Beautiful Girl

Beautiful Girl
Kedatangan Anita



"Rumahnya di mana kak???"


"Itu yang ujung non. Yang pagar hijau."


"Tapi jam segini masih sekolah kan ya kak??"


"Sepertinya. Nanti kita kembali lagi aja. Ayo kita pulang dulu. Nanti non dicari nyonya."


"Iya deh. Ayo Domino. Kita pulang."


Clarabella pun berjalan bersama Domino dan Nita untuk pulang ke rumah.


"Itu mobil siapa ya Kak??"


"Kurang tahu juga non."


Mereka berjalan masuk ke halaman rumah ketika sebuah mobil yang lain masuk ke halaman rumah Dion. Clarabella dan Nita mengalihkan pandangannya ke arah mobil yang baru masuk itu. Clara menyipitkan matanya untuk melihat siapakah gerangan yang datang.


"Aahh nenek buyut."


Clarabella pun berlari mendekati nenek Dion dan memeluknya.


"Cicit kubyang cantik. Habis dari mana kamu??"


"Jalan-jalan sekitar sini nek. Nenek ada apa ke sini??"


"Nenek beli bubur udang dan cakwe. Kita makan bersama di dalam yuk."


"Ayo."


Clarabella menggandeng tangan nenek Dion dan berjaa masuk.


"Mobil siapa itu sayang???"


"Clara juga gak tahu nek. Clara baru sampai."


Mereka berada di depan pintu ketika mereka mendengar suara orang yang sedang marah.


"Dion gak cocok sama orang seperti kamu. Kamu hanya menghalangi nya meraih masa depan. Dengan ku, Dion bisa memiliki masa depak yang cerah. Jadi lebih baik kamu ceraikan saja Dion!!! Aku akan pastikan anak kamu yang penyakitan itu akan mendapatkan tunjan setiap bulannya."


*PLAK.*


Nenek buyut dan Clarabella serta Nita melihat Rania menampar Anita yang ada di hadapannya. Saat itu juga Domino menggonggong ke arah Anita.


"Sialan!!"


"Jaga mulut kamu. Aku sama sekali gak mengharapkan Dion menikahi aku. Aku pun masih sanggup membiayai pengobatan anakku. Aku menampar kamu untuk menyadarkan kamu ucapan kamu sudah keterlaluan."


"Mau apa kamu ke sini??"


Nenek Dion masuk dan menatap tajam ke arah Anita.


"Kamu,bawa cicit ku ke kamarnya."


Ucap Nenek Dion sambil menatap ke arah Nita.


"Baik nyonya."


Nita pun menggandeng tangan Clarabella dan naik ke kamar.


"Nek, nenek harus sadar perempuan ini gak pantas untuk Dion."


"Kenapa gak pantas??? Dan perempuan seperti apa yang pantas untuk Dion?? Yang seperti kamu?? Cihh.. pilihan Dion sudah benar. Beruntung Dion gak menuruti kakeknya dulu yang menjodohkan dengan kamu. Kamu dan keluarga kamu betul-betul keluarga licik. Sekarang keluar dari rumah ini. Dan jangan pernah muncul di rumah ini!! Herman, panggil penjaga ruma di depan. Suruh wanita ini keluar!!!"


Ucap nenek Dion kepada sopirnya.


"Baik nek."


"Gak perlu. Anita keluar sendiri. Asal nenek tahu,Anita gak akan berhenti sampai Dion jadi milik Anita."


Setelah mengatakan hal itu, Anita pun keluar dari rumah Dion. Nenek Dion langsung terduduk di sofa.


"Nenek...nenek gak papa??? Nia ambilkan minum bentar."


Rania berlari ke dapur untuk mengambil kan minum.


"Ini nek. Minum dulu."


Nenek Dion pun langsung meminum air minum yang disodorkan oleh Rania.


"Nia, telepon Dion sekarang. Suruh dia ajak papa dan kakeknya ke sini."


"Kenapa nek??"


Tanya Rania keheranan.


"Lakukan saja."


"Baik nek."


Rania pun mengambil handphone nya dan mencari nama Dion.


"Hallo sayang."


Sapa Dion di ujung sana.


"Kamu sibuk??"


"Gak terlalu. Ada apa?? Kok sepertinya penting??"


