
Seorang gadis kecil sedang berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke rumah besar yang ada di samping rumahnya. Di belakang nya seekor anjing besar mengikuti nya. Gadis itu membawa buku bergambar di tangan nya.
"Satu,dua,tigaa...Ayo Domino. Cepat jalannya. Sebentar lagi makan siang. Nenek hari ini masak bola-bola daging. Kamu suka enggak??"
"Guk..guk.."
Gadis kecil itu memasukkan kunci ke dalam lubangnya dan membika pintu rumah itu. Tidak lupa gadis itu pun menutup dan mengunci nya.
"Ingat. Kata mama habis masuk harus di kunci."
"Guk."
Gadis itu pun masuk ke dalam ruangan yang berisi banyak buku. Ada sebuah ruangan yang lebih kecil lagi yang berisi buku-buku untuk di warnai dan buku untuk belajar membaca.
"Clara ingin mewarnai nanti. Jadi Clara ambil buku yang untuk diwarnai saja. Buku yang di baca ambil satu saja ya. Kata mama Clara harus belajar membaca setiap hari."
"Guk.. guk."
Clarabella hendak keluar dari rumah itu ketika telepon di rumah itu berdering. Clarabella pun berlari-lari kecil untuk mengangkat nya.
"Hallo rumah Opa di sini."
"Hallo gadis kecil. Apa kamu sudah mengambil buku yang akan kamu baca hari ini??"
"Waaahh magic eye opa bekerja."
"Hahaha."
"Clara baru saja mau pulang."
"Lihat lah ke dalam lemari es."
"Hmm?? Lemari es??"
"Iya. Coba kamu buka. Ambil kotak yang berwarna merah. Opa tunggu jangan di matikan telepon nya."
"Oke opa."
Gadis itu pun membuka lemari es dan mengambil kotak berwarna merah. Setelah menutup lemari es,gadis kecil itu membongkar nya di lantai.
"Wuaaahh cokelat."
Gadis kecil itu berbinar-binar saat melihat banyaknya cokelat di kotak itu. Gadis kecil itu pun menutup kotak itu dan meraih gagang telepon.
"Wuaaah cokelat. Terima kasih Opa."
"Sama-sama. Jangan makan terlalu banyak ya."
"Hmmm itu..."
"Ada apa?? Apa kamu takut dimarahi mama kamu??"
"Enggak sih. Lain kali opa kalau mau kasih Clara,kasih yang bisa di bagi dengan Domino. Kalau cokelat kan Domino gak bisa ikut makan."
Ucap gadis kecil itu sambil mengusap-usap kepala Domino.
"Oh..Hahaha. Coba buka lemari es lagi. Dan lihat di pintu lemari es ada apa??"
Gadis itu pun beranjak lagi ke lemari es. Dan dilihatnya di pintu lemari es ada tulang-tulangan yang terbuat dari kulit sapi.
"Wuah.. lihat Domino. Kamu harus berterima kasih kepada Opa nya Clara."
"Guk..guk.."
Jawab Domino sambil mengibaskan ekornya. Clarabella pun menjawab telepon lagi.
"Opaaa... Terima kasih untuk hadiah nya. Domino ayo bilang terima kasih sama Opa nya Clara."
"Guk..Guk.."
"Hahaha. Lucu sekali kalian. Sudah waktunya makan siang. Ayo cepat pulang. Nenek kamu pasti sedang mencari kamu. Ingat. Makannya kalau sudah makan nasi ya. Dan jangan banyak-banyak."
"Siap Opa."
Gadis itu pun meletakkan gagang telepon dan kemudian membawa tulang milik Domino dan sekotak cokelat nya serta buku mewarnainya di tangan kirinya.
"Bawakan buku Clara tolong. Clara mau kunci pintu dulu."
Ucap Clarabella kepada Domino. Domino pun menggigit buku Clarabella. Dan gadis itu pun pulang menemui neneknya.
"Nenek...nenek.."
Ibu Rania keluar dari dapur saat mendengar suara heboh cucunya.
"Bawa apa kamu??"
