Beautiful Girl

Beautiful Girl
Sakit



Rania berlarian di koridor rumah sakit. Semua pekerjaan nya ditinggalkan begitu saja saat mendapat panggilan dari ibu nya bahwa gadis kecilnya sedang sakit. Tiba di depan IGD, Rania mengatur nafasnya sejenak. Sampai di temui nya ibu dan ayahnya.


"Bu..."


"Rania..."


"Ada apa dengan Clara??"


"Dokter sedang memeriksa nya lebih lanjut."


Jawab ayah Rania.


"Dengan orang tua Clarabella??"


Tanya salah seorang perawat.


"Saya mama nya sus."


"Ah silahkan menemui dokter. Dokter ingin berbicara dengan anda."


"Iya."


Rania pun mengikuti suster perawat itu masuk ke dalam sebuah ruangan kecil. Dokter dengan tubuh tambun sedang duduk di balik meja nya.


"Anda ibu nya Clarabella??"


"Iya dok. Bagaimana keadaan anak saya??"


"Apa mimisan ini baru terjadi atau sudah beberapa kali??"


"Sepengetahuan saya baru kali ini terjadi."


"Begini. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan,saya ingin meminta persetujuan dari anda untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut."


"Ada apa ya Dok dengan anak saya??"


"Saya belum bisa memutuskan tentang sakitnya. Tapi kalau mimisan bisa karena sakitnya sedikit serius. Jadi saya minta anda menandatangani persetujuan untuk pemeriksaan lebih lanjut."


"Baik Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya."


"Pasti. Suster tolong."


Rania pun di berikan form untuk ditandatangani. Rania membaca sejenak dan kemudian menandatangani form itu. Setelah itu Rania mengurus biaya administrasi untuk rawat inap Clarabella.


"Mama .."


Sapa Clarabella saat melihat Rania.


"Iya sayang."


Rania langsung menuju ke bankar di mana Clarabella terbaring.


"Clara kenapa di sini??"


"Tadi Clara mimisan. Jadi harus diperiksa dulu sama Om Dokter."


"Clara sakit parah ya Ma??"


"Enggak kok sayang. Clara hanya kecapekan saja. Nanti diperiksa sama Om Dokter dulu. Jadi Clara di sini dulu ya??"


"Iya Ma. Domino ada di mana??"


"Domino ada di rumah. Clara harus sembuh dulu baru bisa bertemu sama Domino."


"Iya Ma."


"Lebih baik sekarang Clara istirahat dulu. Siapa tahu Clara udah boleh pulang waktu bangun. Clara gak merasa sakit apa-apa kan??"


"Enggak Ma."


"Ya udah. Kalau begitu Clara tidur dulu aja."


Clarabella pun memejamkan matanya. Rania terus berada di sampingnya.


********


Pagi-pagi sekali Dion sudah sampai di kota M. Dengan menggunakan taxi online,Dion menuju ke perusahaan papa nya berdiri di Kota M itu. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Hiruk pikuk para pekerja kantor sudah mewarnai kegiatan perusahaan pagi itu. Dion melangkahkan kaki nya menuju ke meja resepsionis.


"Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu??"


Sapa sang resepsionis dengan ramah.


"Saya mau bertemu dengan ibu Nia."


"Ibu Nia direktur??"


"Iya."


"Hari ini ibu Nia sedang tidak masuk. Karena anak nya sakit."


"Anak nya sakit??"


"Iya Pak."


"Bisa saya minta alamat Ibu Nia."


"Maaf kami tidak bisa memberikan nya."


Dion terdiam sejenak. Pada akhirnya dia pun menggunakan kekuasaan nya sebagai pemilik perusahaan.


"Siapa di sini yang bekerja lebih lama dari Bu Nia??"


"Ada Pak Bobby. Beliau yang lebih dulu berada di sini."


"Bisa saya bertemu dengan nya??"


"Sebenarnya bapak ingin bertemu dengan siapa?? Kenapa sekarang ingin bertemu dengan Pak Bobby??"


"Suruh Pak Bobby menemui saya dulu."


"Lebih baik bapak pergi baik-baik sebelum saya memanggil petugas keamanan."


Ucap resepsionis itu dengan nada tegas. Akhirnya mau tidak mau akhirnya Dion menghubungi Rehan.


"Hallo Pak."


