
Dion melangkahkan kaki nya memasuki sebuah cafe kecil yang minimalis dan yang memiliki dekorasi ruangan yang bagus.
"Saat kamu pulang sekolah, orang-orang di perusahaan papa sudah pulang semua. Lebih baik kamu bekerja di cafe yang papa kelola saja. Kalau kinerja mu bagus,papa akan menjadi kan kamu manager di cafe itu."
Dion tidak menyangka kalau papa nya mempunyai cafe seperti ini.
"Ternyata banyak hal yang aku gak tahu tentang papaku."
Gumam Dion. Dion pun masuk ke dalam cafe. Seorang wanita menyapa nya.
"Ah kamu pasti Dion. Papa kamu sudah kasih tahu Tante. Ayo masuk. Tante akan kasih tahu tugas kamu."
Dion pun mengikuti wanita itu.
"Nama Tante Evi. Tante yang bertanggung jawab atas cafe ini. Jadi kalau ada yang kamu gak paham tanya kan sama Tante."
"Iya."
"Papa kamu bilang,kamu harus diperlakukan seperti yang lainnya. Di sini juga orang-orang gak tahu kalau kamu anak dari owner cafe ini."
Tante Evi berbisik lirih ke arah Dion. Membuat Dion memundurkan dirinya.
"Tante ingin kamu bertugas mencuci piring. Kamu bisa gak?? Kalau gak bisa,kamu bisa mundur dari sekarang."
"Bisa."
"Coba kamu cuci piring itu dulu. Tante mau lihat hasil kerja kamu."
Dion menyingsing kan lengan baju nya dan mulai mencuci satu piring kotor yang ada di tempat cuci piring. Tante Evi mengamati kinerja Dion. Setelah selesai mencuci piring,Dion pun langsung mendekati Tante Evi.
"Oke. Kita mulai dari awal ya. Kamu gak keberatan kan bekerja sebagai tukang cuci piring??"
"Enggak Tante. Berapa gaji saya sebulan??"
"Karena masih awal dan kamu hanya bekerja paruh waktu,saya kasih kamu delapan ratus ribu. Belum termasuk bonus. Nanti kalau kamu masuk setiap hari akan saya beri bonus."
"Baik. Gak masalah."
"Ah selama kamu bekerja,kamu bisa pakai pakaian kerja. Saya tunjukkan tempat ganti pakaiannya."
Dion pun mengikuti Tante Evi yang masuk ke sebuah ruangan dengan beberapa lemari di dalamnya.
"Nah ini. Kamu ganti baju dulu. Habis itu ikut aku. Aku akan memperkenalkan kepada yang lain."
Dion pun segera berganti pakaian dan menemui Tante Evi. Kaos hitam dan celana kain yang terlihat sederhana menjadi terlihat istimewa ketika Dion yang mengenakannya.
"Orang ganteng memang beda."
Guman Tante Evi. Tante Evi pun mengajak Dion masuk ke sebuah ruangan di mana para staf sedang berkumpul.
"Perhatian semua. Tante kenal kan dulu ke kalian. Ini anak baru. Dia yang bertanggung jawab untuk urusan cuci piring."
Staff cafe yang kebanyakan berjenis kelamin perempuan itu berdecak kagum saat melihat Dion yang tinggi besar dan tampan.
"Gak salah tante orang secakep ini ditaruh di bagian cuci piring??? Mending jadi pelayan resto kayak Mina. Siapa tahu bisa menarik banyak pelanggan."
Ucap Mina yang terkenal genit diantara staff wanita yang lain.
"Dasar genit kamu. Biarkan Dion di bagian cuci piring."
"Ah tante."
"Yang ini namanya Mina. Paling genit di sini. Yang itu namanya Bayu. Kalau cewek rambut pendek itu namanya Ayu. Yang rambut panjang namanya Dina. Kalau cowok yang kecil itu namanya Rio. Dia juga sama kayak kamu. Masih sekolah juga."
Terang tante Evi kepada Dion.
"Ya ampun dia ini masih anak sekolahan tante?? Anak sekolah zaman sekarang ganteng-ganteng,macho-macho ya??"
