
Tower of bable, lantai ke 5 : Forest of ruin.
Tepatnya sebuah kota persinggahan pertama para player level bawah, atau maupun player baru.
Di ruangan kamar gelap dengan lilin putih sebagai penerangan remang, di atas kasur tidur. Terlihat Ryan dengan nafas tersengal, dia sambil menutupi mata kirinya dengan tangan kanan.
Tubuhnya penuh luka sayatan robek cukup mengerikan, bajunya kini penuh warna merah darah dan compang-camping.
Manusia normal tidak akan bisa bertahan dalam kondisi mengerikan itu, namun hal ini berbeda dengan player. Luka seperti yang seperti ini masih dapat meraka tahan, walau hanya untuk beberapa saat.
Tes!
Selain bajunya, setetes demi setetes sesuatu mengalir melewati pipinya dan menetes ke lantai, membuat itu sedikit menggenang.
Bila cahaya lilin sedikit di arahkan ke tempat cairan itu menetes, terlihat itu memiliki warna merah kental.
"Ugh!" sambil mengeluh karena sakit, Ryan mengeluarkan cube ivantaris.
Dia memasukkan tangan pada lubang di atasnya, kemudian dia mengeluarkan Elexir dari tempat itu.
Ryan dengan pandangan rabun mengambil Elexir kemudian meminumnya, sekejap luka di sekujur tubuh sedikit bercahaya dan tidak lama sudah sembuh total.
Namun, walaupun sudah sembuh matanya tidak pulih. Itu meninggalkan lubang pada mata kirinya.
Disaat itu Ryan bingung, dia sejenak kembali berpikir. Mencoba mengingat informasi yang sebelumnya.
(Skillku bernama Absolute fake, sepertinya ini bertentangan dengan milikmu.)
"Absolute fake, jenis skill ini? apa mungkin bisa meniadakan beberapa hal?" gumam Ryan setelah mengingatnya.
Setelah bergumam Ryan menghela nafas kemudian berbaring pada kasurnya seraya berkata, "Yang jelas elexir, tidak berpengaruh pada luka ini!"
"Kalau saja aku tidak menggunakan scroll teleportasi, sudah di pastikan bukan hanya kehilangan mata." kata Ryan.
Setelah itu wajahnya menjadi serius seraya berkata, "Tetapi juga nyawa!"
Kembali selintas pikiran Ryan mengingat penampilan Player yang menyerangnya, dia menjadi bingung.
"Siapa sebenarnya player level tinggi itu?"
Player yang dia ingat, seorang pria memiliki rambut merah acak dengan baju putih dan jubah coklat. Dia menggunakan pedang perak dan langsung menyerangnya tidak sempat menggunakan Eye of truth atau foresight.
"Karena level orang itu seperrinya sangat tinggi, aku tidak dapat melihat statusnya yang pasti dia sempat mengatakan namanya."
Setelah mengatakan itu Ryan bangun dari tempat tidur, dia menaruh tangan kanannya di dagu seraya berkata, "Kalau tidak salah namanya Tristan."
"Nama ini mengingatkanku pada 12 kesatria meja bundar." pikir Ryan sekaligi. "Tidak lebih penting sebaiknya aku mencoba mencari cara mengobati mata ini."
Ryan turun dari ranjang tidurnya, kemudian pergi ke lemari pakaian. Dia mengganti baju compang-camping dan celana kotor karena darah.
Setelah itu, Ryan membuka statusnya saat ini.
_________________________________________
Nama : Ryan
Ras : Manusia
Level : 50
Job :
Skill : [Eye Of Truth lv9 (max)] [Silent Flower Dance lv4] [Magic control Lv1] [Foresight lv1]
...
Stg : 62 (+10)
Vit : 62 (+10)
Def : 61 (+10)
Agi : 70 (+15)
Int : 85 (+10)
Free poin : 5
________________________________________
"Kalau aku sekuat ini saja kalah, pastinya level player itu sangat mengerikan." gumam Ryan sambil pergi berjalan ke arah pintu keluar.
Membukanya, Ryan pergi keluar mencari cara mengembalikan mata kirinya yang buta permanen.
***
Lantai kedua tower of bable.
Terlihat Alan, Afta, dan Hero berjalan bersama di jalan setapak hutan. Sambil berjalan Afta tidak melepaskan fokusnya, dia menatap Alan dengan penuh kehati-hatian.
Apa yang di lakukan Afta seperti melihat orang gila, dan saat ini dia seperti bersiap akan terjadi hal buruk.
Untuk Alan, tentu saja tidak sadar. Karena merasa rencananya sudah sukses, tentang dia menakuti Afta dan Hero dengan level dan kekuatannya.
Kemudian Hero, dia melihat Afta seperti itu tidak mengerti maksudnya. Yang jelas Hero tidak mau ambil pusing, selama dia sudah sehat itu artinya dia berhutang dengan Alan.
Tidak lama berselang, tiba-tiba suara sebuah suara seseorang marah terdengar. Seketika itu mereka bersiap menggunakan skill, Alan memutasikan tangan menjadi pedang panjang terbuat dari daging.
Hero segera memasuki mode animafication, seketika muncul pakaian jubah putih. Pupil matanya berubah menjadi seperti binatang buas menatap mangsanya.
Afta yang semula melihat Alan dengan fokus dia sekarang mengabaikannya, insting dalam dirinya mengatakan ada sesuatu yang lebih kuat di depannya.
Mereka memutuskan berjalan perlahan untuk mendekati, namun seketika sebuah gumpalan energi berwarna putih menyerang mereka.
Dari asalnya itu dari sesuatu yang dimaksud. Tentu saja mereka menghindari, dalam pikir mereka terlintas satu hal sama, 'Sepertinya kita ketahuan!'
Boom!
Gumpalan energi memang berhasil mereka hindari, tetapi dampak yang dihasilkan sangat gila. Pepohonan, tanah dan rerumputan yang di belakang mereka, hangus terbakar tanpa sisa sedikitpun.
Begitu mengerikan, itu menjadi kesan mereka terhadap sesuatu yang menyerang mereka.
Namun, sesuatu itu tidak berhenti sampai di sana. Serangan lain dilancarkan, kali ini lebih besar dan itu berjumlah tiga. Secara tepat itu mengincar mereka, seperti punya pikiran.
Serangan itu berbentuk seperti laser dengan warna putih yang memanjang, itu sangatlah besar dan untuk mereka tentunya kali ini sulit dihindari.