Beautiful Girl

Beautiful Girl
Pindah



"Tidur dia??"


Tanya Dion kepada Rania yang duduk di belakang dengan Clarabella dan Domino di bagian belakang sendiri.


"Iya. Setelah aku ancam."


Jawab Rania sambil melihat ke sekeliling.


"Kamu ancam apa??"


"Aku bilang kalau bandel nanti aku ajak ketemu Om Dokter."


"Terus dia takut gitu ya??"


"Iya. Nanti kalau ada tempat yang ada tanah-tanah nya mampir dulu. Kasihan Domino kayak nya mau pipis."


"Ah ada kok di depan."


"Iya."


Mereka pun berhenti di rest area.


"Tolong awasi Domino. Kalau hilang bisa fatal nanti. Itu kesayangan Clara."


"Ah iya."


Dion pun turun ke rest area dan mengawasi Domino yang sedang berlari-larian di rerumputan.


"Domino!! Sini!!!"


Domino berlari menuju ke arah Dion.


"Jangan jauh-jauh. Nanti Clara nyari kamu. Kamu sudah pipis nya?"


"Guk... guk.."


"Kamu sudah pup belum??"


"Guk..guk.."


"Ah anjing pintar. Tunggu di sini. Aku akan mengikat kamu supaya kamu gak ke mana-mana. Aku hanya akan membeli makanan ringan dan kopi."


"Guk...guk..."


Dion masuk ke minimarket yang ada di rest area tersebut. Saat Dion keluar, seseorang hendak mengambil Domino.


"Hei...apa yang kamu lakukan??"


Orang itu terkejut dan meninggalkan Domino begitu saja.


"Anjing ini hanya di didik untuk melindungi orang lain. Tapi gak bisa melindungi diri sendiri. Ayo kita masuk mobil Domino."


Domino pun mengikuti Dion masuk ke dalam mobil dan langsung menempati tempat nya.


"Hampir saja dia diambil orang."


"Oh ya??"


"Tadi aku beli cemilan sama minuman di mini market. Domino aku ikat di pohon. Waktu aku keluar ada orang yang mau melepas ikatan nya."


"Waah..bisa bahaya kalau dia ilang beneran. Anak kamu bisa nangis semalaman."


Selalu saja ada perasaan yang hangat setiap kali Rania menyebut Clarabella sebagai anak Dion.


"Nih ada cemilan. Kamu makan dulu. Lebih baik kamu istirahat dulu aja. Lumayan masih ada waktu satu jam. Clara masih tidur kan??"


"Iya. Bangunkan aku kalau kamu butuh sesuatu. Aku juga ngantuk sedari tadi. Ayo Domino tidur. Jangan gerak-gerak terus. Ekor mu dari tadi kena kepalanya Clara."


Domino pun terduduk dan kemudian merebahkan dirinya di kursi belakang. Rania pun berusaha memejamkan matanya. Rania merasa mobil berhenti. Pelan-pelan Rania pun membuka matanya. Rania sedikit tertegun saat melihat sebuah rumah yang memilki halaman yang luas dan bangunan rumah yang besar.


"Ini di mana??"


Tanya Rania saat Dion akan keluar dari mobil.


"Sudah bangun kamu?? Ayo turun. Clara biar aku gendong."


"Ini di mana Dion??"


"Ya di rumah kita lah. Di mana lagi??"


"Sebesar ini??"


"Ini hasil aku menabung selama bertahun-tahun. Rumah ini ada empat lantai. Lantai tiga itu khusus aku buat tempat bermain untuk Clara nanti. Kamu udah bener-bener bangun kan??"


"Iya."


"Ajak Domino turun. Di halaman belakang ada kandang nya. Tapi nanti di kamar Clara akan aku berikan tempat tidur untuk nya. Supaya dia bisa menemani Clara."


"Sampai hal sekecil itu kamu perhatikan."


"Tentu saja. Bukannya kamu bilang kalau Domino itu sahabat nya Clara?? Kamu bawa masuk aja Domino."


"Domino pasti senang bisa lari ke sana ke sini."


Ucap Rania. Dion pun menggendong Clarabella masuk ke dalam rumah. Baru tiba di depan pintu rumah, Clarabella sudah terbangun.


"Ugh..."


"Udah bangun ya??"


Tanya Dion yang melihat mata Clarabella terbuka.


"Papa tunjukkan kamar kamu ya."


