
Dion san ayah nya terkejut ketika melihat Rania berlutut di hadapan Dion. Hatinya sakit melihat wanita yang sangat dicintainya tiba-tiba seperti itu.
"Ada apa?? Kenapa??"
Tanya Dion kepada Rania. Sedangkan Rania hanya diam saja dan menangis."
"Rania,kamu tenang saja. Dion tidak akan mengambil Clara dari mu. Kakek berani menjamin."
Ujar kakek Wiguna sambil mendekati Rania. Air mata terus mengalir di kedua pelupuk Rania. Rania pun mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Dion. Wajah sembab yang terlihat di wajahnya menandakan wanita itu sudah menangis cukup lama.
"Tolong anak ku..Tolong Clara.."
Tangis Rania pecah kembali.
"Nia,ada apa?? Tolong jangan seperti ini. Kamu membuat kami bingung."
"Clara kek...hiks .."
"Ayo lebih baik kita ke rumah sakit sekarang."
Dengan menggunakan mobil Kakek Wiguna, mereka pun tiba di pelataran rumah sakit. Di depan kamar inap Clarabella, mereka melihat ayah Rania yang juga seperti habis menangis.
"Yah..."
Rania langsung memeluk ayahnya dan menangis.
"Ada apa ini?? Apa yang terjadi?? Ada apa dengan Clara??"
Tanya Papa Dion kepada ayah Rania.
"Dokter mendiagnosa kalau Clara ada kelainan darah. Sehingga tidak bisa memproduksi darah merah sendiri. Dia membutuhkan donor sumsum tulang belakang."
"Lalu??"
"Tingkat kecocokan paling tinggi adalah sumsum tulang belakang milik ayah nya. Hanya itu yang bisa menolong Clara."
"Dia ayahnya Clara."
Tunjuk Kakek Wiguna ke arah Dion.
"Apa dia datang kemari secara kebetulan atau bagaimana??"
"Entah dari mana dia bisa menemukan keberadaan Rania. Mungkin ini jalan Tuhan. Sudah saatnya kalian bertemu dan menyelesaikan permasalahan kalian. Jangan sampai jadi masalah lagi ke depannya."
Ucap kakek Wiguna. Ayah Rania menatap ke arah Dion.
"Tolong cucu saya."
Ucap ayah Rania sambil terbata-bata ke arah Dion.
"Boleh saya berbicara dengan Rania??"
Tubuh Rania menegang di dalam pelukan ayahnya saat mendengar suara Dion. Suara yang menyapa nya setiap hari saat lima tahun lalu. Suara yang selalu mengajak nya berdebat saat mereka berbeda pendapat tentang materi pelajaran mereka.
"Nia...."
Ucap ayah Rania lembut.
"Iya Yah."
Rania mengusap air matanya dan menatap ke arah ayah nya.
"Nak Dion mau bicara sama kamu."
"Iya."
Rania mengambil tissue dan mengusap air mata dan ingus di wajahnya. Kemudian dia berjalan mengikuti Dion di taman rumah sakit. Mereka duduk di bangku taman. Cukup lama mereka dalam keadaan diam. Sampai akhirnya Dion memecah keheningan.
"Kamu apa kabar??"
"Baik."
Jawab Rania singkat.
"Aku gak mau mengungkit hal yang dulu. Sekarang mau kamu apa?? Apa yang harus aku lakukan untuk anak kita??"
Hati Rania terenyuh saat Dion mengakui Clarabella sebagai anak mereka. Tetapi Rania tidak mau lengah. Dia harus tetap tegas.
"Aku hanya ingin kamu mengikuti prosedur tes kecocokan sumsum tulang belakang Clara."
"Kalau cocok,kamu ingin aku apa??"
"Aku...aku ingin kamu mendonorkan sumsum tulang belakang kepada Clara."
Jawab Rania dengan suara sedikit bergetar.
"Lalu benefit nya untuk ku apa??"
Rania sedikit terkejut dengan pertanyaan Dion.
"Maksud kamu??"
"Aku seorang pengusaha. Aku harus memikirkan apa untungnya buat ku kalau aku mendonorkan sumsum tulang belakang ku."
"Aku akan membayar berapa pun yang kamu sebutkan. Walaupun dengan mencicil nya,aku akan membayar berapapun itu.
