Be A Stronger Writer!

Be A Stronger Writer!
Bermalam di tower



Terlihat langit lantai satu di Tower of bable menjadi gelap, dan dingin itu membuktikan saat ini sudah malam. Tower of bable selain penuh dengan monster, disana juga dapat meniru suasana hari.


Ctak! Ctak! Ctak!


Di sana terlihat Alan sedang memukul kedua batu, saat ini dia mencoba membuat api unggun. Alan ingat dalam acara survival api dapat di buat dengan memukul kedua batu agar menciptakan percikan, itu nantinya menjadi api.


"Ini aneh? kenapa di acara survival membuat api sangat mudah? dan nyatanya sulit, tidak ini dari tadi gak berhasil!"


"Sepertinya aku di tipu oleh acara itu, awas saja akan aku tulis komentar pedas untuk mereka nanti saat sudah mencapai lantai 20 tower, pasti!"


Alan bangun dari posisi jongkok, kemudian dengan kesal melempar batu yang di gunakan membuat api ke semak-semak. Setelah itu dia melihat sekelilingnya, di sana terlihat sebuah tenda yang berwarn merah memiliki kesan mengerikan


Tenda itu dibuat oleh Alan sebelumnya, dia menggunakan skillnya untuk membangun tenda dari daging, darah dan tulang yang dia keraskan dengan magic.


"Bagaimana dengan kabar player lainnya? apa mereka mendapat makanan? tower of bable begitu kejam dan licik, walaupun di berikan skill dan poin gratis di hari pertama sih."


"Lalu apa mereka bisa tidur dengan nyenyak? aku sedikit perihatin dengan player yang tidak memiliki skill konstruksi."


Setelah mengatakan itu, Alan masuk kedalam tenda untuk istirahat. Tepat saat dia hendak masuk terdengar suara gemerisik semak, dan sebuah suara orang mengobrol.


Otomatis Alan menoleh untuk melihat siapa orang itu, di sana Alan juga melihat sebuah cahaya dari api obor. Alan menduga mereka adalah para penulis lainnya, dia senang tetapi di saat sama merasa waspada.


Karena dirinya ingat dengan perkataan Dambi, di tempat ini saling bunuh akan menjadi wajar untuk mendapatkan level exp, perlengkapan dan poin atau hal penting lainya.


"Penulis lainnya? apa mereka yang aku kenal? tidak! walaupun aku kenal mereka bisa saja musuh. Coba kamu ingat, ini sudah satu hari di Tower pasti yang lain sudah cukup leveling!"


Seketika itu Alan membuat cakar panjang lagi di tangannya, dia mengambil posisi bersiap untuk menyerang duluan saat ada pergerakan aneh.


"Eh? Om Sloth?"


Suara familiar dari balik bayangan orang yang dianggap musuh oleh Alan membuat sikap siaga menurun, segera Alan menggunakan mutasi pada matanya. Dia melihat player Levy dan Nataline, selain itu ada orang lain yang tidak dikenal.


Dia adalah seorang wanita, memiliki rambut putih panjang dengan mata merah dan kulit putih sedikit pucat seperti salju. Dia memakai pakaian flamboyan bangsawan, di atas kepala terdapat nickname yang Alan kenal tertulis Nama Snow.


'Huh, Snow? apa vampir?' pikir Alan setelah melihat orang itu.


"Bayar pake apa? memang kalian punya poin tower?" tanya Alan.


"Kami punya banyak magic stone, dan bisa tukeran bukan? terus ada baiknya kita buat kelompok untuk malem ini aja." balas Snow.


"Oh, begitu aku paham, coba aku pikir dulu sebentar. Aku gak bisa percaya orang lain kalau ada di tower."


Alan berpikir menerima tawarannya mungkin tidak buruk, mengingat mereka membawa obor dan itu artinya ada kemungkinan salah satu dari mereka memiliki skill berhubungan dengan api.


Dan alasan kenapa Alan ingin membuat api unggun untuk membakar daging buruannya, dia bosan makan daun dan tidak mau makan daging mentah.


"Baiklah, tetapi kalian buatkan api unggun saya mau membakar daging. Nanti baru saya buat tenda untuk kalian, bagaimana?" tanya Alan setelah berpikir.


"Oke, kami terima!" balas Snow.


Gruk! Gruk!


Terdengar gemuruh perut dari Levy, Nataline dan Snow berbunyi, mereka tiba-tiba merasa lapar. Hal itu karena mereka dari tadi pagi belum makan, waktu awal mereka masuk tower adalah pagi dan malam.


Hal itu membuat ketiga wanita di depan Alan malu, mendengar itu Alan tertawa kecil. Dia segera mengeluarkan buruannya dari tenda, itu adalah tiga puluh ekor ikan gemuk yang tidak dikenal namun tidak beracun.


Alan menemukan ikan itu di sungai yang tidak sengaja dia temukan. Awalnya Alan hanya berniat mencari air untuk meringankan rasa pahit di mulut, itu karena dia makan terlalu banyak daun. Alan dapat menemukan sungai karena dia membuat akar tubuhnya, dan di sebarkan keseluruh hutan.


Untuk ikan di sungai, itu adalah murni tidak sengaja dia temukan.


"Terimakasih Om!" ucap mereka bertiga.


"Sama-sama!" balas Alan.


'Di bilang Om, rasanya agak aneh.' pikir Alan.


Setelah berbincang Nataline membuat api dengan menghindari skillnya, dan mereka akhirnya membakar ikan untuk dimakan bersama saat ini.