Beautiful Girl

Beautiful Girl
Cerita Anita



Rania melihat Clarabella yang sedang membaca buku di halaman belakang rumah. Diletakkannya cemilan dan minuman untuk Clarabella.


"Lagi baca apa??"tanya Rania.


"Baca buku yang dibelikan opa. Ada yang harus diwarnai juga. Tapi Clara gak punya pencil warna ma."ucap Clarabella sambil bersedih.


"Nanti kita beli ya??"ucap Rania menghibur Clarabella.


"Kenapa gak sekarang aja??"tanya Clarabella.


"Kamu harus istirahat sayang. Nanti kita beli sama papa ya."ucap Rania menenangkan.


"Kenapa harus sama papa ma?? Kan dulu kita juga kemana-mana sendiri kan waktu belum ada papa??"


"Dulu sama sekarang beda. Dan lagi kita tinggal di kota lain. Mama gak begitu hafal daerah sini. Jadi kita tunggu papa saja ya??"ucap Rania. Dengan sedikit enggan Clarabella pun menganggukkan kepalanya.


Rania teringat akan cerita Dion. Bagaimana berbahaya nya Anita.


"Anita sangat berambisi memiliki aku. Segala cara dia lakukan. Seperti yang kamu tahu dia pernah bekerja di cafe papa ku kan?? Dan dia di sana sangat mendominasi aku. Membuat aku gak nyaman berada di cafe itu. Aku pernah jadi pelayan cafe di bagian melayani customer. Dan saat itu ada customer perempuan. Dia hanya seorang wanita dengan anaknya yang masih kecil. Dan Anita langsung mengambil alih tugas ku. Dia gak mau aku bersinggungan dengan perempuan manapun selain dia."


"Gila.."


"Ya. Segila itu Anita sama aku. Kakek pernah bilang kalau dia seperti itu terus. Yang ada aku akan semakin menjauhi nya. Dan dia malah menyuruh kakek untuk tidak ikut campur. Kakek saat itu sudah merasa sedikit salah saat dia menjodohkan aku dan Anita. Kakek sudah mengatakan kepada sahabat nya juga. Dan sahabatnya malah memohon kepada kakek untuk tetap menjodohkan aku dengan Anita."


"Dia psikopat?? Kenapa dia seperti itu sama kamu?? Maksudku apa yang membuat dia jadi seperti terobsesi sama kamu?? Kamu pernah ngapain dia??"


"Waktu kecil saat itu kedua orang tua Anita sudah meninggal. Kematian kedua orang tuanya sangat tragis. Kedua orang tua nya adalah sahabat papa dan mama ku. Papanya berselingkuh dengan asisten rumah tangga mereka. Dan saat mama nya mengetahui perselingkuhan suaminya,mamanya langsung murka. Dan dia...dia membantai pembantu dan suaminya. Lalu kemudian mama Anita mengakhiri hidupnya. Yang lebih tragis lagi,Anita melihat semuanya."


"Ya Tuhan..Gila... pantas saja Anita jadi seperti itu. Apa...ehm..apa kakek atau keluarganya gak ada yang berniat membawa ke psikiater gitu??"


"Sudah. Kakek nya membawa nya ke psikiater. Di tengah pengobatan mereka,mama dan papa ku berinisiatif mengunjungi Anita. Mereka hanya sekedar ingin tahu bagaimana keadaan anak sahabat nya. Papa dan mama ku mengajak aku ikut serta. Di sana aku yang dulu berbeda dengan aku yang waktu di sekolah menengah atas. Kamu tahu, kalau aku berubah jadi tertutup karena papaku menikah lagi."


"Lalu kamu mulai mengajak bermain Anita gitu??"tebak Rania.


"Iya. Aku hanya mengatakan. Apa pun yang terjadi,kamu harus selalu meneruskan hidup kamu. Kalau kedua orang tua mu melakukan kesalahan,kamu harus berusaha supaya tidak melakukan kesalahan yang mereka buat. Seingat ku aku hanya bicara seperti itu. Dan sejak saat itu dia semakin sering mengejar ku,aku yang kebetulan satu sekolah dengan nya jadi merasa sedikit risih. Ditambah lagi sejak kematian mama ku,aku jadi merasa hanya ingin sendiri saja."


"Hmm... sedikit susah memang kalau kejadiannya seperti itu bagaimanapun juga dia menganggap kamu sudah menjadi penolong dia. Jadi dia bertindak seperti itu. Apa kamu pernah mencoba sekali saja dekat dan dimiliki oleh nya?? Maksud nya menerima dia sebagai pacar kamu gitu??"


