
"Kata ibu aku gak boleh manggil kamu pakai nama."ujar Rania pagi itu saat dia sedang menunggu Dion merapikan pakaian kerja yang sedang dikenalannya.
"Oh ya?? Jadi kamu mau panggil aku apa??"tanya Dion lagi.
"Kamu nya mau aku panggil apa??"Dion terkekeh mendengar pertanyaan Rania kembali.
"Ditanya ganti nanya."jawab Dion lagi.
"Panggil papa?? Hahaha lucu juga ya??"ucap Rania sambil tertawa.
"Susah juga kalau dimulai dari pertemanan ya??? Jadi banyak hal yang harus di rubah."
"Oh ya pa.. hahaha. Aku mau bicara serius sekarang."
"Oke. Ada apa ma??"jawab Dion dengan sedikit geli. Tetapi Dion pun menjadi serius kemudian.
"Aku hanya ingin kita konsultasi dengan dokter kandungan yang lebih spesifik lagi. karena bagaimanapun juga aku gak ingin dia nanti mengalami hal yang seperti Clara."ucap Rania sambil mengusap perutnya. Dionpun terdiam sejenak.
"Ada benarnya sih. Nanti kita konsultasi kan dengan dokter kandungan kamu ya. Biar bisa diberikan tindakan pencegahan juga."
"Iya. Makasih udah perhatian sama kehamilan aku kali ini."
"Aku hanya ingin mengganti masa yang hilang dulu di zaman Clara. Bukan berarti Clara gak penting. Hanya saja kali ini harus lebih hati-hati lagi."jawab Dion sambil tersenyum.
"Minggu depan Clara mulai masuk sekolah. Ada beberapa peralatan yang harus dibeli. Bagaimana?? Apakah anda siap berbelanja dengan para wanita hari ini???"tanya Rania sambil terkekeh.
"Siap. Dengan ibu juga???"
"Iyes. Ibu akan ikut dengan kita."
"Ayah gimana???"
"Ayah sedang sibuk membuat rangka untuk bunga di kebun samping. Dan ayah menolak dengan tegas acara jalan-jalan kita."ucap Rania sambil terkekeh.
"Ayah kamu bener-bener konsisten."komentar Dion.
"Aku akan mengingatkan ibu supaya selalu mengawasi ayah. Karena terkadang ayah selalu lupa waktu kalau sudah seperti itu."ucap Rania.
"Ya udah. Aku berangkat kerja dulu. Nanti aku akan aku usahakan untuk pulang lebih awal. Kalau gak bisa besok aja gak papa kan?? Aku ada banyak kerjaan hari ini."ucap Dion sambil merapikan rambut Rania yang menutupi wajahnya.
"Tapi bisa kan kalau misal pas pulang bawakan aku tahu bulat??"tanya Rania yang membuat Dion sedikit heran.
"Tahu bulat??? Apa hubungannya??"
"Dia pengen makan tahu bulat."ucap Rania sambil menunjuk ke arah perutnya.
"Hahaha. Oke. Jangan banyak jajan ya sayang. Jauh-jauh kamu ajak ibu ke sini karena rindu masakan ibu,tapi kamu malah sering jajan. Kasihan ibu yang udah susah payah masak buat kamu."nasehat Dion.
"Beres. Semoga ini yang terakhir dan selanjutnya semoga dia hanya ngidam masakan ibu."Dion terkekeh melihat wajah memelas Rania.
"Ya udah aku berangkat dulu. Aku sayang sama kamu."ucap Dion sambil mengecup kening Rania.
"Aku juga."
"Claraaaaa...papa berangkat dulu."ucap Dion sambil melambaikan tangannya. Dia sudah sangat terlambat dan Clarabella dalam keadaan yang sedikit kotor dengan tanah dan lumpur di tubuhnya.
"Iya pa. Hati-hati di jalan."ucap Clarabella sambil melambaikan tangannya. Dion menatap geli kepada anak sulungnya.
"Bisa dimarahi mama kamu nanti."gumam Dion sambil masuk ke dalam mobil. Dan benar saja Dion baru melajukan mobilnya ketika di dengar nya suara Rania yang memanggil Clarabella.
"Claraaaa... apa yang kamu lakukan??"Rania cukup terkejut melihat tampilan Clarabella yang jauh dari kata manis. Padahal tadi dia sudah mandi. Nita yang selalu mendampingi Clarabella hanya tersenyum kikuk.
"Tadi sudah saya larang nyonya tapi..."
"Iya,aku tahu. Anak ini sama keras kepalanya dengan ku. Lihat Domino aja lebih bersih daripada kamu."
