Be A Stronger Writer!

Be A Stronger Writer!
Malam yang damai



Nataline tidak dapat membantu itu karena sedang berurusan dengan kawanan gagak atau kelelawar di depannya, dia sedang fokus membuat penghalang api merah membakar mereka untuk menghalau.


"Grr Awo!"


Tepat saat cakar serigala mulai mendekati punggung Snow yang terbuka, tiba-tiba Levy muncul dan menghalau. Hal itu membuatnya di terkam dan tergigit oleh serigala, namun itu tidak melukainya.


"Eh? Levy?" kata Snow dengan terkejut.


Seketika itu Snow terdiam saat menoleh ke arah Levy yang di terkam satu ekor Dirt Wolf yang mengigit leher Levy, itu membuat Snow terkejut sesaat. Setelah terdiam sebentar dia menggunakan skillnya, Snow membentuk cambuk kegelapan yang tajam.


Crat!


Cambuk langsung memotong leher serigala tetapi karena itu dia mulai kelelahan, magic miliknya sudah sangat tipis karena banyak pertarungan.


"Levy, kamu tidak apa-apa?" Snow bertanya dengan khawatir.


"Aku tidak apa-apa! skillku dapat mengurangi kerusakan, walaupun satu tulang bahuku patah. Aku masih dapat bergerak!" balas Levy.


"Jangan bodoh! kamu itu sedang terluka! itu karena sebagian besar serangan monster ada pada kamu."


Setelah membentak Levy wajah Snow terlihat menyesal, dia sedikit menundukkan kepala seperti mau menangis.


"Dan maaf soal debat skill mana lebih kuat, aku mengaku tanpa ada dirimu, pasti kami akan kesulitan saat bertarung." seraya Levy mengulurkan tangan kanannya.


Melihat itu Levy meraih tangannya tersenyum melihat wajah cantik Snow, dia kemudian berdiri dengan bantuan tangan itu. Setelah itu Levy memeluk Snow dengan hangat, Snow yang menyadari pelukan hangat itu balik memeluknya.


"Ladies, bisa tolong aku sebentar? dan jangan ketularan bang Yuri! di tempat ini, ingat kita dalam pertarungan."


Suara Nataline menyadarkan mereka, segera mereka bersiap bertarung bersama dengan lebih kompak. Kadang Snow atau Nataline lelah kehabisan magic, dan itu membuat Levy menggantikan mereka.


Levy bertarung dengan menggunakan skill miliknya untuk menahan, dan memindahkan semua cedera fisik teman dan dirinya. Tidak peduli serangan jenis apa itu bisa di tahan olehnya tanpa ada luka sedikitpun, walaupun bila semua sudah menumpuk maka dia juga akan terluka juga.


"Ugh, seperti tubuhku tidak dapat menahan sering lagi. Aku merasa sudah sampai batas, tidak dapat bergerak lagi!" seraya Levy jatuh ketanah.


Melihat Levy jatuh kedua gadis itu segera mencoba menghampiri, namun saat itu para monster datang pada mereka seperti tidak ada habisnya. Mereka sudah sangat lelah, kehabisan magic, atau juga cedara cukup untuk membuat mereka tidak dapat bergerak.


Di hadapan mereka para monster dengan bergabung jenis mengepung sekitar, Itu membuat mereka bahkan tidak dapat berlari kemapun.


Suara dari dalam tenda Alan terdengar, saat itu Alan akhirnya bangun. Di segala keributan sebelumnya dia tidur seperti patung, tidak ada suara atau gerakan. Hal itu membuat mereka melupakan Alan sesaat, bila ingin kabur juga harus membangun Alan.


Alan segera membuat tirai penutup tenda, dia langsung terkejut bukan main. Sesaat Alan mengucek matanya, dia memastikan apa yang di lihat buka khayalan.


"Apa yang kalian lakukan! kenapa ada begitu banyak monster mendekat?" bentak Alan melihat sekitar.


Mendengar pertanyaan Alan ketiga gadis itu melihat kearah lain, itu seperti mereka tidak ingin menjelaskan keadaan ini adalah salah mereka.


"Lupakan! cepat bantu aku bertarung!" pinta Alan sambil menghela nafas.


"Maaf om, kamu tidak dapat bergerak lagi jadi om kabur saja." kata Levy dengan wajahnya yang pucat.


Alan melihat sekitar lagi dan kemudian ketiga penampilan, disekitar banyak monster yang mengeluarkan mereka seperti bersiap untuk menyantap daging. Untuk penampilan ke tiga gadis itu, mereka terlihat acak acakan dan kelelahan secara mental atau fisik.


Saat ini penampilan mereka tidak beda jauh dengan gadis biasa, dan itu sangat mudah menyerang mereka.


"Lalu bagaimana dengan kalian? ini nyawa kalian paham? sebagai orang yang tepat janji menjadikan kalian tim semalam aku tidak akan ingkar!"


"Oh iya, ini kebetulan kalian tahu aku tadi bermimpi Tokyo ghoul saat tidur, sekarang aku berpikir menggunakan monster sekitar sebagai subjek ekperimen." seraya Alan mulai memasang senyum jahat.


Mendengar apa yang Alan katakan dan juga melihatnya tersenyum, ketiga gadis itu merinding takut, sebelumnya saat chat di grup mereka ingat Alan sering bicara tentang eksperimen, walaupun mereka tahu dia hanya berimajinasi.


Tetapi sekarang berbeda, mereka berpikir sekarang Alan memiliki skill berhubungan dengan oprasi, atau eksperimen sejenisnya.


"Ehehe, hewan kecil kemari sini main sama papa ini asik tahu. Nanti kita main chop and slash bagaiman?" seraya Alan memasang senyum wajah dokter psikopat.


Seakan mengerti apa yang Alan katakan para monster mendadak takut, secara naluriah menjauh dari Alan. Dan untuk Alan terlihat mendekati mereka, dia tidak ingin kehilangan subjek tesnya.


'kikik, serangga rendahan! nikmati semua monster ini! kikik! kamu boleh senang dan sok jadi menakutkan, tapi itu tidak lama kikik!"


Dambi bersembunyi di gelapnya langit tiruan tower of bable, dia terlihat tersenyum dengan tawa menjijikkan. Rupanya kenapa banyak monster yang menyerang tempat Alan bukan hanya karena para gadis berisik, hal itu juga karena campur tangan Dambi.


Musang eksotis itu masih memiliki dendam dengan Alan, saat ini dia sangat ingin membalasnya bahkan dengan cara licik sekalipun