Beautiful Girl

Beautiful Girl
Mulai Ngidam



Dion yang mengendarai mobil saat itu. Ayah dan ibu Rania ada di bangku belakang dengan Clarabella. Domino dengan terpaksa tidak mereka ajak. Karena mereka berada di tempat yang ramai.


"Nenek sama kakek tinggal di sini aja."celoteh Clarabella waktu di dalam mobil.


"Terus rumah kakek yang di desa siapa yang nempatin hayo?? Nanti kalau rusak gimana??"ucap ayah Rania menimpali ucapan Clarabella. Clarabellapun hanya terkekeh mendengarnya.


Tidak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan yang cukup besar. Ayah Rania dan Dion pergi ke bagian yang menjual bibit tanaman diikuti oleh Clarabella. Sedangkan Rania dan ibu nya pergi ke bagian bahan-bahan makanan.


"Mau dibikinkan apa??"tanya Ibu Rania saat mereka berada di rak sayur-sayuran.


"Apa aja. Pokok masakan ibu mau semua Nia."


"Gampang bener ini baby permintaan nya."ucap Ibu Rania. Mereka pun memasukkan beberapa sayuran yang nantinya bisa diolah oleh ibu Rania. Sampai tidak terasa troly mereka hampir penuh.


"Segini banyaknya. Apa masih kurang Nia??"tanya ibu Rania.


"Ya udah bu segini aja. Nanti kalau kurang masih bisa beli di minimarket sebelah."ucap Rania. Rania pun menghubungi Dion.


"Di mana Yon?? Kami udah selesai nih."ucap Rania.


"Kamu tunggu di sana aja. Udah ke kasir belum??"tanya Dion.


"Belum. Kami ke kasir sekarang ya?? Kamu nanti nyusul aja ya."


"Oke lah. Ada kan uang nya??"


"Pakai kartu kemarin masih ada Yon."


"Oke. Pakai itu aja. Nanti aku isi lagi."


"Iya."Rania pun mengakhiri panggilan telepon nya.


"Gimana??"


"Nanti Dion nyusul. Masih ada yang mau dicari sama ayah."


"Ayah kamu itu...apa aja nanti yang dibeli. Kamu masih manggil Dion pakai nama Nia??"tanya ibu Rania.


"Iya bu. Udah kebiasaan sih."


"Dirubah kebiasaannya. Jangan panggil nama. Kesannya jadi gak menghargai suami."nasehat ibu Rania.


"Gitu ya Bu??"


"Iya. Apa kamu pernah lihat ibu sama ayah saling panggil nama??"tanya Ibu Rania lagi.


"Gak pernah sih."


"Nah. Ibu selalu panggil ayah. Begitu juga sebaliknya..Jadi coba kamu tiru kan kami juga. Panggil papa atau mama. Jadi si Clara juga bisa ikut kamu juga."


"Iya Bu."


"Mamaaaa..."Rania dan ibunya menoleh ke arah suara anak kecil yang berlari ke arah Rania. Clarabellapun memeluk perut Rania.


"Adik bayi...Kakak baru belanja bunga buat kamu."celoteh Clarabella.


"Kalau adek bayinya cowok gimana??"tanya Rania.


"Ehmm...anu...gimana ya Pa??"


"Hahaha ya buat mama saja."jawab Clarabella yang membuat Rania dan yang lainnya tertawa.


"Udah bayar semua Nia??"


"Udah. Tinggal punya kamu ya??"tanya Rania.


"Aku bayar dulu. Kalian tunggu di mobil??"tanya Dion.


"Gak usah. Kita tunggu kamu di sini."ucap Rania.


"Habis ini kita pulang ya ma??"tanya Clarabella.


"Iya. Kan mama pengen cepet-cepet makan masakan nya nenek."


"Oh iya. Clara lupa."


Handphone Rania kemudian berdering. Dilihatnya nama nenek Dion di layar handphone nya.


"Hallo Nek."


"Kamu di mana Nia?? Nenek ada suruhan orang buat antar buah kok katanya kalian gak ada di rumah??"tanya Nenek Dion.


"Clara kangen sama masakan nenek nya ya???"ucap nenek Dion sambil terkekeh.


"Bukan nek. Bukan Clara yang kepengin. Dion belum kasih tahu nenek ya??"


"Ap...Apa??"


"Nia hamil lagi. Dan sekarang Nia lagi ngidam mungkin ya??"ujar Rania sambil terkekeh.