"Guk..guk.."
"Kalau begitu biar Clara ajak Domino main di sini."pinta Clarabella yang hendak mengajak Domini, tetapi Domino malah lari menjauh.
"Lihat. Domino saja enggan dekat sama kamu. Ayo naik ke atas. Bersihkan diri kamu. Biarkan kakek yang bekerja."perintah Rania. Dengan langkah gontai Clarabella pun naik ke kamarnya. Nita terkekeh melihatnya dan mengikuti Clarabella naik ke atas untuk membersihkan diri.
Rania hendak masuk ke dalam rumah ketika sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Rania mengenali siapa pemilik mobil tersebut. Karena beberapa waktu yang lalu dia pernah datang ke rumah Rania. Wanita pemilik mobil itu pun keluar. Domino menggonggongi wanita itu. Tetapi wanita itu tidak merasa takut sedikitpun.
"Aku kembali lagi."ucap Anita wanita tersebut. Mendengar suara gonggongan Domino, ibu Rania pun juga ikut keluar melihat apa yang terjadi.
"Mau apa lagi kamu???"tanya Rania dengan malas.
"Permintaan ku masih sama. Aku hanya ingin kamu meninggalkan Dion."ucap Anita lagi.
"Kalau aku gak mau gimana???"
"Kamuuu..."Anita hendak maju mendekati Rania. Tetapi kehadiran ayah Rania mengurungkan niatnya.
"Anita aku hanya akan memberitahu kamu sekali. Dan aku harap kamu benar-benar paham dengan ucapan aku. Pertama aku gak akan pernah ninggalin Dion. Karena apa?? Karena antara aku dan Dion sudah ada anak yang mengikat kami. Selain itu kami juga saling mencintai. Kamu lihat berapa lama kamu mendekati Dion dan bagaimana Dion menyikapi kedekatan kalian??? Dia sama sekali tidak tertarik dengan kamu. Aku harap kamu sadar. Cinta gak bisa dipaksakan. Atau kamu akan terluka sendiri. Bukan kamu dan Dion yang terluka. Tetapi hanya kamu sendiri. Dan aku dengar kamu orang yang cukup bisa berbuat hal keji untuk menyingkirkan orang bukan??"ucapan Rania terhenti ketika beberapa orang security di rumah Dion datang mendekati nya. Rania memberi kode untuk tidak melakukan apa-apa.
"Berapa banyak usaha yang sudah kamu lakuin dengan menyingkirkan orang-orang yang ada di dekat Dion dan hasilnya nihil. Dion sama sekali tidak berpaling ke kamu. Malah dia semakin membenci kamu. Harusnya dari sini kamu peka untuk bisa melepaskan Dion. Cinta itu gak bisa dipaksakan Anita. Semakin kamu memaksakan diri,kamu akan tersakiti sendiri. Kamu pikirkan lagi ucapan ku. Dan tolong jangan kembali. Bukalah hati kamu untuk orang lain. Kamu cantik, cerdas dan menarik. Aku rasa pasti ada lelaki di luar sana yang akan bisa mencintai kamu dengan tulus."ucap Rania sambil masuk ke dalam rumah dan mengajak Domino juga masuk ke dalam rumah. Anita masih terdiam di depan rumah Rania. Lalu salah seorang security menghampiri Anita.
"Nona.. silahkan meninggalkan rumah tuan Dion. Silahkan pergi baik-baik sebelum kami bertindak tidak sopan."ucap salah seorang security. Anita menatap sebentar orang itu dan kemudian meninggalkan halaman rumah Dion. Rania yang melihat dari dalam rumah menghela nafas lega saat melihat Anita meninggalkan halaman rumahnya.
"Untung saja dia pergi."gumam Rania.
"Siapa dia Nia??"tanya ibu Rania. Ayah Rania juga ada di sana sambil membawa cangkul tanpa sadar.
"Dia wanita yang menyukai Dion bu. Udah sejak lama dia menyukai Dion sampai dia menyingkirkan orang-orang yang dekat dengan Dion. Dia ingin memiliki Dion sendirian. Sayang nya Dion terlalu susah ditaklukkan olehnya."cerita Rania.
"Dia terlihat sedikit berbahaya."komentar ayah Rania.
"Ya.... tapi Dion sudah mengantisipasinya. Dion dan keluarganya sudah menyiapkan banyak orang untuk menjaga Nia di sini. Penjaga tadi contohnya."ujar Rania menenangkan.
"Semoga saja wanita itu sadar dan tidak melakukan hal yang nekad Nia."ucap Ibu Rania.
"Semoga saja Bu."