Beautiful Girl

Beautiful Girl
Cerita Dion



"Kakek ku sedari dulu menentang hubungan kedua orang tua ku. Alasan nya sepele. Karena mama ku berbeda status sosialnya dengan papa ku. Tetapi papa ku sangat mencintai mama ku. Akhirnya papa ku berani menentang keluarga nya. Papaku berhasil lepas dari keluarganya. Itupun juga dari bantuan kedua orang tua mamaku."


Dion menjeda sebentar cerita nya. Dan memperhatikan Rania.


"Papaku adalah anak tunggal. Tidak mau kehilangan anak tunggalnya, akhirnya kakek pun mengatakan kalau dia akan menerima mamaku sebagai menantu nya. Mama ku selalu tampil apa adanya. Berbanding terbalik dengan mama ku. Jadi yaah mereka dua kepribadian yang berbeda lah. Sama dengan mereka yang menyukai mama ku saat ada papaku. Begitu juga dengan ku. Mereka terlihat seperti kakek dan nenek yang baik saat ada papaku. Mereka tidak tahu kalau papa ku pun sudah mengetahui apa yang mereka lakukan. Sebagai bentuk perlindungan papa kepada kami,papa membuat perusahaan sendiri tanpa sepengetahuan kakek ku. Dan perusahaan itu juga berkembang dengan baik."


"Kakek tahu kalau itu perusahaan milik papa??"


"Ya dan kakek diam saja. Karena dia berpikir itu juga akan menjadi milik keluarga kan?? Tapi nyatanya papa ku menuliskan kepemilikan perusahaan itu atas nama ku dan atas nama mama ku. Jika suatu hari nanti terjadi sesuatu dengan papaku,maka aku dan mamaku lah yang jadi pemiliknya. Siapa sangka justru mama ku yang pergi terlebih dahulu. Perusahaan ini pun juga milikku sendiri. Aku akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh papaku. Karena kami memiliki kisah yang mirip. Aku akan memberikan semua kepada Clara dan kamu. Tolong jangan tolak ini. Oke."


Rania menganggukkan kepalanya dengan sedikit ragu.


"Kakek ku menjodohkan aku dengan Anita. Perempuan tadi. Anita sudah menyukai aku sejak kami bersekolah. Tapi aku hanya menganggap nya sebagai teman. Di samping itu,sifat nya yang suka memerintah membuat aku gak nyaman. Aku lebih menyukai wanita yang apa adanya seperti kamu."


"Wanita tadi cantik dan terlihat pintar."


"Tapi dia gak baik. Dia melakukan berbagai macam cara supaya apa yang dia inginkan tercapai. Aku satu kampus sama dia. Sejak kamu gak ada di sekolah,dia gencar mendekati aku. Bahkan dia bekerja di cafe milik papa. Tante Evi aja awalnya gak sreg dia ada di cafe. Tapi gimana lagi. Dia menggunakan kekuasaan kakek untuk menerima nya di cafe. Suasana cafe jadi gak enak. Karena tujuan dia bekerja bukan murni mencari uang. Aku kasihan dengan mereka yang sungguh-sungguh bekerja mencari uang. Akhirnya aku bicarakan hal ini sama Papa. Dan papa akhi menyuruh aku bekerja jadi office boy di perusahaan papa."


"Wah..jadi office boy?? Kuliah kamu??"


"Aku jadi office boy hanya tiga bulan. Dan itu karena libur kuliah. Setelah itu aku langsung gabung ke team marketing dan kuliah aku ambil kuliah malam."


"Kenapa kok pengen banget kerja?? Gak kamu selesaikan dulu aja kuliah kamu??"


"Siapa suruh kamu kabur?? Kan jadi aku juga kelabakan nyari kamu."


Ucap Dion sambil mencubit pipi Rania. Rania hanya bisa tersenyum canggung mendengarnya.


"Gak papa. Kalau gak gini aku gak akan tahu apa itu tanggung jawab. Dan aku gak akan tahu kalau aku sebenarnya udah sayang dan suka sama kamu. Tapi karena kita terlalu dekat,kita jadi gak tahu apa itu rasa suka atau hanya ingin memiliki."


"Jadi kamu sadar kalau kamu suka sama aku itu setelah aku pergi??"