"Suruh Pak Bobby orang yang ada di perusahaan Nia berada untuk turun ke bawah. Aku ada di bawah."


Rehan terdiam sejenak.


"Rehaaan..."


"Ba...baik Pak."


Dion menunggu cukup lama sampai akhirnya Pak Bobby orang yang jauh lebih tua dari Rehan datang dan menghampiri Dion.


"Pak Dion. Maafkan saya. Saya tidak tahu ada bapak di sini. Kalau saya tahu saya akan..."


Dion mengangkat tangannya menghentikan Pak Bobby berbicara lebih lanjut.


"Berhenti basa-basi saya. Sedang butuh bantuan anda."


"Iya Pak. Apa yang bisa saya bantu??"


"Saya hanya ingin alamat rumah Ibu Nia."


"Ibu Nia yang direktur itu??"


"Iya."


"Ah baik..baik Pak. Saya akan menghubungi bagian HRD."


Pak Bobby terlihat menghubungi seseorang dan berbicara panjang lebar. Sampai akhirnya mereka mengakhiri pembicaraan mereka.


"Ini Pak alamat nya."


Pak Bobby pun memberikan alamat Rania dari pesan chat yang dikirim oleh bagian HRD. Dion segera memfoto alamat itu.


"Terima kasih. Permisi."


Dion meninggalkan Pak Bobby begitu saja. Membuat Pak Bobby kebingungan.


"Ada apa sebenarnya??"


Dion menggunakan taxi online untuk menuju ke rumah Rania. Jantung Dion berdebar-debar antusias akan bertemu dengan Rania. Dion berhenti di depan rumah Rania yang sepi seperti tidak ada kehidupan. Dion hendak mengetuk pintu ketika seseorang menepuk pundak nya. Dion mengalihkan pandangannya dan dilihatnya papa nya ada di hadapannya.


"Papa???"


"Ikut papa sebentar."


Dion mengikuti papanya menuju ke rumah sebelah. Seekor anjing berada di sana. Papa Dion mengunci pintu rumahnya. Dion pun duduk di hadapan papanya.


"Rumah siapa ini Pa??"


Tanya Dion kepada papa nya.


"Rumah papa."


Dion terdiam mendengar ucapan Papa nya.


"Papa udah tahu tentang Rania??"


"Ya.. Bahkan papa sudah tahu sebelum kamu tahu tentang kehamilan Rania."


"Dari mana papa mengetahui nya???"


"Ketika kamu meninggalkan rumah,bukan berarti papa akan melepaskan kamu begitu saja. Itu yang di namakan orang tua. Papa tahu kekecewaan mu, tapi apa kamu tahu kalau apa yang kamu lakukan lebih menyakiti papa?? Papa menyayangi kamu lebih dari apa pun. Karena setelah kematian mama mu, hanya kamu alasan papa untuk bertahan hidup."


Dion terdiam mendengar ungkapan yang diucapkan oleh papa nya.


"Papa pindah di sini untuk melihat tumbuh kembang nya Clara."


Papa Dion menyerahkan foto seorang gadis kecil yang mengenakan gaun berwarna kuning. Gadis yang wajah nya mirip dengan wajah Dion waktu kecil. Hanya berbeda jenis kelamin. Mata Dion berkaca-kaca saat melihat foto gadis kecil itu.


"Di mana dia sekarang??"


Tanya Dion kepada papa nya.


"Apa aku tidak salah dengar??"


Papa Dion dan Dion terkejut melihat Rania ada di depan pintu ruang kerja Papa Dion.


"Apa ini kek?? Apa yang kakek sembunyikan selama ini??"


Papa Dion mendekati Rania.


"Rania,dengarkan kakek dulu."


Papa Dion mencekal tangan Rania. Rania memberontak cekalan tangan kakek Wiguna.


"Lepaskaaannn!!"


"Rania dengarkan dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


Dengan langkah tertatih-tatih,Rania mendekati Dion. Mata mereka saling bertatapan satu sama lain. Dion melihat wajah yang sudah sangat dirindukan selama bertahun-tahun ini. Ada rasa bahagia yang tidak terlukiskan. Ingin dia memeluk wanita yang ada di hadapannya. Yang tanpa sadar,dia mencintai wanita itu. Secara tiba-tiba Rania bersujud di depan Dion dan menangis. Membuat Dion dan papa nya terkejut.


"Tolong anak ku....tolong..."