Beautiful Girl

Beautiful Girl
Pecah Ketuban



Usia kandungan Rania sudah memasuki sembilan bulan. Praktis selama masa kehamilan sembilan bulan itu Rania tidak dapat pergi ke mana-mana. Selain karena ibu Rania melarangnya pergi,juga karena kaki Rania bengkak di kehamilannya ini.


"Jangan ke mana-mana dulu. Kalau mau pergi-pergi bilang sama ibu biar ibu yang menemani."


"Rania cuma ingin ngambil buku di tempatnya kakek. Rania bosen Bu kalau cuman diam aja. Sedangkan buku-buku yang Rania bawa sudah Rania baca semua."


"Biar ibu yang ambilkan. Di sebelah mana?? Kan selama ini juga ibu yang membersihkan rumah kakek."


"Ah iya. Boleh deh. Di rak yang sebelah kiri ada batas warna pink. Batas itu yang belum Nia baca. Ibu bawakan saja beberapa buku dari sana. Biar bisa Nia baca."


"Baiklah. Akan ibu ambilkan."


Ibu Rania pun menuju ke rumah kakek tua itu dengan membawa kunci yang diberikan oleh Rania. Dilihatnya sebuah mobil terparkir di halaman depan.


"Kok ada mobil??? Apa ada orang di rumah ya??"


Ibu Rania pun mengetuk pintu. Dan seorang lelaki tua membukakan nya.


"Selamat siang. Saya ibu nya Rania."


Sapa Ibu Rania terlebih dahulu.


"Ah iya. Mari masuk dulu. Mana Rania nya??"


"Dia sedang ada di rumah. Karena kaki nya bengkak dan usia kandungannya sudah tua. Jadi lebih baik Rania tidak ke mana-mana dulu."


"Oh begitu. Tapi dia baik-baik saja kan??"


"Iya Pak."


"Ini mau ambil buku ke sini??"


"Iya. Karena Rania bosan di rumah terus. Jadi dia ingin diambil kan buku untuk mengisi waktu senggang nya."


"Ah silahkan. Ambil saja."


Kakek tua itu mengarahkan ibu Rania ke perpustakaan.


"Terima kasih karena sudah memperhatikan Rania. Rania cerita sampai anda membelikan baju hamil dan susu hamil juga. Bahkan juga ada Domino. Anda memperhatikan Rania yang hamil seperti anda memperhatikan cucu anda."


Ucapan ibu Rania seketika membuat mereka terdiam.


"Ah maaf. Saya hanya bercanda."


"Bayi di dalam kandungan Rania memang cucu saya."


Ibu Rania langsung terdiam.


"Mak.. Maksud anda??"


"Bayi yang ada di dalam kandungan Rania adalah cucu kandung saya."


"Gak mungkin...."


Ibu Rania terdiam melihat kakek tua itu.


"Bisa kita bicara sebentar."


Ibu Rania pun duduk di kursi yang ada di hadapan kakek tua itu.


"Saya minta maaf. Karena ulah anak saya,anak ibu menderita. Anak saya yang sudah menghamili anak ibu."


"Bagaimana bisa anda mengetahui kami ada di sini??"


Wajah ibu Rania terlihat panik.


"Jangan panik. Saya tidak akan mengambil anak yang dikandung oleh Rania. Bagaimana pun juga,dia adalah cucu kandung saya. Dan Rania ibunya. Saya percaya Rania bisa mendidik dengan baik. Karena Rania gadis yang baik."


"Lalu kenapa bapak sampai membeli rumah di sekitar sini??"


"Apa salah kalau seorang kakek ingin dekat dengan cucu nya?? Izinkan saya untuk selalu dekat dengan cucu saya. Saya janji tidak akan mengatakan apapun kepada anak saya."


Ibu Rania terdiam. Menimbang-nimbang ucapan kakek tua. Apakah aman membiarkan kakek tua itu ada di dekat mereka.


"Apakah anda bisa menjamin kalau anda tidak akan mengambil anak Rania?? Rania sudah menjaga kehamilan nya dengan baik."


"Apakah kita perlu menulis perjanjian tertulis hari ini??"


"Perlu."


Kakek Wiguna pun berjalan ke meja kerja yang ada di perpustakaan. Diambilnya kertas kosong dan ditulis.


