
"Kita mau ke mana ma??"
"Papa minta kita ke kantornya."
"Sekarang??"
"Yes. Kenapa??"
"Kan kemarin Clara bilang kalau mau janjian sama teman barunya Clara."
"Hmmm kalau ditunda besok gak bisa??"
"Ya gak papa. Tapi kan Clara gak tahu rumah nya di mana. Gimana mau kasih kabar??"
Rania terdiam sejenak.
"Hmmm nanti kalau waktunya janjian biar di gantikan Kak Nita gimana?? Jadi biar Kak Nita yang nemuin sekaligus tanya rumah nya di mana gitu."
Clarabella terlihat sedang berpikir."
"Hmm.... iya deh."
Clarabella menghampiri Nita dan menitipkan pesan.
"Kak Nita nanti tolong ya. Karena Clara mau ikut mama ke kantor papa."
"Baik Non. Nanti saya pergi sama Domino."
"Nanti tanyakan rumahnya mana ya Nit. Biar bisa ketemuan mereka. Mood nya lagi jelek si Clara."
"Hehehe. Iya Bu. kemarin memang non Clara kelihatan seneng banget ketemu Lucky."
Rania membantu Clarabella berganti baju. Clarabella kelihatan senang karena mengenakan gaun berwarna orange yang cantik.
"Ini kapan belinya ma??"
"Papa yang belikan. Pas ternyata."
"Cantik ya Ma."
"Sini rambut nya mama bantu rapikan. Mau digerai atau diikat??"
"Digerai saja. Rambut Clara sudah panjang ya Ma."
"Iya. Mau dipotong??"
"Enggak ma. Clara gak mau rambut pendek."
"Hahaha. Oke."
Rania pun merapikan rambut Clarabella. Dan memasang jepit rambut berbentuk kelinci.
"Lucu ya jepit nya ini. Bisa aja opa kamu dapetin jepit ini."
"Clara cuma punya warna orange aja ma??"
"Iya. Ini yang dibelikan sama opa kemarin kan??"
"Oh gitu. Opa beli di mana ya??"
"Kenapa??"
"Clara mau yang lengkap warnanya."
"Nanti mama belikan ya."
"Yes...Asyiik."
Dengan mobil milik keluarga Dion,Rania dan Clarabella menuju ke kantor Dion.
"Ini tempat papa bekerja??"
"Iya. Kenapa??"
"Kenapa besar sekali."
Rania pun terkekeh. Baru masuk di halaman perusahaan, ternyata Dion sudah menunggu di lobby perusahaan.
"Lihat.. sudah ada papa di depan."
"Papa nunggu kita ya ma??"
"Iya."
Rania membantu Clarabella turun dari mobil. Dan Dion menyambut mereka berdua dengan bangga dan antusias.
"Lama banget sih.."
Ucap Dion sambil menggendong dan menciumi Clarabella.
"Hahaha. Papa geli..geli..."
"Kok lama banget sih.. Habis dari mana kalian??"
"Ngambek tadi. Harusnya dia kan janjian sama itu kan tadi??"
"Sama siapa?? cowok itu tadi ya?"
"Ya iya."
Dion menggandeng tangan Rania dan mengajak mereka menuju ke lift. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Ini pertama kalinya bos mereka mengajak seorang wanita ke kantor. Dan menggendong anak kecil. Rania menundukkan kepalanya karena merasa malu di perlakukan oleh Dion di tempat umum seperti itu.
"Gak mungkin kan itu anaknya Pak Dion??"
"Menikah saja belum. Bagaimana bisa punya anak??"
"Cantik ya. Pak Dion juga ganteng. Isterinya cantik, lembut, keibuan. Bener-bener keluarga yang serasi."
Rania melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan Dion. Ruangan yang sangat luas lengkap dengan sofa, lemari es dan mesin kopi.
"Mau kopi??"
"Enggak. Kamu juga harus kurangi minum kopi ya. Jangan banyak-banyak minum kopi ya."
"Siap mama."
"Aku bawa bekal. Kita makan dulu yuk."
Ajak Rania. Mereka pun duduk di sofa dan menikmati makan siang mereka. Clarabella duduk di pangkuan Dion. Dengan penuh ketelatenan Dion menyuapi Clarabella.
"Enak gak??"
