."
Rania pun menyibakkan tirai yang memisahkan antara Clarabella dan Dion. Wajah Clarabella berbinar tatkala melihat wajah Dion.
"Papa benar-benar ada di samping Clara."
"Iya sayang. Clara sekarang istirahat ya. Papa juga gak enak badan karena sibuk bekerja. Jadi sekarang kita harus segera sembuh. Kasihan mama yang jaga kita di rumah sakit."
"Ah iya. Maafkan Clara Ma. Gara-gara Clara,mama tidak dapat beristirahat dengan baik."
"Iya sayang. Kalau begitu sekarang Clara tidur ya."
"Iya."
Clarabella pun memejamkan mata dan terlelap tidak lama kemudian.