Beautiful Girl

Beautiful Girl
Menikah



Rania menempati kamar yang sama dengan Dion.


"Aku tidur di sini saja."


Ucap Rania sambil menunjuk ke arah sofa yang ada di kamar mereka.


"Kenapa???"


"Itu.. kita.."


"Aku paha. Besok kita akan mengurus surat pernikahan kita dan kamu...oke... kamu tidur di atas tempat tidur aja. Aku akan tidur di sofa saja."


"Jangan begitu...Kamu kan yang punya rumah. Jadi biar aku aja yang.."


"Sudah. Jangan dipikirkan. Sesekali tidur di sofa juga gak papa."


Jawab Dion sambil menatap ke dalam mata Rania. Sebenarnya Rania kasihan juga dengan Dion. Tapi saat ini status mereka adalah orang asing. Dion merebahkan dirinya di atas sofa. Rania memperhatikan Dion dari atas tempat tidur. Mereka saling diam dengan pikiran masing-masing.


"Kamu udah tidur Nia??"


"Belum. Ada apa??"


"Kenapa kamu belum menikah sampai saat ini??"


"Karena aku gak mau memilih orang yang salah untuk Clara."


"Ada enggak di dalam hati kamu sedikit aja rasa buat aku?? Kalau kamu tanya aku sih aku ada. Aku sadar kalau aku mulai menyukai kamu setelah kamu pergi dari hidupku. Aku kehilangan sekaligus aku merasa mencintai kamu. Aku sungguh-sungguh dan ini bukan tentang tanggung jawab."


Rania terdiam mendengar ucapan Dion.


"Nia..."


"Iya. Aku dengar. Sejujurnya aku sejak lama sudah menyukai kamu. Tapi aku sadar siapa aku dan bagaimana posisi aku. Jadi aku berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan perasaan ku. Aku gak berani menyukai kamu lebih dari seorang teman."


Dion dan Rania sama-sama terdiam lagi dengan pikiran masing-masing.


"Besok pagi kita resmikan status kita. Kamu bawa surat-surat yang dibutuhkan kan??"


"Iya. Kalau kita pergi gimana sama Clara??"


"Besok aku akan minta papa untuk ajak Clara ke kantor. Supaya kita bisa pergi sebentar."


"Iya."


"Kalau gitu kita istirahat sekarang. Aku juga sedikit capek."


"Iya."


***********


Pagi menyapa di kediaman Dion. Rania sudah terbangun sejak pagi dan langsung membuat makan pagi untuk Clarabella.


"Yang ini nanti untuk Clara, dan yang ini untuk yang lainnya ya Bu. Jangan sampai salah. Karena Clara gak boleh makan sembarangan."


"Baik Nyonya."


"Panggil Rania saja Bu."


"Saya gak berani."


Rania mengerutkan keningnya. Bingung dengan ucapan Bu Linda.


"Mamaaaa.."


Clarabella berada di dalam gendongan Dion. Domino mengikuti mereka dari belakang.


"Lho kok sudah mandi?? Mandi sama siapa tadi??"


"Sama papa. Tapi Clara belum pakai minyak telon. Papa gak tahu di mana tempatnya."


"Nanti biar mama cari dulu. Kalian makan dulu aja. Mama mau mandi bentar. Bu Linda tolong yang punya Clara ya."


"Baik nyonya."


"Segera pakai baju yang rapi. Nanti habis makan kita langsung berangkat. Bawa surat-surat yang diperlukan dan tolong siapkan keperluan Clara. Karena papa akan jemput Clara dan Domino."


"Domino ikut juga??"


"Iya. Dia sahabat Clara bukan??"


"Yayaya."


Rania pun naik ke kamarnya untuk membersihkan diri serta menyiapkan segala keperluan Clarabella. Rania sudah menyelesaikan tugasnya ketika dia mendengar suara mobil memasuki halaman rumah mereka.


"Apa itu papa nya Dion ya??"


Rania pun bergegas turun ke bawah. Dilihatnya papa Dion yang sedang bercengkerama dengan Clarabella.


"Mamaaaa..."


Clarabella berlari-lari kecil ke arah Rania. Dan Domino mengikuti nya dari belakang.


"Kalian pergi lah dulu. Aku akan makan pagi dengan cucuku."


"Iya Kek."


"Panggil Pa. Di sini kamu adalah anak menantu ku."


"I...iya Pa."


"Mana keperluan Clara??"