"Saya tidak akan mengambil anak dari Rania. Kalau saya melakukannya saya bersedia dibawa ke jalur hukum."


Kakek Wiguna menempel kan meterai dan menandatangani nya. Ibu Rania pun juga melakukan hal yang sama.


"Saya masih bisa melihat anak Rania kan nanti??"


"Iya. Tapi ingat jangan di bawa."


"Terima kasih. Dan sekali lagi maafkan anak saya. Saya tidak membela anak saya. Tetapi,anak saya selama ini selalu mencari Rania."


"Saya tahu. Hanya saja. Rania tidak ingin menikah tanpa berlandaskan rasa cinta. Maafkan juga anak saya yang terlalu keras kepala. Tetapi apa yang dia takutkan memang ada benarnya."


"Guk..guk..guk..."


"Domino..."


Ucap ibu Rania lirih.


"Rania....pasti terjadi sesuatu dengan Rania."


Ibu Rania pun bergegas menuju ke rumah nya. Kakek Wiguna juga mengikuti nya.


"Pak Mansur,bawa mobil nya ke rumah sebelah!!"


Perintah Kakek Wiguna kepada sopirnya.


"Baik tuan."


Kakek Wiguna pun berlari menuju ke rumah Rania. Di mana Domino masih terus menggonggong. Kakek Wiguna langsung masuk ke dalam rumah dan melihat Rania yang merintih kesakitan.


"Sakit Bu..."


"Aduh.. kamu mau melahirkan ini. Air ketubannya sampai pecah. Gimana ini. Ayah kamu masih di ladang."


"Pakai mobil ku saja."


Kakek Wiguna langsung masuk ke kamar Rania. Ibu Rania menatap dengan ragu.


"Bu!!!!"


Bentak kakek Wiguna karena melihat ibu Rania melamun.


"Ah..eh..iya.. Tolong bawa Rania. Saya ambilkan baju-baju nya."


Ibu Rania masuk ke dalam kamar nya dan membawa dompet serta handphone nya. Kakek Wijaya pun menuntun Rania pelan-pelan menuju ke mobilnya. Tidak berapa lama ibu Rania menyusul di belakang sambil membawa tas perlengkapan melahirkan Rania.


"Pak Mansur,ke rumah sakit!!"


"Baik tuan."


"Sakit Bu.."


"Tahan sayang..."


Ibu Rania memegang tangan Rania. Diambilnya handphone dari dalam tas nya. Dan menghubungi suaminya.


"Ayah mana sih."


Ibu Rania menghubungi kembali suami nya. Yang pada akhirnya tersambung.


"Ada apa Bu?? Ayah sedanh di kamar mandi tadi. Perut ayah mules terus dari tadi."


"Kok ayah nembus sama Nia. Ini ibu bawa Nia ke rumah sakit. Nia mau melahirkan."


"Ayah akan segera ke sana."


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Rania langsung di pindahkan ke ruangan bersalin.


"Suaminya mana??"


"Tanya salah seorang suster kepada Kakek Wiguna dan ibu Rania."


"Itu..."


Ibu Rania bingung harus menjawab apa.


"Suaminya di luar kota gak bisa pulang cepat. Apa bisa didampingi oleh ibunya saja??"


"Oh begitu. Bisa. Mari Bu silakan."


Ibu Rania pun masuk ke dalam ruangan bersalin. Kakek Wiguna menunggu di depan. Cukup lama kemudian datanglah ayah Rania. Kakek Wiguna menatap ke arah ayah Rania yang memiliki wajah seperti Rania.


"Apakah anda ayah nya Rania??"


"Eh iya. Bapak siapa??"


"Saya kakek yang tinggal di sebelah rumah bapak. Rania sering ke rumah saya."


"Ah Rania sering cerita tentang anda dan ini pertama kali kita bertemu. Senang bertemu dengan anda."


Ayah Rania mengulurkan tangan nya untuk bersalaman.


"Terima kasih sudah sangat baik kepada Rania."


Ucap ayah Rania kepada Kakek Wiguna.


"Jangan sungkan."


"Dia baik karena anaknya yang menghamili Rania."


Ibu Rania keluar dan menatap ke arah kedua lelaki yang ada di hadapannya.