Beautiful Girl

Beautiful Girl
Papa Clara



"Wuaaahh....benar ini papa nya Clara ma??"


"Iya sayang."


"Mama gak bohong?? Jadi Clara sudah jadi anak baik ya Ma. Sampai papa sudah datang??"


"Clara anak mama selalu jadi anak yang baik."


"Asyik. Clara akhirnya punya papa. Selama ini kalau Ayu,Dewi,Sandra cerita tentang papa mereka. Clara bingung harus cerita apa. Karena Clara gak tahu apa kesukaan papa Clara. Papa duduk di sini dong."


Ujar Clara sambil menepuk-nepuk tempat tidur nya. Dion pun duduk di samping Clara. Clara terus menatap ke arah Dion. Membuat Dion salah tingkah.


"Jangan dilihatin gitu papa nya. Papa nya kan malu."


Tegur Rania kepada Clarabella yang masih fokus memandangi Dion.


"Hihihi. Habis seru sih lihat papa ada di depan Clara. Clara benar-benar mirip papa ya Ma??"


"Iya. Clara duplikat nya papa. Apa ada yang ingin Clara tanyakan kepada Papa??"


"Ehm..Apa ya??? Makanan kesukaan papa apa??"


"Apa ya?? Papa bukan pemilih makanan sih. Semua papa suka."


"Tuh dengar. Papa orang nya gak suka pilih-pilih makanan. Clara mawih saja suka pilih-pilih makanan kan?? Gak suka wortel,gak suka brokoli. Padahal wortel sama brokoli itu bagus untuk kesehatan dan masa pertumbuhan nya Clara kan??"


"Habis nya rasanya aneh sih. Ayo pa. Apa makanan kesukaan papa??"


"Sebenarnya papa pun juga gak begitu suka sama wortel dan brokoli. Tapi karena mama bilang seperti itu,papa akan belajar makan wortel dan brokoli. Tapi Clara juga harus mau makan brokoli dan wortel juga. Gimana??"


Clarabella terdiam dan terlihat sedang berpikir keras dengan tawaran Dion.


"Gimana???"


"Oke deh. Tapi mama yang masak ya. Kalau mama yang masak Clara mau deh."


"Oke. Nanti sehabis kita pulang dari sini mama masakkan untuk kalian."


Ucap Rania sambil tersenyum.


"Kapan Clara bisa pulang dari sini?? Hari ini bisa ka? Clara udah sembuh kan Ma?? Clara gak sakit yang serius kan Ma??"


Rania menggigit bibir bawahnya. Menahan tangis. Rania tidak boleh menangis di hadapan Clarabella.


"Iya. Clara gak sakit serius. Clara bakal cepet pulang. Asal Clara banyak istirahat."


Ucap Dion menenangkan.


"Jadi sekarang lebih baik Clara istirahat saja ya."


Pungkas Dion lagi. Terlihat raut kekhawatiran di wajah Clarabella.


"Kenapa??"


Tanya Dion lagi kepada Clarabella.


"Clara takut ini mimpi. Clara takut waktu Clara bangun papa udah gak ada di depan Clara lagi."


Hari Rania mencelos mendengar ucapan Clarabella. Berbagai pertanyaan menari-nari di pikiran nya. Benarkah selama ini dia terlalu egois?? Benarkah selama ini dia terlalu memikirkan dirinya sendiri??


"Clara tenang saja. Nanti waktu Clara bangun,papa pasti ada di sini. Menemani Clara."


"Beneran gak bohong??"


Tanya Clarabella lagi sambil menatap ke arah Rania. Rania pun kemudian menghampiri Clarabella.


"Benar sayang. Mama akan bawa papa ke sini lagi kalau papa gak ada."


"Tapi Clara kan juga ingin waktu Clara bangun tidur Clara bisa melihat papa."


"Iya mama tahu. Tapi papa kan juga harus bekerja sayang. Papa harus cari uang untuk kita semua."


"Clara...Clara gak pengen rumah yang besar Ma. Clara gak ingin mobil yang mahal. Clara cuma ingin punya papa. Itu saja."


Ucap Clarabella sambil matanya berkaca-kaca.


"Papa janji papa akan ada di sini."


Dion mengeluarkan laptop di hadapan Clarabella.