"Hamil?? Dion kok gak kasih tahu nenek. Nenek ke sana sekarang sama kakek."putus Nenek Dion.


"Tapi nek .."panggilan sudah terputus sebelum Rania melanjutkan ucapannya.


"Ada apa??"tanya Dion yang baru saja datang bersama Clarabella.


"Kamu gak kasih tahu nenek kalau aku hamil??"tanya Rania. Dion langsung menepuk keningnya.


"Pantesan kayak ada yang kurang itu apa. Ternyata ini ya??"ucap Dion sambil terkekeh.


"Kamu ini. Nenek jadi mau ke rumah sekarang. Biar diomeli kamu sama Nenek."ucap Rania sambil terkekeh. Mereka pun kemudian pulang ke rumah. Saat mobil memasuki halaman rumah Dion,Mereka sudah melihat mobil papa Dion dan mobil kakek nenek Dion.


"Sepertinya aku bentar lagi bakal di sidang gak sih sayang???"ucap Dion sambil terkekeh.


"Hahaha. Selamat menikmati."


Clarabella yang berlari terlebih dahulu ke arah Papa Dion.


"Opaaaaa..."


Clarabella langsung lari ke dalam gendongan papa Dion.


"Cucu cantik opa dari mana???"tanya Papa Dion sambil mengangkat tinggi Clarabella.


"Hahaha. Clara baru ikut papa dan mama belanja. Clara beli banyak barang. Nanti mau berkebun sama kakek."terang Clarabella.


Papa Dion pun menurun kan Clarabella dan kemudian menyapa kedua orang tua Rania."


"Baru datang ya mas??"tanya Papa Dion.


"Iya baru hari ini. Ibu nya Nia udah ngajak ke sini dari kemarin gara-gara tahu Nia hamil."terang ayah Rania.


"Dan ini anak malah lupa kasih tahu kita yang deket kalau Nia hamil. Bisa-bisanya gitu."omel Nenek Dion. Dion hanya terkekeh mendengarnya.


"Bener-bener gak kepikiran nek. Nek ini ibu Rania dan ini ayah Rania."ujar Dion.


"Selamat datang. Semoga betah tinggal di sini."ujar nenek Dion.


"Ayo Bu."ajak Rania kepada Ibunya.


"Nia lagi ngidam masakan ibu. Jadi ini minta dimasakkan masakan ibu nya."jelas ayah Rania.


"Ah gitu.. mari silahkan masak dulu aja."ujar Nenek Dion. ibu Rania pun mulao menuju ke dapur dan memasak untuk Rania.


"Gimana dengan kandungan Rania?? Baik-baik saja kan Yon??"tanya papa Dion.


"Sehat pa. Gak begitu rewel. Sangat bisa diajak kerja sama. Tadinya Dion masih mau fokus rawat Clara. Tapi Tuhan kasih berkat cepet. Ya udah harus disyukuri."


"Jaga baik-baik kehamilan Nia kali ini. Minta apa aja yang kamu mau Nia. Bales kejadian yang dulu-dulu. Biar kapok si Dion."omel nenek Dion. Dion yang duduk di samping Rania memeluk hangat Rania.


"Kakek... kakek dipanggil sama nenek di dapur."ujar Clarabella sambil berjalan mendekati Dion dan duduk di pangkuan Dion. Ayah Rania yang sedang duduk santai pun segera beranjak dari duduknya.


"Saya permisi sebentar."


"Kenapa Ibu manggil ayah??"tanya Dion kepada Rania.


"Paling mau minta tolong buka botol saus atau apa biasanya."


"Oh gitu."


Tidak lama kemudian mereka sudah berada di ruang makan menikmati masakan ibu Rania.


"Pantesan aja Rania pinter masak. Ibu nya aja hebat gini."puji nenek Dion. Mereka menyantap telur balado dan gulai kepala ikan. Clarabella menyantap masakan Rania sup iga."


Mereka semua menatap ke arah Rania yang terlihat sangat menikmati saat makan gulai kepala ikan buatan ibunya.


"Enak Nia??"tanya ibu Rania.


"Enak banget. Lebih enak buatan ibu daripada yang ada di rumah makan padang. Ini enak banget Bu."ucap Rania sambil tetap menyantap kepala ikan nya. Bahkan sesekali Rania meminta nasi untuk di santap dengan kuahnya.