Beautiful Girl

Beautiful Girl
Nenek Dion



Rania melihat ke arah ruang istirahat yang ada Clarabella di depan pintu.


"Sini sayang."


Rania menghampiri Clarabella dan menggendong nya. Clarabella bersorak kegira karena ada papa nya Dion.


"Opaaa.."


Clarabella langsung meminta gendong papa Dion yang langsung menyambut Clarabella ke dalam gendongan nya.


"Opa ke mana saja?? Sejak Clara ada di sini Opa jadi jarang ketemu Clara."


Gerutu Clarabella sambil menyenderkan kepalanya ke arah papa Dion.


"Clara kangen sama Opa?? Mana sahabat mu???"


"Kata mama gak boleh diajak. Nanti banyak orang yang takut."


"Hahaha. Kasihan. Dia pasti kesepian di rumah ya??"


"Tentu saja."


"Clara kenalan dulu dengan kakek buyut."


"Apa itu kakek buyut ma?"


Tanya Clarabella sambil menatap ke arah Rania.


"Kakek buyut itu papanya kakek."


Clarabella terlihat sedang mencerna kalimat Rania.


"Kakek buyut ini papanya opa. Paham??"


Ucap Rania menjelaskan lagi.


"Oohh iya.. iya. Clara paham."


"Kasih salam dulu kalau paham."


Ujar Dion. Clarabella pun maju dan mencium tangan kakek Dion. Terlihat jelas mata kakek Dion yang berkaca-kaca.


"Nanti ajak dia ke rumah. Pasti nenek kamu seneng."


"Iya kek."


Jawab Dion dengan pasti.


"Clara mau bertemu sama nenek buyut gak??"


Tanya Rania. Clarabella pun menganggukkan kepalanya.


"Baru kali ini Clara lihat kakek yang sebenarnya."


Ucap Clarabella sambil melihat ke arah kakek Dion.


"Maksud Clara??"


Tanya Rania yang juga tidak paham dengan maksud Clarabella.


"Kakek sama opa rambutnya gak putih semua kayak kakek buyut."


Jawab Clarabella dengan polos yang membuat semua orang di sana tertawa.


"Nanti lihat nenek buyut kamu. Rambut nya jauh lebih banyak yang putih."


"Gimana mau ke rumah kakek aja hari ini??"


"Biar kakek telepon nenek buat nyiapin makan malam."


"Eh gak usah Kek. Biar Nia aja yang masakkan nanti."


"Tamu kok masak??"


"Kita bukan tamu kek. Kita keluarga. Kakek sama nenek gak perlu repot-repot."


Kakek Dion tidak dapat berkata-kata mendengar ucapan Rania.


"Terima kasih. Kalian benar-benar sangat baik."


"Kita berangkat sekarang?? Barang-barang Clara mana Nia biar aku bawakan."


"Clara gandeng kakek buyut ya."


Ujar Rania kepada Clarabella.


"Iya ma."


Clarabella kemudian menggandeng tangan Kakek Dion. Mereka keluar dari ruangan Dion. Dan pergi dengan menggunakan dua mobil. Mereka pun sampai di rumah yang megah dan mewah.


"Wuaah..."


Clarabella terkesima melihat rumah kakek buyut yang tinggi.


"Tinggi banget rumahnya kakek. Lebih tinggi dari rumah Clara."


"Ah masak??"


"Hehehe. Tinggi rumah Clara ding."


Ucap Clarabella sambil menutup wajahnya malu. Dion yang menggendong Clarabella pun menciuminya gemas.


"Ayo kita masuk. Nenek pasti sudah menunggu kita."


"Kakek kasih tahu kalau kita datang??"


Tanya Dion.


"Enggak. Tapi nenek selalu ingin ketemu sama kamu. Nenek gak bersalah. Kakek yang terlalu berambisi di sini."


Mereka pun langsung masuk. Terlihat sang nenek yang sedang membuka album foto sambil sesekali mengusap air matanya.


"Neekkk... lihat siapa yang datang??"


Kakek Dion langsung berteriak saat memasuki rumah. Membuat nenek Dion langsung melihat ke arah sang kakek. Dilihatnya ada anak dan cucunya. Nenek Dion pun langsung mendekati anaknya dan memeluknya penuh kerinduan. Sesekali terlihat sang nenek memukul papa Dion.


"Kalau kamu benci papa kamu benci dia aja. Kenapa juga kamu ninggalin mama ha?? Kamu gak sayang sama mama kamu yang udah tua ini ha??"


Omel nenek Dion sambil memukul pelan papa Dion. Tetapi kemudian memeluk anaknya lagi.


