Beautiful Girl

Beautiful Girl
Malam Yang Dinanti



Rania terbangun dalam pelukan Dion. Badannya terasa pegal semua. Kemarin mereka melakukan lagi untuk pertama kalinya setelah kesalahan yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu.


Kemarin Dion yang masuk ke dalam kamar saat malam hari tidak mendapati Rania di atas tempat tidur.


"Apa di tempat Clara ya??"gumam Dion. Dion pun berjalan menuju ke kamar Clarabella. Di depan kamar Clarabella tidak ada suara atau tanda-tanda yang menyatakan kalau Rania ada di dalam kamar puteri mereka. Lalu Dion pun kembali ke dalam kamar mereka.


"Masak di kamar mandi?? Kalau di kamar mandi kok gak keluar juga dari tadi??"Dion pun menuju ke kamar mandi di kamar mereka. Tidak juga ditemui Rania di sana.


"Aduh.."


Dion mengarahkan pandangannya ke arah walk in closet.


"Ah di sana ya??"ujar Dion yang langsung ke walk in closet.


"Nia... ngapain ka...."tubuh Dion dan Rania membeku. Pasalnya saat itu tubuh bagian atas Rania terekspos di depan mata Dion. Tunuh indah Rania yang terawat dengan baik walaupun dia sudah memiliki Clarabella.


"Ma... maaf..aku gak sengaja."ucap Dion sambil berpaling membelakangi Rania. Rania yang sadar dari keterkejutannya segera membenahi piyama tidurnya.


"Ga..gak papa..aku..aku juga salah malam-malam di sini. Kamu mau ganti baju??"tanya Rania dengan sedikit terbata-bata.


"I..iya. Kalau kamu belum selesai kamu lanjutkan dulu. Aku bisa ganti baju nanti kok."jawab Dion juga dengan sedikit terbata-bata.


"Eh gak papa. Kamu ganti dulu aja Yon. Aku akan tunggu di luar."jawab Rania sambil mengenakan asal pakaian tidurnya yang memiliki tali spaghetti. Entah apa yang terjadi. Mungkin karena terlalu tipis atau bagaimana. Tiba-tiba saja tali daster miliknya putus saat akan melewati Dion. Pemandangan yang menggugah jiwa kelelakian Dion langsung terpampang nyata di hadapan Dion.


"Aahh.."refleks Dion pun juga ikut menyentuh benda kenyal dan padat milik Rania. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Dan bibir Dion mulai mendekati bibir Rania. Mereka pun saling berciuman.


"Nia..."desah Dion saat dia benar-benar tidak dapat menahannya kembali. Dan akhirnya malam seperti beberapa tahun silam terulang kembali.


"Yon...bangun.."


"Eugh..."


"Bangun Yon.."ucap Rania berkali-kali sambil berusaha melepaskan pelukan Dion.


"Yon.. bangun.."


"Lima menit lagi."jawab Dian dengan suara khas bangun tidur.


"Nanti Clara nyari aku."


"Lima menit lagi."jawab Dion sambil menelusupkan wajahnya di leher Rania.


"Di..Dioon.."jawab Rania terbata-bata. Bukannya melepaskan pelukan nya,Dion semakin mempererat pelukannya kepada Rania.


"Lepasin Yon.."


"Aku lepasin sekarang tapi nanti lagi ya??"


"Iya."


"Janji??"cecar Dion.


"Iya..lepasin dong. Aku mau mandi ini."


"Mandi bareng aja kalau gitu."jawab Dion sambil membuka matanya yang sedari tadi terpejam.


"Gak mau. Nanti gak selesai-selesai lagi."gerutu Rania.


"Janji hanya mandi."rayu Dion.


"Aku serius. Jangan lakukan lagi pagi ini ya?? Milik ku masih sakit. Walaupun bukan yang pertama tapi aku gak pernah melakukannya sejak terakhir kali kita melakukan waktu itu."ucap Rania dengan serius.


"Iya janji. Aku juga merasa seperti pertama melakukannya kemarin."jawab Dion sambil terkekeh.


Dion pun membantu Rania masuk ke dalam kamar mandi dengan menggendong ala bridal style. Bahkan di dalam kamar mandi pun Dion membantu Rania untuk membersihkan diri. Karena Rania sedikit kesulitan bergerak.


