Beautiful Girl

Beautiful Girl
Operasi



Hasil test kecocokan sumsum tulang belakang milik Dion dan Clarabella cocok sudah keluar. dan sembilan puluh delapan persen cocok. Dokter sedang memeriksa keadaan Clarabella untuk menentukan waktu pencangkokan sumsum tulang belakang.


"Bagaiman Dok??"


"Kalau keadaan Clara stabil seperti saat ini minggu depan bisa kita lakukan."


"Apa yang harus kami lakukan supaya keadaan Clara stabil terus Dok??"


"Banyak istirahat. Banyak makan dan buat supaya gadis kecil ini bahagia. Dan sekarang gadis kecil ini sedang bahagia. Bukannya begitu gadis kecil??"


Ucap sang dokter sambil mengerlingkan ke arah Clarabella.


"Clara seneng banget Dok. Karena setiap hari Clara akan ditemani papa Clara."


"Bagus gadis kecil. Sampai jumpa besok gadis kecil. Jangan lupa makan yang banyak."


"Siap dokter ganteng."


Dokter tersebut tertawa mendengar ucapan Clarabella. Dan dia pun meninggalkan ruangan inap Clarabella.


"Mama...mana papa??"


"Papa sedang ada pekerjaan. Tap nanti papa kembali ke sini kok."


"Beneran papa kembali ke sini Ma??"


Terlihat wajah murung Clarabella.


"Iya. Papa nanti akan kembali ke sini sama kita kok."


Clarabella masih berwajah murung. Bahkan saat akan makan pun juga dia terlihat murung.


"Apa ada yang sedang sedih hari ini??"


Wajah Clarabella seketika berbinar saat melihat wajah Dion dari balik pintu dengan membawa sebuah boneka beruang berwarna cokelat.


"Papaaa..."


Rania pun juga mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk. Dilihatnya Dion dengan boneka beruang yang ada di tangan nya.


"Kenapa kok cantiknya papa ini murung??"


Clara kira papa gak kembali lagi.


"Papa sedang ada pekerjaan. Mungkin kedepannya papa gak bisa menemani Clara dari pagi sampai sore. Nanti dari sore sampai malam papa akan selalu di samping Clara. Bagaimana pun papa harus bekerja. Supaya papa bisa belikan apa yang Clara mau."


"Iya."


"Dia belum makan. Tadi mau makan gak mau. Padahal kata dokter harus banyak makan dan istirahat."


Adu Rania kepada Dion. Dion menatap sedih kepada Clara.


"Clara akan makan. Clara akan makan."


"Mama suapi ya. Biar papa bersih-bersih dulu."


"Iya."


Dion pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Rania menyuapi Clarabella.


"Sudah habis makannya??"


Tanya Dion saat keluar dari kamar mandi.


"Tinggal dikit kok Pa. Clara makan habis banyak. Iya kan Ma??"


"Iya sayang. Tinggal satu sendok. Habis itu minum obat terus tidur ya. Clara harus banyak istirahat. Ingat kata Om Dokter tadi ya??"


"Iya."


Clarabella pun merebahkan dirinya setelah meminum obat. Dipeluknya boneka baru dan boneka lamanya.


"Mama kapan kita boleh pulang?? Clara bosan."


"Secepatnya sayang. Minggu depan kalau Clara sudah selesai berobat,kita bisa langsung pulang. Sabar ya anak mama."


"Iya. Mama sudah bilang nenek untuk membawa buku yang Clara maksudkan??"


"Sudah. Semoga saja hari ini nenek gak lupa ya. Kalau nenek lupa, besok pagi mama akan ke rumah sebentar."


"Iya ma."


Sambil berbincang-bincang tanpa sadar Clarabella memejamkan matanya karena pengaruh obat yang diminum nya.


"Bagaiman keadaannya??"


"Kata dokter tidak ada yang dikhawatirkan. Kalau keadaanya nya stabil sampai minggu depan, kita bisa melakukan operasi nya langsung. Apa kamu sudah menyiapkan nya??"


"Iya. Tadi aku mengurus beberapa pekerjaan supaya bisa aku kerjakan di sini. Dan asisten serta papa yang akan handle kerjaanku selama aku ada di sini."


"Maafkan kami yang sudah merepotkan kamu."


