Beautiful Girl

Beautiful Girl
Domino



Rania bangun pagi-pagi sekali. Setiap pagi dia selalu mengalami morning sick yang cukup membuatnya harus bolak-balik dari kar mandi. Ibu nya selalu menunggu di depan pintu kamar mandi.


"Kamu gak papa Nia??"


"Gak papa Bu. Nia sudah terbiasa."


"Sabar ya. Kurang satu bulan lagi kamu gak akan mengalami nya lagi."


"Usia kandungan tiga bulan ya bu??"


"Iya. Nanti kalau mau makan apa-apa bilang sama ayah sama ibu ya. Biar cucu ayah sama ibu nanti gak ileran."


"Hehehe. Iya Bu. Rania akan bilang kalau mau apa-apa."


"Ayo kita makan dulu. Ayah mau pergi ke ladang soalnya."


Rania pun mengikuti ibu nya pergi ke ruang makan yang sudah ada ayahnya. Mereka pun langsung duduk mengelilingi meja makan. Ibu Rania mengambil kan nasi untuk Rania dan ayah.


"Terima kasih Bu", ucap Rania kepada ibunya.


"Sama-sama."


"Kapan kamu akan memeriksa kan kandungan kamu??"


"Tunggu sampai agak besar ya bu. Jadi bisa sekalian tahu jenis kelaminnya apa. Biar bisa hemat juga."


"Sebenarnya gak papa kalau harus setiap satu bulan sekali diperiksakan. Biar kita juga tahu keadaan janin nya sehat. Ayah masih mampu untuk membiayai biaya pemeriksaan kandungan kamu."


"Iya Yah. Gak papa nanti tunggu besar saja."


"Baiklah kalau begitu."


Mereka pun kemudian menyantap makan pagi mereka.


"Ayah berangkat sekarang??"


"Iya. Kamu mau ke mana??"


"Ke rumah kakek yang di sebelah. Kemarin ada buku bagus yang mau Rania lanjutkan baca."


"Apa gak papa kalau Rania di rumah kakek itu?? Maksud ibu apa gak merepotkan???"


"Sejauh ini sih enggak ada yang dikhawatirkan sih Bu. Kakek juga baik sama Rania."


"Mau gak ibu buat kan bekal supaya bisa kamu makan di sana. Jadi kamu gak perlu buru-buru pulang kalau gak sempet pulang."


"Gak merepotkan Bu??"


"Kamu kayak apa aja pakai tanya gitu."


"Hehehe. Nia kan gak enak juga merepotkan ibu."


"Gak papa. Ibu menikmati nya."


"Kebetulan beberapa hari ini Nia sudah mulai sering merasa lapar."


"Akhirnya akan tiba fase


Setelah ayah Rania berangkat ke ladang,Rania pun berangkat ke rumah kakek tua itu. Dilihatnya ada mobil yang terparkir di halaman rumah kakek tua.


"Wah kakek sudah datang ya??"


Rania pun melangkah kan kakinya mengetuk pintu rumah kakek tua.


*Tok...tok..tok..*


"Guk..guk..."


Rania mengerucutkan keningnya.


"Kok ada suara anjing??"


Tidak lama kemudian pintu pun dibuka. Kakek tua itu menyunggingkan senyumnya ke arah Rania. Seekor anjing golden retriever berada di sampingnya sambil mengibas-ngibaskan ekornya.


"Kok baru datang kamu??"


Rania mengusap-usap kepala anjing itu yang langsung mengibas-ngibaskan ekornya.


"Lucu banget."


"Ayo masuk. Nantinya dia akan kakek tinggal di sini untuk menjaga rumah."


"Apa ada sesuatu yang terjadi kek??"


"Hmmm tidak ada. Hanya saja di sini kan hanya ada kamu. Kakek takut kalau ada apa-apa dengan kamu dan gak ada yang tahu. Jadi kalau ada dia kan dia bisa kasih tahu kalau ada apa-apa sama kamu."


"Kakek baik banget kayak ini cucu kakek. Hehehe."


Hampir saja kakek Wiguna mengatakan kalau itu memang cucu nya.