"Kamu di kamar aja kalau gitu. Biar Clara sama Nita. Kamu masih sakit gitu?? Jalan aja sambil tertatih-tatih."


"Gak papa. Kasihan Clara kalau gak ada aku."


"Nanti aku akan minta nenek datang ke sini. Jadi bisa ngajak main Clara."


Rania berpikir sejenak. Lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Dion menghubungi neneknya dan bergegas turun ke bawah untuk menyapa Clarabella dan mengambil makan pagi untuk Rania.


"Hallo sweetie. Sudah bangun kamu?? Ada apa kok cemberut gitu??"ucap Dion sambil menghampiri Clarabella dan mencium keningnya.


"Mama mana sih Pa?? Clara capek cari mama. Kata kak Nita mama belum keluar dari kamar. Memang bener Pa?? Gak biasa nya mama seperti itu. Mama kan selalu rajin bangun pagi."ujar Clarabella panjang lebar membuat Dion tidak enak hati.


"Eh itu. Mama lagi gak enak badan. Ini papa turun mau ambil makanan untuk mama."jawab Dion dengan sedikit salah tingkah.


"Serius Pa?? Boleh Clara jenguk mama??"


"Ehm nanti dulu saja. Sekarang biarkan Mama beristirahat dulu nanti kalau sudah membaik baru Clara boleh masuk ke dalam kamar."


"Terus Clara sama siapa dong?? Masak sama Domino??"


Merasa namanya dipanggil Domino pun kemudian menggonggong.


"Guk.. guk.."


Clarabella mengerucutkan bibirnya. Membuat Dion gemas melihat putri semata wayangnya.


"Sama nenek buyut dong."kehadiran nenek Dion seakan memberi angin segar untuk Dion.


"Nenek buyut."Clarabella pun langsung berlari menuju ke arah Nenek Dion yang di belakangnya membawa banyak perlengkapan menggambar untuk Clarabella. Clarabella pun mengurai pelukannya.


"Nenek bawa apa??"


"Banyak sekali. Rika,tolong bantu Clara."ucap nenek Dion kepada asistennya.


"Baik nyonya."


Clarabella pun langsung asyik bermain dengan asisten nenek Dion. Dion pun menghampiri neneknya.


"Terima kasih nek. Nenek gercep deh."


"Apa itu??"


"Gerak cepat. Hehehe."


"Kamu ini."nenek Dion mencubit perut Dion.


"Auh.."


"Kamu apakan isteri kamu huh??"


"Biasa nek. Melakukan kewajiban suami isteri. Sekaligus mengabulkan permintaan Clara yang katanya mau minta adik."jawab Dion sambil tertawa.


"Dasar kamu ini. Ya udah sana kamu berangkat kerja aja Rania dan Clara serahkan sama nenek."


"Dion antar makan pagi buat Rania dulu. Dia belum makan pagi."jawab Dion sambil mengangkat sepiring nasi goreng yang ada di dalam tangannya.


"Kamu iniii...isteri udah di kerja paksa gak dikasih makan. Gimana sih??"omel nenek Dion. Yang diomeli bergegas naik ke atas. Dilihatnya Rania yang sedang menonton acara televisi.


"Ada suara mobil masuk siapa tamunya yang datang pagi-pagi gini??"tanya Rania saat melihat Dion masuk ke dalam kamar.


"Nenek. Nenek datang untuk bantu jaga Clara. Nenek seneng banget waktu aku minta tolong bantu jaga Clara karena kamu gak enak badan."


"Ya Tuhan. Nenek tahu kalau kita???"


"Hahaha. Iya dong."


"Aaah Dion.."


Dion terkekeh saat melihat Rania menutup wajahnya karena malu.


"Gak papa. Nenek pernah muda. Pasti nenek maklum. Ini makan pagi sama susu kamu. Kalau udah taruh di atas nakas aja. Nanti biar diambil Nita. Kalau perlu apa-apa pakai intecom. Ini nih.."ucap Dion sambil menunjuk intercom yang ada di dekat Rania.


"Ini langsung terhubung ke arah dapur Jadi nanti kamu butuh apa-apa langsung bilang aja."


"Ah iya."


"Cepet makan lalu istirahat. Maaf aku harus berangkat ke kantor karena aku ada rapat. Sampai ketemu nanti sayang."


Dionpun mengecup kening Rania dan keluar dari kamar. Wajah Rania memerah karena bahagia.