"Ini cokelat dari opa. Clara akan makan kalau sudah makan nasi. Dan ini,tulang untuk Domino. Enaknya di berikan sekarang atau nanti ya nek??"
"Kalau Clara makannya sesudah makan nasi,maka Domino juga harus seperti itu. Paham kan??"
Tanya ibu Rania kepada Domino yang membuat ekor Domino terkulai ke bawah. Clarabella tertawa melihat Domino.
"Gak papa. Domino harus nurut sama nenek. Kata mama harus nurut sama nenek. Paham??"
"Guk."
"Ya sudah. Ayo kita makan dulu."
"Ini yang Clara tunggu."
Clarabella pun pergi mencuci tangan. Saat sedang mencuci tangan dilihatnya di wastafel hidungnya berdarah.
"Nenek...nenek...tolong Clara."
Sementara itu lelaki tua itu tersenyum di dalam ruangannya. Raut wajah bahagia selalu terpancar dari wajahnya setiap kali dia berbicara dengan cucu kesayangannya. Dilihatnya foto gadis kecil yang menjadi wallpaper di handphone nya. Gadis itu seperti penyemangat hidup nya.
"Apa yang membuat papa bahagia?? Papa punya isteri baru lagi??"
Ucap Dion dengan nada datar. Kakek Wiguna pun segera merubah raut wajah nya.
"Setelah papa menyingkirkan wanita itu,papa gak akan mencari masalah lagi."
Dion telah kembali ke rumahnya. Papanya telah menceraikan isteri keduanya karena dia hamil dari lelaki lain. Hasil tes DNA menunjukkan bahwa bayi yang ada di dalam kandungan Camelia bukan lah anaknya.
"Lalu apa yang membuat papa bahagia??"
"Nanti kamu juga tahu. Bagaimana dengan pekerjaan kamu??"
"Sangat baik. Kerja sama dengan perusahaan di Belanda sudah terjalin. Papa tunggu saja hasilnya."
"Kamu akan terbang ke Belanda??"
"Enggak. Dion akan menyuruh asisten Dion. Saat ini Dion akan coba memasuki market di China."
"Bagus. Apa....apa kamu gak ingin menikah dan memiliki keluarga??"
"Enggak. Dion hanya akan menikah dengan Rania. Selama Dion belum menemukan nya,Dion gak akan menikah."
Pak Wiguna pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagus. Lanjutkan."
Dion mengerutkan keningnya. Tidak mau memikirkan banyak hal,Dion pun meninggalkan ruangan papa nya dan kembali ke ruangannya. Dion menghempaskan tubuh nya di kursi kebesarannya. Foto Rania terpasang di meja kerjanya. Setiap kali ada orang yang bertanya siapa wanita itu. Dengan tegas Dion akan menjawab dia adalah isterinya.
*Tok..tok..tok..*
"Masuk."
Rehan asisten Dion masuk ke dalam ruangan Dion.
"Ini laporan saya selama saya di kantor cabang pak."
"Taruh di situ. Minggu depan kamu ke Belanda. Wakili saya untuk menandatangani perjanjian kerja sama dengan distributor dari Belanda."
"Baik pak."
Jawab Dion sambil menatap ke arah foto yang ada di meja kerja Dion.
"Ada apa??"
"Hmm...betul itu isteri bapak??"
"Ya. Kenapa???"
"Isteri bapak apa ada di luar kota??"
"Hmmm??"
"Saya melihat wanita yang mirip sekali dengan yang ada di foto. Tetapi dia terlihat lebih dewasa dari foto. Dia kepala cabang yang ada di Kota M. Salah satu kantor cabang yang paling besar omsetnya. Dia dipilih karena rekomendasi dari Tuan Wiguna sendiri. Kalau tidak salah nama nya Bu Nia."
Tubuh Dion langsung membeku mendengar nama belakang Rania.
"Siapkan tiket untuk ke kota M malam ini. Tapi pak."
Dion menatap tajam ke arah Rehan.
"Baik pak."
Rehan pun langsung meninggalkan ruangan Dion.
"Rania..Rania...apa benar itu kamu??"
Dion pun segera beranjak dari duduknya dan menuju ke ruangan papa nya.