
"Eh! kamu siapa?"
"Jadi saya benar kamu Lazy sloth! apa Kamu juga mendapatkan notifikasi aneh sialan itu, tapi ngomong-ngomong ini dimana?" tanya orang itu.
"Lah, mana saya tahu! sebetulnya kamu siapa sih? kok manggil saya begitu?" seraya Alan dengan sedikit kesal.
"Woi, kamu lupa? atau gak konek? coba liat di atas kepala ada apa?" kembali orang itu membalas perkataannya.
Mendengar apa yang orang itu katakan, Alan menengok ke atas kepalanya. Dia kembali tersadar dan ingat, karena sibuk memikirkan sesuatu Alan jadi melupakan beberapa hal sebelum.
Hal itu sudah menjadi kebiasaan Alan, dia asik memikirkan sesuatu namun nantinya akan lupa hal lainnya. Memang bisa kembali namun itu membutuhkan waktu beberapa saat dan sebuah pemicunya.
"Ayano? kamu nickname Ayano? serius?"
"Tuh sadar, jadi ini dimana?" kembali Ayano bertanya kepada Alan.
"Oh, ini saya tidak tahu kenapa nanya saya? coba tanya aja yang lain." balas Alan dengan sangat santai.
"Kalo begitu saya tanya siapa?" seraya Ayano melihat Alan dengan datar.
Alan menggunakan jari telunjuknya ke arah seseorang di dekat mereka, dia memiliki penampilan fisik tinggi seperti atletis dengan rambut hitam pendek dan pupil mata hitam, selain itu juga wajah terlihat cukup tampan.
Dia juga memakai pakaian kemeja dengan warna putih polos dengan lengan panjang dan celana hitam panjang hitam.
"Itu, tanya aja Second mungkin dia tahu." seraya Alan menunjuk pada Second di dekat mereka.
"Oh, oke saya paham!" balas Ayano.
Setelah menjawab Alan. Ayano diam saja dan kembali melihat sekitar, dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Sebenarnya dia sangat ingin bertanya, namun tidak ada seorangpun yang dapat di tanyakan.
"Oi, kok malah liat sekitar kamu gak bertanya kepada Second?" tanya Alan melihat Ayano dengan Heran.
"Males."
Mendengar perkataan Ayano yang datar membuat Alan sedikit kesal, dia menepuk pundak Ayano dengan sedikit keras walaupun tidak terasa sakit, itu hanya berbunyi nyaring saja.
"Lantas, kenapa anda bertanya pada saya yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi?"
"Woi, ada apa kok ngomongin saya?" tanya orang yang cukup dekat dengan mereka.
Dia adalah orang yang di tunjuk oleh Alan sebelumnya untuk Ayano bila ingin bertanya sesuatu. Tentu saja dia adalah Second, orang itu merasa ada yang membicarakan dirinya di belakangnya, untuk Second sendiri yang jarak mereka cukup dekat dengan mereka tentunya dapat mendengar apa atau siapa yang di bicarakan.
Second sendiri mendengar pembicaraan mereka bukan maksud menguping, tetapi memang tidak sengaja mendengar apa yang mereka katakan. Dan lebih penting sebagian lainnya dia sedikit jengkel dengan dirinya yang jadi bahan gosip.
"Ayano itu orangnya udah datang gak jadi bertanya?" seraya Alan menepuk pundak Ayano.
"Gak. Saya gak jadi!" balas Ayano.
"Apaan sih, gak jelas kalian."
Setelah Second mengutarakan pikirannya langit menjadi gelap seperti malam yang memang sedari awal, sebuah kilatan indah seperti bunga pada langit terlihat di sana itu diikuti suara ledakan, suara ledakan terdengar seperti sebuah petasan yang menyambut tahun baru.
Otomatis setiap orang yang sibuk pada diri mereka masing-masing, atau mengobrol satu sama lainnya menoleh ke arah langit, mereka semua termasuk Alan melihat langit yang sama.
"Kenapa jadi malam? dan kok ada petasan? yang membuat setingan sangat tidak jelas, sungguh ini membuatku malas!" Kata Second dengan kesal.
Tiba tiba sosok musang dengan warna bulu coklak dan memakai dasi kupu-kupu muncul melayang di langit, kedatangannya membuat langit yang tadinya malam dan petasan yang tadinya meledak di langit menghilang.
Semuanya menghilang seperti tidak terjadi apapun, entah itu petasan kembang api dan siang yang menjadi malam atau sebaliknya malam menjadi siang.
"Selamat datang para penulis terhormat! saya Dambi, saya sebagai perwakilan menyambut kalian dan menjadi pemandu di tempat ini."
"Ah, benar saya hampir lupa kalian telah di undang menjadi peserta Tower of bable, yaitu sebuah menara di dimensi lain."
"Di sini kalian bisa mendapatkan kekuatan, kekuasaan, dan muncul kehidupan yang sangat panjang. Tetapi anda sekalian harus berjuang keras mendapatkannya."
"Tentu saja semua ini memiliki resiko tinggi adalah hidup kalian, maksudnya bila kalian ingin sesuatu seperti yang saya sebut bisa saja tewas di awal jalan."
"Bagaimana? anda tertarik?"
Setelah semua orang mndengar penjelasan dari musang yang menyebut dirinya Dambi dengan pekerjaan sebagai pemandu mereka semua terdiam, untuk musang si itumusang yang melihat ekspresi diam mereka menjadi senang.
'Kikik, bagus putus asalah kalian karena ini sangat menyenangkan melihat kalian seperti ulat yang berjuang.' benak Dambi.