
"Huh, nickname ini apa kamu Levy?" seraya Alan melihat nickname di atas kepala Levy.
"Iya, halo Om!"
Selain melihat Levy dia juga melihat orang di sebelahnya, rupanya Levy mendatangi Alan tidak sendiri dia bersama temannya. Itu apa yang Alan spekulasi, karena menurut pengamatan dia saat di grup ada dua orang yang sering mengobrol dengan akrab.
Nama nickname itu adalah Nataline, dia memiliki penampilan gadis berambut panjang sepunggung dengan warna krem, tingginya serupa dengan Levy dia juga memiliki wajah cukup cantik. Gadis itu mengenakan kemeja putih yang di tutup dengan jaket berwarna krem, dan memakai rok sepanjang lutut berwarna coklat.
"Oh, apa kalian memang selalu akrab ya?" tanya Alan melihat Levy dan Nataline.
"Hehe, gak juga sih om! saya sama Nataline akrab karena emang kenal, dan juga memang temen di lingkungan rumah." balas Levy.
"Tetapi kita sepertinya gak bisa pulang ke rumah dalam waktu dekat, karena menurut informasi tower of bable. Untuk bisa pulang pergil ke dunia asal harus mencapai lantai ke dua puluh." Nataline dengan raut wajah sedih.
"Dan juga seiring kita memanjat menara ini lawan akan semakin sulit, tentu saja kami bahkan tidak tahu apa bisa sampai ke lantai 20." kali ini Levy menjadi sedih mengikuti Nataline yang memang juga sedih.
"Sudahlah, jangan sedih walaupun tidak dapat ke lantai 20 dalam waktu dekat kamu ingat ada informasi perbedaan besar di tower dan dunia asal?" tanya Alan dia melakukan ini untuk merubah topik pembicaraan.
"Iya, Om Sloth benar! perbedaan waktu di sini sangat besar! satu hari sama dengan satu menit di dunia asal." balas Levy mengusap air matanya.
Tepat itu terjadi Dambi kembali muncul dan dia terlihat terbang di atas langit, mahluk eksotis ini sebelumnya hilang dan sekarang kembali muncul.
"Halo, penulis sekalian! saya Dambi ingin mengambil beberapa data berapa banyak player dan juga memberikan pemberitahuan."
"Sepertinya hanya ada 30 player ini sangat sedikit, tetapi gak apa-apa! player sekalian mulai dalam waktu 20 menit lagi zona sekitar akan menjadi merah."
"Kalian tahu artinya bukan? dan oh iya di sini kalian boleh kok saling bunuh untuk exp atau merampas peralatan orang lain."
"Dan itu saja, saya Dambi akan kembali pergi selamat menikmati!"
Sekejap Dambi kembali hilang seperti asap di tiup angin, tetapi perkataan dia tentang saling bunuh membuat mata para player seperti hewan buas. Mereka saling mengawasi satu sama lainnya, entah itu sikap waspada atau takut dengan yang lain.
"Kikik, yang tadinya adalah teman sekarang adalah musuh. Ini menyenangkan untuk di lihat, Kikik!" kata Dambi.
Slash!
Tiba-tiba seorang pria memotong pohon yang Dambi gunakan untuk sembunyi, dan akibat itu pohon menjadi tumbang jatuh ke arah kiri pria itu. Beruntung penyamaran Dambi tidak hilang dia masih tidak terlihat, namum dia tertimpa pohon.
Selain itu Dambi juga menjadi pusing karena kepalanya sempat terbentur sesuatu secara tidak sengaja.
Alan dan yang lainnya melihat pria itu dia memiliki penampilan dari atas sampai bawah sangat sederhana. Wajahnya tidak ganteng atau jelek dia memiliki rambut hitam pendek, pakaiannya adalah kemeja hitam dan celana hitam. Di atas kepalanya terlihat nickname yang Alan kenal, itu adalah Ryan.
"Sialan, dasar sialan! kenapa harus sekarang dan kenpa tidak besok? aku ada date dengan pacar besok pagi!" kata Ryan dengan kesal.
Karena apa yang di lakukan Ryan secara tidak sengaja membuat tatapan pemburu penulis menjadi hilang, dan mereka melihat kearah Ryanyang sedang kesal.
Ryan memotong pohon hanya karena kesal, dia tidak tahu ada Dambi di sana sedang sembunyi. Dia menebas pohon itu hanya menggunakan sebuah cutter secara tidak sengaja dia terbawa sebelumnya. Dia dapat dengan mudah menebasnya karena skill yang di dapat.
'Untung saja saya punya skill ini.' pikir Ryan melirik layar informasi skill yang belum dia tutup.
_________________________________________
[Eye of truth lv1]
Deskripsi :
Pengguna dapat melihat kebenaran apapun termasuk status lawan, ini memiliki atribut lain yaitu melihat kelebihan dan kelemahan musuh.
Semakin tinggi level lawan akan mustahil untuk di lihat batas 3 level ke atas. Untuk mengaktifkan skill ini, penggunaan magic jumlah besar di perlukan.
_________________________________________
'Skill ini memang sangat kuat, tetapi punya batasan tidak dapat melihat kelemahan lawan lebih tinggi dariku dan juga butuh magic yang banyak.' pikir Ryan.
Setelah berpikir seperti itu Ryan langsung pergi ke dalam hutan, dia ingin gila leveling secepat mungkin.