Be A Stronger Writer!

Be A Stronger Writer!
Tidak sesuai pikiran



Ding!


[Selamat kepada para player, kalian telah sampai di lantai 2 tower of bable. Greenland of ruin!]


[Menurut aturan tower of balbe. Player akan mendapatkan 5 potong roti, 5 botol air, 2 heal potion luka tingkat menengah.]


Sebuah notifikasi pemberitahuan dari sistem menara menyambut kedatangan dua orang yang penuh luka bakar, walaupun salah satu pria di sana tidak terluka bakar terlalu parah.


Mereka adalah Afta dan Hero yang baru saja sampai di lantai selanjutnya.


Untuk potion resource yang di dapat oleh mereka, itu langsung muncul dalam bentuk sebuah kantung kecil. Tentu saja Afta yang masih sadar dia mengambil keduanya, karena Hero walaupun masih berdiri dia sebenarnya sudah pingsan.


"Akhirnya kita sampai! Ini bagus selanjutnya- eh? Kenapa disana begitu ramai?" seraya Afta mendengar suara orang di sekitarnya.


Penasaran Afta memilih menoleh dia melihat ada 5 orang player sedang berbaris, di depan mereka terdapat stan penjualan barang dan seorang pria dengan gaya pakaian serba hitam sangat tertutup.


Apa yang ada di sana terlihat meja besar dengan berjajar aneka senjata tajam baik itu pisau, pedang, kapak, tombak dalam jenis yang berbeda. Selain itu juga ada potion obat atau potion magic dan beberapa bahan makanan seperti roti juga daging.


'Apa dia adalah penjual di tower?' pikir Afta saat itu.


"Tidak penting! Sekarang lebih penting adalah mengobati luka ini dahulu. Oh ya, sebelumnya aku ingat hadiah naik lantai adalah potion apa bisa menyembuhkan luka bakar?"


Setelah mengatakan itu, Afta menganguk dan mengambil potion dari karung kecil yang dia dapatkan.


Potion itu memiliki wadah seperti tabung reaksi kimia, diatasnya terdapat sebuah tutup terbuat dari kayu warna cairan penyembuh itu adalah merah seperti darah.


Afta melihat potion terdiam sebentar, setelah itu baru kemudian meminumnya.


Dalam sekejap seluruh luka bakar di sekujur tubuh mengeluarkan asap merah, secara perlahan luka bakar menciut dan kemudian hilang tanpa jejak.


"Luka bakar ini sudah pulih!" seraya Afta dengan senang.


Setelah itu Afta menengok ke arah Hero yang berdiri diam, dia memperhatikan mulut Hero yang sedang berdiri diam.


'Kalau aku kasih minum potion pasti tidak sia tidak akan meminumnya, karena saat ini dia sedang pingsan.'


'Bisa bergerak juga karena aku kendalikan.'


Saat ini Afta dalam dilema untuk mengobati rekan barunya, dia emang orang kejam, tidak punya perasaan dan manipulatif. Walaupun begitu dia bukan orang yang ingkar janji atau menusuk orang dari belakang, setidaknya ini hal baik dari sifatnya.


"Sepertinya tidak ada pilihan!"


Berpikir sejenak, dia berjalan menghampiri Hero yang pingsan dalam kondisi berdiri. Sambil berjalan Afta meyiapkan potion penyembuh di tangan kanannya yang sudah di buka.


Begitu sudah sampai di hadapan Hero, dia tersenyum. Tidak sengaja apa yang hendak di lakukan Afta dilihat Player di sekitar, mereka mulai berpikir macam-macam.


'Apa yang mau mereka lakukan?' pikir salah satu Player.


'Wah, sepertinya akan ada adegan gak normal di sini.' seru pikiran lain player.


Tetapi apa yang mereka pikirkan tidak sesuai realita, karena begitu sampai di hadapan Hero dengan kejamnya Afta menjejalkan sebotol potion.


Dia terus mendorong wadah panjang yang mirip tabung reaksi kimia kedalam mulutnya, atau bisa kalian katakan dengan sangat baik hati menyuapi Hero sebotol potion hingga sampai ke kerongkongan.


Sangat baik bukan? Dengan begitu Hero tidak punya alasan untuk memuntahkan potion yang di berikan Afta.


Tepat saat itu reaksi player sekitar bergidik takut, empat kata mereka katakan secara serampak, "Pria itu sangat kejam!"


Setelah menenggak potion sampai habis, luka bakar di sekujur tubuh Hero tetap tidak pulih.


"Aneh, kok tidak pulih? apa yang sebenarnya terjadi? ini diluar penalaranku." seraya Afta memegang dagunya.


"Eh, player itu apa kamu Afta dan yang satu pasti Hero!"


Sebuah suara pria terdengar, itu membuat Afta menoleh ke asalnya. Disana Afta melihat sesosok pria berambut panjang hitam, dia memiliki kulit pucat dan memakai pakaian jas dokter dengan darah di area bawahnya.


Afta melihat ke arah kepala pria itu, di sana terdapat nickname Lazy Sloth.


Hm? Kamu Lazy?" tanya Afta.


"Benar aku Lazy! Selamat kalian sudah sampai lantai dua, pasti repot bukan melawan bos kuatnya gak ngotak!"


Mendapati perkataan Lazy membuat Afta diam dia berpikir, dalam pikiran berkata. 'Apa player level tinggi sebelumnya adalah bos lantai? tidak mungkin bukan.'


"Ada apa? Kenapa diam saja? dan kenapa aku merasa Hero aneh? Dia tidak sadarkan diri?" tanya Alan memulai percakapan.


"Oh, itu karena aku menggunakan manipulasi tubuh karena dia tidak dapat bergerak." balas Afta dengan santai.


"Lalu kenapa pakaian bawahmu seperti ada darah, kamu habis ngapain? Lalu apa yang ingin kamu lakukan di sini" Afta melirik pakain bagian bawah Alan yang berlumuran darah segar.


Mendengar perkataan Afta yang pertama Alan terdiam beberapa saat, dia berpikir Afta bukan orang baik.


'Dia ada yang salah, tapi gak bisa aku ungkap sekarang. Bisa saja dia langsung menyerang, pasti!' pikir Alan.


Setelah menenangkan pikiran, Alan baru mulai angkat bicara.


"Oh, ini darah orang lain jangan risau biasa habis sedikit pembedahan lupa bersihkan pakaian."


"Untuk kenapa aku di sini karena alkohol, rifanol dan botol infus sudah habis. Jadi aku ingin beli di merchant."


'Aku gak bisa bilang ini bekas darah player bodoh, entah aku tidak paham apa yang di pikirkan olehnya. Muncul kemudian memakan hewan ekperimen yang bermutasi.'


'Aku harus mencegah itu terjadi.' camkan kata itu dalam benak Alan.


Selagi Alan fokus pada pikiran, Afta mulai menatap Alan tidak biasa dalam bidang orang gila. Sebenarnya Afta mendengar itu terkejut sesaat, tapi karena skill (Melacony) dia bisa dengan cepat menyesuaikan diri mengikuti alur agar tidak panik.


'Sepertinya Lazy berbahaya!' pikir Afta.


Yap, seperti yang kalian duga permasalahan salah paham tindakan mereka dimulai.