Nenek Dion menangis dalam pelukan papa Dion yang juga ikut menangis.


"Nek,sudah nek.. malu sama cicit."


Tangis nenek Dion segera terhenti saat mendengar ucapan suaminya. Nenek Dion pun mengurai pelukannya.


"Cicit??"


"Iya. Tuh ada Dion. Yang digendong itu anak Dion."


"Dion..."


Dion menyerahkan Clarabella kepada Rania dan kemudian menghampiri sang nenek yang masih kebingungan.


"Nenek masih ingat Dion kan??"


"Tentu saja. Cucu nenek."


Nenek Dion pun memeluk Dion erat-erat.


"Udah nek. Nenek sudah masak belum??"


Tanya kakek Dion kepada isterinya.


"Kakek pulang gak bilang-bilang kalau mau ajak Wiguna sama Dion. Ini siapa anak cantik ini??"


"Ini anak Dion Nek."


"Hah??"


"Dulu waktu masih sekolah Dion sempat hamilin Rania. Rania isteri Dion. Dan setelah terpisah barulah kami bisa bertemu kembali."


"Ini kalau bukan karena ulah kakek kamu,gak mungkin kamu akan seperti ini."


Ucap Nenek Dion sambil menatap sinis ke arah suaminya.


"Kalau yang ini salah Dion nek. Bukan salah kakek. Tapi Dion sudah memperbaikinya. Clara kasih salam ke nenek buyut ya."


Clarabella pun menatap ke arah Rania.


"Nenek buyut itu papa nya Opa."


"Neneknya papa jadi??"


"Yup betul. Kasih salam dulu ya Clara."


Rania pun menurunkan Clarabella. Dan dengan berani Clarabella berjalan menuju ke arah nenek buyutnya. Clarabella menjabat tangan nenek Dion dan mencium tangannya.


"Aduh pintarnya. Clara kelas berapa??"


Clarabella mengarahkan pandangannya ke arah Rania.


"Untuk sekarang Clara masih belum sekolah nek. Karena Clara baru sakit."


Terang Rania.


"Oh begitu. Kalian tunggu di sini ya. Biar nenek buyut suruh chef memasak."


"Ehm nenek biar Nia saja yang memasak."


Tawar Rania kepada nenek Dion.


"Mana bisa begitu. Tamu kok disuruh masak sendiri."


Ucap Nenek Dion sambil mengibaskan tangannya.


"Ma,biarkan Nia yang memasak. Setidaknya untuk makanan Clara. Karena Clara habis sakit jadi dia hanya boleh makan makanan tertentu saja."


"Oh begitu. Kalau begitu ayo ikut nenek ke dapur. Biarkan orang-orang di dapur yang melakukannya. Kamu perintahkan saja mereka."


"Baik Nek."


Jawab Rania sambil mengikuti nenek Dion.


"Mama..."


Clarabella hendak mengikuti Rania ke dapur.


"Clara di sini dulu ya sama papa."


Rania menatap Dion yang langsung paham.


"Ayo sayang ikut papa."


Dion pun menggendong Clarabella dan mengajaknya duduk di ruang tengah rumah kakek Dion. Di dapur nenek Dion memperkenalkan Rania kepada semua pelayannya.


"Ini adalah cucu menantu ku. Jadi ikuti semua perintah dia. Bantu apa yang dia butuhkan!!"


"Baik nyonya."


Jawab semua yang ada di dapur. Membuat Rania sedikit sungkan. Lalu dengan cekatan Rania meminta tolong asisten dapur untuk membantunya.


"Bumbunya enggak kurang non??"


Tanya Chef yang membantunya saat melihat Rania menaburkan sedikit bumbu di atas sup.


"Ini untuk anak saya. Saya ambilkan sedikit dulu,baru nanti saya tambahkan bumbu untuk yang lain."


Jawab Rania dengan sedikit sungkan. Bagaimana pun juga orang yang ada di hadapannya adalah orang yang sudah berpengalaman di bidang masak memasak.


"Ah begitu. Baik...baik... saya paham."


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya masakan Rania pun sudah siap di atas meja.


"Yang ini untuk Clara ya."


Ucap Rania kepada Clarabella.


"Ayo kita makan. Kakek sudah lapar."


Ucap kakek Dion. Mereka semua pun mulai menyantap makanan yang dibuat oleh Rania. Rania sendiri sedikit was-was takut tidak cocok dengan lidah semua orang yang ada di sana.


"Hmm enak. Baru kali ini kakek makan makanan yang bumbunya gak terlalu menyengat."


Ucap kakek Dion. Rania bernafas lega karena masakan nya sesuai dengan selera kakek dan nenek Dion.