
Keadaan Clarabella sudah jauh lebih baik. Tubuh nya menerima donor tulang sumsum dengan baik.
"Kapan Clara boleh pulang Ma?? Clara bosen banget."
"Tunggu ya sayang. Clara sudah jauh lebih baik. Pasti bisa segera pulang. Sabar ya sayang."
"Iya."
Jawab Clarabella dengan tertunduk lesu. Dion masuk ke dalam ruangan inap Clarabella. Dilihatnya Clarabella yang melihat ke arah jendela tanpa memperdulikan kedatangannya. Hubungan nya dengan Rania sekarang sudah jauh lebih baik.
"Ada apa??"
Tanya Dion kepada Rania.
"Merajuk. Pengen pulang."
"Yaa.. pasti bosen banget. Dua bulan dia ada di rumah sakit. Semoga aja hasilnya baik. Biar bisa cepet pulang."
"Iya."
Dion masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat Dion keluar dari kamar mandi dilihatnya Clarabella yang memandang ke arahnya. Dion pun menghampiri Clarabella.
"Ada apa??"
"Clara bosan. Clara pengen pulang."
"Nanti kita tanya sama om dokter nya ya. Boleh gak Clara pulang segera."
"Kalau sama Om dokter nya gak boleh gimana?? Papa bantu bilang ya kalau Clara pengen pulang."
"Sayang ..Clara harus benar-benar sembuh. Clara gak mau kan nanti harus masuk ke rumah sakit lagi karena sakit yang sama??"
Ucap Rania yang mendekati Clarabella sambil membawa buku cerita milik Clarabella.
"Ini dibawakan sama nenek tadi. Clara baca dulu aja buku nya ya. Ini buku baru. Mama sudah baca. Bagus ceritanya."
"Iya."
Clarabella pun membaca buku yang diberikan oleh Rania. Dion mendampingi supaya Clarabella tidak bosan.
"Kapan dokter yang memeriksa Clara akan datang???"
"Besok. Besok waktu cek semua nya. Clara gak boleh demam kalau mau pulang cepat."
Dion menyentuh kening Clarabella yang sudah terlelap. Suhu tubuhnya normal.
"Semoga saja bisa segera pulang. Aku gak tega lihat wajah dia yang bosen karena terlalu lama di sini."
"Iya. Ehm.. tentang pekerjaan ku bagaimana??"
"Aku sudah mengatur nya dan semua sudah berjalan dengan baik. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri untuk kembali ke kota. Gak usah terlalu banyak bawa barangnya. Aku udah mempersiapkan semua keperluan kamu. Kamu cukup datang saja."
"Bagaimana dengan... dengan kamar tidur nya nanti??"
"Setelah kita mengurus surat pernikahan,kita akan tinggal dalam satu kamar. Aku gak akan melakukan apa-apa terhadap kamu. Aku gak akan nyentuh kamu. Sampai kamu benar-benar siap. Satu yang harus kamu tahu Nia,dulu atau pun sekarang. Aku menikahi kamu bukan karena tanggung jawab. Karena aku benar-benar mencintai kamu. Kamu saja yang terlalu takut dan berpikir berlebihan. Sampai akhirnya kamu meninggalkan aku."
Ucap Dion panjang lebar. Rania hanya terdiam tidak mampu menjawab.
************
Pagi hari di saat Dion baru saja terbangun dari tidurnya,dokter yang menangani Clarabella datang untuk mengecek keadaan Clarabella.
"Bagaimana keadaan nya Dok?? Kapan dia boleh pulang??"
Tanya Dion.
"Keadaan nya sudah membaik. Dia bisa pulang lusa. Tetap jaga makanannya ya. Jangan makan makanan fast food terlalu sering dan kurangi penggunaan penyedap rasa."
Wajah Clarabella berbinar-binar karena diperbolehkan pulang.
"Untuk melakukan perjalanan jauh boleh ya dok??"
"Tetap jaga kondisi nya. Ingat gadis kecil kalau capek gak boleh di tahan. Harus bilang sama mama papa kalau capek. Jadi bisa langsung istirahat. Atau kamu ingin ketemu dengan ku lagi??"
"Enggak. Walaupun Om Dokter ganteng,Clara gak mau ketemu Om dokter lagi."
"Ouh... kamu menyakiti hati ku gadis kecil."