Ucap Rania dengan nada bergetar.
"Seperti yang kamu lihat. Aku tidak membutuhkan materi apapun. Harta ku cukup banyak untuk tujuh turunan ku."
Wajah Rania memerah membayang kan kalau Dion meminta Clarabella.
"Aku gak akan menyerahkan Clara ke tangan mu. Clara hanya anak ku. Aku akan mencari donor lain untuk anak ku."
Ucap Rania. Rania hendak beranjak dari duduknya, ketika Dion menahan tangannya. Mata mereka saling beradu untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"Apa aku mengatakan kalau aku akan mengambil anak kamu??"
Rania menatap ke arah Dion.
"Aku hanya ingin kita menikah. Dan aku ingin bertemu dengan anak ku. Perkenalkan aku sebagai ayah nya. Aku yakin kamu gak akan setega itu kepada gadis kecil itu dengan mengatakan kalau aku sudah mati kan??"
Rania terdiam mendengar ucapan Dion. Memang selama ini Rania selalu mengatakan kalau ayah Clarabella sedang bekerja di tempat yang jauh supaya bisa membeli kan rumah untuk Clarabella. Dan pernah di suatu situasi, Clarabella berkata kepada Rania.
"Mama,Clara gak mau rumah yang mewah. Clara gak mau rumah yang besar. Rumah Opa sudah cukup besar untuk Clara. Clara hanya ingin ada papa di sini."
Kalimat itu sukses membuat dada Rania sedikit sesak. Dia tahu kalau Clara membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Tapi hal yang mustahil untuk mendatangkan Dion di hadapan Clara. Sedangkan Rania selalu menjaga jarak dengan semua lelaki yang mendekati nya. Baginya dia mampu menjadi seorang orang tua tunggal untuk Clara.
"Rania..."
Dion menepuk pundak Rania yang masih terhanyut dalam lamunannya.
"Aku akan mempertemukan kamu dengan Clara. Aku akan mengenal kan mu sebagai papa nya. Tapi untuk menikah aku...."
"Aku tidak membutuhkan jawaban mu sekarang. Tetapi aku ingin kamu tahu kamu sudah bersikap egois Rania. Kamu mementingkan dirimu sendiri."
Dion meninggalkan Rania yang terdiam saat mendengar ucapan Dion. Mereka pun menuju ke ruang inap Clarabella. Dion berhenti di depan ruang inap Clarabella. Menunggu Rania mengajak nya masuk. Rania mengusap air mata nya terlebih dahulu. Berusaha mengurangi wajah sembab nya. Setelah itu Rania masuk ke dalam ruangan inap Clarabella. Dilihatnya gadis kecil itu sedanh bermain dengan boneka beruangnya.
"Clara sedih deh. Karena Clara di sini,mama, kakek, nenek jadi repot. Semoga saja Clara bisa segera pulang dari sini. Clara bosen Mbul."
Celoteh Clarabella kepada boneka beruang kesayangan nya yang dibawa oleh kakek nya pagi itu. Boneka itu boneka yang diinginkan Clarabella selama berbulan-bulan dan Rania baru memberikan nya di hari ulang tahun Clarabella.
"Sayang..."
"Mamaaaa..."
Wajah bahagia Clarabella menyejukkan hati Rania. Seperti mendapat angin segar. Rania bahagia melihat wajah bahagia Clarabella.
"Clara bosen ya di sini??"
"Iya ma. Kapan kita bisa pulang?? Clara gak sakit parah kan ma??"
"Enggak sayang."
Ucap Rania sambil tersenyum.
"Sayang,ada yang mau bertemu sama kamu."
"Siapa Ma??"
Rania berjalan keluar dan mengajak Dion masuk menemui Clarabella. Jantung berdebar kencang melihat Clarabella yang sembilan puluh sembilan persen wajah nya mirip dengan Dion di masa kecil. Clarabella pun tersenyum melihat Dion. Dion harus menahan diri supaya tidak memeluk Clarabella saat itu juga.
"Om ini siapa Ma??"
"Om ini... Om ini papa nya Clara."
"Wuaaahh..."
Clarabella membelalakkan matanya dan sejurus kemudian Clarabella tersenyum ke arah Dion. Membuat hati Dion semakin menghangat.