Be A Stronger Writer!

Be A Stronger Writer!
Nyari ribut



"Eh? Ternyata kalian! Aku kira siapa?"


Tiba-tiba serangan yang begitu mengerikan berhenti, itu tidak bergerak saat mencapai jarak 5 inch. Mereka spontan yang sedang dalam posisi bertahan masing-masing, juga terkejut.


Bukan hanya soal serangan, tetapi juga suara sesuatu yang menyerang mereka. Suaranya terdengar familiar, dan dalam pikiran sama mereka menebak siapa.


"Second?" kata mereka kebetulan sama.


Sesuatu itu bergerak maju memperlihatkan wujudnya, saat ini Second memakai jubah trench panjang berwarna putih.


"Aku kita monster atau semacamnya, ternyata kalian." kata Second berjalan dengan santai.


"Ah iya, maaf." begitu Second mengatakan itu, dia melambaikan tangan.


Dalam sekejap, serangan yang dia buat hancur menjadi debu partikel terbang ke udara terbuka dan menghilang.


"Widih, Second kamu kok bisa menyebabkan serangan ini. Berapa level kamu?" kata Hero membuka percakapan.


"Tidak bisa aku beritahukan, ini informasi pribadi." balas Second dengan datar.


"Ngomong-ngomong apa yang kalian lakukan di tempat ini? Maksudnya disini tidak ada apa-apa?" tanya Second.


"Oh, kata siapa? Tempat ini adalah markas laboratoriumku." kata Alan dia angkat bicara.


Begitu mengatakan hal tersebut. Alan segera melambaikan tangan ke arah atas, seketika tanah di bawah mereka agak bergetar.


Sontak, tentu saja mereka menghindari pijakan saat ini. Saat tepat itu terjadi, sulur akar terbuat dari daging muncul dari tanah.


Tidak lama dari dalam tanah, seperti ada yang menggali sebuah sesuatu yang begitu aneh berukuran raksasa keluar. Mereka tentu saja, terkejut seketika memasuki mode bertarung.


Kecuali Alan, dia tidak terkejut sama sekali karena memang ini adalah laboratorium miliknya.


Sebuah bangunan yang terbuat berbahan dasar organik material, dari tembok sampai atap keseluruhan adalah daging. Yang mana itu membentuk kuncup dari bunga refleesia raksasa.


"Hal apa ini?" tanya Afta.


"Benar, ini apakah monster?" kali ini Second agak terkejut.


Alan melihat mereka terkejut, dia tersenyum senang. Setelah itu ke hadapan mereka, saat ini Alan berdiri membelakangi kuncup bunga raflesia raksasa.


Kemudian sedikit menunduk, setelah itu dia menaruh telapak tangan kanannya di dada kirinya.


"Selamat datang kalian di lab milikku dan ini namanya adalah Belly of the beast!" kata Alan memperkenalkannya.


Tepat setelah itu, Alan bangun dari tempatnya ke posisi berdiri semula. Seketika tembok di belakangnya menggeliat, itu seperti pintu otomatis membuka dengan sendirinya.


...


"Hmm, home sweet home! Wangi mirip bunga melati!" kata Alan dia menghirup udara dari dalam Bely of the beast.


Bletak!


Sebuah bogem keras meninju kepala Alan, orang yang melakukan itu adalah Second dia tidak tahan untuk meninjunya.


"Kepala kau wangi mirip bunga melati!"


"Jelas, ini bau amis muntahan tercampur darah kau bilang harum melati? Memang ada yang salah dengan kepalamu."


Second mencaci Alan habis-habisan, untuk Alan sendiri dia memegangi kepalanya karena masih terasa sama sakit.


Setelah beberapa saat Alan terlihat kesal dia segera menghampiri Second. Kemudian dia menarik kerah pada lehernya, "Dasar sedeng! Kamu pasti level 40 ke atas! Ini sakit!"


Begitu mendapati hal tersebut, Second diam saja dan menatap Alan dengan sedikit tajam namun terasa dingin. Dia sempat sebenarnya juga sempat menggunakan energi bintang.


Tubuhnya seketika dipenuhi aura berwarna putih seperti debu luar angkasa, tepat saat itu Alan melepaskan genggamannya pada kerah leher Second. Karena itu, membakar tangan Alan hingga sedikit meleleh.


"Kamu nyari ribut?" tanya Alan.


Saat ini Alan juga menggunakan skillnya, dia memutasikan punggungnya. Mengeluarkan lima ekor tentakel berwarna merah panjang dengan ujung yang tajam.


Tentakel itu langsung mengancam Second dengan posisi seperti ingin menusuknya kapan saja.


Di sisi lain Afta dan Hero tanpa sadar mereka berpikir pada hal sama. Dalam pikiran mereka cukup kompak pada satu hal seraya berkata, "Sepertinya akan ada pertarungan."


"Ayo di luar, aku sebenarnya juga ingin sedikit mengetes bagiamana dengan player jurusan satu tempat pada waktu sama." Kata Second.


Saat ini Second merujuk pada waktu mereka tiba di dalam Tower of bable. Dia sekarang cukup penasaran dengan perkembangan para player itu. Namun karena beberapa hal orang itu kesulitan mencari mereka.


"Baiklah, mari kita bertarung di luar." balas Alan dia sudah bersiap bertarung. "Tetapi apa perlu kita menggunakan taruhan?" Alan malanjutkan perkataannya.


Mendengar perkataan Alan. Sudut mata kiri Second terangkat seraya berkata, "Bertaruh? Seperti judi?"


"Heh!"


Dia sedikit mendengus dingin, kemudian balik melihat Alan dengan tatapan menghinanya secara terang-terangan.


"Itu tidak baik, jangan ada judi. Karena kalau ada juga aku tidak yakin kamu menang." kata Second sengaja mengejek Alan.


"Oh, serangan mental lewat kata-kata? Orang dengan nickname Second ini beneran hebat juga.' pikir Afta.