"Enak dong. Masakan mama mana ada yang gak enak. Pasti enak."
"Pinter nya ngerayu mama."
Ucap Rania sambil mencubit pipi Clarabella.
"Mau keliling kantor papa gak??"
"Di sini??"
"Iya. Keliling kantor gitu. Atau mau ke kantornya opa??"
"Kantor Opa gak di sini??"
"Beda dong."
"Clara mau ke tempat Opa aja. Di kantor opa dulu ada perpustakaan nya. Pasti yang sekarang ada juga."
"Kok tahu??"
"Nebak aja sih."
Jawab Clarabella sambil bergelayut manja di pelukan Dion.
"Emang papa ada di kantor?? Papa bukannya hari ini ada tinjau lokasi di kantor yang tempat tinggal ku kemarin??"
"Oh iya ya.. Jadi gimana dong??"
Tanya Dion kepada Clarabella.
"Gini aja kali ya pa. Papa kerja aja di sini. Nanti kalau kerjaannya papa udah selesai kita ke mall ke toko buku gimana??"
"Apa yang menjadi keinginan tuan puteri akan hamba laksanakan."
Clarabella terkekeh mendengar ucapan Dion.
"Di samping ada ruangan tempat aku istirahat. Kalian tunggu aku di situ ya??"
"Iya pa."
Clarabella menarik tangan Rania menuju ke dalam ruangan tersebut. Cukup lama Dion merasakan ketenangan dan semangat kerja. Karena kedatangan Rania dan Clarabella membuat Dion lebih bersemangat kerja. Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan Dion dengan sedikit kasar.
"Siapa anak kecil dan perempuan tadi??"
Dion menatap sejenak ke arah seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Apa urusan mu???"
Jawab Dion sambil mengabaikan wanita yang ada di hadapannya.
"Kamu ingat kan kalau kita dijodohkan oleh kakek kita??"
"Ya. Dan kamu juga ingat kan kalau aku sudah menolaknya dengan tegas. Sekali aku menolaknya,gak ada yang bisa membuat aku menerima nya. Sekalipun itu adalah kakek ku. Dia gak berhak mengaturku!!!"
"Ini demi perusahaan keluarga kamu!!!"
"Keluarga kakek ku!! Cam kan itu!! Ini perusahaan ku dan perusahaan papa ku, kami udah gak ada hubungannya dengan keluarga kakek ku lagi. Kalau dia mau memutuskan hubungan keluarga kami,aku dan papa dengan senang hati akan melakukan nya."
Ucap Dion dengan tatapan mata yang penuh amarah.
"Kamu..."
"Apa??? Keluar dari sini dan jangan kembali lagi. Atau aku gak segan melakukan hal yang buruk."
"Apa gara-gara wanita itu kamu menolak perjodohan ini??"
"Ya dan tidak. Apa kakek ku tahu kalau yang membuat perusahaan memerlukan suntikan dana adalah karena ulah dari keluarga kamu???"
Raut wajah wanita itu sedikit berubah. Dengan penuh amarah wanita itupun keluar dari ruangan Dion. Dion menghempaskan dirinya di kursi.
"Menyebalkan."
"Dion..."
Mendengar namanya disebut, Dion mengalihkan pandangannya ke arah asal suara. Dilihatnya Rania yang ada di depan ruangan tempat istirahat nya.
"Kemarilah."
Ucap Dion dengan nada yang lebih lembut. Jauh berbeda dengan nada bicara sebelumnya. Dengan sedikit enggan, Rania pun menghampiri Dion. Dion menarik Rania hingga terduduk di dalam pangkuan nya. Rania hendak beranjak dari duduknya karena posisinya yang tidak begitu nyaman. Tetapi Dion menahannya supaya tetap berada di pangkuan nya.
"Kamu mau bertanya tentang dia??"
Rania mengaggukkan kepalanya.
"Aku akan ceritakan."
Ucap Dion sambil menyelipkan rambut Rania di belakang telinga nya. Tadinya Rania hendak merebahkan dirinya juga di samping Clarabella. Tetapi kemudian di dengar nya suara ribut-ribut dari arah ruangan kantor Dion. Tidak ingin mengganggu,Rania membuka pintu sedikit dan mendengar dengan jelas semua yang di ucapkan oleh Dion dan wanita yang ada di hadapannya.