
Lantai kedua tower of bable, bagian barat hutan. Terlihat seorang pria memakai baju era abad pertengahan Berbah kain, itu berwarna putih seperti kemeja dengan celana coklat.
Di sekitar pinggang terdapat pedang memiliki dua bilah mata, dan itu berwarna emas juga termasuk dengan sarung serta pegangannya.
Pria itu memiliki wajah seperti pria berusia 20 tahun, dia terlihat sangat tampan dan juga memiliki rambut pendek berwarna platinum putih yang memiliki ujung sedikit tajam.
Saat ini pria tersebut melihat sekitar sambil berjalan mencari seseorang. Dan juga disisi lain dia mengingat kejadian sebelum dirinya datang ke menara lantai kedua.
(Lancelot, aku merasa agak khawatir dengan keadaan Galahad karena sifatnya, aku mau kamu mengawasinya.)
(Baik, yang mulia Arthur. Saya mengerti apa yang Anda khawatirkan, saya juga turut sedih dengan apa yang menimpa Galahad di masa lalu dan itu alasan kenapa di menjadi bengkok pada prinsipnya.)
Setelah mengingat sebentar, dia terdiam dan merenung bersandar di dekat pohon.
"Karena aku tidak memiliki item token menara terpaksa harus lewat jalur tertentu, dan itu juga hanya mengantar ke lantai kedua."
"Lantai pertama tutorial tidak boleh di datangi oleh player level tinggi, dan juga walaupun di lantai kedua bisa di datangi player manapun ini tetap memiliki batasan."
"Status fisik dan skill akan di batasi setara dengan level lima puluh, berbeda dengan orang yang memiliki token menara karena batasan mereka dilepaskan."
"Walaupun itu melanggar aturan dan itu sangat berbahaya. Aku hanya berharap Galahad tidak kenapa-kenapa."
Setelah selesai merenung Lancelot menghela nafas dan dia kembali pada pencariannya, dia mencari player yang di maksud Dambi dan itu adalah kesepakatan. Dimana mereka berjanji akan akan menghabisi para player tersebut dan Dambi akan memberikan imbalan yang mereka inginkan.
...
Blarr
Sebuah jilatan api memanjang mengarah ke pada Afta dan Hero, mereka terlihat sangat panik. Wajah mereka berkeringat dingin karena hal tersebut, mereka tidak menyangka akan di temukan secepat ini.
"Sial, kampret apa kita ketahuan!" seraya Afta menggertakan giginya.
"Begitu keberadaan kita ketahuan langsung ada serangan begitu anjir, itu player sangat bar-bar!" Hero melanjutkan perkataan Afta.
Setelah berbincang seperti itu di tengah bahaya yang mendekat, mereka langsung serius. Pertama Afta dia menggunakan maju seperti berniat menggunakan skillnya.
"Hero, aku maju duluan untuk menggunakan skill!" seraya Afta sedikit melirik ke arah Hero di sebelahnya.
"Kamu gila? Bukankah itu cari mati? Pasti ada yang salah dengan kepalamu!" balas Hero sambil melihat serangan api mulai mendekat.
Tidak banyak basa-basi lagi Afta nekat maju di depan Hero, dia menarik nafas panjang kemudian menahan sebenarnya.
"Lenyap!" teriak Afta dengan seluruh nafas.
Saat itu suaranya seperti tercampur pengeras suara, dan itu sedang terdistorsi menggema di seluruh hutan. Tetapi karena hal itu jilatan api berbentuk vertikal yang meluas menjadi sedikit mengecil. Walaupun begitu masih belum cukup untuk menghentikannya.
"Uhuk-uhuk! Ugh! Rasanya dadaku sesak!" seraya Afta terjatuh dan batuk gara gara efek balik dari skillnya.
"Animafication."
Hero mengaktifkan skill ultimate dari Anima domain, seketika itu sekujur pakaiannya di tubuhnya menjadi berbulu putih lebat seperti miliknya hewan.
Di pipinya terdapat dua buah garis seperti kumis pada hewan dan kedua pupil matanya menjadi runcing berwarna coklat seperti hewan buas.
Saat itu Hero maju di depan Afta berniat melindunginya, dia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai menahan serangan api itu.
"Sial, karena perjanjian kita. Aku juga terkena imbasnya! Pastikan nanti saat mencapai zona lantai 5 traktir aku makanan enak!"
Selagi dalam bahaya tidak tahu dapat hidup atau mati, Hero masih sempat membicarakan makanan. Dan respon Afta pada perkataan Hero adalah pandangan dingin, dia juga ingin sekali menendang kepalanya.
'Orang ini rada-rada emang!' kata Afta dalam benaknya dia mengejek Hero.
Tidak butuh lama, akhirnya api sudah ada di depan mereka. Itu langsung membakar tubuh Hero duluan karena dia yang paling depan, dan secara tidak langsung membakar tubuh Afta.
"Aaah, sialan! Dasar tidak ada adab!" teriak Afta karena apa yang dia rasakan.
"Emang kampret! Itu Player dia sangat kurang kerjaan turun ke lantai satu, dan seenak jidat membantai segalanya."
"Aku kutuk dia mandul tujuh turunan!" teriak Hero sambil merasakan panas.
Sembari menjerit merasakan panas dari api masih sempat bagi Hero mengejek, memang sepertinya orang itu memiliki kebiasaan unik saat dalam pertempuran.
Tidak berselang akhirnya api sudah selesai membakar semua daerah itu, disana terlihat Hero berdiri dengan terhuyung tubuhnya habis terpanggang. Pakaian yang dia kenakan gosok menjadi hitam rusak, kulit di sekujur tubuhnya menjadi melepuh.
Untuk Afta dia tidak terlalu terkena imbasnya karena di lindungi, Hero tetapi tidak menutup kemungkinan dia tidak kena. Pasalnya dirinya juga terbakar, tetapi tidak banyak luka bakar yang ada pada tubuhnya.
Walaupun pakainya agak hancur terbakar sudah seperti kain lap.
"Sialan, panas banget gila!" seraya Afta mulai merasakan sakit di sekujur tubuh.
Bruk!
Selagi Afta sibuk memperhatikan luka bakar di sekujur tubuhnya, tiba-tiba Hero terjatuh tidak sadarkan diri. Orang itu jatuh dengan posisi wajah duluan menghantam tanah.
"Hero? Dia terbakar hidup-hidup baunya enak kayak hewan panggang." Afta melihat Hero tidak sengaja menium bau hewan panggang.
"Tidak bukan ini masalahnya!" seraya Afta memegang wajahnya.
"Hee, kalian cukup kuat juga bisa menahan api milikku. Aku agak sedikit terkejut dan penasaran bagaimana kita coba lagi?"
Sesosok yang tidak di tunggu dan diharapkan juga sosok yang seenaknya membantai seluruh Player writer yang tersisa muncul.
'Cih, biang keladinya muncul kasus emang ini beneran! Hero mengutuk dia mandul emang gak salah.' gerutu Afta dalam pikiran.