"Hmmm aku pernah dekat sama dia sebelum aku kenal sama kamu. Dan itu sangat menganggu. Dia menjadi stalker aku. Kemana pun aku pergi,dia mengikuti aku."


"Gila. Dia benar-benar gak tertolong. Lalu.. ehm.. pada saat kita melakukan hal itu dia tahu nggak ya??"tanya Rania dengan wajah memerah.


"Hari di saat kita dekat,dia waktu itu dibawa keluar negeri oleh kakeknya untuk melakukan pengobatan."


"Ada hasilnya??"


"Enggak sayangnya. Dan dia malah semakin parah. Berjauhan dengan ku membuat dia jadi semakin terobsesi."


"Aku gak bisa berkata-kata setelah mendengar cerita kamu ini."


"Aku hanya meminta sama kamu jangan pernah pergi tanpa seizinku baik kamu ataupun Clarabella. Dalam waktu dekat sesuai dengan permintaan kakek,aku akan mencarikan pengawal untuk kalian. Secepatnya. Jadi selama itu aku mohon kalian jangan pernah meninggalkan rumah ini. Oke??"


"Iya."jawab Rania dengan patuh.


"Kemarilah. Aku ingin memeluk kamu. Kamu tahu,aku benar-benar sayang sama kamu."


Raniapun mendekati Dion dan kemudian memeluk Dion.


"Ma..mama...."


"Iya ada apa??"


"Mama kenapa??"


"Gak ada apa-apa kok sayang. Ada apa?"


"Boleh kan kalau Clara ajak Lucky ke sini??"tanya Clarabella dengan tatapan memohon.


"Oke lah. Kapan dia ke sini??"


"Clara akan tunggu dia saat jalan di depan rumah ya??"


"Ehm..biar kak Nita saja giman??"


"Iya. Biar kakak aja. Kakak juga mau sekalian buang sampah di depan."tawar kak Nita kepada Clarabella.


"Iya."jawab Clarabella dengan patuh. Rania melihat jelas raut kekecewaan yang ada di wajah Clarabella.


"Hmm...sambil menunggu Lucky kita bikin puding gimana?? Supaya nanti waktu ada Lucky kalian bisa makan bersama??"


"Boleh...Boleh ma."jawab Clarabella dengan antusias.


"Bantu mama ya."jawab Rania sambil mengajak Clarabella ke dapur. Mereka pun mulai membuat puding untuk mereka. Dion melihat anak dan isterinya sedang membuat puding.


"Bikin apa??"


"Papaaa.."Clarabella langsung menghampiri Dion. Dion pun langsung menggendong Clarabella.


"Anak papa lagi apa???"


"Lagi bikin puding. Pa,besok antar Clara beli alat mewarnai ya?? Kata mama harus aja papa dulu??"


"Iya. Karena mama gak tahu jalan kan ya pa??"tanya Rania memberi kode kepada Dion.


"Iya. Nanti kalau kalian hilang di sini gimana?? Papa jadi gak bisa bertemu sama kalian lagi."jawab Dion sambil memasang wajah sedihnya.


"Iya deh. Clara akan pergi sama papa."ucap Clarabella sambil memeluk Dion.


"Non... itu den Lucky ada di depan."ucap Kak Nita.


"Aaahh...sudah datang ya. Pa turunkan Clara pa. Malu ah masak Clara udah besar tapi gendong."celoteh Clarabella yang membuat Dion semakin mengeratkan gendongannya.


"Gak ah. Papa gak akan melepaskan anak papa ini."


"Mama... Mama.. tolongin Clara."ucap Clarabella. Rania terkekeh melihat mereka. Sedangkan Domino menggonggong di sekitar mereka.


"Guk..guk..."


"Papa lepaskan ah. Seneng banget bikin Clara merengek."tegur Rania. Akhirnya mau tidak mau Dion pun melepaskan gendongannya. Clarabella berlari kecil ke depan rumah diikuti oleh Domino.


"Seneng banget dia ya."ucap Rania sepeninggal Clarabella.


"Aku jadi penasaran cowok seperti apa yang membuat anakku meninggalkan aku."gumam Dion. Dion hendak keluar mengikuti Clarabella. Tetapi ditarik oleh Rania.


"Udah papa bantu mama aja."


Melihat Rania sudah mulai terbuka dengan nya,Dion pun memeluk dan mencium kening Rania.