"Yup. Dan itu nyiksa banget tahu gak sih?? Jahat banget kamu."


Rania menatap ke dalam mata Dion. Mencari kebenaran lewat tatapan matanya. Kemudian Rania pun memeluk leher Dion.


"Maafkan aku. Aku terlalu egois."


"Gak papa. Yang penting sekarang sudah ada di sini dan gak akan pernah aku lepasin."


"Terus apa yang terjadi???"


"Ah iya. Aku ceritakan lanjutannya. Anita saat itu yang ingin masuk ke perusahaan papa ku juga tetapi gak bisa. Karena wewenang ada di papaku. Dan kakek ku pun juga gak bisa bertindak seenaknya."


Rania terkekeh mendengarnya.


"Kok kamu ketawa??"


"Aku jadi kayak bayangin di drama Korea. Waktu orang yang sok berkuasa tiba-tiba dia gak bisa seenaknya sendiri. Kayak puas banget lihat kayak gitu. Biar tahu rasa dianya."


"Hahaha. Malah seneng kamu. Tapi dia berhasil merayu kakeknya untuk menjodohkan dengan ku. Aku masih ingat betul. Tiba-tiba saja kakekku mengajak ku makan malam. Padahal biasanya dia gak pernah menganggap aku ada. Karena aku anak dari wanita yang dia gak suka. Di situ aku dan papa ku menentang kakek habis-habisan. Aku bilang kepada Kakek kalau aku bukan cucu nya. Dan secara mengejutkan papa pun juga ikut berkata kalau dia bukan anak kakek lagi. Bayangkan gimana gak murkanya kakek ku. Anak yang disayangi nya tiba-tiba saja mengatakan kalau dia bukan anaknya lagi. Kakek langsung murka dan malam itu juga kakek dibawa ke UGD karena serangan jantung. Kelanjutan nya aku gak tahu. Karena aku gak pernah tanya ke papa."


Dion dan Rania terkejut karena tiba-tiba saja ada Kakek dan papanya Dion. Rania langsung melompat dari pangkuan Dion. Rania pun menundukkan kepalanya ketakutan melihat tatapan datar kakek Dion. Sedangkan Dion menatap tajam ke arah sang kakek.


"Le... lebih baik saya.."


Rania tergagap dan salah tingkah.


"Tinggal aja Nia. Karena ada yang mau kita bicarakan. Mana cucu ku??"


Tanya papa Dion yang melihat ke sekeliling ruangan Dion yang tidak ada tanda-tanda kehadiran Clarabella.


"Se.. sedang tidur pa. Di dalam."


Tunjuk Rania ke dalam ruangan istirahat Dion.


"Duduk sini."


Mereka pun duduk di sofa yang ada di ruangan kantor Dion. Dion sama sekali tidak melepaskan genggaman nya dari tangan mungil Rania.


"Kakek kamu sudah tahu semua."


Ucap papa Dion.


"Lalu??"


Tanya Dion dengan nada dingin.


"On...."


Ucap Rania mengingatkan.


"Iya."


Terdengar helaan nafas kakek Dion.


"Maafkan kakek. Kakek selama ini terlalu membenci kamu yang gak tahu apa-apa. Kakek terlalu berambisi."


"Ini bukan akal-akalan kakek saja karena keadaan perusahaan kakek sedang susah aduuuh...."


Ucap Dion dengan kasar yang langsung mengaduh karena yanga nya di cubit Rania.


"Hahaha. Wajar kamu bicara seperti itu. Pasti Anita yang mengatakan nya. Kakek sudah menemukan kejahatan mereka. Kakek sudah memutuskan hubungan pertemanan dengan kakek Anita. Kakek rasa Anita juga mengetahui nya. Tetapi kakek tidak menyangka dia semakin terobsesi dengan mu. Keadaan perusahaan kakek sangat stabil. Papa kamu nanti yang akan menghandle nya. Dan kamu yang akan menghandle perusahaan papa kamu dan perusahaan mu sendiri. Kakek yakin dengan kemampuan kamu."


"Apa yang membuat kakek berubah??"


"Kakek kesepian di masa tua kakek. Uang dan kekayaan gak bisa membeli kebahagiaan. Kakek hanya ingin bersenang-senang dengan cucu atau bahkan cicit kakek??"


"Mamaaaa..."