Mina mendengus kesal dengan ucapan Tante Evi.
"Sudah ayo kembali ke tempat kalian masing-masing. Sebentar lagi jam makan malam. Banyak orang yang ke cafe biasanya."
Mereka pun menempati pos masing-masing. Ayu di bagian kasir,Bayu dan Mina pelayan restoran. Sedangkan Dina dan Rio berada di bagian dapur.
"Ini chef Tati. Dia ini yang bertanggung jawab dengan menu yang ada di sini. Dina dan Rio udah terlatih di bagian dapur. Nanti kamu standby di sini untuk cuci piring ya."
"Iya."
Hari itu Dion bekerja sampai larut malam. Pukul sebelas dia sudah meninggalkan cafe. Saat berada di parkiran cafe,Mina datang menyapa nya.
"Waah motor kamu keren nih. Boleh dong anterin aku pulang."
Ucap Mina sambil memainkan ujung rambutnya. Dion hanya menatap datar ke arah nya dan dia pun langsung memacu sepeda motornya.
"Diiihh kesel. Dingin banget jadi cowok. Sok jual mahal. Awas aja ya. Kamu pasti jatuh dalam pelukan ku."
Mina berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Dion sudah berada di apartemen nya dan langsung membersihkan diri. Setelah itu dia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Dibukanya handphone yang menjadi penghubung rasa rindu nya kepada Rania.
"Rania...."
Dion pun mengirimkan pesan kepada Rania lagi.
*Good Night Rania.*
Sebuah pesan yang tidak akan pernah Rania baca. Dion pun terlelap karena kelelahan. Di tempat lain,papa Dion sedang menghubungi Tante Evi.
"Bagaimana dengan anak ku??"
"Kinerja nya cukup bagus untuk anak orang kaya yang biasa di limpahi kemewahan. Aku gak tahu apa yang membuat nya mau bekerja kasar seperti itu."
"Tekadnya sangat kuat. Dia lelaki yang bertanggung jawab. Sebagai ayah,aku merasa malu karena aku gak bisa mendidik nya."
"Aku yakin kamu sudah jadi ayah yang baik."
Papa Dion pun mengakhiri panggilan nya. Dia pun memeriksa cctv yang dipasang di rumahnya. Papa Dion sudah mengetahui hubungan Dion dengan Rania. bahkan Papa Dion terlebih dahulu mengetahui tentang kehamilan Rania daripada Dion. Hal itu jugalah yang membuat Papa Dion membeli rumah di samping tempat tinggal Rania sekarang. dilihatnya di dalam kamera CCTV terlihat Rania sedang membersihkan rumah yang dibeli oleh Papa Dion. Rania pun juga membersihkan rak rak buku tempat di mana dia menyimpan bukunya.
"Gadis yang baik dan rajin. Hanya saja dia sedikit keras kepala seperti Dion."
Papa Dion sedikit mengeluarkan keningnya setelah melihat Rania berlari ke arah kamar mandi.
"Apa yang terjadi dengannya??"
Dilihatnya juga ketika Rania keluar dari kamar mandi sambil mengusap mulutnya.
"Aaahh sepertinya cucuku sedang mengerjai mamanya."
Papa Dion melihat Rania yang terlihat baik-baik saja saat itu.
"Harus kah aku membeli anjing supaya jika terjadi sesuatu dengan Rania ada yang memberi tahu??"
Papa Dion melihat-lihat ke arah handphone nya. Di mana mama Dion berpose bersama anjing kesayangannya dulu. Anjing itu meninggal satu minggu setelah mama Dion meninggal.
"Aku sangat merindukanmu."
Papa Dion masih mengamati Rania yang membaca sebuah buku di sofa yang ada di ruang baca miliknya. Rania membaca buku itu dengan serius.
"Buku apa yang membuat nya terlihat serius seperti itu???"
Lama memperhatikan dilihatnya Rania yang tertidur sambil memeluk buku yang sedang dibacanya.
"Sangat lucu. Gadis yang menarik yang hanya boleh dimiliki oleh anak ku."