"Aku harap kamu bersiap setelah Clara diizinkan pulang. Kita akan pindah. Bagaimana dengan kedua orang tua kamu??"


"Ayah dan Ibu akan tinggal di sini. Mungkin hanya Domino saja yang akan kita ajak."


"Domino??"


"Anjing besar pemberian papa kamu. Dia sahabat Clara sejak kecil. Dia juga yang menjaga ku dan Clara dulu."


"Aah aku tahu anjing itu. Tapi aku gak tahu tentang jasa nya."


"Dia hanya memberi tahu ibu dan papa mu waktu aku akan melahirkan dulu dan dia juga yang mengawal Clara ke mana-mana. Dia tidak segan mengejar anak-anak yang sering mengganggu Clara."


"Ahh dia harus ikut kalau begitu."


"Iya. Istirahat lah. Kamu pasti capek."


"Aku ingin tahu tentang kehidupan kalian dulu."


Ucap Dion kepada Rania.


"Apa yang ingin kamu ketahui??"


"Aku hanya ingin tahu bagaimana masa kecil Clara dulu."


"Tidak banyak yang bisa aku ceritakan. Semua kami lewati dengan baik. Hanya terkadang dia sedih saat teman-temannya bercerita tentang papa nya. Dan itu yang ada di luar kemampuan ku sebagai orang tua."


"Rania,aku harap kali ini kamu pertimbangkan lagi. Sejak awal aku ingin bertanggung jawab. Itu sejak aku sudah melakukan nya dengan mu dulu. Terlepas dari kita akan bersama selamanya atau enggak. Nyatanya bukan aku atau kamu yang menderita. Tapi anak kita."


Ucap Dion. Hati Rania menghangat ketika Dion menyebut Clarabella sebagai anak kita.


"Maafkan aku. Seharusnya sedari awal aku melakukannya."


"Gak papa. Yang penting kita harus sama-sama terus mulai sekarang."


Rania hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya.


*********


Hari operasi Clarabella sudah ditentukan. Saat itu Dion sudah memasuki ruang operasi terlebih dahulu.


"Ma...Clara mau diapakan??"


Rania sekuat tenaga menahan air matanya.


"Clara tahan sedikit ya. Habis ini Clara gak akan sakit lagi. Nanti kita bisa tinggal bareng sama papa ya."


"Iya ma. Mana papa nya Clara ma??"


"Papa Clara sudah ada di dalam. Clara pasti bisa. Clara anak mama yang paling kuat."


"Sudah siap gadis kecil??"


Tanya dokter yang akan mengoperasi Clarabella. Dengan senyum polos nya, Clarabella pun menganggukkan kepalanya. Bersama mereka memasuki ruang operasi. Di depan ruang operasi sudah ada kedua orang tua Rania dan papa nya Dion.


"Tenang saja. Semua pasti baik-baik saja."


Ucap papa Dion menenangkan. Rania terus berdoa di dalam hati selama operasi berlangsung. Cukup lama operasi berlangsung. Dan pada akhirnya operasi pun selesai. Dokter yang mengoperasi langsung menemui Rania dan keluarga nya.


"Sekarang kita tinggal tunggu saja reaksinya. Kalau tubuhnya menerima, kedepannya tolong di jaga makanannya. Jangan banyak makan makanan yang mengandung penyedap rasa. Ada beberapa penyedap rasa alami seperti kaldu atau hanya menggunakan garam dan gula. Saya tekankan lagi untuk tidak mengkonsumsi penyedap rasa terlebih dahulu. Dan juga fast food harus dikurangi ya."


"Baik dok. Akan saya perhatikan lagi untuk semua yang dikonsumsi oleh Clara. Terima kasih sekali lagi dok."


"Baiklah. Saya tinggal dulu. Saya akan kemari lagi kalau kedua pasien sudah sadar."


"Terima kasih Dok."


Ucap Rania.


"Terima kasih Dokter."


Imbuh kedua orang tua Rania. Dokter pun hanya menganggukkan kepalanya dan meninggalkan ruang rawat inap Clarabella dan Dion yang sudah di sterilkan. Rania menatap ke arah kedua orang yang memang terlihat mirip satu sama lain.


"Cepat sadar kalian. Aku kesepian."


Ucap Rania lirih.