"Kalau ini untuk Rania biar dia ikut Rania saja ya kek. Kasihan kalau dia harus sendirian setiap malam di sini."


"Apa tidak merepotkan kamu?? Kamu lagi hamil lo."


"Enggak kok. Rania masih bisa."


"Ya sudah kalau begitu. Kakek sudah sediakan makanan untuk nya beberapa sak. Jadi kalau misal nanti habis tolong kamu belikan dulu, kakek akan ganti nanti."


"Ah kakek kayak sama siapa aja."


Mereka pun memasuki ruangan kamar yang kosong. Rania melihat ada sebuah kasur kecil untuk anjing dan selimut tipis. Di samping nya ada dog food bersak-sak dan tempat makan anjing beserta tempat minum nya.


"Ini. Nanti bawa saja satu sak untuk di rumah. Atau biar kakek bawakan saja??"


"Enggak usah kek. Biar Nia aja. Bisa kok nanti bawanya. Dia namanya siapa kek?? Umur nya berapa??"


"Nama nya kamu kasih aja sendiri. Kalau umur kata yang jual sih baru satu tahun."


"Wauw...satu tahun tapi sudah sebesar ini. Hmmm Nia kasih nama Domino saja. Domino... Domino.."


Tanpa di duga Domino langsung menoleh ke arah Rania.


"Ah dia sudah mengetahui namanya."


Ucap Kakek Wiguna. Kakek Wiguna melihat ke arah jam tangan nya.


"Sepertinya kakek harus kembali sekarang. Kakek lihat perpustakaan kakek juga bersih. Terima kasih karena kamu sudah membersihkan dengan baik."


"Sama-sama kek. Terima kasih sudah mengzinkan Rania membaca di tempat ini."


"Ah iya. Kakek hampir lupa. Di meja yang ada di perpustakaan kakek ada buku-buku baru yang sudah kakek baca. Karena kakek juga pengajar di kota. Jadi kakek juga harus membaca banyak buku. Kalau Rania mau baca boleh. Nanti tolong simpan di rak ya."


"Baik kek. Terima kasih."


Rania mengantarkan Kakek Wiguna sampai di depan. Kakek Wiguna datang bersama dengan seorang sopir. Dan mereka pun meninggalkan halaman rumah kakek Wiguna.


"Ayo kita masuk Domino. Temani Nia di dalam."


Rania mengajak Domino masuk ke dalam. Rania pun mengunci pintu rumah Kakek Domino dari dalam. Rania masuk ke dalam perpustakaan diikuti oleh Domino. Rania mengambil buku yang ada di meja. Ada banyak tumpukan buku-buku di sana.


"Cara menjadi ibu yang baik. Happy Mom. Wah..buku yang di beli semua tentang kehamilan dan jadi mama. Hehehe. Lumayan juga Nia jadi bisa ikut baca."


Rania pun segera tenggelam dalam bacaannya. Kakek Wiguna melihat dari kamera cctv kegiatan Rania dan dia pun terkekeh saat melihat Rania sudah tenggelam dalam bacaannya.


"Pak Mansur rahasiakan kedatangan ku ke sini dari siapapun. Aku percaya kepada Pak Mansur yang sudah mengikuti aku sejak muda."


"Baik tuan tenang saja. Saya akan menjaga rahasia ini."


Sementara itu Dion yang hari ini pulang lebih awal karena ada rapat di sekolah nya bergegas menuju ke cafe. Tante Evi menyambut Dion yang baru memasuki cafe.


"Kok sudah sampai?? Kamu bolos??"


"Ada rapat guru di sekolah dan hari ini kami pulang lebih awal Tante. Daripada kemana-mana lebih baik Dion langsung bekerja. Kalau bekerja lebih awal,Dion akan dapat tambahan gaji kan??"


"Iya. Tentu saja. Aku akan menghargai setiap tetes keringat yang dikeluarkan oleh pegawai ku."


"Terima kasih Tante."


Dion pun langsung berganti baju terlebih dahulu dan masuk ke dalam dapur untuk melanjutkan kegiatan mencuci piringnya.