"Kita di mana Pa??"


"Kita di rumah papa. Rumah Clara juga."


"Oh ya?? Mana mama?? Mana Domino pa??"


"Mama lagi bawa Domino ke dalam. Suruh semua orang berkumpul di dapur!!"


Perintah Dion kepada wanita paruh baya yang ada di belakangnya tadi.


"Baik Tuan."


"Iya."


Masih dengan Clarabella yang ada digendongannya,Dion pun menuju ke dapur di mana banyak orang berkumpul sekitar delapan sampai sepuluh orang.


"Sudah kumpul semua Bu Linda??"


"Sudah Tuan."


Pada saat itu Rania datang dengan Domino yang mengikuti nya dari belakang.


"Di sini aku akan memperkenalkan isteri dan anak ku. Ini isteri ku dan ini anak ku."


Ucap Dion sambil menunjuk ke arah Rania dan Clarabella. Rania merasa sungkan dan malu karena dia dan Dion belum meresmikan pernikahan mereka. Rania hanya menganggukkan kepalanya.


"Apa saja yang mereka minta,turuti semua. Apapun itu. Perintah mereka perintah aku juga paham kalian??"


"Paham tuan."


Jawab semua pekerja yang ada di rumah Dion.


"Ayo kita ke kamar kamu sekarang. Kamu pasti pengen lihat kamar kamu kan??"


"Iya."


Jawab Clarabella dengan sedikit lesu.


"Kenapa kok lesu?? Clara capek??"


Tanya Rania.


"Enggak Ma."


"Gak boleh bohong lo."


Tegas Rania. Clarabella pun terdiam dan menatap ke arah mata Dion.


"Clara capek dikit."


"Kalau gitu habis ini Clara harus istirahat."


Ucap Rania lagi.


"Tapi Ma."


"Hayo nurut sama mama. Nanti kalau sakit lagi gimana??"


"Iya. Clara akan istirahat sebentar lagi. Tapi Clara boleh lihat kamar Clara bentar kan??"


"Iya. Ayo papa gendong."


Clarabella pun merentangkan tangannya ke arah Dion. Mereka pun naik ke lantai dua di mana ada kamar Dion dan Rania dan kamar Clarabella. Pintu kamar Clarabella sengaja di cat kuning warna kesukaan Clarabella.


"Yang putih ini kamar mama sama papa. Kalau kamar Clara yang pintunya warnanya kuning ini. Mau lihat bagian dalamnya gak??"


"Clara makan dulu sebelum tidur ya. Aku pinjam dapurnya dulu ya."


"Suruh saja asisten rumah tangga ku."


"Jangan. Kalau untuk makanan aku mau pegang sendiri. Kamu tahu sendiri Clara gak boleh makan yang mengandung penyedap rasa."


"Iya deh. Ini buat kamu."


Dion menyerahkan kartu berwarna hitam lagi.


"Apa ini??"


"Untuk keperluan Clara."


"Kemarin kan sudah."


"Itu buat kamu. Ini untuk Clara."


"Kan sama saja aku dengan Clara."


"Pegang saja. Aku kerja selama ini juga untuk kalian."


Rania pun menerima kartu Dion dan kemudian turun ke dapur.


"Kita lihat kamar kamu ya."


"Iya."


Dion pun membuka kamar Clarabella. Wajah Clarabella berseri-seri melihat kamarnya yang bernuansa Spongebob. Karakter kartun kesukaan nya. Sebuah tempat tidur yang berbentuk seperti rumah Barbie berwarna kuning.


"Wuaahh...keren banget. Clara suka."


Dion mendudukkan Clarabella di tempat tidur. Sebuah boneka Patrick dan Spongebob juga ada di tempat tidur Clarabella.


"Keren banget Pa."


"Sini ikut papa."


Dion mengajak Clarabella masuk ke sebuah lorong. Yang di dalam nya ada lemari berisi baju-baju dan sepatu milik Clarabella.


"Wuaah kereeen."


"Clara suka??"


"Suka banget. Di sini ada perpustakaan seperti di rumah Opa gak pa??"


"Hmm Clara mau perpustakaan??"


"Iya. Clara suka baca."


"Nanti di lantai tiga papa buat kan ya??"


"Iya Pa."


"Ayo kita turun dulu. Kamu harus makan biar sehat."


Dion pun menggendong Clarabella turun ke lantai bawah.