Be A Stronger Writer!

Be A Stronger Writer!
Melanjutkan proyek



"Ini sudah lebih dari beberapa hari, sejak lebih dari ratusan kali menggunakan monster lantai pertama sebagai bahan eksperimen!"


"Semuanya sangat buntu, ini menyebalkan apa sebaiknya memanjat ke lantai yang lebih tinggi? mungkin aku dapat subjek bagus!"


Terlihat Alan berada di dalam Bely of the beast sebuah bangunan yang terbuat dari organik material, dari tembok sampai atap keseluruhan adalah daging yang membentuk bunga refleesia.


Saat ini Alan tidak sadar bahwa sedang di incar oleh hewan eksotis Dambi, orang ini malah sibuk dengan eksperimennya, entah karena tidak peduli atau memang sudah terpengaruh oleh skill-nya.


Yang jelas dari semua itu, dia seperti tidak peduli bisa kembali ke dunia asal atau tidak karena kebanyakan player satu angkatan dengannya. Mereka sudah bersusah-susah payah, mati-matian melakukan leveling untuk dapat mudah saat naik lantai lebih tinggi.


"Kayaknya benar, saya harus naik lantai lebih tinggi mungkin dapat beberapa subjek tes eksperimen baru!" seraya Alan memantapkan tujuannya kali ini.


"Status!"


_________________________________________


Nama : Lazy sloth


Ras : Manusia


Level : 19


Title : [Mad doctors science]


Job :


Skill : [Body of mutation lv3] [Bely of the beast lv2]


Stg : 36 (+5)


Vit : 50 (+10)


Def : 23 (+5)


Agi : 22 (+5)


Int : 22 (+20)


Free poin : 0


________________________________________


Setelah memperhatikan beberapa saat Alan menggangguk, dia sedikit tersenyum.


"Baiklah! mari tantang bos lantai pertama!"


Alan sudah memutuskan untuk naik ke lantai selanjutnya, dia berjalan ke pertengahan hutan tempat Gigant Serpent bos lantai 1 berada. Di sepanjang jalan Alan berpikir monster jenis apa yang akan dia temui nantinya, juga berpikir jenis DNA dan gen menarik dari para monster tersebut.


Tidak lama bersalang setelah menempuh perjalanan agak lama, Alan hampir sampai di pertengahan hutan. Karena memang letak Bely of the beast yang Alan bangun agak sedikit lebih jauh dari pertengahan hutan.


Namun tidak berselisih waktu lama berjalan Alan melihat seorang pria, dia memiliki warna rambut putih dengan biru di ujungnya. Pria itu memakai kemeja panjang berwarna putih tercampur dengan biru bergaris dan celana panjang berwarna biru, tepat di atas kepala terlihat nickname yang Alan kenal. Tertulis Yu Chen.


Tepat Alan mengatakan itu Yu Chen menoleh merasakan kehadiran sesuatu yang berjalan mendekat, itu karena Level dia sekarang sudah lebih tinggi. Sebagian juga karena skill merasakan sesuatu menjadi terasah dengan sangat baik, walaupun dia tidak memiliki skill ini di status. Ini seperti insting bertahan hidup di tengah hutan dengan memiliki monster.


"Oh, Lazy! ternyata itu kamu! aku kira serigala bikin kaget aja." seraya Yu Chen mengelus dada sambil menghela nafas.


Setelah berjalan beberapa saat Alan sampai di dekat Yu Chen.


"Kamu memang mau kemana? apa hendak mengalahkan bos menara lantai satu?" tanya Yu Chen.


"Benar, ini untuk proyek penelitian lanjutanku karena aku merasa buntu di lantai satu mungkin bila mendaki lebih tinggi akan akan menemukan spesimen bagus!" jawab Alan seakan dia tidak punya masalah.


Untuk Yu Chen setelah Alan menjawab hal itu dia menatapnya dengan agak aneh, wajahnya seperti orang mual matanya menunjukkan respon seakan lawan bicaranya ilmuan gila. Hal itu tidak sengaja dilihat oleh Alan.


"Ada apa menatapku begitu?" kata Alan tidak sengaja melihat tatapan aneh Yu Chen.


Seketika Yu Chen mengalihkan sorot matanya ke arah berlawanan.


"Bukan apa-apa, ngomong-ngomong kita sudah sampai di sarang Gigant Serpent, mau berburu bersama? agar lebih cepat?" seraya Yu Chen mengalihkan topik pembicaraan.


'Kamu pikir aku bodoh, sengaja mengalihkan pandangan dan bertanya topik lain? terlalu pasaran.' kata Alan di dalan pikiran.


'Tetapi biarlah, mau berpikir macam apapun aku tidak peduli juga. Selama dia gak berbuat macam-macem dan mencoba membunuhku duluan.' lanjut Alan kata Alan dalam pikiran.


Tetapi karena Alan tenggelam di pikirannya membuat Yu Chen sedikit waspada, berpikir Alan saat ini pasti berpikir menjebak dia agar tewas dan merampas expnya.


"Lazy?"


"Oi, lazy? kamu dengar aku?"


"Ah maaf, hanya terlalut dalam pikiran!" balas Alan tersadar tiba-tiba.


'Terlalut pikiran? sepertinya benar! tetapi aku gak boleh menunjukkan ekspresi tahu, kalau tidak ini akan berbahaya!'


'Menurut komik atau novel yang aku baca sebelumnya kebanyakan karakter kalau tahu suatu kebenaran pasti akan menyembunyikan sebaik mungkin, akan aku coba.'


Dan hal sebaliknya berputar, kali ini Yu Chen yang tenggelam di dalam pikirannya. Hal ini membuat Alan berpikir lebih waspada, dia tidak menyangka Yu Chen berniat melakukan serangan pada dirinya.


'Sial, orang ini berpikir membunuhku apa sebaiknya aku tegur?' pikir Alan mengamati mata Yu Chen secara diam-diam.


'Tidak! jangan gegabah harus tenang!' Alan dalam pikiran secara tidak sengaja menghela nafasnya.


Tidak sengaja Yu Chen mendengar Alan menghela nafas, dia mendadak panik wajah dia menjadi berkeringat dingin di kepalanya.


Dalam sekejap Yu Chen memperhatikan Alan begitupun sebaliknya Alan juga langsung menoleh memperhatikan Yu Chen. Di sana mereka terdiam beberapa saat, dan entah kenapa mata mereka seperti mengeluarkan petir saling bertabrakan.


Bayangan di punggung Alan terlihat seperti mahluk aneh dengan banyak tentakel yang memiliki mata serta mulut bergigi tajam, dan untuk punggung Yu Chen seperti malaikat mamakai armor putih dan sayap putih.


Keduanya saling menatap satu sama lainnya dengan pandangan curiga.


'Orang ini berbahaya!' kata mereka dalam pikiran.