Ucap sang dokter sambil terkekeh. Clarabella terkekeh mendengar ucapannya. Sepeninggal sang dokter, Clarabella memastikan kepada Rania kalau dia boleh pulang.
"Clara benar-benar boleh pulang kan ma??"
"Iya. Tapi ingat,om dokter bilang gak boleh terlalu capek."
"Iya. Clara akan bilang kalau udah capek."
Ucap Clarabella sambil tersenyum.
"Sekarang Clara makan dulu. Ingat. Kata Om dokter harus banyak istirahat."
"Iya mama."
Rania pun mengambil makanan yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit dan menyuapi Clarabella yang langsung menyantap habis makanannya.
"Nah di minum obatnya. Kalau sudah tidur ya."
"Iya."
"Udah ayo tidur. Mama tunggu di sini."
Clarabella pun merebahkan dirinya dan Rania menepuk-nepuk pantat Clarabella.
"Mama..emang bener setelah ini kita akan pindah??"
"Iya."
"Pindah sama papa Ma??"
"Iya."
"Jauh emang Ma dari sini??"
"Iya sayang."
"Sama nenek sama kakek ikut juga??"
"Enggak. Tapi nanti kalau papa gak sibuk kita bisa ke sini ngunjungi nenek sama kakek."
"Hmmm Domino diajak kan ma??"
"Mama sudah bilang sama papa kalau kita akan mengajak Domino."
"Sama papa boleh ma??"
"Boleh. Jadi nanti kita akan ajak Domino."
"Asyiikk...Clara akan punya teman di sana."
"Ayo Clara tidur sayang. Ingat harus banyak istirahat di masa pemulihan."
"Iya mama."
Rania mengusap-usap punggung Clarabella dan Clarabella pun langsung terlelap karena pengaruh obat juga.
"Sudah tidur??"
Dion yang baru berbicara dengan dokter di luar saat kembali dilihatnya Clarabella yang sudah terlelap.
"Iya. Pengaruh obat juga sepertinya. Gimana kata dokter??"
"Untuk melakukan perjalanan jauh gak papa. Asal dijaga bener-bener dan jangan sampai kecapekan. Tekan kan kepada Clara kalau capek harus istirahat. Jangan karena terlalu senang jadinya capek tapi ditahan."
"Ah iya. Nanti aku akan coba bicara lagi sama Clara tentang hal ini."
Dion dan Rania terdiam sambil melihat ke arah Rania.
"Lusa kita keluar dari sini apa kita langsung ke tempat kamu??"
"Iya. Bisa kan??"
"Bisa gak kalau di kasih waktu satu hari buat prepare semua??"
"Gak usah bawa barang banyak. Semua keperluan kamu dan Clara sudah tersedia di sana. Kamu bawa yang paling penting-penting saja. Dan...ini..."
Dion menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam kepada Rania.
"Apa ini??"
"Jangan tolak..Aku hanya ingin memberikan apa yang seharusnya aku berikan sedari dulu. Belilah apa yang kamu inginkan. Apa yang kamu ingin belikan untuk Clara dan apa saja yang kamu inginkan untuk kamu sendiri. Aku bukan membeli mu. Tapi ini supaya kamu kamu pun juga bisa menikmati apa yang seharusnya kamu nikmati."
"Aku akan menyimpan nya untuk menghormati mu dan akan benar-benar aku gunakan sesuai fungsinya."
"Oke."
Pada saat itu handphone Rania pun berdering. Dilihatnya nama Susan teman satu kantor nya.
"Aku angkat telepon dulu."
"Iya."
Rania pun keluar dari ruangan Clarabella.
"Hallo. Ada apa Susan??"
"Apa betul itu??"
"Apanya??"
"Apa betul kamu isteri dari pemilik perusahaan?? Dan kamu akan berhenti serta pindah mengikuti nya??"
Rania terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Susan. Dion benar-benar sudah menjadikan Rania milik nya. Bahkan dia sudah mengumumkan di seluruh perusahaan.
"Iya. Seperti yang kamu dengar itulah cerita nya."
"Jadi...jadi anak kamu itu..."
"Iya. Anak dia. Dan kami akan pindah mengikuti suami ku ke kota tempat asalnya."
"Rania... begitu banyak hal yang terjadi belakangan ini dan aku rasa ini yang paling luar biasa."