"Nenek ada di sini. Dan nenek minta kamu pulang sekarang. Ajak papa dan kakek."


"Lakukan saja Yon."


"Oke..oke...aku akan pulang sekarang."


Rania pun mengakhiri panggilan nya dengan Dion. Dan kemudian menghampiri nenek Dion.


"Dion akan pulang sebentar lagi nek."


"Iya."


"Nenek mau makan dulu???"


"Nenek tadi beli bubur udang dan cakue kita makan itu dulu sambil nunggu kakek dan yang lainnya."


"Iya nek. Ayo Nia bantu ke ruang makan."


Rania pun memapah Nenek menuju ke ruang makan. Di ruang makan sudah ada Clarabella dan Nita. Rania pun mengambil mangkok untuk isi bubur udang. Mereka menikmati bubur udang yang dibawa oleh nenek Dion sampai terdengar suara mobil masuk di halaman rumah.


"Wuaah papa."


Ucap Clarabella.


"Clara ke kamar dulu ya sama kak Nita. Nanti mama susul."


"Iya. Ayo ke kamar sama aku."


"Iya kak."


Dengan diikuti oleh Domino mereka pun naik ke kamar. Rania memapah nenek ke ruang tengah untuk menyambut yang lain.


"Ada apa?? Kenapa nenek suruh kami pulang???"


Tanya Rania kepada Dion.


"Gak tahu juga. Tadi...tadi ada Anita datang ke sini. Dia..."


"Dia meminta Rania untuk meninggalkan kamu."


"Apaaaa???"


"Nenek datang saat dia sedang merendahkan Rania. Ini semua gara-gara kakek yang ingin menjodohkan mereka dulu. Dia jadi gak tahu malu. Lucu sekali. Dengan percaya diri dia meminta Rania meninggalkan Dion. Huh.. Langkahi dulu mayat nenek."


"Nek... jangan bicara seperti itu."


Ucap Rania menenangkan nenek Dion.


"Rania gak akan meninggalkan Dion. Nenek tenang saja."


"Yang nenek takut bukan itu Nia. Hanya saja seperti yang pernah aku katakan. Anita orang yang ambisius dan dia orang yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi nenek hanya takut kalau dia nantinya menyakiti kamu dan Clara."


Terang Dion kepada Rania.


"Tadi bagaimana awal dia datang??"


Tanya papa Dion.


"Dia hanya datang dan mau bicara sama Nia saja pa. Tapi ya itu tadi. Dia meminta Nia untuk meninggalkan Dion. Selebihnya dia hanya bercerita tentang masa dia bekerja bersama Dion."


"Kakek yakin Anita pasti akan meminta kepada kakeknya itu. Kakek benar-benar gak menyangka kalau akan seperti ini. Lebih baik minta kepada security di rumah kamu Yon. Kalau ada Anita yang datang ke rumah jangan boleh masuk."


"Iya kek. Nanti akan Dion perintahkan seperti itu."


"Bagaimana dengan cicit ku??"


"Tadi Nia suruh ke atas sama pengasuh nya. Karena terlihat kita akan bicara hal yang penting."


Jawab Rania menjelaskan.


"Coba panggil dia ke sini sayang. Nenek juga sepertinya ingin bertemu dengan Clara."


"Iya."


Rania pun naik ke atas untuk memanggil Clarabella dan Nita.


"Kamu harus tenangkan Rania supaya Rania tidak terpengaruh dengan ucapan Anita. Bagaimana pun juga Anita pintar menjatuhkan mental lawan bicaranya. Kakek takut kalau Rania akan terpengaruh."


"Akan Dion berikan penjelasan kepada Rania. Dion jamin Rania gak akan pernah meninggalkan Dion lagi."


Ujar Dion meyakinkan.


"Papaaaa..."


"Eh anak papa. Tadi main ke mana aja??"


"Ke tempat Lucky tadi. Tapi Lucky gak ada di rumah. Mungkin masih sekolah. Nanti aja Clara ke sana setelah jam pulang sekolah aja sama kak Nita boleh kan Pa??"


"Ajak Lucky ke sini aja gimana??"


"Boleh Ma??"


Tanya Clarabella kepada Rania.


"Boleh."


"Yess...yesss.."


"Nia...aku mau bicara."


Rania melihat wajah serius Dion. Dan diapun mengikuti Dion ke kamar.