"Lihat. Ada ini. Papa akan bekerja di sini. Oke??"


Wajah Clarabella berbinar-binar melihat itu. Clarabella pun menganggukkan kepalanya.


"Iya. Clara akan tidur sebentar saja."


"Anak pintar. Sekarang Clara cepat tidur ya. Papa ada di sini."


"Papa gak kerja pakai laptop itu??"


"Papa akan tunggu sampai Clara tidur baru papa kerja. Makanya Clara harus segera tidur. Oke."


"Iya Pa."


Clarabella pun mulai memejamkan matanya. Dion mengusap-usap punggung Clarabella. Sampai akhirnya dengkuran halus terdengar dari hidung mungil Clarabella. Dion beranjak dari duduknya dan mendekati Rania.


"Aku mau bicara sebentar sama kamu."


Dion pun melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat inap Clarabella dan Rania pun mengikuti nya.


"Apa kamu masih mau bertahan dengan ego kamu??"


Rania diam mendengar ucapan Dion.


"Aku akan mendonorkan sumsum tulang belakang ku untuk Clara kalau punya ku benar-benar cocok. Dan aku mau kita menikah secepatnya. Dengan atau tanpa persetujuan kamu. Dengan atau tanpa cinta. Aku hanya ingin memberikan keluarga yang utuh untuk Clara. Kamu bisa berpura-pura mencintai ku di hadapan Clara."


Rania pun hanya terdiam mendengar ucapan Dion. Melihat reaksi Rania yang hanya diam saja, Dion pun meninggalkan Rania dan masuk kembali ke ruangan inap Clarabella. Gadis kecil itu masih memejamkan matanya. Dion pun mulai mengerjakan pekerjaannya. Sementara itu ayah Rania yang melihat Rania dengan Dion,dia langsung menghampiri Rania.


"Ayah.."


"Ayah gak tahu apa yang kalian bicarakan. Tapi satu yang ayah mau bilang sama kamu, pikirkan perasaan Clara. Dia anak yang sangat baik. Dia tidak pernah bertanya tentang papa nya bukan berarti dia tidak membutuhkan papa nya. Tapi kamu harus ingat. Pertama kali Ckara bertanya tentang papanya dan itu yang membuat kamu menangis, sejak saat itu Clara tidak pernah bertanya tentang papa nya. Karena anak itu berpikir kalau dia bertanya tentang papanya,itu akan membuat kamu sedih. Pikirkan lagi baik-baik. Ayah pun juga ingin Clara bisa memiliki keluarga yang utuh."


Rania hanya terdiam mendengar ucapan ayah nya yang panjang lebar. Sama sekali tidak pernah terpikirkan bagaimana kehidupan malaikat kecil nya. Selama ini Rania hanya berpikir bahwa kehidupan Clara baik-baik saja. Nyatanya kehidupan gadis kecil nya memendam rasa rindu kepada papa nya.


"Nia akan pikirkan baik Yah. Nia hanya takut salah langkah lagi."


"Hati-hati itu memang perlu. Tapi kamu harus bisa mempertimbangkan baik buruknya. Kamu sekarang ini ada di posisi tidak hidup sendiri. Ada anak kamu yang membutuhkan orang tua yang lengkap."


"Iya Yah."


"Ayah sama ibu pulang dulu. Kami mau istirahat dulu."


"Iya."


"Nanti kalau ada butuh apa-apa kamu kabari ayah sama ibu."


"Iya."


Rania melihat ke arah ayah dan ibu nya yang meninggalkan halaman rumah sakit. Rania pun masuk ke dalam ruangan rawat Clarabella. Dilihatnya Dion yang tertidur di sofa. Laptopnya masih dalam keadaan menyala. Rania pun mengambil jaket jas milik Dion dan kemudian menyelimuti Dion. Rania melihat handphone nya di mana ada beberapa pesan yang masuk yang berkaitan dengan pekerjaan nya. Rania pun membalas pesan-pesan itu.


"Maaa.."


Dilihatnya Clarabella yang terbangun.


"Iya sayang ada apa??"


"Badan Clara kok panas ya ma rasanya??"


Mendengar suara-suara ribut, Dion pun terbangun. Dilihatnya Clarabella yang menangis.