Tanya Dion kepada Rania.


"Nitaaaa..."


Seorang gadis yang usia nya sekitar awal dua puluhan datang menghampiri Dion dan Rania.


"Ini Nita. Dia yang akan menemani Clara selagi kita gak ada di samping nya. Makanan apa saja yang dilarang dan dibolehkan kamu bisa mengatakan kepada nya."


"Selamat pagi Nyonya. Saya Nita."


"Ah iya. Saya titip anak saya ya."


"Baik nyonya."


"Pa, kita berangkat dulu. Ini barang keperluan Clara dan Domino. Nanti setelah urusan nya selesai,kami akan ke kantor papa."


"Kamu gak ke kantor kamu dulu??"


"Besok Dion akan mulai aktif bekerja di kantor Dion Pa."


"Ya udah. Kalian berangkat aja. Nanti keburu antri."


"Iya Pa."


"Mama sama papa pergi dulu ya. Clara di rumah sama Opa. Nanti mama sama papa jemput Clara pasti."


"Iya Ma."


Clarabella mendekati Rania dan Dion kemudian mencium kedua pipi orang tuanya. Dion dan Rania pun pergi meninggalkan rumah.


"Nanti kita hanya daftarin pernikahan kita kan??"


Tanya Rania saat mereka ada di mobil.


"Iya. Habis itu ya udah. Kita langsung jemput Clara di kantor papa."


"Ini yang bikin aku bingung. Apa maksudnya kantor papa dan kantor kamu??"


"Saat aku tahu kalau aku punya anak sama kamu,aku bekerja keras mengumpulkan uang sendiri supaya nanti aku bisa biayain kamu dan Clara. Dari pegawai cafe, cleaning service sampai akhirnya aku bikin perusahaan sendiri berkat bantuan papa. Semua akhirnya berjalan dengan baik. Dan aku punya perusahaan sendiri. Walaupun terkadang aku juga bantu perusahaan papa."


"Aku gak nyangka kamu bisa berusaha sekeras itu."


"Perusahaan papa ya untuk papa hasilnya. Perusahaan ku hasilnya aku belikan rumah dan isinya yang sekarang kita tempati. Aku menabung nya udah cukup lama."


"Terima kasih On. Aku harus nya gak keras kepala dulu."


"Gak papa. Kalau gak gini aku gak akan tahu kalau aku betul-betul mencintai kamu."


Rania tersenyum saat tangan Dion menyentuh tangan nya. Mereka pun sampai di kantor urusan pernikahan. Berkat bantuan orang dalam yang dikenal oleh Papa Dion, mereka bisa memperoleh surat pernikahan dengan cepat.


"Akhirnya jadi juga kita suami isteri."


Ucap Dion saat mereka ada di mobil. Dion kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil.


"Ini hanya sebagai simbol aja. Jangan pernah lepaskan apapun yang terjadi."


"Iya."


Dion menyematkan cincin di jari manis Rania. Rania pun menatap cincin yang sederhana tetapi Rania bisa menaksir harganya.


"Pasangkan ke aku juga dong."


Pinta Dion. Rania pun memasangkan cincin di jari manis Dion.


"Terima kasih."


Dion mendekati Rania dan bibir mereka saling bertautan satu sama lain. Dion baru menghentikan ciumannya saat dia pun kehabisan nafas. Diusapnya bibir merah Rania.


"Terima kasih. Aku sangat mencintai kamu."


"Aku juga."


Mereka saling berpandangan satu sama lain sampai handphone Rania berdering. Rania mengerutkan keningnya karena nomor asing yang menghubungi nya.


"Ini nomor siapa??"


Dion melihat ke arah layar handphone Rania.


"Ah itu nomor handphone kantor nya papa. Pasti Clara yang telepon."


"Oh. Aku angkat coba."


Rania pun menjawa panggilan masuk dari nomor asing itu.


"Hallo..."


"Hallo mama ya??"


"Iya sayang. Ada apa??"


"Mama kapan ke sini??"


"Sebentar lagi mama ke sana. Ada apa??"


"Clara lapar."


"Bekal nya Clara tadi mana??"


"Sudah habis Ma. Sekarang Clara lapar. Mau makan sama opa gak boleh. Katanya suruh tanya mama dulu."


"Oke. Jangan makan dulu ya. Mama sama papa akan jemput kamu. Nanti kita makan di rumah ya."


"Iya ma."


Dion pun melajukan mobilnya menuju ke kantor papa nya.